
“Tapi ketika aku menawarkan untuk memanggilmu tadi, dia menolaknya. Dia malah langsung pulang.” ujar Nenek.
“Ya. Kami sedang bertengkar, Nek. Hubungan kami sedang tidak baik. Lebih memang jika kami tak bertemu dulu.” jawab Kazuya dengan masih menyantap makanan itu.
“Begitu, ya…”
Kazuya menaruh alat makannya. “Nek, ada yang ingin aku katakan.” ujarnya serius.
“Apa itu?”
“Aku tahu… nama ayahku adalah Akinawa Kano. Dan namaku adalah Akinawa Kazuto. Benar begitu?”
Mata Nenek melebar. Ia terkejut karena Kazuya sudah mengetahuinya. “Bagaimana bisa kau tahu? Apakah ingatanmu sudah kembali?”
“Aku tahu semuanya saat aku pergi ke Tokyo kemarin. Aku sudah bertemu dan bicara dengan Ibu dan suaminya.”
“Begitu rupanya… aku senang mendengarnya.”
“Jadi, selama ini Nenek pun tahu semuanya tentang ini? Tentang ayahku yang meninggal, pernikahan Ibu dan laki-laki itu, dan aku yang hilang ingatan?”
“Maafkan Nenek. Nenek diancam oleh Yuri… jadi aku pun tak bisa memberitahumu semuanya. Tapi paling tidak, aku memberikanmu petunjuk melalui foto di album waktu itu. Dengan begitu, kau bisa mencarinya sendiri. Aku sendiri juga tak tega melihatmu bertahun-tahun begini… sekali lagi maafkan Nenek…” Nenek menyentuh tangan Kazuya.
Kazuya pun tersenyum. “Tidak apa-apa. Berkat Nenek waktu itu, aku jadi punya niat untuk mencari tahu. Terima kasih, Nek.” Kazuya menyentuh balik tangan Nenek. “Aku masih tidak menyangka Ibu mengancam Nenek…”
“Aku tahu ini membuatmu sangat kesal. Tapi, cobalah berpikir… pernikahannya dengan Daiki adalah keinginan ayahmu. Jadi, terima saja dan mulai anggaplah Daiki sebagai ayahmu. Aku kenal dengan Daiki dari sejak dia masih sekolah menengah pertama. Nenek tahu, Kano dan Daiki sama-sama baik dan menyayangi Yuri. Jadi, maafkanlah mereka, supaya Kano juga tenang di sana.”
Sebenarnya ucapan Nenek ada benarnya. Hanya saja, Kazuya tak bisa dengan mudahnya memaafkan mereka. Kazuya benar-benar sakit hati dan rasanya ingin meledak. Tapi setelah mendengar ucapan neneknya, ia mulai bisa memaafkan mereka.
Kazuya mengangguk pelan, “Aku akan berusaha untuk memaafkan mereka.” katanya pelan.
Nenek tersenyum mendengar jawaban Kazuya. “Baguslah… Kazuto…”
Mendengar dirinya dipanggil Kazuto, rasanya aneh dan canggung. Ia seperti berganti nama di tengah-tengah masa hidupnya. “Kazuya saja… ayahku adalah Daiki…” katanya pelan.
“Baiklah, Kazuya…” Nenek tersenyum lagi. “Ngomong-ngomong, aku seperti pernah melihat gadis itu.”
Kazuya bingung. “Gadis itu?”
“Shizuka.”
“Ah… bagaimana bisa?” tanya Kazuya penasaran.
__ADS_1
Nenek tampak sedang mengingat-ingat. Bahkan memori Nenek lebih bagus dibanding memori Kazuya. “Rasanya ia pernah kemari ketika dia masih kecil.”
Kazuya mengerutkan dahinya. “Ketika masih kecil? Kemari? Untuk apa?” tanyanya penasaran.
“Hm…ah, aku ingat, karena dia temanmu. Dia sering kemari ketika masih kecil.”
“Ha…?” Kazuya panik namun kepalanya kembali sakit. “Ah… kepalaku…” katanya sambil meringis kesakitan.
Nenek ikut panik dan berusaha menuntun Kazuya ke kamar. “Kalau tidak ingat tidak apa-apa, jangan dipaksakan. Kepalamu akan sakit dan menyiksamu. Istirahat saja, ya?” ujar Nenek.
Kazuya duduk di tepi kasur dengan masih memijat kepalanya. “Baiklah… maaf, Nek.”
“Tidak apa-apa. Kubawakan makananmu ke kamar agar kau bisa makan kapan pun.” ujar Nenek lalu keluar dari kamar Kazuya.
Ada apa ini? Kenapa perkataan Nenek membuat kepalaku sakit lagi…
“Bagaimana? Sudah diantar?” tanya Kishima.
Shizuka melewati ruang keluarga, mengambil minuman dari kulkas, lalu langsung menuju tangga. “Sudah.” jawabnya singkat.
Kishima menghela napas. “Dasar anak-anak. Bertengkar adalah hobinya.” gumamnya sendirian.
Shizuka kesal dengan dirinya sendiri. Dia kesal dengan Kazuya bahkan tak ingin bertemu laki-laki itu lagi, namun ia juga merindukan sosok Kazuya. Ia penasaran apa yang sudah dilakukannya di Tokyo. Tapi, jika Kazuya tak mencarinya atau menemuinya, mungkin memang tak terjadi apa-apa. Dia takkan bisa membuka pintu hati Shizuka lagi.
Gangguan seperti ini, membuat Kazuya tak bisa masuk sekolah. Entah sudah berapa hari ia bolos dan hanya tidur-tiduran di rumah. Fokus untuk mengingat kembali kenangan masa lalunya. Layaknya sebuah robot yang bagian tubuhnya sedang diperbaiki.
“Kazuya!” panggil Nenek dari luar.
Kazuya menghela napas. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju sumber suara, yaitu ruang keluarga. “Ya?”
“Hai…” sapa seseorang.
“Minami? Ada apa?” Kazuya kebingungan dan langsung duduk di sofa.
“Ku dengar, kau sebenarnya hilang ingatan, ya?”
“Ya.”
“Apakah ingatanmu sudah mulai kembali?” tanya Minami penasaran.
Kazuya menghela napas lagi. “Belum semua.”
__ADS_1
“Begitu, ya…”
“Apakah kau kemari karena disuruh oleh ibuku lagi? Jika ya, lebih baik kau pulang saja. Aku takkan kemana-kemana. Aku tak perlu dijenguk siapa pun.” jawab Kazuya cetus.
“Tidak… aku kesini atas kemauanku sendiri. Begitu mendengar bahwa kau menderita amnesia, aku cukup panik. Jadi, aku langsung datang kemari untuk melihatmu. Aku khawatir padamu.”
“Tenang saja, memoriku tentangmu tidak hilang. Ingatanku hilang sejak aku berumur delapan tahun. Jadi, kau tak perlu khawatir.”
“Baiklah… jika kau butuh sesuatu, beritahu saja aku.”
“Hm.” tak lama setelah itu, Minami pun pulang dan Kazuya kembali masuk ke kamar.
Tapi, seketika ada suara ribut dari depan pintu rumahnya.
“Hai Minami, kau ingin kemana?” tanya seseorang.
Kazuya bingung, suara siapa lagi yang datang. Kenapa rumahnya menjadi begitu banyak tamu? Tapi Kazuya hafal dengan suara ini.
“Masuklah, kita makan bersama saja.”
Minami malah menurut dan kembali masuk ke dalam.
“Kazuya…” panggil orang itu.
Kazuya membalikkan badannya. “Ibu…” panggilnya. Lalu dia juga melihat sosok Daiki di samping Yuri.
Mereka semua duduk bersama di ruang keluarga. “Ada apa?” tanya Kazuya.
“Ibu kesini ingin meminta maaf. Kuharap, kau sudah bisa memaafkan kami berdua…”
“Jangan dibahas lagi. Aku sudah berusaha untuk melupakannya. Aku akan berusaha untuk memaafkan kalian.”
Wajah Yuri pun berubah ceria. “Benarkah? Terima kasih, Nak… Ibu sangat sayang padamu…”
“Maafkan aku, Kazuya.” sahut Daiki.
“Aku tahu itu permintaan ayahku. Jadi, lupakan saja.” jawab Kazuya walaupun masih tak ingin menatap Daiki.
Daiki pun tersenyum.
Kazuya senang, ia merasa keluarga utuh kembali. Apa yang Nenek katakan tempo hari benar. Dengan Kazuya memaafkan kesalahan-kesalahan Yuri dan Daiki, beban di pundak Kazuya terangkat. Ia jauh merasa lebih lega sekarang karena tak perlu memikirkan masalah orang tuanya lagi. Ia akan menyerahkan semuanya pada waktu. Biarkan waktu berjalan dan melihat apa yang akan terjadi nantinya. Ia akan tetap menerima Yuri sebagai ibunya dan Daiki sebagai ayah barunya.
__ADS_1