
Gelang pemberian Igara. Shizuka mengambilnya dari atas meja belajarnya dan menatapnya. “Kira-kira, berapa ya harganya?” gumamnya sendiri.
Lalu ia mengenakannya dan segera berangkat ke sekolah.
Sebenarnya ia masih tak mengerti kenapa Igara tiba-tiba memberikan gelang itu. Selama ini Shizuka tak pernah terpikirkan. Ia langsung menerima begitu saja tanpa alasan yang tepat. Sekarang, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan Igara.
Setibanya di sekolah, seperti biasa, ia langsung masuk ke kelas. Tidak bertemu dengan Himari maupun Igara. Namun ia sudah melihat Kazuya duduk diam di kursinya sambil menatap ke jendela luar. “Pagi.” sapanya.
Kazuya menoleh. “Pagi.”
“Apakah Himari belum datang?” tanya Shizuka sembari menaruh tasnya dan duduk.
Kazuya hanya menggelengkan kepalanya.
Shizuka menghela napas panjang. Jika Himari tidak ada, sekarang ia merasa cemas dan khawatir. Kemana dia?
Selama pelajaran pun, pikiran Shizuka tidak fokus. Ia merasa ada yang tidak beres dan terus mengganggunya di kelas. Himari akhirnya datang tepat sebelum Ibu Guru masuk ke kelas. Dia datang terengah-engah dan langsung meletakkan kepalanya diatas meja belajar. Semua murid tampak tertawa melihat tingkah laku Himari. Tapi, saat itu pula Shizuka merasa tenang melihat Himari akhirnya datang juga.
Saat istirahat tiba, Shizuka hendak berjalan ke loteng sekolah seperti biasa. Kazuya sudah menghilang dengan cepat dan Shizuka hanya ingin segera menyusulnya. Tapi, ketika ia berjalan di sepanjang lorong sekolah, banyak sekali gerombolan siswa yang berlari berlawanan arah dengan Shizuka. Entah kenapa mereka berlari dan tak sengaja ada yang menabrak Shizuka. Shizuka sedikit terdorong ke tembok dan merasakan ada gesekan pada tangannya. Ia menatap tangannya dan melihat gelang pemberian Igara sudah terlepas entah kemana. Shizuka mencari-cari ke bawah dan akhirnya menemukan gelang tersebut.
Dengan khawatir Shizuka mengecek kondisi gelang tersebut. Untunglah, tidak ada yang rusak atau putus, gelangnya masih bisa dikaitkan pada tangan Shizuka. Sesaat jantung Shizuka berdebar sangat kencang karena takut merusak benda itu. Apa yang akan dikatakannya pada Igara jika tahu bahwa gelang pemberiannya rusak begitu saja? Melihat gelangnya yang sudah baik-baik saja, Shizuka merasa sangat lega.
Setibanya di loteng, ia duduk di samping Kazuya sambil masih memperhatikan gelang itu.
“Kenapa?” tanya Kazuya tiba-tiba.
Shizuka agak terkejut. “Tadi gelangnya terjatuh.” ujarnya.
“Kenapa bisa?”
“Hanya tertabrak orang.” Shizuka tertawa kecil.
“Coba kulihat.” kata Kazuya tiba-tiba sambil meraih tangan Shizuka dan menarik tangannya untuk melihat kondisi gelang itu. Karena, tidak mungkin bagi Kazuya untuk meminta Shizuka melepaskan gelang itu terlebih dahulu.
Shizuka melebarkan matanya. Ia bergeming karena tiba-tiba saja Kazuya menggapai tangannya begitu saja. Ia sama sekali tak bisa bicara apa-apa.
“Tidak ada yang rusak. Baik-baik saja.” ucap Kazuya lalu mengembalikan tangan Shizuka.
Shizuka masih terdiam.
Melihat Shizuka yang terdiam seperti itu, Kazuya mengedipkan matanya dan baru sadar apa yang telah dilakukannya. “A-aku hanya ingin lihat. Itu saja.” ujarnya.
Mendengar itu, Shizuka tersadar kembali dan langsung mengalihkan pandangannya. “Ya.”
Selama beberapa menit mereka saling diam. Karena kejadian canggung tadi, keduanya diam tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Lalu, setelah lima menit akhirnya terucap juga dari salah satu mulut mereka.
__ADS_1
“Apa kau menyukai laki-laki itu?” tanya Kazuya.
Pertanyaan sensitif itu muncul dan membuat Shizuka memalingkan wajahnya pada Kazuya. “Ha? Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?”
“Tak masalah jika kau tak mau menjawab. Aku juga tak peduli.” sahut Kazuya.
Shizuka menghela napas ringan. “Aku tidak tahu. Dia baik, namun aku tak memiliki perasaan lebih untuknya.”
“Begitu rupanya.” kata Kazuya.
Perbincangan itu pun menjadi perbincangan terakhir dengan Kazuya hari itu. Keduanya kembali ke kelas begitu kelas sudah mau dimulai.
Ketika bel sekolah berbunyi, semua siswa tampak membereskan barang-barang mereka. Begitu pula dengan Shizuka dan Himari. Ketika mereka sudah mau keluar dari kelas, Shizuka melihat lagi seseorang yang sudah berdiri di samping pintu kelasnya. Aoi.
Shizuka menghampiri Aoi. “Lagi? Sebenarnya siapa yang kau tunggu?” tanyanya.
Gadis kecil itu tampak ketakutan dan pergi berlari.
Shizuka mengedipkan matanya. “Ada apa dengannya? Apakah dia anak kecil?”
“Hei, dia seumuran dengan kita. Dan jika aku jadi dirinya, aku juga akan lari begitu.” sahut Himari di belakangnya.
“Kenapa?” tanya Shizuka bingung.
“Kau ini terlihat sangat mengintimidasi. Kau menyeramkan.”
Lalu mereka berdua berjalan menelusuri lorong sekolah menuju keluar. Saat mereka sudah mengganti sepatu mereka, Shizuka ada yang memanggil dari belakang. Shizuka menoleh.
“Oh ada Igara.” sapa Himari.
“Shizuka, bisa bicara sebentar?” tanyanya.
Shizuka hanya mengangguk.
“Baiklah, aku pulang duluan, ya. Sampai jumpa besok!” ujar Himari lalu pergi begitu saja.
“Ikuti aku.” Igara berjalan kembali memasuki sekolahan diikuti dengan Shizuka.
Shizuka perlahan mengikuti Igara di belakangnya. Tidak tahu kemana Igara mengarah, ia hanya mengikutinya perlahan tanpa melakukan hal-hal yang mencurigakan. Lalu, beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah halaman belakang sekolah. Terdapat kursi taman dan juga pepohonan yang lebat. Membuat udara sangat sejuk dan terasa nyaman.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Shizuka.
Igara tampak menarik napas panjang dan menatap mata Shizuka dengan serius. Tatapannya tajam sehingga membuat Shizuka menjadi panik.
“Ada apa?” tanya Shizuka lagi.
__ADS_1
“Aku sudah mengenalmu selama dua tahun lebih. Dulu kita dekat, namun sekarang aku sedikit sedih karena tak bisa dekat lagi denganmu.”
Shizuka masih menatap Igara dengan sungguh-sungguh.
“Namun ketika pertama kali mengenalmu, aku merasa nyaman. Berbicara denganmu membuatku bahagia. Aku tahu bahwa kau telah menutup hatimu rapat-rapat karena masa lalumu. Kau menjauh dari semua lelaki dan hanya dekat dengan Himari. Bahkan ia sangat bersusah payah untuk mengambil hatimu.”
Shizuka menghela napas kecil.
“Tapi aku sangat bersyukur bahwa sekarang kau sudah mau menjadi temanku. Bahkan aku sangat senang sekarang kau sudah mau bicara denganku.”
“Ya, kau orang yang baik, Igara.” Shizuka tersenyum.
Melihat senyuman itu, jantung Igara benar-benar berdebar kencang. “Sudah dua tahun ini, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku terus mencari cara supaya kita bisa lebih dekat. Aku sudah memendam perasaan ini sangat lama. Walau hanya memandangmu dari jauh, aku sudah merasa senang dan lega. Walah tak bisa bertemu denganmu setiap hari, aku tetap menyimpan perasaan ini. Aku tak pernah sedikitpun ingin jauh darimu.”
Shizuka melebarkan matanya dan menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”
“Aku menyukaimu. Aku selalu menyukaimu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu.”
“Ha…?”
“Gelang itu…”
Shizuka langsung menunduk menatap gelang di tangannya.
“Gelang itu, aku sangat senang kau telah menerima dan menyukainya. Dan kau masih memakainya hingga sekarang.”
Shizuka tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya ingin mendengarkan Igara.
“Sebenarnya, gelang itu adalah sebagai tanda bahwa selama ini aku menyukaimu. Kau perempuan pertama yang pernah aku cintai, Shizuka.”
Shizuka lagi-lagi terkejut. Mulutnya terbuka dan kedua tangannya terangkat untuk menutupnya.
“Bagaimana perasaanmu? Aku ingin tahu bahwa apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku. Karena, aku hanyalah satu-satunya teman laki-lakimu.” Igara tertawa kecil.
“A-aku senang kau menjadi temanku, Igara. Kau sudah selalu berada di sisiku ketika aku sedang masa sulit bersama Himari. Kalian teman yang sangat baik. Aku sayang pada kalian. Aku hanya tak ingin kehilangan kalian sebagai teman baikku.”
“Teman…”
“Ya…”
“Jika kau memiliki perasaan yang sama, kau boleh tetap memakai gelang itu.”
Shizuka menundukkan kepalanya. Ia tampak berpikir cukup lama yang akhirnya ia mengangkat tangannya. “Aku sangat senang kau sudah mau menjadi teman baikku, Igara. Tapi, maaf… aku tak bisa menerima perasaanmu. Aku memang sudah membuka hatiku untuk kau dan Himari. Namun, hanya ada satu orang yang benar-benar memiliki hatiku. Sampai saat ini, aku tak bisa melupakannya walaupun ia sudah tiada. Dan hingga saat ini, aku tak bisa menggantikannya dengan siapa pun. Aku sudah nyaman denganmu sebagai teman. Lalu, aku tak ingin setelah ini, kau menjauhiku. Aku ingin kau tetap menjadi temanku bersama Himari. Kau adalah teman yang sangat baik.” Shizuka tersenyum sambil perlahan ia melepaskan gelang itu dan meletakkannya pada telapak tangan Igara.
“Shizuka…”
__ADS_1
“Kau berhak mendapati perempuan yang jauh lebih baik dariku. Maafkan aku, Igara… dan, terima kasih.” Shizuka tersenyum untuk membuat Igara tidak bersedih.
Igara menghela napas panjang. “Aku sudah lega sekarang. Terima kasih, Shizuka.” katanya sambil tersenyum.