
Yuri masuk ke kamarnya dengan penuh emosi. Tak menyangka Kazuya, putra satu-satunya bisa bicara seperti itu. Tak menyangka Kazuya bisa bertanya banyak seperti itu. Yuri benar-benar tak terpikirkan bagaimana Kazuya bisa tahu tentang masalah itu. Ia membuka laci pada lemari bajunya. Sudah ia duga, album foto yang ia simpan tidak ada di sana. Yuri keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya yang sedang duduk santai di kamarnya.
“Ibu, kau tahu dimana album fotoku?” tanyanya panik.
Sang Ibu hanya melirik ke atas meja di ruangannya.
Yuri melihat arah pandangnya dan langsung mengambilnya. “Bagaimana bisa ini ada di sini?” pekiknya.
“Kazuya yang menemukannya, lalu bertanya mengenai foto-foto di dalamnya padaku.”
“Dia… kurang aja…”
“Bukan salahnya. Aku yang memberitahu bahwa kau masih menyimpan foto semasa dia kecil di kamarmu. Lalu dia memberikannya padaku.”
“Lalu? Apa lagi yang kau katakan padanya?”
“Dia bertanya siapa laki-laki yang ada di foto itu. Aku bilang bahwa laki-laki itu adalah ayahnya. Kasihan dia, Yuri… dia seperti tak tahu siapa dirinya.”
“Ibu sangat pintar. Kau tahu apa yang telah terjadi sekarang?! Sekarang Kazuya membenciku!” teriak Yuri.
“Bukan salah Nenek. Ini terjadi karena aku sangat penasaran dengan masa kecilku. Jadi, jangan Ibu sakiti Nenek.” ujar Kazuya tiba-tiba yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Kazuya… kumohon dengarkan Ibu.” Yuri menghampiri Kazuya.
Kazuya menghela napas. “Aku akan ke kamar.”
Yuri terduduk di lantai. “Ibu ingin membuat hidupku seberapa buruk lagi? Aku hanya ingin memiliki seseorang yang aku sayang…” gumam Yuri lantas menangis tiada henti.
Shizuka menghela napas. “Universitas mana yang akan aku tempati… Aku akan segera lulus. Kuharap aku bisa ke universitas di Tokyo.” gumamnya sendirian sambil melihat-lihat universitas yang bagus di Jepang. Tapi, ia juga takkan pergi ke universitas yang mahal. Ia hanya tinggal bersama seorang ibu, ia tak ingin merepotkan Kishima lebih jauh lagi. Ia memutuskan akan mandiri dan bisa belajar di universitas yang memadai.
Merasa lelah memikirkan tentang universitas, Shizuka beralih dari meja belajar ke kasur. Ia membanting tubuhnya ke ranjang lalu memeluk boneka beruangnya. Ia malah menjadi teringat ketika Kazuya datang dan belajar bersama di kamarnya. Suasananya sedikit canggung dan membuatnya sedikit tak fokus. Alhasil, nilai ujiannya tak begitu memuaskan. Kira-kira… apa yang sedang dilakukan Kazuya, ya? Kenapa aku malah jadi memikirkannya sekarang?
Akhir-akhir ini, Kazuya memang bertingkah aneh pada Shizuka. Kazuya menjadi jauh lebih ceria, lebih sering tersenyum, lebih banyak bicara, dan sedikit lebih protektif. Sudah berapa kali Shizuka diselamatkan olehnya? Sudah banyak sehingga Shizuka tak bisa lagi berterima kasih. Kata terima kasih sudah menjadi tak berarti banyak lagi pada Kazuya.
“Semakin kesini… Kazuya semakin mirip dengan Kazuto. Apalagi dengan sikapnya yang sudah membaik sekarang. Namun, jika aku sedang bersama Kazuya, aku lupa pada Kazuto. Bersama Kazuya… jauh lebih menyenangkan sekarang.”
Shizuka menghela napas panjang. “Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar dengan kencang?”
Diam-diam Shizuka tersenyum dan memegang kalungnya. “Kazuto… kurasa aku menemukan penggantimu. Dia sangat mirip denganmu, tapi aku senang bersamanya. Aku akan membuka lagi hatiku mulai sekarang. Aku akan… menyimpan dia di dalam hatiku.”
Dibukanya album foto itu. Dilihatnya satu per satu halaman yang berisi foto keluarga kecil yang terlihat harmonis. Yuri terduduk di tepi kasur dan melihat setiap fotonya. Ada saat dimana ia membuka halaman dan melihat foto Kazuya bersama ayahnya. “Aku merindukanmu… aku sangat merindukanmu… aku harus bagaimana untuk menjaga anak kita…?” gumamnya sendirian lalu air mata keluar dan menetes ke foto tersebut.
Tak lama setelah itu Yuri mendapat panggilan dari seseorang entah siapa. Ia mengusap air matanya lalu mengangkatnya. “Halo?... Apa?... Kau di rumah sakit? Bagaimana bisa?... Baiklah, aku akan segera kembali ke Tokyo. Tunggu aku!”
Setelah perbincangan itu, Yuri segera membereskan album foto dan memasukkannya kembali ke laci lemari baju. Ia membereskan barang-barangnya dan mendatangi kamar Kazuya dan ibunya.
__ADS_1
“Ibu, aku harus kembali ke Tokyo, Daiki masuk rumah sakit.” katanya buru-buru.
Karena tidak mendapati jawaban dari ibunya, Yuri langsung mengarah ke kamar Kazuya. Ia merasa takut dan gugup namun ia mengetuk dan membuka pintu perlahan. “Kazuya…” panggilnya.
Kazuya terlihat sedang duduk menyandar di kasurnya.
Karena Kazuya tak menjawab, Yuri duduk di tepi kasur. “Ayahmu masuk rumah sakit. Ibu harus kembali ke Tokyo.” ujarnya.
Kazuya melirik tajam. “Ayah? Rumah sakit?” tanyanya.
“Ya… sepertinya asam lambungnya kambuh. Maafkan Ibu, ketika waktunya sudah tepat, Ibu akan menjelaskan semuanya padamu. Ibu janji.”
Kazuya masih tak menjawab.
Yuri mengusap kepala Kazuya lembut dan keluar dari kamar itu.
Tak lama setelah itu, Kazuya sudah mendengar suara mesin mobil yang menyala dan pergi. Suaranya menghilang beberapa detik kemudian.
“Ha… Ayah? Kurasa ayahku sudah meninggal. Siapa ‘Ayah’ yang kau maksudkan, Bu?” gumam Kazuya sambil menatap ke luar jendela.
Tak ada yang bisa menghilangkan rasa kesal dalam diri Kazuya. Ia tak bisa melupakan foto itu. Semakin ia mengingatnya, semakin sakit kepala dan dadanya. Rasanya sangat pusing dan dadanya menjadi sesak. Penglihatannya kabur dan rasanya ingin menjatuhkan diri. Ia seperti, sudah tak nyaman dengan rumahnya sendiri.
Kazuya keluar kamar dan berpamitan dengan neneknya. “Aku keluar sebentar untuk mencari udara segar.” ujarnya.
“Ya.” jawabnya.
Ia mengambil jaket dari kamarnya dan akhirnya keluar dari rumahnya.
Tak terasa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Udara sudah semakin dingin dan membuat hidungnya terasa sakit karena kedinginan. Dan kini Kazuya menyesal, tak bisa menikmati musim gugur dan membuat banyak kenangan.
Tanpa sadar, Kazuya berjalan tanpa arah. Ia berputar-putar dan tiba di sebuah taman. Taman yang dulu pernah ia datangi bersama Shizuka. Tempat dimana ia menghibur Shizuka dan makan bersama. Momen-momen seperti itu yang kini membuat Kazuya merasa tenang. Mengingat tentang Shizuka, ia terpikirkan untuk mendatangi rumahnya.
Kurang lebih sepuluh menit berjalan, Kazuya tiba di depan rumah Shizuka. Ia menekan bel rumah dan menunggu beberapa detik hingga pintunya terbuka.
Kishima menyambutnya dengan ramah.
“Selamat siang. Maaf aku mengganggu.” ujar Kazuya sambil membungkukkan badannya.
Kishima terlihat kaget namun membiarkan Kazuya masuk dengan senyuman. “Masuklah, di luar dingin. Duduk saja di sofa.”
Kazuya menurut. Ia melepas jaketnya dan duduk di sofa.
“Ingin minuman hangat? Kubuatkan teh hangat, ya?”
“Terima kasih.” Kazuya berusaha untuk tersenyum dibalik perasaannya yang sedang kacau balau.
__ADS_1
“Ibu… siapa yang datang?” pekik seseorang sambil menuruni anak tangga dan datang ke ruang keluarga. Shizuka terkejut ketika melihat Kazuya sedang duduk santai di sofa. Tak lama setelah itu, Kishima menaruh secangkir teh hangat di meja.
“Kazuya.” jawab Kishima setelahnya.
“Kazuya? Kenapa kau datang kemari?” tanya Shizuka.
Kazuya terdiam. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya di depan Shizuka dan ibunya.
Kishima tampak mengerti dan tersenyum. “Jika kalian ingin mengobrol, bawa saja minumannya ke kamar, ya? Jika butuh apa-apa, Ibu ada di kamar.” ujarnya.
“A-ah… baiklah.” jawab Shizuka.
Kishima berjalan memasuki kamarnya lalu Shizuka mengajak Kazuya untuk naik ke lantai atas.
Setibanya di kamar Shizuka, Kazuya langsung menaruh cangkir berisi teh tersebut di atas meja kecil di tengah ruangan. Ia masih berdiri dan malah berjalan menuju jendela. Kazuya merenung dan melihat ke arah luar jendela. “Pemandangan disini indah.” gumamnya.
Shizuka mengedipkan matanya berkali-kali sambil menghampiri Kazuya. “Hei, kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba datang kesini?” tanyanya penasaran.
Kazuya masih terdiam.
“Kau boleh duduk di kasur jika mau. Tidak apa-apa.” ujar Shizuka.
Mendengar itu, Kazuya malah berjalan menuju kasur dan terduduk. Barulah Shizuka ikut duduk di sampingnya.
“Cerita saja padaku, apa yang terjadi? Aneh sekali kau datang tiba-tiba ke rumahku di hari Sabtu.” kata Shizuka.
“Aku tak nyaman berada di rumah. Kepalaku semakin sakit.” jawab Kazuya.
“Apakah kau sakit? Kau ingin kutemani ke rumah sakit?” seru Shizuka.
Kazuya menggelengkan kepalanya. “Setelah aku mencari tahu, ternyata aku memang pernah tinggal di sini ketika kecil. Lalu aku sakit parah dan harus dibawah ke Tokyo sejak itu.”
“Begitu, ya…”
“Ibuku pulang kemarin… lalu hari ini, dia kembali ke Tokyo karena katanya ayahku masuk rumah sakit. Tapi anehnya, nenekku bilang bahwa ayahku sudah meninggal.”
“Ha? Apa? Aku tak mengerti.”
“Aku juga tak mengerti. Aku terus menerus memikirkan siapa ayahku, siapa yang ada di rumah sakit, siapa aku sebenarnya. Semakin aku berusaha mengingat itu semua, kepalaku semakin sakit.”
Shizuka merasa kasihan dengan Kazuya. Ia menghela napas ringan dan tangannya terangkat. Ia menyentuh kepala Kazuya dan mengusapnya pelan. Tak lama setelah itu, Shizuka memeluknya dari samping. “Bersabarlah… pasti ibumu punya semua jawaban serta alasannya.”
“Dia tak pernah memberitahuku. Aku tak dekat dengan siapa pun di keluargaku.” gumam Kazuya pelan.
Mendengar jawaban itu, Shizuka semakin sedih dan rasanya ingin menangis. Ia sungguh tak menyangka bahwa kehidupan Kazuya sebegitu rumitnya. Ia mengusap kepala dan bahu Kazuya selagi mendekapnya. “Tunggu saja… kau harus sabar… aku akan selalu ada disini untuk menemanimu.”
__ADS_1