
Beberapa hari sejak kejadian itu, semuanya berjalan normal-normal saja. Shizuka dan Himari sudah mulai berbicara lagi dengan Igara. Lalu hubungan mereka dengan Kazuya juga berjalan biasa-biasa saja.
“Kazuya…” panggil Shizuka.
Kazuya hanya menoleh sambil mengunyah roti yang Shizuka beli.
“Bagaimana kehidupanmu di Tokyo? Apakah menyenangkan? Aku juga ingin sekali pergi ke Tokyo.” ujar Shizuka.
“Biasa saja. Aku merasa lebih suka di sini dibanding di Tokyo.”
“Benarkah? Apakah kau mempunyai teman disana? Siapa temanmu?” tanya Shizuka penasaran dengan wajahnya yang ceria.
“Hm… ada beberapa teman tapi tak terlalu dekat denganku.”
Shizuka masih menunggu kelanjutannya.
“Tapi memang ada satu yang selalu mengikutiku.”
“Apakah… dia perempuan?”
“Ya.”
“Apakah dia teman pertamamu disana?”
“Hm. Dengannya, aku jadi punya beberapa teman lainnya.”
Shizuka sedikit tertegun lalu memandang ke langit-langit. Benar, dia sudah lama tinggal di Tokyo, dia pasti punya teman pertama. “Begitu, ya. Apakah dia lebih menyebalkan dariku yang selalu menghampirimu di loteng sekolah?”
Kazuya tertawa kecil. “Tidak, kau jauh lebih menyebalkan darinya. Kau sangat sangat menyebalkan, kau tahu?”
Shizuka mencibir. “Kalau begitu untuk apa berteman denganku. Pergi saja dari sini.” jawabnya cetus.
“Kau orang pertama yang benar-benar kuanggap sangat menyebalkan yang pernah kutemui.”
Shizuka menoleh cepat. “Hei! Aku mengerti… tak perlu diperjelas begitu. Menyebalkan sekali…”
“Kau orang pertama yang pernah kuselamatkan dalam hal apapun. Itu pertama kalinya aku benar-benar ingin menyelamatkan seseorang dari kejaran orang-orang jahat. Selama ini aku tak pernah ingin peduli sama siapa pun, aku sama sekali tak ingin memperhatikan siapa pun. Tapi malam itu, pertama kalinya aku ingin menyelamatkan seseorang.”
Shizuka benar-benar terkejut kali ini.
“Kau orang pertama disini yang mau berteman denganku. Kau bersikeras untuk mendapatkan posisimu sebagai temanku. Aku sudah berusaha untuk menghindar darimu, namun aku akhirnya tak bisa.”
__ADS_1
Shizuka menatap Kazuya dari samping. Kenapa dia tiba-tiba begini?
“Kau orang pertama yang mau membelikanku makanan hampir setiap hari. Aku tahu, bukan masakanmu sendiri, tapi aku melihat usahamu. Kau yang pertama dan selalu membelikan makanan dan minuman kesukaanku.”
“Bentar… bahkan aku tak tahu makanan dan minuman kesukaanmu.” ujar Shizuka.
“Roti coklat dan kopi susu.”
Shizuka jadi teringat ketika ia pertama kali membelikan makanan dan minuman itu untuk Kazuya. Sedikit Shizuka senang karena ia membelikan makanan yang tepat untuk Kazuya. “Lalu?”
“Yasudah itu saja.”
“Ha… sangat tidak seru. Itulah aku di matamu.” cetus Shizuka. Ia sedikit berpura-pura tidak puas untuk memancing Kazuya berbicara lagi.
“Kau orang pertama yang berhasil menemukanku disini.” lanjut Kazuya.
Sekarang Shizuka benar-benar tertegun dan menatap Kazuya dari samping dengan serius. Kazuya tak menghadapnya tapi Shizuka masih ingin memperhatikan wajah Kazuya. Perlahan dia merasa tatapan Kazuya sedikit berbeda dari biasanya.
Kazuya mendongak dan menatap langit. “Mungkin kau orang pertama yang melihatku sedekat ini.
“Bahkan di sekolahku yang lama, di Tokyo, tak ada satupun yang bisa menemukanku di loteng. Hanya ada beberapa siswa yang ada urusannya sendiri. Aku sebenarnya tak mengharapkan mendapat teman disini, namun sekarang ku akui, kau adalah temanku satu-satunya.”
Tidak… aku semakin tidak fokus. Ada apa ini?
Ucapan itu membuat Shizuka ketakutan. Ketakutan sekaligus senang. Ia tak bisa mengartikan perasaannya sekarang dengan kata-kata. Ia hanya merasa senang sekaligus malu, karena Kazuya mengarah pembicaraan kesitu. Ketika Kazuya mendekapnya saat dia menangis. “Kau… masih ingat kejadian itu rupanya.”
“Tentu saja aku ingat. Saat itu, aku hanya tak ingin melihatmu menangis hanya karena orang tak dikenal memarahimu. Jangan biarkan harga dirimu diinjak-injak seperti itu lagi. Mengerti?”
Shizuka terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengingat kejadian itu dan malah membuatnya malu. Jika diingat dengan baik-baik, Kazuya memang benar-benar memeluk dan berusaha untuk menghibur Shizuka. Tanpa sadar, wajahnya terasa panas.
“Kenapa wajahmu merah sekali?” tanya Kazuya tiba-tiba.
Sekilas Shizuka menoleh ke Kazuya namun dia langsung memalingkan wajahnya karena rasa malu yang tak tertutupi. Mendapati Kazuya tengah menatapnya kebingungan. “A-ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa hari ini sangat panas. Benar, kan? Lihatlah mataharinya sangat terik.” jawabnya sambil tertawa garing.
Kazuya menghela napas. “Kau memang pandai berbohong.”
“Hei! Aku tidak berbohong! Rambutku kan panjang, tidak sepertimu yang berambut pendek.”
“Ya karena aku laki-laki.”
“Hih… kau sangat menyebalkan.” Shizuka kembali mencibir sambil memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Lalu sedetik setelahnya, tangan Kazuya terangkat dan menyentuh kepala Shizuka. “Kau ini sangat lucu.” katanya sambil tertawa lebar.
Bahkan Shizuka bisa melihat giginya yang tertata rapi dari balik senyuman lebar Kazuya. Ia juga merasa semakin panas ketika Kazuya menyentuh kepalanya. Dia tak bisa menangkis tangan itu. Tangan yang waktu itu pernah menenangkannya, terasa sangat hangat.
Tak lama Kazuya melepas tangannya dan menghadap ke bawah. “Kau juga adalah orang pertama yang pernah membuatku tersenyum. Kau orang pertama yang melihatku tersenyum dan tertawa. Bahkan ketika aku bertemu dengan orang tuaku sendiri, aku tak bisa merasakan kebahagiaan. Aku hanya tak ingin mengekspresikan wajahku ini. Tapi itu terjadi begitu saja ketika aku bertemu denganmu. Kau sudah banyak menjadi yang pertama untukku.”
“Kenapa… kenapa kau bicara seperti ini padaku?” tanya Shizuka.
“Entahlah. Aku ingin mengatakannya saja.” jawab Kazuya singkat.
Shizuka diam. Ia tak menjawab apa-apa lagi. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Senang, malu, bahkan takut. Ia benar-benar tak menyangka Kazuya berkata seperti itu. Seperti orang yang sangat berbeda. Semakin ramah dan semakin banyak bicara, sikapnya semakin mendekati sikap Kazuto.
“Kenapa diam? Tidak suka aku bicara begini?” tanya Kazuya cetus.
“B-bukan begitu, aku hanya bingung…”
“Kenapa?”
“Aku bingung kenapa kau tiba-tiba bicara begitu, ini pertama kalinya kau banyak bicara dan aku senang bisa mendengarkanmu bicara panjang. Percakapan ini yang paling aku tunggu sejak pertama kita bertemu. Kau benar-benar seperti orang yang berbeda. Kau… sikapmu semakin mendekati sikap temanku… teman kecilku.”
“Apakah… aku sangat mirip dengan temanmu itu?”
“Hm. Mata dan bibirmu sangat mirip. Aku tahu begitu aku melihatmu, kukira kau orang yang sama. Ternyata tidak.” Shizuka mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Apakah dia cinta pertamamu?”
“Ya… bisa dibilang begitu.”
“Kurasa dia akan sangat bersyukur bisa menjadi temanmu. Dia akan menjadi laki-laki yang beruntung jika dia masih hidup.”
Shizuka tertegun. Ia memandangi wajah Kazuya yang tak lama setelah itu, Kazuya memandang balik kepadanya. “Apa maksudmu…?”
“Tidak… aku bersyukur sekarang berteman denganmu. Kau selalu ada di sisiku. Aku akan selalu bilang padamu, aku akan selalu ada disini.” gumam Kazuya dengan perlahan memalingkan wajahnya.
Shizuka menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Hm. Aku juga sangat senang dan bersyukur.”
Percakapan ini, entah kenapa Kazuya membicarakan hal ini. Rasanya aku tak memancing apa-apa untuk mengarah pembicaraan kesini. Kenapa dia seperti orang yang berbeda?
Setelah beberapa detik saling diam, ternyata Kazuya kembali membuka percakapan. “Aku penasaran, seperti apa temanmu itu. Apakah aku akan seperti melihat wajahku sendiri?”
Shizuka mengangkat kedua alisnya. “Aku tak punya fotonya. Ketika kecil, kami tak pernah difoto bersama. Tapi, mungkin kau bisa datang ke rumahku. Kau mau? Mungkin kita bisa sekalian belajar bersama untuk ujian mendatang.”
__ADS_1
Sebenarnya, Kazuya sangat tak ingin pergi kemana-mana selain rumah dan sekolah. Namun, mendengar ajakan Shizuka seperti itu, ia malah menjadi tertarik. Rasanya akan menyenangkan jika sekali-kali belajar dan bermain ke rumah seorang teman. Lagi pula, hubungannya dengan Shizuka semakin dekat. Mungkin dia akan merasa nyaman untuk berkunjung ke rumahnya.
“Boleh.” jawab Kazuya pelan.