Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Clash


__ADS_3

Shizuka benar-benar tak habis pikir. Selama ini ia hanya menganggap Igara sebagai teman dekat saja. Tapi siapa sangka bahwa dia menyimpan perasaan seperti itu. Sebenarnya Shizuka merasa tak enak karena telah menolaknya, walaupun secara baik-baik. Tapi ia juga tak ingin berhubungan dengan seseorang sementara hatinya masih terisi oleh yang lain. Dia masih bersyukur, bahwa Igara masih mau menjadi temannya. Ia hanya berharap bahwa hubungannya dengan Igara kedepannya, tidak menjadi canggung.


Igara… menyatakan perasaannya padaku. Ini pertama kalinya seseorang mengakui perasaannya padaku dan pertama kalinya aku menolak. Aku sempat merasa gugup tadi. Aku tak bisa berkata apa-apa awalnya. Namun Igara memberiku waktu dan kesempatan untuk bicara. Jadi aku bisa mengutarakan semuanya juga. Aku harap ia tak menjauhiku. Dia laki-laki yang baik, kuharap ia menemukan perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku.


“Aku benar-benar tak bersyukur… sudah bagus ada laki-laki yang suka padaku. Tapi aku malah menyia-nyiakannya. Tidak apa-apa… aku tak ingin menyakiti perasaannya jika tahu bahwa aku masih memikirkan Kazuto setelah menerima cintanya. Aku tak ingin menyakiti Igara. Ah! Sungguh menyedihkan aku ini.” gumam Shizuka.


Setelah berpikir banyak hal mengenai kejadian sepulang sekolah tadi, Kishima lalu memanggilnya dari lantai bawah untuk makan malam. Shizuka segera membersihkan diri dan segera turun ke bawah.


Shizuka menghela napas.


“Apa?! Jadi… dia…” seru Himari.


Mereka berdua berjalan memasuki kelas lalu menaruh tas mereka di atas meja. Saat itu pula Shizuka sudah melihat Kazuya yang tengah berdiam melihat ke jendela.


“Bagaimana ceritanya, Shizuka?” tanya Himari penasaran.


Shizuka hanya menghela napas lagi. Merasa malas untuk menceritakan secara detail semuanya.


“Ayolah, Shizuka. Aku ingin tahu.” paksa Himari.


“Ya… dia mengajakku ke halaman sekolah kemarin. Lalu ia bilang bahwa gelang pemberiannya itu sebenarnya adalah untuk menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku mengembalikannya.” ujar Shizuka.


Himari melebarkan matanya. “Kau… menolaknya?” tanya Himari.


Shizuka mengangguk. “Karena aku merasa masih ada seseorang dalam hatiku dan itu tak bisa tergantikan oleh siapapun.”


“Ha??? Kau masih menutup hatimu demi Kazuto itu? Ayolah, Shizuka… dia sudah tiada, bukan? Apakah kau tidak kasihan dengan Igara?” Himari agak membentak.


“Aku tak ingin menyakiti perasaannya!” Shizuka berteriak juga. “Apa gunanya jika aku menerima cintanya tapi aku sama sekali ga mencintainya? Aku hanya suka padanya sebagai teman. Itu saja. Sudah kubilang padanya bahwa ia bisa tetap berteman denganku.” lanjutnya sambil terengah-engah.


Himari mengedipkan matanya. “Tapi kurasa itu masih tidak benar, Shizuka. Untuk apa kau mengisi hatimu dengan seseorang yang sudah meninggal?”


Shizuka menghela napas berat. “Keputusanku sudah bulat. Aku tetap tak akan menerimanya sebagai kekasihku. Aku tak peduli apa katamu, aku tetap akan begini.”


Himari akhirnya menghela napas. Ia tak membalas lagi ucapan Shizuka. Dia menghadap ke depan yang tak lama setelah itu Ibu Guru pun datang.


Apa yang salah denganku? Sangat menyebalkan… Apakah Kazuya mendengarnya? Pasti dia mendengar semuanya. Kira-kira, bagaimana pendapatnya, ya?


Sebelum berjalan mengarah ke loteng sekolah, seperti biasa, Shizuka berjalan dahulu ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Tapi, tiba-tiba seseorang menarik bahunya dari belakang yang membuat Shizuka langsung berbalik.

__ADS_1


“Hei!” panggilnya.


Seorang gadis cantik berambut pendek sebahu.


“Kau memanggilku?” tanya gadis itu.


“Ikut aku!” gadis itu meraih tangan Shizuka dan menariknya.


“Hei… ada apa?” tanya Shizuka sambil mengikuti kemana gadis itu menariknya.


Loteng?


Begitu tiba di loteng sekolah, gadis itu langsung melempar tangan Shizuka hingga terjatuh.


“Ah!” pekik Shizuka. Ia segera bangkit berdiri dan membiarkan makanannya yang masih tergeletak di bawah. “Siapa kau?” tanyanya.


“Aku adalah Juichi Rin.”


“Lalu?” Kenapa di sini… dibalik sana pasti ada Kazuya dan ia pasti akan mendengar ini semua.


Gadis bernama Rin itu maju perlahan mendekati Shizuka. “Aku sudah lama menyukai Igara. Tapi dia menolakku karena dia menyukai gadis lain. Aku awalnya mengerti. Aku bahkan tahu selama ini dia menyukaimu, Kojima Shizuka.”


“Selama ini aku hanya diam saja. Aku terima bahwa Igara tak menyukaiku dan melihatnya dari jauh kalau dia terus-terusan mengejarmu. Mengejar gadis tak berguna sepertimu!”


“Apa yang kau katakan?” pekik Shizuka.


“Tega sekali kau menolaknya. Dia sudah mengorbankan perasaanku hanya untuk mengejarmu! Aku melihat kalian berdua kemarin di halaman belakang. Kenapa kau menolaknya? Apakah kau merasa derajatmu lebih tinggi dan lebih cantik? Apakah kau puas sekarang membuatnya malu karena ditolak olehmu?” pekik Rin.


“Ha…? Aku menolaknya secara baik-baik. Igara adalah teman baikku dan dia baik-baik saja kemarin.”


“Ha! Omong kosong.”


“A-aku menolaknya karena ada alasannya. Aku tak merasa lebih tinggi maupun lebih cantik dari siapapun. Aku hanya tak ingin menyakitinya, itu saja.”


“Bahkan dengan kau menolaknya kau sudah menyakiti hatinya! Kau dengar tidak?!” tiba-tiba saja Rin mengangkat tangannya dan hendak ingin menampar wajah Shizuka.


Shizuka melihat itu dan langsung tertunduk dan menutup matanya. Tapi, ia tak merasa ada tamparan yang melandas pada wajahnya. Perlahan Shizuka membuka matanya dan betapa terkejutnya ketika melihat Kazuya sudah memegang tangan Rin dengan erat.


Ya, Kazuya berhasil menggapai tangan Rin yang hendak menampar Shizuka.

__ADS_1


“K-Kazuya…” panggil Shizuka pelan.


“Siapa kau? Beraninya kau memegang tanganku. Lepaskan!” teriak Rin sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Kazuya.


Tapi Kazuya sama sekali tak melepaskan tangan mungil itu. Ia bahkan menariknya sehingga wajahnya dan wajah Rin menjadi dekat. “Jangan ganggu dia lagi.” ujar Kazuya untuk mengintimidasi Rin.


Rin hanya memandang Kazuya dengan tatapan kesal dan benci. Tak lama setelah itu, Kazuya melepaskan tangan Rin dengan sedikit kasar.


“Ah…” rintih Rin. Ia memegangi tangannya yang digenggam oleh Kazuya dengan erat. “Intinya, Igara menderita karenamu, Shizuka! Jangan harap kau bisa berteman lagi dengan Igara! Dasar kau gadis tak tahu diri! Sudah bagus ada yang suka padamu!” pekik Rin.


Kalimat terakhir Rin membuat Shizuka terpaku. Ia sempat mengatakan kata-kata itu juga semalam. Benar-benar menyedihkan.


“Lebih baik kau urusi saja urusanmu. Urusan dia dan laki-laki itu bukanlah urusanmu. Bukankah kau juga sudah ditolak?” kata Kazuya santai.


Tatapan Rin semakin bengis namun tak berkata apa-apa.


Kazuya mendekat pada Rin. “Apakah pernah ada yang mengakui perasaannya padamu? Kurasa tidak.”


“Aku benci kalian.” gumam Rin lalu langsung pergi dari sana secepat kilat.


Setelah Rin sudah tak terlihat dan tampak sudah turun ke bawah, Shizuka tak bisa merasakan kakinya. Seluruh badannya lemas hingga membuatnya terduduk. Ia seperti terengah-engah. Sadar bahwa ia terlalu banyak menahan napas dan emosinya yang naik.


Kazuya menghampiri Shizuka dan memungut makanan-makanan yang Shizuka beli tadi. “Jangan terlalu dipikirkan.” ujarnya.


Shizuka masih terasa seperti kelelahan. “Apa yang salah dariku…” air matanya mulai keluar dan mengalir ke pipinya. “Apakah aku salah ketika menolaknya karena aku tak memiliki perasaan suka padanya? Aku… sudah bicara sebaik mungkin kemarin hingga kami tidak akan bertengkar. Lalu kenapa banyak yang memarahiku? Bahkan Himari, teman terdekatku.” katanya sambil menangis pelan.


Kazuya tak berkata apa-apa.


“Kazuya… apakah aku salah kalau aku masih menyimpan perasaan pada orang yang sudah meninggal?” Shizuka menatap Kazuya.


Kazuya sedikit terkejut karena melihat mata Shizuka yang sudah dibanjiri air mata. Tangan Kazuya terangkat dan dengan pelan menarik kepala Shizuka masuk ke dalam dekapannya. “Kau tidak salah sama sekali. Itu sangat wajar. Bukankah itu yang dilakukan oleh para orang tua yang pasangannya sudah meninggal?” katanya sambil menepuk-nepuk punggung Shizuka dengan lembut untuk menenangkannya.


“Tapi… aku bukan orang tua.” jawab Shizuka di sela-sela tangisnya.


Sesaat Kazuya tertawa kecil. “Benar, kau belum menjadi orang tua. Sudahlah lupakan saja. Lakukan apa yang menurut hatimu benar.” perlahan ia melepaskan Shizuka dan menatapnya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Banyak yang membenciku sekarang.” Shizuka masih sesegukan.


“Hanya gadis itu yang membencimu. Himari tidak. Percaya padaku.”

__ADS_1


Kazuya sudah cukup menenangkan Shizuka hingga akhirnya mereka kembali ke kelas. Perut terasa lapar karena mereka belum makan sedikit pun saat jam istirahat tadi. Karena kejadian itu, Shizuka tidak punya selera makan yang bagus dan Kazuya hanya menemani Shizuka hingga tenang.


__ADS_2