
Kazuya diam dan menunggu.
“Nama ayahmu adalah Akinawa Kano. Beberapa saat setelah Kano meninggal, aku berencana menikah dengan Daiki sesuai permintaannya. Tapi kau tidak merestui hubunganku dengan Daiki. Kau sangat dekat dengan Kano dan aku tahu kau sangat menyayangi ayahmu. Aku juga tak ingin kehilangan Kano, aku sangat mencintainya. Namun permintaan ayahmu adalah aku menikah dengan Daiki. Kami bertiga sudah bersahabat lama, jadi kupikir itu tak masalah. Hingga suatu ketika, kau bilang bahwa kau tidak suka dengan Daiki dan kau tidak ingin menjadikannya sebagai ayahmu.”
“Lalu?”
“Lalu kau mengalami kecelakaan beberapa hari setelah aku dan Daiki menikah. Benturanmu cukup parah dan kau mengalami hilang ingatan. Aku mengambil kesempatan itu untuk membuatmu berpikir bahwa Daiki adalah ayahmu. Dengan begitu, kau bisa menerimanya sebagai ayahmu hingga saat ini dan keluarga kita menjadi utuh.”
“Dengan kondisiku yang hilang ingatan, Ibu membuatku berpikir dia adalah ayahku. Baiklah… aku takkan bisa memaafkan kalian yang sudah berbohong dan memanfaatkan kondisiku demi hubungan kalian. Setelah mendengar ceritamu, bahkan sekarang aku tak bisa menerimanya sebagai ayahku. Sepuluh tahun aku hidup, aku tak pernah merasakan sosok ayah pada dirinya.”
Yuri mendekat lagi lalu menangis. Ia meremas baju Kazuya dan menyandarkan kepalanya pada dada Kazuya. “Ibu minta maaf… Ibu mohon… maafkan kami… Ibu salah, Ibu takkan berbohong lagi padamu… maafkan Ibu…”
Kazuya tetap kokoh berdiri walaupun Yuri menggoyangkan tubuhnya. Ia tak ingin luluh dengan tangisan ibunya itu. “Kalau begitu, siapa aku sebenarnya? Siapa aku?!” pekik Kazuya. Ia sudah tak bisa menahan lagi emosinya. Ia butuh kejelasan semuanya sekarang.
“Akinawa Kazuto...! Kau adalah Kazuto… nama aslimu adalah Akinawa Kazuto…” Yuri pun ikut berteriak di sela-sela tangisnya.
Dengan berat Kazuya menghembuskan napasnya dan mencengkram tangan Yuri. “Kenapa disaat aku begini Ibu baru mau bercerita padaku…? Kenapa Ibu baru jujur padaku…? Kenapa…” ujar Kazuya. Tanpa sadar ia juga menangis karena emosinya yang terlalu meluap. Antara rasa lega karena sudah tahu semuanya, kesal dan marah dengan semua kebohongan ini, dan sedih akan kehidupan yang selama ini ia jalani.
“Maafkan Ibu…” gumam Yuri dengan isak tangisnya.
Nafas Kazuya menjadi cepat dan kepalanya mulai terasa sakit. “Lepaskan aku… aku butuh waktu untuk menerima ini semua…” katanya pelan.
Yuri melepaskan cengkraman tangannya pada baju Kazuya.
“Aku takkan berpikir untuk memaafkan kalian… tapi-” Kazuya tiba-tiba terjatuh sambil memegang kepalanya.
“K-Kazuya, kau kenapa? Apakah kau baik-baik saja?” Yuri pun panik dan menyentuh bahu Kazuya.
Kazuya menepis tangan Yuri. “Aku ingin pergi…” ujarnya sambil berusaha bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu.
“Daiki… bagaimana ini… sekarang anakku sendiri telah membenciku.” Yuri kembali menangis. Ia memang merasa menyesal telah berbohong selama bertahun-tahun. Tapi menikah dengan Daiki adalah permintaan Kano. Ia tak sepenuhnya salah.
“Yuri… kita pantas menerimanya. Kazuya sudah dewasa dan cepat atau lambat ia akan tahu semuanya. Kita telah berbohong padanya selama sepuluh tahun, kita telah menyakiti hatinya. Jadi biarkan dia sendiri terlebih dahulu sampai dia bisa menerima kita lagi. Lalu kita akan bicara padanya lagi. Aku yakin Kazuya butuh waktu.”
Yuri hanya mengangguk. Ia mengusap air matanya. “Kazuya…”
__ADS_1
Kazuya pun memutuskan untuk langsung pulang ke Nagoya. Ia tak peduli seberapa lelah tubuhnya, ia hanya ingin pulang ke rumah.
“Shizuka!” panggil Kishima dari lantai bawah.
Dengan malas Shizuka bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar. Menuruni tangga lalu menghampiri Kishima yang sedang ada di dapur.
“Jangan tidur seharian. Siapkan makanannya dan antar ke rumah Kazuya.” ujar Kishima.
“Kenapa aku?” tanya Shizuka kesal.
“Karena kau teman Kazuya, bukan? Sekarang bereskan dan segera antarkan ke rumahnya.”
“Apakah aku menjadi pekerja jasa pengiriman?” cetusnya lagi walaupun ia masih tetap menyiapkan makanannya dengan wajah cemberut.
Lantas Kishima heran dan penasaran. “Apakah kalian bertengkar?”
Shizuka pun tersentak kaget. “T-tidak! Dia hanya sedang pergi ke Tokyo.” jawabnya. Ia tak ingin Kishima tahu tentang masalah pribadinya. Walaupun yang diucapkannya memang fakta.
“Ke Tokyo? Untuk apa?”
“Tidak tahu. Yang kutahu hanya ingin menyusul ibunya kesana.”
Shizuka tetap menurut dan menyiapkan makanan itu.
Sudah tiga hari sejak Kazuya pulang dari Tokyo. Seharian ia hanya tiduran di kasur dan tidak pernah masuk sekolah. Rasanya ia benar-benar tak bersemangat untuk hidup. Ia dibohongi oleh orang tuanya sendiri, kehilangan ayah satu-satunya, kehilangan ingatannya semasa kecil. Rasanya ia tak benar-benar hidup selama sepuluh tahun terakhir. Mengetahui fakta bahwa ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi, dirinya hilang ingatan, dan dibohongi demi pernikahan ibunya dan laki-laki lain.
Fakta mengenai dirinya selama ini adalah Akinawa Kazuto seperti tak bisa Kazuya cerna. Ia sudah hidup cukup lama dengan jati dirinya sebagai Kazuya. Tapi ternyata dirinya adalah orang lain. Berkali-kali ia mengingat nama Akinawa Kazuto, ia seperti pernah mendengarnya, tapi apa daya kepalanya selalu sakit ketika ingin mengingat sesuatu.
Pagi-pagi sekali ketika Kazuya terbangun, Kazuya kaget dan ia terbangun dengan keringat yang sangat banyak di sekujur tubuhnya. Ia membuka matanya dan pertama kali yang ia ingat adalah wajah ayahnya, Kano. Saat itu lah air mata langsung menetes dari sudut matanya. Ia kembali memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan tangan. “Ayah… aku merindukanmu. Maaf aku telah melupakanmu…” gumamnya. Ia juga merasa sangat lega karena ia bisa mengingat lagi orang yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu ayahnya sendiri.
“Akinawa Kazuto… adalah namaku…” gumamnya pelan. “Rasanya aku pernah mendengar nama itu… tapi dimana… kapan… aku tak ingat.” lanjutnya. Sekelebat ia mendapat penglihatan tentang kalung. Kalung cantik yang ia tahu bahwa itu adalah kalung yang dikenakan Shizuka. “Ada apa dengan kalung itu…”
Kazuya terus berusaha mengingat apa yang terjadi antara dia dengan kalung miliki Shizuka. Ia memang ingat bahwa Shizuka pernah bercerita tentang kalung itu dan teman masa kecilnya. Kalung itu pemberian ibunya Shizuka, lalu… “Argh… kepalaku…” dan lagi kepalanya kesakitan. Ia tak bisa memaksa otaknya untuk mengingat lagi. Jika dipaksakan, ia akan menderita dengan sakit yang luar biasa.
Shizuka menghela napas ringan. Tak terpikirkan ia harus datang ke rumah Kazuya. Laki-laki yang sebenarnya sudah ia benci. Namun ibunya tetap menyuruhnya untuk datang kemari. Semoga saja ia tak bertemu dengan Kazuya. Lagi pula, ia tak tahu apakah Kazuya sudah pulang dari Tokyo atau belum.
__ADS_1
Diketuknya pintu rumah Kazuya.
Lalu tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Shizuka melihat seorang nenek yang membuka pintu dan menatapnya dengan wajah bingung. “Halo, selamat malam. Namaku Shizuka, aku teman satu sekolah Kazuya.” sapa Shizuka sambil membungkukkan badannya.
“Shizuka… sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, masuklah dulu. Di luar dingin, bukan?” sang Nenek melebarkan pintunya dan membiar Shizuka lewat dan masuk.
Hangatnya…
“Duduklah di sofa. Kau ingin minum apa?”
“Ah, tidak, Nek, terima kasih. Aku hanya ingin mengantarkan ini. Ibuku membuat banyak sekali makanan, jadi kami ingin membaginya dengan Nenek dan Kazuya.” ujar Shizuka. Walaupun ia kesal dan benci dengan Kazuya, ia tak bisa bersikap tidak sopan pada wanita lansia. Shizuka pun menyodorkan tempat bekal itu.
Nenek menerimanya dengan senyuman yang hangat. “Terima kasih, anak muda. Kau orang yang sangat baik. Mau kupanggilkan Kazuya kemari?”
“T-tidak perlu! Aku tahu dia sedang ada di Tokyo, bukan?” ujar Shizuka sambil tertawa kecil dan memegang tengkuknya.
“Tidak. Dia sudah pulang, sedang ada di kamarnya. Ingin aku panggilkan?”
“Tidak perlu, Nek. Aku akan segera pulang karena sudah malam. Mohon dimakan makanannya.” ujar Shizuka.
Nenek pun tersenyum lebar. “Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan.”
“Baik, terima kasih.” Shizuka keluar dari rumah tersebut.
Neneknya baik sekali… suasana di rumahnya juga hangat, walaupun hanya tinggal berdua… Tapi ngomong-ngomong, Kazuya sudah kembali… bagaimana kabarnya…?
Nenek mengetuk pintu dan membuka pintu kamar Kazuya perlahan. “Kazuya… tadi ada temanmu kemari.” ujarnya.
Kazuya hanya menoleh dari kasur. “Siapa?” tanyanya.
“Perempuan… kurasa namanya Shizuka.”
Kazuya sontak langsung terbangun. “Shizuka? Ada apa dia kemari?”
“Dia memberikan makanan untuk kita. Sudah aku siapkan di meja makan, ayo makan.” ajak sang Nenek.
__ADS_1
Kazuya pun menurut. Ia keluar dari kamarnya dan langsung mengarah ke ruang makan. Beberapa menu makanan sudah disiapkan di tengah meja. Ia jadi teringat ketika ia juga diberikan bekal makanan ketika mengejar Shizuka ke rumahnya. Malam ketika mereka bertengkar hebat karena salah paham.
Diam-diam Kazuya tersenyum dan mulai menyantap hidangan itu.