
Semenjak kejadian itu, hubungan Shizuka dan Himari menjadi tak baik. Hari itu, hari dimana Shizuka dimarahi oleh Himari dan Rin. Tapi Kazuya sudah menenangkan Shizuka agar tak merasa sedih dan bersalah lagi. Shizuka benar-benar tak mengerti, mengapa hanya karena ia menolak Igara membuat hatinya merasa sakit. Ia sangat takut untuk kehilangan Himari, teman terdekatnya.
Ketika pulang sekolah pun, Shizuka hendak bicara pada Himari namun dia tampak tak ingin mengobrol bahkan melihat Shizuka. Himari langsung keluar dari kelas begitu saja. Melihat Shizuka yang tak dianggap oleh Himari, Kazuya menjadi merasa kasihan padanya. Akhirnya ia berjalan mendekati Shizuka.
“Mau pulang bersama?” tanya Kazuya.
“Hm.” jawab Shizuka. Lalu ia mulai berjalan duluan keluar kelas.
“Aku lapar… mau beli roti?” ajak Shizuka.
“Boleh.” jawab Kazuya. Karena ia juga merasa perutnya yang terus berbunyi sejak siang.
Mereka berdua jalan bersama menelusuri jalan di pinggir sekolah, menyeberangi jembatan, dan melewati pertokoan. Hingga tanpa disadari, mereka sudah tiba di toko roti favorit Shizuka.
“Selamat datang.” sapa dari seseorang yang sedang berdiri di balik etalase. “Ah, Shizuka. Sudah lama kau tak kemari.”
“Halo, Bi. Sudah lama, ya?” Shizuka menyapa balik dengan senyuman lebar. Berusaha menutupi kesedihan yang sedang dialaminya.
“Astaga, ada apa dengan matamu, Shizuka? Kau baik-baik saja?”
Shizuka terkejut dan mengedipkan matanya berkali-kali. “A-ah… tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur semalam.” jawabnya. “Ah, aku mau sepuluh roti yang seperti biasa, ya.” timpalnya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Ah, baiklah.” jawab pemilik toko itu.
Hampir saja…
“Terima kasih, Bi.” ujar Shizuka sambil berjalan mengarah ke pintu.
“Hati-hati di jalan, Shizuka. Tolong dijaga ya pacarnya!” pekiknya dari dalam ketika Shizuka dan Kazuya sudah berada di luar.
Shizuka tertawa kecil. “Kenapa dia harus berkata seperti itu. Lucu sekali.”
Diam-diam, Kazuya tersenyum melihat Shizuka sudah sedikit ceria lagi. “Kita mau makan dimana?”
Shizuka tampak berpikir. Lalu ia mendapatkan ide. “Bagaimana kalau di taman dekat rumahku?”
Sama sekali tak ada penolakan, Kazuya mengikuti Shizuka dan tak jauh dari sana, mereka sudah tiba di sebuah taman dekat rumah Shizuka. Untunglah taman itu sepi, tak banyak anak kecil yang bermain. Lalu mereka memutuskan untuk duduk di sebuah ayunan kecil. Mereka melahap satu per satu roti yang Shizuka beli.
“Kazuya… katakanlah padaku, kenapa kau juga tak memarahiku?” tanya Shizuka.
“Dibahas lagi?”
“Aku janji aku takkan menangis lagi. Aku sudah jauh lebih tenang.”
__ADS_1
“Sebenarnya, aku tak peduli kau mau menerima atau menolak temanmu itu. Itu adalah hakmu untuk memilih. Tapi, kusarankan, janganlah terlalu lama memendam perasaan pada orang yang sudah meninggal.”
“Kenapa…?”
“Kau tahu sendiri, kau masih muda. Apa kau tak ingin menikah karena hanya mencintai orang yang sudah tiada? Apakah kau mau sendirian hingga tua nanti?”
“Kau benar… tapi aku juga butuh waktu untuk bisa menyukai seseorang.”
“Ya itu tak apa. Omong-omong…”
Shizuka menoleh. “Hm?”
“Apakah orang yang sudah meninggal itu adalah teman kecilmu itu?”
Shizuka tersenyum. “Ya. Hari dimana dia menolongku dan mau mengenalku, aku sudah jatuh cinta padanya. Bukan karena fisik, namun aku sangat terpesona dengan sikapnya. Dia sangat keren. Hingga saat ini, belum ada orang yang bisa menggantikannya di hatiku.”
“Baiklah.”
Aku tau tahu, tapi mungkin kau bisa menjadi orangnya, Kazuya. “Terima kasih, Kazuya, kau sudah menolongku tadi. Maaf aku terlihat sangat menyedihkan tadi. Jika tidak ada dirimu, mungkin aku akan tetap menyalahkan diriku sendiri. Ketika Rin membawaku ke loteng, aku sudah tahu bahwa kau pasti akan mendengarkan kami. Aku sangat malu.”
“Tak perlu malu, bukan salahmu. Kau harus beruntung aku selalu ada di sana.”
Shizuka tersenyum lagi. “Ya, aku sangat beruntung aku memilikimu sekarang. Aku juga sangat beruntung kau ada di sana.”
Shizuka langsung tercengang dan matanya melebar. Ia terkejut karena tiba-tiba saja Kazuya menyebut namanya. “Ha? Kau sebut siapa tadi?”
“Shizuka. Shizuka. Akhirnya aku menyebut namamu.” ujar Kazuya.
Mata Shizuka berkaca-kaca lagi. Bukan karena sedih, tapi karena terlalu senang.
“Oi, jangan menangis lagi.” ujar Kazuya.
Shizuka buru-buru mengusap air matanya. “A-aku terlalu senang karena kau akhirnya menyebut namaku. Ini pertama kalinya.”
“Aku merasa aneh ketika menyebut namamu. Aku merasa ada seseorang juga yang bernama Shizuka.”
Shizuka menatapnya bingung. “Mungkin temanmu di Tokyo?” tanyanya.
Kazuya mengangkat bahunya. “Mungkin. Sudah gelap. Lebih baik kita pulang.”
“Ya. Terima kasih sekali lagi, Kazuya.” Shizuka berdiri dan bersiap untuk pulang.
“Kau tahu, aku akan selalu ada di sana.” ujar Kazuya.
__ADS_1
Shizuka mengangguk semangat sambil tersenyum lebar. “Ya.”
Tak lama setelah itu, mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Sekarang, mengobrol dengan Kazuya menjadi jauh lebih enak. Waktu berlalu begitu cepat hingga mengharuskan mereka untuk pulang. Tapi, Shizuka benar-benar senang sekarang.
“Kazuya!!!” teriak Shizuka begitu Kazuya sudah agak jauh dari lokasinya tadi.
Kazuya tampak berbalik badan.
“Aku akan menyelesaikan masalahnya besok!” lanjut Shizuka.
Kazuya tersenyum. “Ya!” jawabnya sambil berteriak juga.
Saat itu pula, Kazuya melihat wajah Shizuka yang tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya. Tak lama setelah itu, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.
Shizuka menatap wajahnya di depan cermin. Ia menghela napas dan melihat wajahnya sendiri dengan tatapan sedih. Bagaimana bisa tadi ia menangis begitu hebohnya di depan Kazuya.
“Aku pulang.” ujar Shizuka begitu masuk ke dalam rumahnya.
Kishima datang dari arah dapur untuk menyambut Shizuka. “Ah… ada apa dengan matamu? Apa yang terjadi?” tanyanya panik.
Shizuka memalingkan wajahnya dan menutupi wajahnya dengan tangannya. “Tidak apa-apa. Aku hanya kemasukan pasir saja tadi karena habis bermain di taman.” jawabnya sambil tertawa garing.
“Astaga… memangnya kau masih anak-anak? Ya Sudah, tetesi matamu dengan obat nanti. Sekarang mandi dan ganti baju.”
“Ya.”
“Huh… apa yang harus aku lakukan dengan mata ini… besok pasti masih bengkak.” gumam Shizuka. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya.
Ia duduk di tepi kasur. Mengingat semua kejadian yang terjadi hari itu. Bertengkar dan saling diam dengan Himari. Lalu dimarahi juga oleh seseorang yang bahkan tak ia kenal sebelumnya. Karena rasa sakit hati dan cemburu terhadap Shizuka. Tapi, ia sangat bersyukur karena ada Kazuya yang menghibur dan menemani Shizuka setelahnya. Bahkan Kazuya sendiri yang mengajak Shizuka untuk pulang bersama, menemani beli roti, dan mau makan bersama di taman. Tak ada yang lebih indah dari itu pada hari yang sangat menguras air matanya.
Mengapa cinta itu sangat sulit? Di saat aku mencintai seseorang, semuanya tak berjalan lancar dan menyebabkan sakit hati yang mendalam. Di saat aku dicintai seseorang, menolak cintanya juga membuat aku jadi yang bersalah. Apa yang harus aku lakukan…
Keesokan harinya, Shizuka memutuskan untuk berbicara pada Himari saat jam istirahat. Ia sudah membuat keputusan kemarin bahwa ia akan menyelesaikan semuanya hari ini. Ia sudah sangat bersiap jika Himari masih tidak ingin menerima keputusannya terhadap Igara. Shizuka sudah mengepalkan kedua tangannya setelah ia berhasil membawa Himari ke taman belakang sekolah.
“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?” tanya Himari.
“Himari, dengarkan aku. Aku sungguh minta maaf. Aku tahu bahwa Igara laki-laki yang sangat baik, tapi aku tetap tidak punya perasaan lebih padanya. Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai teman, itu saja. Kumohon hargai keputusanku ini. Aku tak ingin kehilangan teman sepertimu hanya karena Igara. Maafkan aku.” ucap Shizuka yang tak lama kemudian air matanya hampir mau keluar.
Tiba-tiba saja, Himari mendekat dan malah memeluk Shizuka. “Hm. Maafkan aku juga, Shizuka. Aku seharusnya tak berhak untuk menyuruhmu menerima Igara. Itu adalah keputusanmu. Maafkan aku, Shizuka.”
Saat itu juga Shizuka menangis dan balik mendekap Himari dengan kencang. Sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergantikan. Shizuka hanya terlalu senang, karena ia akhirnya berbaikan dengan Himari.
“Sudah, jangan menangis. Matamu bengkak, bukan? Nanti malah semakin bengkak.” ujar Himari sambil mengusap punggung Shizuka.
__ADS_1
Shizuka menurut. Ia melepaskan diri dan mengusap air matanya. Lalu tersenyum pada Himari yang sedang tersenyum kepadanya