Under The Autumn Leaves

Under The Autumn Leaves
Something I Shouldn't Know


__ADS_3

Kazuya mengetuk pintu perlahan. Lalu tak lama setelah itu, ia mendengar suara “Masuk.” dari dalam. Ia membuka pintu namun masih berdiri di ambang pintu. Menunggu Dokter Taka benar-benar mengizinkannya untuk masuk dan duduk di dalam. “Maaf, bisa bicara dengan Dokter Taka?” sapanya.


Dokter tersebut tampak kebingungan. “Siapa kau? Apakah aku mengenalmu?” tanyanya.


“Aku Fujikawa Kazuya. Aku pasienmu sekitar sepuluh tahun yang lalu.” jawab Kazuya untuk meyakinkan Dokter Taka bahwa mereka sudah saling kenal.


“Hm… apakah kau putra Yuri?” tanya Dokter Taka.


Wajah Kazuya pun berubah senang. “Ya, benar.”


Dokter Taka pun ikut tersenyum. “Masuk dan duduklah.”


“Baik.” Kazuya menutup pintu dan duduk di depan Dokter Taka.


“Bagaimana kabarmu? Apakah kau sehat? Aku sudah lama tak bertemu dengan Yuri, jadi aku tak tahu bagaimana kabarmu. Dimana Yuri?”


“Aku sehat, terima kasih. Aku tak tahu Ibu dimana, karena kami belum bertemu lagi. Tapi ada hal yang ingin kutanyakan padamu, Dokter Taka.”


Dokter Taka tampak mengesampingkan berkas-berkas yang sedang ia lihat dan menatap serius pada Kazuya. “Ada apa?”


Kazuya terdiam selama beberapa detik. Ia takut akan kenyataan yang akan ia dengar, namun ia tetap harus menanyakannya untuk melepas rasa penasaran. “Kudengar, dulu aku sakit dan dirawat disini. Lalu, kau dokter yang menanganiku. Aku ingin tahu, sebenarnya aku sakit apa? Karena, akhir-akhir ini aku sering mengalami sakit kepala.”


“Tidakkah Yuri cerita padamu? Kukira dia mengatakannya padamu.”


“Aku… tidak tahu apa-apa.” jawab Kazuya pelan.


Dokter Taka menghela napas dan tampak bicara sendiri. “Apa yang Yuri lakukan selama ini? Jadi begini, sepertinya sepuluh atau sembilan tahun yang lalu, kau mengalami kecelakaan dan akibatnya cukup parah.”


“Ha? Kecelakaan…?” tanya Kazuya panik.


“Ya… yang kuingat, kau dipindahkan kemari dari rumah sakit di Nagoya. Jadi, aku yang menanganimu di sini. Dan kebetulan, aku adalah teman sekolahnya Yuri.”


“Lalu? Apa yang terjadi padaku? Berapa lama aku dirawat hingga sembuh? Apakah ada akibat parah pada diriku?”


“Saat itu kau masih kecil, jadi benturan dikepalamu akibat kecelakaan cukup parah. Sehingga kau mengalami amnesia.”

__ADS_1


“A-amnesia? Aku… hilang ingatan?” tanya Kazuya memastikan.


Dengan berat Dokter Taka mengangguk. “Mungkin itulah sebabnya sekarang kau mengalami sakit kepala. Itu terjadi karena kau berusaha untuk mengingat sedangkan memori di otakmu cedera.”


Kazuya benar-benar terdiam. Ia tak bisa memproses apa yang sedang ia tangkap dari Dokter Taka. Selama sepuluh tahun ia hilang ingatan dan ia baru menyadari sekarang bahwa ia seperti tak punya kenangan masa kecil.


“Jangan khawatir, Kazuya. Jika kau bersabar dan berusaha, ingatanmu perlahan akan kembali. Mungkin sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk pemulihan sehingga ingatanmu akan segera kembali.”


“Begitu, ya… Aku benar-benar tak tahu selama ini. Kalau begitu terima kasih, Dokter Taka.” ujar Kazuya.


“Tenanglah Kazuya, aku yakin semuanya akan kembali.”


Kazuya keluar dari ruangan Dokter Taka dengan tubuh lemas dan pikiran yang kosong. Masih tidak menyangka bahwa selama ini ingatannya hilang. Sepuluh tahun ia menjalani hidup seperti tidak ada maknanya. Seperti cangkang yang tak bernyawa. Sekarang ia tahu, kenapa akhir-akhir ini kepalanya sering mengalami sakit ketika berusaha mengingat ayahnya saat melihat foto album. Ternyata memang ada memori terhadap foto itu dan ayahnya sendiri. Namun… kenapa ia juga mengalami sakit kepala ketika bersama Shizuka? Apakah ingatan masa kecilnya juga ada hubungannya dengan Shizuka?


Kazuya terduduk di lobby rumah sakit sambil memijat kepalanya. Mendengar itu semua dari Dokter Taka, membuatnya pusing dan tubuhnya terasa lemas. Memijat pelipisnya hanya mengurangi sedikit rasa pusingnya.


Sekilas ia melihat ke depan dan melihat Yuri berlari kecil memasuki lorong yang lain. Kazuya mengikuti Yuri berlari dan memasuki sebuah ruangan. Melihat papan di atas pintu, terpampang jelas bahwa ruangan itu adalah ruang rawat inap. Kazuya membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam. Terlihat Yuri sedang berdiri di samping ranjang pasien.


“Daiki… Aku mendapat kabar kalau Kazuya akan ke Tokyo… dia mau menyusulku kemari… bagaimana ini?” ujar Yuri ketakutan.


“Jangan khawatir, aku akan mengatasinya. Aku akan menghadapi Kazuya.”


“Cih…” Kazuya akhirnya membuka pintu tersebut dan langsung mendatangi mereka.


Terlihat jelas sekali dari wajah mereka bahwa mereka takut dan gugup melihat Kazuya tiba-tiba berada di sana. Sontak Daiki terbangun dan Yuri pun sedikit tersentak. “Kazuya? Bagaimana kau bisa ada di sini?” kata Yuri.


“Karena Ibu bilang kalau Ayah masuk rumah sakit. Bagaimana bisa seorang anak tak menjenguk ayahnya sendiri?” sindir Kazuya.


“Padahal, kau tunggu saja di sana, setelah ayahmu pulang dari rumah sakit, kami akan mengunjungimu kesana.” ujar Yuri sambil tersenyum. Senyuman palsu yang jelas terlihat oleh Kazuya.


Kazuya tertawa kecil. “Omong kosong… sejak kapan kalian peduli padaku? Kalian hanya ingin menyingkirkanku dengan memindahkan aku ke sekolah di sana. Aku tak masalah jika hanya tinggal bersama Nenek, tapi, kita bisa membawa Nenek juga ke Tokyo, bukan? Kenapa… Kenapa?!” pekiknya. Sedetik kemudian ia sadar ia sedang berada di rumah sakit. Ia menyesal telah berteriak dan berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak berteriak lagi.


“Kazu-”


“Yuri… biar aku yang menjelaskan.” sahut Daiki.

__ADS_1


Kazuya memandang Daiki tajam. Menunggu apa yang ingin Daiki katakan.


“Kami tak tega dengan nenekmu yang tinggal sendirian di sana. Dan karena kami terlalu sibuk, kami akhirnya memintamu untuk pindah sekalian menjaga nenekmu disana.”


“Baiklah, baiklah. Lupakan itu karena aku tak peduli soal itu. Selanjutnya, aku tahu kau bukan ayah kandungku. Siapa kau sebenarnya?”


“Begini… Aku, ayahmu, dan Yuri sudah berteman lama sejak kami masih sekolah. Kami bertiga berteman akrab. Tapi, aku dan ayahmu… kami sama-sama menyukai Yuri. Aku sedih ketika tahu bahwa Yuri akan menikah dengan ayahmu. Dan aku pun tak bisa menemukan wanita lain selain Yuri. Beberapa tahun setelah kau lahir, kudengar bahwa ayahmu jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Aku bicara padanya dan dia bilang bahwa hidupnya kini sudah sulit. Dia tak ingin meninggalkan kau dan Yuri sendirian. Lalu, dia memintaku untuk akhirnya menikah dengan Yuri. Jadi, aku adalah ayahmu sekarang.”


Kazuya terdiam lalu tertawa sedetik kemudian. “Sangat lucu…” ujarnya.


“Aku serius, Kazuya. Itu adalah cerita yang sebenarnya.” kata Daiki memastikan.


“Kenapa aku mendengar seperti… kau benar-benar mengharapkan ayahku untuk mati sehingga kau bisa menikahi Ibu?” lanjut Kazuya.


“Kazuya, jaga bicaramu.” sahut Yuri. “Dia ayahmu sekarang, sopan lah padanya.”


“Untuk apa aku sopan jika kalian sendiri juga tidak menghargaiku? Aku tak tahu apakah kau orang baik atau jahat. Aku tak bisa mempercayaimu sekarang.” ujar Kazuya. Ia menarik nafas dalam dan menghelanya panjang. Ia sungguh tak menduga akan mendengarkan cerita macam itu di saat seperti ini. Kini ia tahu bahwa hidupnya selama ini dipenuhi dengan kebohongan. “Apakah kalian sadar? Kalian telah membohongiku selama bertahun-tahun lamanya. Apakah aku ini mainan? Apakah aku ini bukan orang penting sehingga bisa kalian permainkan seperti ini? Bagaimana bisa aku tak mengetahui hal sepenting ini?” lanjutnya.


“Kazuya…”


“Aku merasa hidupku selama ini sia-sia… pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan kalian. Kalian benar-benar tak seperti orang tuaku.”


“Aku tak punya pilihan lain…” gumam Yuri.


“Aku masih merasa ada yang aneh… apakah kalian tak ingin menjelaskan apa-apa lagi padaku? Sebelum aku sendiri yang akan bilang.”


Yuri dan Daiki terdiam. Kazuya tahu bahwa masih ada yang mereka sembunyikan darinya.


Kazuya pun kembali membuka mulut. “Aku tahu tentang kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah tahu semuanya termasuk aku ini sekarang hilang ingatan.”


Saat itulah Yuri dan Daiki terlihat benar-benar kaget. “Bagaimana… kau tahu?” tanya Yuri.


“Aku menemui Dokter Taka. Dia menceritakan semuanya padaku. Jadi, kumohon, jangan berbohong lagi padaku. Aku ingin tahu siapa ayahku sebenarnya, siapa diriku, dan bagaimana masa kecilku.”


Yuri pun mendekat. “Aku yang akan katakan semuanya padamu…”

__ADS_1


__ADS_2