
“Aku akan selalu ada disini untuk menemanimu.”
Rasanya sangat nyaman dan Kazuya semakin terbenam dalam dekapan tubuhnya yang mungil itu. Kepala Kazuya bersandar pada bahu Shizuka sementara Shizuka mengelus kepala dan bahu Kazuya. Rasanya sangat menenangkan.
“Kau bisa cerita apa saja padaku.” lanjut Shizuka.
Tak lama setelah itu, Kazuya membangunkan kepalanya dan tersenyum pada Shizuka. “Terima kasih. Aku sudah merasa baikan.”
Shizuka ikut tersenyum. “Baiklah. Aku punya ide untukmu.”
Kazuya menunjukkan wajah yang kebingungan. “Apa itu?”
“Bagaimana kalau besok kau susul ibumu ke Tokyo? Dengan begitu, kau akan bertemu dengan ayah dan ibumu dan bisa meluruskan semuanya.”
Mendengar ide tersebut, sebenarnya Kazuya tak dapat merespon. Tokyo cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Lalu, ia tak cukup hafal dimana letak rumah sakitnya. “Hm… akan kupikirkan.”
“Baiklah. Hm… Kazuya…” panggil Shizuka pelan.
“Hm?”
Entah kenapa sekarang rasanya Shizuka tak berani mengekspresikan dirinya lagi seperti dulu. Sejak ia spontan memeluk Kazuya tadi, jantungnya berdegup dengan sangat kencang hingga takut Kazuya akan mendengarnya. Semua itu Shizuka lakukan secara tulus dan murni tanpa dibuat-buat untuk menenangkan Kazuya. Ia senang melihat Kazuya sudah merasa lebih baik sekarang. Tapi, sejak itu, Shizuka sendiri malah menjadi canggung.
Banyak hal yang ingin Shizuka katakan pada Kazuya. Suasana dan tempat sangat mendukung. Hanya berharap ibunya tak masuk secara tiba-tiba dan menghancurkan suasananya. Shizuka benar-benar akan mengatakannya sekarang. Ia ingin mengutarakan semua isi hatinya selama ini.
“Hei, kenapa diam?” Kazuya mengayunkan tangannya di depan Shizuka.
Shizuka pun tersadar. “Eh, ya… maaf.”
“Ada apa?” tanya Kazuya.
“Aku…”
Kazuya masih menunggu apa yang ingin Shizuka penasaran.
Sial… jantungku berdetak sangat kencang, aku tak bisa berpikir. Sial… “Aku ingin bertanya, kau akan masuk universitas mana?” Kenapa aku malah bertanya itu… bodoh…
“Aku belum tahu. Aku baru bisa memikirkannya setelah aku menyelesaikan masalah keluarga. Kenapa?”
Shizuka tersenyum garing. “Tidak apa-apa. Karena sebelumnya, aku sedang melihat universitas-universitas bagus di Jepang. Aku ingin ke Tokyo tapi takut dengan biayanya yang mahal.”
“Begitu ya… Akan lebih baik jika kita ke universitas yang sama.” ujar Kazuya sambil mengambil cangkir teh nya dan meminumnya hingga habis.
“Ya, aku setuju.”
“Baiklah, aku ingin pulang. Terima kasih.” ujar Kazuya kembali sambil mengenakan jaketnya.
Shizuka berdiri dan mendekati Kazuya. Lalu, tanpa sadar, Shizuka mendongak dan mengarah ke pipi kanan Kazuya. Shizuka pun mencium pipi Kazuya selama beberapa detik.
__ADS_1
Sudah jelas Kazuya menjadi kaget. Ia terpaku ketika Shizuka tengah menciumnya dan melebarkan matanya. Ia menyentuh pipinya dan menatap Shizuka dengan wajah kaget ketika Shizuka sudah menarik wajahnya. “Shizu-”
“M-maafkan aku! L-lebih baik kau pulang. Mari kuantar sampai bawah.” ujar Shizuka gelagapan. Ia membuka pintu kamar duluan dan menunggu Kazuya untuk keluar juga dari kamarnya.
Dengan cepat Shizuka menuruni anak tangga dan membukakan pintu untuk Kazuya. “Jangan khawatir, aku akan bilang pada ibu nanti. Hati-hati dijalan.” ujarnya dengan senyuman palsunya.
Kazuya masih tak bisa berbicara apa-apa. Tampaknya Shizuka sudah tahu apa yang ingin dikatakan Kazuya dan sudah menjawabnya dengan cepat. Tak lama setelah itu, Kazuya keluar dari rumah Shizuka setelah berpamitan. Kejadian itu, benar-benar membuat suasana menjadi semakin canggung.
Setelah kejadian itu, Shizuka terus merasakan wajahnya yang sangat panas. Setelah ia melihat pada kaca, seluruh mukanya berwarna merah. “Bodohnya aku… kenapa aku menciumnya tiba-tiba? Kazuya pasti membenciku sekarang… dasar Shizuka bodoh, terlalu terbawa suasana.” gumamnya kesal.
Tapi di balik itu semua, Shizuka tersenyum dan menyentuh bibirnya. Satu sisi ia merasa malu dan bodoh, di sisi lain ia merasa senang dan perasaannya terhadap Kazuya semakin kuat. Shizuka kembali ke kamarnya dan langsung membanting diri ke kasur. Menenggelamkan wajahnya ke bantal karena masih merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya.
“Aku pulang.” Kazuya menghampiri kamar neneknya.
“Kazuya, kau baik-baik saja?” tanya neneknya dengan wajah yang sangat khawatir.
Kazuya tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
“Aku benar-benar khawatir padamu. Jangan membenci ibumu… dia pasti punya alasannya. Jangan pergi dari rumah ini…” ujar neneknya ringkih.
Kazuya menghela napas ringan. “Aku takkan pergi dari sini. Tapi, mungkin besok aku akan pergi ke Tokyo. Aku ingin mencari tahu semuanya, mengenai diriku sendiri, ayah, dan ibu. Aku pasti akan kembali ke sini.”
Neneknya tersenyum. “Baiklah. Aku akan mendoakan semuanya yang terbaik untukmu.”
“Terima kasih, Nek. Aku akan beristirahat di kamar.” jawab Kazuya sambil tersenyum.
Shizuka hendak mencuci piring di dapur yang ternyata Kishima seperti sedang sibuk mengurus sesuatu. Shizuka menghampiri ibunya itu. “Ibu sedang apa?”
Kishima terlihat sedang menaruh beberapa sisa masakan makan malam ke dalam sebuah bekal. “Ibu ingin memberikan ini untuk Kazuya.”
Shizuka tampak kebingungan. “Kenapa?”
“Ibu merasa ia sedang ada masalah, jadi Ibu ingin memberinya makanan. Supaya ia tak lupa untuk makan.” ujar Kishima sambil menutup semua bekalnya dan malah memberikannya pada Shizuka. “Sekarang, tugasmu adalah mengantarkannya ke rumah Kazuya.”
Shizuka kebingungan. “A-aku? Bukan kita berdua?”
“Kau saja, ibu harus bebersih.”
“Baiklah. Aku pergi dulu.” ujar Shizuka. Sebelum ia pergi, ia mengambil jaketnya yang ada di kamar dan baru lah dia pergi. Hah… aku harus menemui Kazuya… semoga nanti, kita berdua sudah melupakan kejadian tadi siang…
“Kazuya! Ada tamu!” pekik Nenek dari arah ruang tamu sekaligus ruang keluarga.
Mendengar teriakan Nenek, Kazuya terkejut. Ia tersentak bangun dan duduk terlebih dahulu untuk memfokuskan dirinya yang habis bangun tidur. Lalu, ketika sudah merasa lebih segar, ia keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ada tamu. Dia bilang dia temanmu dari Tokyo.” ujar sang Nenek setelah meletakkan secangkir minuman di meja.
__ADS_1
“Minami…?” sapa Kazuya dengan wajah yang sangat kebingungan.
Gadis bernama Minami itu berdiri dan tersenyum. Ia menghampiri Kazuya yang masih berdiri di samping sofa dan memeluknya selama beberapa detik. “Maaf aku datang tiba-tiba. Aku mengganggu tidurmu, ya?”
Kazuya mengedipkan matanya berkali-kali. “Ah, tidak… Aku hanya sedang istirahat. Lagi pula, kenapa kau jauh-jauh datang kemari?” tanyanya.
“Aku sebenarnya hanya ingin mampir. Ibumu bilang padaku bahwa ayahmu sedang ada di rumah sakit. Dia khawatir padamu, jadi memintaku untuk mengunjungimu sesekali.”
“Ha! Selama ini ketika ayah sehat saja, dia tak pernah mengkhawatirkan aku.” cetus Kazuya sambil tertawa kecil.
Mereka berdua duduk di sofa sementara nenek masuk kembali ke kamarnya.
“Lalu kau akan bolak-balik kemari dari Tokyo hanya untuk mengecek apakah aku baik-baik saja? Kau sangat membuang-buang waktumu, Minami. Jangan terlalu menurut pada ibuku..”
Gadis itu tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku juga ingin bertemu denganmu karena aku sangat merindukanmu.”
“Tapi sudah malam. Lebih baik kau pulang. Tunggu, kau menginap dimana?” tanya Kazuya penasaran.
“Hm… ada penginapan di dekat sini.” ujar Minami.
“Baiklah. Aku akan mengantarmu kembali ke penginapan.”
Kazuya mengambil jaket dari kamarnya dan berpamitan dengan Nenek. Lalu, ia mengantar Minami ke tempat penginapan terdekat.
Hanya hitungan menit mereka berjalan, mereka sudah tiba di sebuah penginapan sesuai arahan Minami. Mereka berhadap-hadapan di depan penginapan itu sebelum berpisah.
“Terima kasih sudah mengantarku. Padahal dekat, tak perlu ditemani.” ujar Minami dengan senyumannya yang terlihat sangat manis. Berharap Kazuya akan memperhatikannya.
“Sudah malam, tak baik seorang gadis jalan sendirian di sekitar sini.”
Minami tersenyum.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Kau masuklah, besok aku akan pergi ke Tokyo untuk menyusul Ibu.”
“Kalau begitu, kita bisa berangkat bersama, bagaimana?” seru Minami.
Kazuya mengangguk. “Tentu.”
Jawaban Kazuya membuat Minami kegirangan hingga tiba-tiba memeluk Kazuya dengan sangat erat. “Kazuya… aku sangat merindukanmu. Apakah kau tidak rindu padaku?”
Bersusah payah Kazuya melepaskan tangan Minami namun tak bisa.
Minami melepaskan pelukannya dan menatap Kazuya lekat-lekat. “Selama ini, aku selalu menunggumu di Tokyo. Dan sebenarnya... aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, hingga sekarang. Aku selalu menunggu kepulanganmu di Tokyo.”
Kazuya terdiam.
“Apakah kau tidak merindukanku? Kita punya banyak sekali kenangan sebelum kau pindah kesini.” ujar Minami.
__ADS_1
Kazuya masih ingin terdiam, namun Minami terus mendesaknya. Akhirnya ia menjawab, “Aku rindu…”