Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Comforting


__ADS_3

“Apakah kau tidak merindukanku? Kita punya banyak sekali kenangan sebelum kau pindah kesini.” ujar Minami.


Kazuya masih ingin terdiam, namun Minami terus mendesaknya. Akhirnya ia menjawab, “Aku rindu…”


“Ah…! Senangnya!” seru Minami lalu kembali memeluk Kazuya dengan erat.


Ketika Minami memeluknya, Kazuya berusaha melepaskan kedua tangan Minami yang melingkar di pinggangnya. Tapi, ketika ia sekilas melihat ke arah kanan, ia tak sengaja melihat seseorang berdiri diam melihat ke arah mereka. Mata Kazuya fokus dan akhirnya dia mengenali siapa sosok itu.


Dengan cepat Kazuya melepaskan tangan Minami dan mengejar sosok itu, Shizuka.


“Tunggu!” pekik Kazuya. Ketika itulah Shizuka berlari menjauh dari mereka.


“Kazuya!” panggil Minami tapi Kazuya menghiraukannya. Ia tahu mana yang lebih penting saat ini.


Kazuya mencari-cari tapi Shizuka sudah menghilang dengan sangat cepat. Kazuya terengah-engah karena lelah habis berlari. Tapi siapa sangka, Shizuka berlari lebih cepat.


Kishima menengok ke arah pintu masuk karena terdengar suara pintu terbuka dan tertutup. “Shizuka? Cepat sekali?” gumamnya sendiri.


Lalu ia melihat Shizuka meletakkan bekal makanannya di meja dapur dan langsung berlari ke lantai atas.


“Shizuka! Apa yang terjadi?” teriak Kisihim dari ruang keluarga.


“Kazuya sedang tidak ada di rumahnya.” jawab Shizuka sambil berteriak.


Kishima menghela napas dan kembali ke ruang keluarga.


Shizuka lemas. Ia langsung terduduk di lantai begitu ia menutup pintu kamarnya. Ia menangis. Ia sudah tak tahan lagi dengan perasaannya yang dipendam. Melihat Kazuya bersama wanita lain dan berpelukan di depan sebuah penginapan. Apalagi yang bisa Shizuka pikirkan?


Ia menekuk kakinya lalu memeluk kedua lututnya. Kepalanya terbenam dalam tangannya dan menangis kencang.


Beberapa saat yang lalu.


“Semoga Kazuya suka dengan masakan Ibu… seharusnya sebentar lagi sam-” ucapan Shizuka terhenti ketika ia melihat dua orang berdiri di depan penginapan.


Shizuka sedikit mendekat dan ia melihat salah satu orang itu adalah Kazuya. Dan satu orang lagi adalah… wanita yang tak ia kenal. Ia tak pernah melihatnya di sekolah, benar-benar seperti orang asing.


Benar-benar terlihat jelas bahwa Kazuya dan wanita itu berpelukan.


“Apakah kau tidak merindukanku? Kita punya banyak sekali kenangan sebelum kau pindah kesini.” ujar wanita itu.


“Aku rindu…” jawab Kazuya.

__ADS_1


“Ah…! Senangnya!”


Lalu mereka kembali berpelukan. Shizuka merasa tak bisa bergerak. Dadanya terasa sangat sakit dan matanya buram karena penuh dengan air mata. Tapi ia sadar bahwa Kazuya menyadari keberadaannya. Ia tahu bahwa Kazuya berlari menghampirinya tapi ia juga tak ingin tinggal diam. Shizuka berlari sekuat tenaga untuk menghindari Kazuya.


Terdapat sebuah gang yang cukup kecil dan sesegera mungkin Shizuka masuk ke situ dan berusaha menyembunyikan diri. Ia mempunyai tubuh yang cukup kecil sehingga bisa sembunyi di balik tumpukan barang. Ketika Kazuya tampak sudah pergi, ia segera keluar dari tempat itu dan berlari ke rumah.


“Bodoh… kenapa aku tak dari dulu saja menyatakan perasaanku kepada Kazuya? Tidak… kenapa aku harus menyukai Kazuya yang jelas-jelas sudah punya seorang kekasih? Betapa bodohnya aku…” gumamnya di sela-sela tangisnya.


Shizuka sangat menyesal. Kenapa ia harus berurusan dengan Kazuya? Kenapa bisa ia menjadi dekat dengan Kazuya, kenapa ia bisa tertarik pada Kazuya saat pertama kali mereka bertemu? Kenapa Kazuya mengizinkan Shizuka untuk mengejarnya hingga akhirnya Shizuka suka padanya?


Perasaan menyesal yang Shizuka rasakan sekarang. Besok, Kazuya akan berangkat ke Tokyo. Dan kemungkinan Kazuya takkan kembali lagi ke kota kecil ini. Ia akan menetap di Tokyo bersama orang tuanya dan wanita itu. Perasaan Shizuka benar-benar hancur.


“Kazuya, siapa wanita itu?” tanya Minami penasaran.


Kazuya kembali ke posisi Minami sambil terengah-engah. “Kau tak perlu tahu. Dengarkan aku baik-baik, kau besok kembali lah ke Tokyo sendirian. Aku harus mengurusi sesuatu terlebih dahulu. Lalu aku akan segera menyusul ke sana.” ujarnya.


Wajah Minami berubah menjadi kesal. “Hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?” tanyanya panik.


“Masih ada hal yang harus aku selesaikan di sini.”


“Apakah masalah itu lebih penting dari masalah keluargamu?” bentak Minami.


“Ya! Ini jauh lebih penting dari apa pun. Aku akan menyusul ke Tokyo dua atau tiga hari lagi.”


Kazuya menghela napas. Lama-lama ia kesal karena Minami terus memaksa. “Terserah padamu. Aku takkan pergi besok pada intinya. Aku pulang dulu.” jawab Kazuya lalu ia pergi meninggalkan Minami.


Minami berteriak terus memanggil nama Kazuya namun dihiraukan. Lalu ia mulai merasa bahwa wanita tadi lah yang menjadi masalahnya sekarang.


“Shizuka… kumohon, jangan salah paham.” gumam Kazuya.


Tanpa mikir panjang, Kazuya datang ke rumah Shizuka. Ia memencet bel rumah beberapa kali sambil mengetuk pintunya.


Pintu terbuka dan Kishima menyambutnya dengan wajah bingung. “Loh? Kazuya? Ada apa?”


“Shizuka… ada?” tanya Kazuya panik.


“Ada… tapi kurasa dia sudah tidur. Sudah di kamar sedari tadi.”


“Begitu rupanya…” jawab Kazuya masih terengah-engah.


“Tadi, aku meminta Shizuka untuk membawakan makanan untukmu. Tapi aku heran, Shizuka pulang sangat cepat dan makanannya dibawa pulang. Dia bilang kau sedang tidak ada di rumah.”

__ADS_1


“Ya, maafkan aku. Aku memang tidak ada di rumah tadi. Jadi, aku datang kemari untuk memastikan.”


“Oh, begitu. Untung makanannya belum aku buang. Kau bawa pulang, ya?” Kishima masuk dan mengambil bekal makanan yang ditaruh Shizuka tadi. Tak lama kemudian, Kishima datang sudah memberikan bekal tersebut.


“Terima kasih banyak. Aku sangat berhutang budi padamu.” ujar Kazuya sambil menerima bekal itu.


“Sama-sama. Jangan lupa dimakan. Tempatnya bisa kau kembalikan kapan saja.”


“Terima kasih, akan aku kembalikan secepatnya. Tapi… bisakah aku bertemu dengan Shizuka sekarang?”


“Ya sudah tunggu sebentar, aku coba lihat ke kamarnya.”


Kishima kembali masuk dan menaiki tangga. Tak lama kemudian, Kishima sudah kembali dengan kabar buruk. “Dia sudah tidur. Kamarnya sudah gelap. Besok atau lusa saja kalian bertemu di sekolah, ya?”


Kazuya menghela napas. “Baiklah. Kalau begitu aku pulang. Sekali lagi terima kasih.”


Bagaimana bisa kau tidur secepat itu Shizuka. Aku tahu kau menghindariku sekarang…


“Shizuka! Kau harus dengar ceritaku kemarin. Aku…” Himari berhenti ketika melihat Shizuka yang terus melamun dan tidak bersemangat. “Hei, kau kenapa?” tanyanya bingung.


Shizuka hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sedetik kemudian ia tersadar. Seharusnya ia tak perlu masuk sekolah hari ini. Ia tak ingin bertemu dengan Kazuya lagi…


“Aku bingung kau kenapa.” tak lama setelah itu, Kazuya datang dan duduk di bangkunya. “Hei, Kazuya… lihat, Shizuka diam saja. Kau tahu dia kenapa?”


Kazuya terdiam sejenak. Ia berpikir tak mungkin ia bercerita pada Himari apa yang telah terjadi. Itu pasti akan membuat Shizuka merasa tak nyaman. “Aku tak tahu.” jawabnya singkat.


Mendengar jawaban itu, Shizuka rasanya ingin keluar dari kelas. Entah perasaan apa yang dipendamnya saat ini. Rasa kesal, sedih dan ingin menangis, serta rasa menyesal. Ia bahkan tak ingin menoleh dan melihat wajah Kazuya. Ia sungguh tak ingin.


Ketika jam istirahat tiba, Shizuka langsung pergi meninggalkan kelas. Tanpa peduli lagi Kazuya pergi kemana. Ia hanya ingin pergi ke taman belakang untuk menyendiri. Sungguh tak membuat nafsu makannya naik. Shizuka pun duduk di bangku taman sendirian dan tertunduk.


Rasanya ingin menangis. Shizuka sudah tak bisa menahannya. Semakin ia menyendiri, semakin ia ingin mengeluarkan air matanya yang sudah tak terbendung lagi. Ia sudah takkan pergi ke loteng lagi untuk mencari Kazuya. Sudah tak ada gunanya sekarang. Pertemanannya dengan Kazuya sudah selesai.


“Shizuka? Kau sedang apa?” sapa seseorang.


Shizuka menoleh ke arah sumber suara dan terkejut melihat Igara sudah datang dan duduk di sampingnya. Lalu Shizuka buru-buru mengusap air matanya.


“Hei, kau menangis? Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Igara semakin khawatir.


Ditanya seperti itu, malah membuat Shizuka tak bisa menutup kesedihannya. “Aku… menyesal…” gumamnya.


Igara memasang wajah bingung. “Menyesal apa?”

__ADS_1


“A-aku menyesal… telah kenal dengannya… aku menyesal… dekat dengannya... Sekarang hatiku terasa sakit… aku tak bisa melupakannya… aku tak ingin bertemu lagi dengannya…” ujar Shizuka sambil menangis. Ia benar-benar sudah menangis keras di hadapan Igara.


Tak tega melihat Shizuka yang menangis seperti itu, Igara perlahan menyentuh kepala Shizuka dan menariknya dalam dekapannya. Menaruh kepala Shizuka pada bahunya sebagai sandaran untuk menangis. Dengan lembut Igara mengusap dan menepuk-nepuk punggung dan kepala Shizuka. Walaupun ia tak mengerti masalah apa yang Shizuka hadapi, ia tetap masih ingin menghiburnya. Shizuka adalah gadis yang ia sayangi, ia tak mungkin bisa membiarkan Shizuka menangis dan sakit hati seperti itu. Shizuka memang sudah menolak cintanya, namun Igara tetap mencintainya dengan tulus. Selagi ia bisa bersama Shizuka, ia akan berusaha menghiburnya dengan segenap hati. Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada saat ini.


__ADS_2