Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Conversation


__ADS_3

Pagi-pagi sekali. Udara masih terasa dingin dan matahari pagi yang sudah menyorot seluruh daerah Nagoya. Perjalanan menuju sekolahnya tidak jauh namun ia sangat menikmati waktunya setiap harinya. Seketika pula, Shizuka teringat akan Kazuto, teman masa kecilnya. Apa yang sedang dilakukan, bagaimana kabarnya, apakah ia masih mengingat Shizuka, bahkan apakah ia sudah bahagia di atas sana.


“Shizuka.” panggil seseorang dari belakang.


Shizuka menoleh. “Hai.” senyuman terulas.


Igara tertegun dan tersenyum. Melihat gelang yang ia berikan masih digunakan di pergelangan gadis itu. Rasa senang yang tak bisa digantikan oleh apapun. “Aku senang kau masih memakainya.” ujarnya sambil memandang gelang itu.


Shizuka melihat ke arah pandang Igara. “Ya. Aku suka dengan gelangnya.”


“Aku-”


“Shizuka! Selamat pagi!” pekik seseorang tiba-tiba. Himari. Ia datang berlari lalu merangkul Shizuka dengan semangat.


“Selamat pagi, Himari.” sapa Shizuka. Semua orang tampak berbahagia hari ini. Apakah aku bisa selalu merasakan ini semua? Kau seharusnya ada disini… Kazuto.


Mereka bertiga berjalan bersama masuk ke gedung sekolah. Mengganti sepatu mereka di loker sepatu dan berjalan menuju kelas. Berpisah dengan Igara tepat di depan kelas Shizuka dan Himari.


“Tidakkah kau merasa hari ini sangat dingin?” tanya Himari.


Shizuka mengangguk setuju. “Benar. Tapi aku suka musim ini.” katanya.


Saat itu pula Kazuya datang. “Pagi.” sapanya.


Shizuka dan Himari sedikit terkejut dengan sikap Kazuya. Sudah beberapa hari sejak Kazuya pindah ke sekolah itu dan baru pertama kali ini ia menyapa Shizuka dan Himari duluan. Dan karena Himari selalu dekat dengan Shizuka, Himari pun sudah berkenalan dengan Kazuya. Walaupun hubungan mereka tak sedekat hubungan Kazuya dan Shizuka.


Jam istirahat. Seperti biasa, Shizuka dan Kazuya berdiam di loteng sekolah. Kazuya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Shizuka setiap harinya. Sebenarnya, Shizuka bukanlah tipe agresif yang ingin mengejar seorang laki-laki, tapi ia hanya penasaran.


Makan siang bersama. Menikmati indahnya langit biru di musim gugur itu. Merasakan angin sejuk yang berhembus. Itulah hal yang paling disukai Shizuka saat ini.


“Kau suka dengan gelang itu?” tanya Kazuya tiba-tiba.


Shizuka agak terkejut. “Y-Ya, aku suka.” katanya sambil memandang gelang itu. “Gelang ini pemberian Igara. Dia sangat baik, memberikan benda semahal ini padaku.”


“Aku tahu.” gumam Kazuya.


Ha? Dia tahu apa? Tahu yang memberikan gelang ini adalah Igara? Bagaimana dia bisa tahu?


“Tapi ini tak seindah kenangan yang pernah kupunya.” lanjut Shizuka.


“Hm? Apa?”

__ADS_1


“Jadi, sewaktu kecil aku tidak punya teman sama sekali. Seorang anak laki-laki datang menolong dan mau menjadi temanku. Lalu dikabarkan ia mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku… sangat sedih. Aku tak bisa terima atas kepergiannya. Dia satu-satunya temanku.” Ha? Kenapa aku menceritakan ini kepadanya?


“Lalu?”


“Lalu, aku merasa tak bisa menjalani hari-hariku lagi setelah itu. Kerjaanku hanya menangis dan menangis. Betapa sulitnya untuk mempunyai teman hingga akhirnya aku bertemu Himari dan Igara. Mereka sangat baik padaku.”


Kazuya terdiam kali ini. Entah merasa kasihan atau tidak peduli.


“Hingga suatu hari, kulihat seseorang berjalan keluar dari sekolahan ini. Lalu orang itu menolongku ketika aku sedang dikejar orang jahat, yang besoknya ternyata adalah murid baru di sekolah ini.”


Kazuya menoleh. Ia merasa Shizuka menceritakan dirinya. “Kenapa?”


“Aku seperti melihat teman kecilku saat melihatmu. Wajah kalian mirip dan aku merasa sangat familiar.”


“Kau tahu itu bukan aku. Aku tak punya kenangan seperti itu.”


Shizuka tertawa kecil. “Aku tahu. Kau berbeda dengannya. Teman kecilku itu sangat baik, dia peduli dengan orang-orang sekitar, tak peduli kondisi apa yang dihadapi, ia selalu menolongku. Membuat hari-hariku yang buruk menjadi indah.” bercerita sambil mengingat kejadian-kejadian masa lalu, matanya berkaca-kaca dan meneteskan air mata.


Kazuya terpaku dan tak bicara apa-apa.


“Tak kusangka, setelah kepergiannya, hidupku kembali buruk. Betapa sulitnya hidupku ini.” Shizuka mengusap air matanya dan tersenyum. Senyuman pahit yang juga menyimpan kenangan buruk.


“Tapi kau sudah bertemu Himari dan laki-laki itu.” ujar Kazuya. Entah apa maksudnya tapi ia terdengar seperti sedang menghibur Shizuka.


Mendengar perkataan itu, Kazuya memalingkan wajah.


Shizuka tertawa melihat sikap Kazuya yang tampak malu seperti itu. “Itulah sebabnya kenapa aku ingin sekali berteman denganmu. Dan ketika kau mau menjadi temanku, hatiku sangat senang. Tak ada yang lebih menyenangkan dari itu selama ini.”


Kazuya tertegun mendengar hal itu. “Aku kemari karena harus menjaga nenekku. Ibuku bekerja di Tokyo dan aku dipindahkan kesini. Katanya, rumah nenekku yang sekarang dahulunya adalah rumahku juga.”


Shizuka benar-benar terkejut karena kali ini Kazuya mulai bercerita juga tentang dirinya. “Benarkah?”


“Hm. Tapi aku merasa tak punya kenangan apapun disini. Aku jarang sekali bertemu dengan nenekku tapi sekarang, aku sudah lumayan dekat dengannya.”


“Baguslah kalau begitu. Jika kau ingin meminta bantuan untuk menjaga nenekmu atau yang lain, kau bisa bicara padaku.” Shizuka menatap Kazuya sambil tersenyum besar.


“Kau…”


“Kenapa?” tanya Shizuka bingung.


“T-Tidak apa-apa” Ia menangis sesaat yang lalu, sekarang ia sudah tersenyum lagi.

__ADS_1


Tidak apa-apa. Keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik. Aku sudah menikmati hidupku yang sekarang. Aku tak ingin lebih, aku sudah sangat bersyukur. Aku harap kau terus memantauku dari sana, Kazuto.


“Apakah kau akan selalu tinggal di sini?” tanya Shizuka. Sekarang pun, mengobrol dengan Kazuya menjadi jauh lebih nyaman.


“Aku tidak tahu. Mungkin hanya sampai lulus sekolah. Lalu aku mungkin akan mencari universitas di Tokyo.”


Shizuka menghela napas. “Baiklah. Aku juga belum tahu mau kemana setelah lulus sekolah. Kuharap aku bisa terus bersama teman-teman.”


“Hm.”


Sudah waktunya mereka kembali ke kelas. Dan setelah itu, mereka tak berbicara sedikit pun.


Benar, sudah tepat satu minggu Kazuya datang ke sekolah. Hubungan Shizuka dan Kazuya pun sudah semakin baik. Kazuya sudah semakin enak diajak bicara walaupun masih tanpa ekspresi. Tapi, Kazuya sudah selalu mau menjawab dan menanggapi apa yang Shizuka katakan. Terkadang, masih terasa tak ingin mempedulikan keadaan sekitar. Selalu tidak peduli dengan siapa pun atau apa pun. Lalu sekarang, rasanya Kazuya seperti memiliki kehidupan baru.


Ketika sudah pulang sekolah, Shizuka melihat seorang murid berdiri di depan pintu kelasnya. Entah sedang apa. “Himari, siapa itu?” tanya Shizuka penasaran sambil membawa tasnya.


Himari melihat ke arah pandang Shizuka. Gadis kecil dan mungil tapi memiliki wajah yang manis. “Kurasa itu adalah Aoi. Aoi Yukina kalau tidak salah. Dia dari kelas sebelah.” jawab Himari.


“Begitu rupanya. Tapi dia sedang apa?” tanya Shizuka.


“Tidak tahu. Mungkin menunggu temannya yang ada di kelas ini. Mari pulang.” ajak Himari.


Tapi, ketika Shizuka menyadari gadis itu datang dan hanya melihat dari depan sana, arah pandangnya… seperti melihat ke arah Kazuya. Entah hanya perasaannya atau bagaimana. Shizuka dan Himari keluar dari kelas duluan lalu Shizuka berhenti tepat di depan gadis itu. “Aoi, bukan?” tanyanya.


Himari agak terkejut karena tiba-tiba Shizuka menyapa gadis mungil itu.


Aoi tampak kaget dan tampak ketakutan.


“Hei, Shizuka, ada apa?” tanya Himari. Merasa takut kalau Shizuka akan mengintimidasi gadis itu.


“Kau sedang apa? Apakah ingin bertemu seseorang?” tanya Shizuka pelan. Supaya terdengar ramah.


Aoi gelagapan. “T-Tidak. Maaf mengganggu!” ujarnya lalu berlari meninggalkan mereka.


“Shizuka… dia kabur seperti itu karenamu.” kata Himari.


Shizuka kebingungan. “Apa salahku? Aku hanya bertanya. Jika dia menunggu seseorang, bisa kupanggilkan orangnya, bukan? Apakah aku terlihat seram?”


Himari menghela napas. “Tidak… tapi… kau terdengar seperti mengintimidasi.”


“Ha???” Shizuka memasangkan wajah kaget.

__ADS_1


“Tidak, tidak. Bercanda. Ayo pulang.” ajak Himari.


Apakah aku begitu karena tahu bahwa gadis itu menunggu Kazuya? Atau hanya perasaanku saja? Lagi pula… Kazuya sudah pulang duluan dari kami. Ada apa dengannya?


__ADS_2