
Kazuya pun merasakan hal yang sama. Ia tak ingin datang lagi ke loteng. Shizuka tadi langsung pergi meninggalkan kelas begitu saja. Jika di sekolah, ia tak punya waktu untuk bicara berdua dengan Shizuka. Selama jam istirahat pun Kazuya hanya memandangi keluar jendela. Rasa lapar sudah tak terasa lagi baginya. Beberapa saat kemudian, ia melihat Shizuka ada di bangku taman belakang sekolah. Ia sangat penasaran, apa yang gadis itu lakukan di sana sendirian?
Rasanya ingin sekali Kazuya kesana. Ia bangkit berdiri dan tiba-tiba seseorang menghampiri Shizuka. Seorang laki-laki duduk di samping Shizuka. Tapi, ada yang aneh dengan Shizuka. Sesaat kemudian ia sadar, Shizuka tengah menangis.
Melihat laki-laki yang diduga adalah Igara memeluk Shizuka, Kazuya mengurungkan niatnya untuk pergi kesana. Ia kembali duduk dan melihat cara Igara mendekap dan berusaha menenangkan Shizuka. Kazuya ingin sekali mengumpat dirinya sendiri. Shizuka begini karenanya dan dia tak bisa menjelaskan apa-apa kepada Shizuka. Shizuka sudah terlanjur benci padanya.
Ini semua karena aku… aku lah yang seharusnya ada di samping Shizuka dan menenangkannya. Kenapa… semuanya menjadi seperti ini… Maafkan aku, Shizuka…
Kazuya menjadi teringat ketika Shizuka menangis dan dirinya menghibur Shizuka. Tak lama setelah itu Shizuka kembali tenang dan bisa tersenyum lagi. Momen-momen seperti itu yang Kazuya rindukan sekarang. Baru kali ini rasanya ia kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Namun, ia sudah tak berharap lagi. Mungkin memang Igara laki-laki yang pantas untuknya.
“Kau sudah tenang?” tanya Igara.
Shizuka melepaskan diri dari dekapan Igara. Memang, rasanya nyaman dan ingin meluapkan semuanya. Tapi, rasanya tak senyaman Kazuya. Ia malah teringat ketika dalam dekapan Kazuya waktu di loteng. Kazuya yang menenangkannya ketika ia menangis berat seperti ini.
“Aku sudah lebih baik. Terima kasih, Igara… maaf kau harus melihatku seperti ini…” ujar Shizuka sambil mengusap air mata yang membekas di pipinya.”Memalukan sekali.”
Igara pun tersenyum. “Justru aku senang, kau bisa meluapkan semuanya di hadapanku. Aku merasa, aku bisa membuatmu nyaman.”
Shizuka pun ikut tersenyum. “Hm. Terima kasih banyak. Tapi, aku belum siap untuk cerita apa-apa pada siapa pun. Walaupun tadi aku sudah bicara yang aneh-aneh… tapi itu yang kurasakan.”
“Tidak apa-apa. Yang penting, kau sudah merasa lega sekarang.”
Setelah itu, Shizuka dan Igara mengobrol hingga jam istirahat pun selesai. Mereka kembali ke kelas masing-masing dan Shizuka harus menghadapi kenyataan. Bahkan ia takkan bisa bersama dengan Kazuya lagi dan ia harus bisa bertemu dan menatap Kazuya tanpa perasaan apa-apa.
“Sampai jumpa, Shizuka. Sampai jumpa, besok.” ujar Himari sambil melambaikan tangannya.
Mereka berpisah di depan gerbang sekolah dan… Shizuka tampak buru-buru untuk segera pulang ke rumah. Ia masih tak bisa untuk bertemu dengan Kazuya di tengah perjalanan pulang. Sudah bukan di area sekolah, Kazuya akan lebih leluasa untuk bertindak sesuatu.
Shizuka merasa takut dan waspada. Ketika sudah di dekat rumah, hal terburuk pun terjadi. Ia melihat Kazuya sudah berdiri depan rumahnya. Jelas seperti sedang menunggu Shizuka. Shizuka berjalan perlahan dan rencananya ingin langsung masuk ke rumah. Tapi, Kazuya meraih tangannya.
“Tunggu.” ujar Kazuya.
__ADS_1
Shizuka tak bisa berjalan lagi. Ia menghela napas dan menguatkan diri untuk berdiri di hadapan Kazuya. “Apa? Aku cukup lelah dan ingin istirahat. Di luar sini dingin-”
“Dengarkan aku.” potong Kazuya.
Shizuka tertegun dan menatap Kazuya kebingungan.
“Kau salah paham. Apa yang kau lihat kemarin, bukanlah seperti apa yang kau bayangkan. Dia hanya teman. Temanku dari Tokyo.”
“Hm. Lalu?”
“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Percayalah padaku.” ujar Kazuya.
Shizuka menghela nafas panjang. “Hatiku yang tadinya sudah mau terbuka lebar, kini sudah tertutup rapat kembali. Aku tak tahu apa yang bisa membukanya terbuka lagi. Mungkin butuh waktu sepuluh tahun lagi agar aku bisa membukanya kembali.”
“Hei, dengarkan aku…”
“Mau aku percaya atau tidak, hatiku sudah terlanjur tertutup. Aku tak bisa membukanya lagi. Jika omonganmu barusan memang benar, itu percuma. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa sekarang. Aku tak bisa merasakan senang karena kau bicara seperti itu, ataupun merasa sedih ketika mengingat kejadian-kejadian lalu. Aku sudah mati rasa.”
“Lalu… setelah membukanya kau akan menyakiti hatiku lagi? Benar begitu?” pekik Shizuka. "Aku salah sudah merasa nyaman dan suka padamu. Hubungan kita memang tidak ada apa-apa. Kenapa aku harus marah?" gumamnya sambil tertawa garing.
“Shizuka... aku pastikan bahwa aku akan menjadi orang yang bisa membuka pintu hatimu lagi.”
Shizuka memalingkan wajahnya. “Terserah padamu...”
“Ya. Tunggu saja…”
“Selamat tinggal.” ujar Shizuka sambil berjalan melewati Kazuya dan masuk ke dalam rumah.
Kazuya terdiam. Ia hanya melihat Shizuka dari belakang dan sudah tak bisa mengejarnya lagi. Shizukas telah membangun dinding pembatas diantara mereka. Tak mudah untuk mengejarnya lagi.
Shizuka terduduk lemas di tepi kasur setelah menaruh tas sekolahnya di atas meja. Benar… ia sudah tak bisa menangis lagi. Mungkin hanya ada sedikit kesedihan, namun rasa sedih itu tak memicu matanya untuk mengeluarkan air mata. Benar, hatinya sudah menjadi es batu yang sangat dingin dan tak bisa dilelehkan begitu saja. Perasaannya sudah mati kembali seperti Shizuka sepuluh tahun yang lalu tetapi mungkin yang sekarang lebih parah. Shizuka benar-benar menyesal atas perbuatannya selama ini. Kini ia harus memulihkan kembali dirinya sendiri selama beberapa waktu. Mungkin butuh sepuluh tahun lagi…
__ADS_1
Shizuka berdiri dan melihat ke jendela. Kazuya masih terpaku di depan rumahnya. “Terima kasih, Kazuya. Kurasa hubungan kita memang hanya sebatas teman. Terima kasih sudah baik padaku selama ini. Mungkin sekarang kita tidak akan bisa akrab lagi. Tapi aku berharap, kau bisa membuka dan meluluhkan kembali hatiku.” gumamnya pelan.
Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Kazuya menjadi sering bolos masuk sekolah dan Shizuka menjalani hidupnya seperti biasa. Berkat hilangnya Kazuya, Shizuka bisa menjadi dekat lagi dengan Himari dan Igara. Memang, hanya teman lama yang akan bertahan. Shizuka berjanji takkan mengejar siapa pun lagi yang dikiranya mirip dengan teman kecilnya, Kazuto. Ia sudah tak peduli lagi.
Selain itu, beberapa hari setelah kejadian itu, Kazuya bersiap-siap untuk pergi ke Tokyo. Ia sudah memastikan Minami sudah berangkat sendiri dan sekarang Kazuya akan menyusulnya. Butuh beberapa jam untuk perjalanan ke Tokyo. Kazuya berharap, semuanya berjalan sesuai rencana.
Setelah melewati beberapa jam perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Kazuya tiba di Tokyo. Ibu kota negara Jepang itu sangat luas hingga hampir membuat Kazuya tersesat. Pertama-tama, ia ingin sekali mendatangi rumah sakit dimana ia dirawat ketika kecil. Mungkin ia tak tahu percis alamat rumah sakit yang dituju, tapi ia masih ingat kira-kira bagaimana ciri-ciri rumah sakit tersebut.
Ia mulai berjalan dan dan mencari rumah sakit tersebut. Hingga akhirnya dalam waktu sejam lebih, Kazuya pun menemukan gedung yang sekiranya mirip dengan di ingatannya. Ia memasuki gedung rumah sakit tersebut dan mendatangi bagian administrasi.
“Permisi…” panggil Kazuya kepada salah satu suster yang sedang bertugas di meja administrasi tersebut.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya suster ramah.
“Ingin mencari pasien bernama Kazuya. Fujikawa Kazuya. Dia dirawat di sini sekitar sepuluh tahun yang lalu. Apakah masih ada data pasiennya?” tanya Kazuya.
“Tunggu sebentar.” ujar suster itu. Ia tampak mengetikkan nama Kazuya pada komputer dan melihat pada monitor dengan seksama. Tak lama kemudian, “Ada. Pernah dirawat sekitar dua minggu di sini.”
Wajah lega terpampang pada wajah Kazuya. “Boleh saya tahu dokter yang menangani pasien itu?”
“Hm… Dokter Taka… kurasa dia sudah dipindahkan ke rumah sakit lain.”
“Ha? Dokter Taka? Beliau sudah kembali praktek di sini. Aku melihatnya kemarin di lorong situ.” sahut suster lain yang duduk di sebelah suster itu.
“Benarkah? Boleh saya tahu ruangannya dimana?” tanya Kazuya semangat.
Salah satu suster menunjuk ke sebuah lorong. “Di lorong itu lalu ada pada ruangan pertama di sebelah kanan.”
Kazuya menghela napas lega. “Terima kasih banyak.” ujarnya.
Ia mulai berjalan cepat dan mengikuti arah sesuai petunjuk suster tadi. Dengan cepat ia bisa menemukan ruangan itu. Terdapat papan nama bertuliskan Dokter Taka yang cukup besar di samping pintu itu. Kazuya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bersiap untuk segala hal yang akan ia dengar dari Dokter Taka.
__ADS_1