
“Dimana ini?” tanya Kazuya.
Setelah sekitar sepuluh menit berjalan, mereka akhirnya tiba juga di tujuan yang Shizuka maksud. Kini mereka berada tepat di depan sebuah gerbang sekolah dasar. Sekolah dasar tempat dimana Shizuka menjadi satu-satunya orang yang terpojok, tak mempunyai teman, namun memiliki kenangan indah di dalamnya.
“Sekolah dasarku. Ayo masuk, kelihatannya sudah kosong.” Shizuka memasuki gerbang diikuti dengan Kazuya.
Mereka menaiki anak tangga yang berjumlah tiga di depan pintu masuk. Tempat dimana Shizuka terjatuh dan kalungnya terlepas. “Disinilah aku terjatuh. Kalungku ini lepas, dan terinjak oleh anak-anak yang lain. Aku menangis bukan karena rasa sakit pada kaki atau tanganku, tapi kepada kalungku yang menjadi rusak.”
“Begitu ya…”
“Kalung ini menjadi rusak. Lalu setelah anak-anak itu pergi, datanglah seorang anak laki-laki lalu mengambil kalungku. Dia juga membantuku untuk berdiri.”
Shizuka memasuki lorong demi lorong hingga akhirnya tiba di kelas yang ia tempati dulu. “Ini kelasku. Kelas ini selalu menjadi tempat menyeramkan bagiku, selalu menjadi mimpi buruk. Tapi, Kazuto membuatnya menjadi taman bermain yang indah dan menyenangkan.”
Kazuya memperhatikan isi kelas dan memang serasa tak asing. Mungkin tempatnya sangat mirip dengan sekolahan yang ia tempati di Tokyo.
“Ikut aku.” ajak Shizuka.
Ia berjalan mengarah taman belakang sekolah. Ada satu pohon yang besar dan dengan kerimbaan daunnya, membuat tempat itu menjadi teduh dan nyaman. Terutama untuk Shizuka, tempat dimana biasanya ia menyendiri dan menangis. Tapi, karena sekarang musim gugur, daun-daunnya yang berwarna kuning sedang berjatuhan. Tetap menjadi tempat favorit Shizuka.
“Lihatlah taman ini. Bagus sekali, bukan?” Shizuka keluar dari dalam gedung dan berdiri tepat di bawah pohon besar itu. “Aku sangat suka disini. Musim gugur adalah kesukaanku, membuatku nyaman hanya dengan duduk di bawah pohon besar ini.”
“Memang indah.” gumam Kazuya.
“Ya. Di sini tempat aku selalu menyendiri. Tidak ada yang menemaniku di sini. Aku selalu sendiri dan menangis di sini. Tapi, di sini pula Kazuto menghampiriku lagi dan mengajakku untuk pulang dan bicara pada ibuku. Ia bilang pada ibuku bahwa ia yang merusak kalungnya. Betapa baiknya dia, bukan?”
Kazuya termenung. Perlahan ia merasa pusing pada kepalanya.
“Maafkan aku, mungkin kau akan bosan terus-terusan mendengar cerita yang sama dariku. Tapi aku benar-benar ingin menceritakannya padamu. Selama ini, aku tak pernah cerita pada siapa pun tentang diriku.”
“Himari?"
“Dia tahu namun tak semua kuceritakan padanya. Begitu ada kesempatan seperti ini, aku ingin sekali membawamu kesini. Oleh karena itu, aku ingin sekali berteman denganmu. Melihatmu selalu sendirian seperti melihat diriku yang dulu. Kuharap kau mengerti sekarang kenapa aku selalu mengejarmu.”
“Aku… kurasa ada tempat seperti ini juga di Tokyo. Kurasa sekolahku dulu ada tempat seperti ini.”
“Ya, semua sekolah kurasa ada taman belakang dan pepohonan. Tapi, hanya di sini aku benar-benar merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan.”
“Hm, tempat ini memang nyaman. Aku juga menyukai musim gugur.”
Shizuka melebarkan matanya. “Benarkah? Aku senang mendengarnya.” ujarnya sambil tersenyum lebar. Sedetik kemudian ia menghela napas. “Aku merindukan Kazuto. Cinta pertama memang sulit dilupakan.”
Kazuya terdiam. Ia fokus dengan kepalanya yang pening sedari tadi. Kenapa aku selalu sakit kepala setiap Shizuka bercerita tentang masa lalunya?
__ADS_1
Shizuka menyadari ada sesuatu yang aneh pada Kazuya. “Kau baik-baik saja? Kepalamu sakit lagi?”
“Aku baik-baik saja…”
“Perlukah kita ke rumah sakit?” tanya Shizuka khawatir.
Tak lama kemudian, Kazuya bisa mengontrol kembali badannya yang hampir tumbang tadi. “Aku sudah baik-baik saja. Tidak apa-apa.”
“Maafkan aku, karena aku terlalu banyak bicara…”
Kazuya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Tidak apa-apa. Aku sudah baikan.”
Shizuka tersenyum kecil. “Baguslah, lebih baik kita pulang saja, ya?” ajaknya sambil berjalan hendak memasuki gedung sekolah lagi.
“Tak bisakah kau melihat padaku?” tanya Kazuya tiba-tiba yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Shizuka terhenti. Ia bingung dan berpikir apa maksud ucapan Kazuya. Ia membalikkan badannya. “Apa maksudmu?”
Kazuya menghela nafas dan berjalan melewati Shizuka. “Tidak, tidak. Lupakan saja. Ayo pulang.”
Shizuka mengerutkan alisnya. Ia sungguh bingung apa yang dimaksud dengan Kazuya tadi. Tapi, karena Kazuya sudah pergi, ia segera menyusul dan tak memikirkan hal itu lagi.
Apa maksud Kazuya tadi? Kurasa, aku selalu melihat padanya. Kenapa dia berbicara seperti itu? Membuatku bingung saja…
“Selamat datang.” teriak Kishima dari arah dapur.
Shizuka mendatangi Kishima yang sedang masak di dapur. “Ibu masak apa hari ini?” tanyanya.
“Ibu masak masakan kesukaanmu. Bagaimana tadi festival olahraganya?”
Shizuka duduk di bangku meja makan. “Menyenangkan. Kelasku memenangkan dua pertandingan.”
“Wah, hebat sekali putriku ini. Baiklah, mandi dan ganti baju lah, setelah itu makan malam.”
Shizuka bangkit berdiri. “Baiklah” jawabnya.
“Tunggu.” sahut Kishima. Ia mendekati Shizuka dan menatap kalung itu. “Kau memakainya lagi?”
Shizuka melihat arah pandang Kishima dan sadar akan kalung di lehernya. “Ah, ini adalah pembawa keberuntunganku.”
“Apakah kau baik-baik saja? Kau memakainya lagi…”
Shizuka tersenyum lebar. “Aku baik-baik saja. Lagi pula, ini pemberian Ibu, bukan? Bagaimana bisa tidak aku pakai?”
__ADS_1
Kishima menghela napas lega. “Baiklah. Masuklah ke kamar.”
Shizuka menurut
Kishima berharap bahwa kali ini Shizuka sungguh baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya. Melihat wajah Shizuka yang berseri-seri seperti itu, Kishima turut bahagia.
Apa yang sudah kukatakan tadi? Benar-benar memalukan… aku terlalu terbawa suasana. Tapi, kenapa kepalaku sering sakit akhir-akhir ini? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?
Kazuya memejamkan matanya. Lalu ia menjadi berpikir, bagaimana bisa ia merasa tahu dan nyaman dengan taman itu. Jelas-jelas ia baru pertama kali kesana tapi rasanya tidak asing. Seketika pula kepalanya terasa sakit. Dan setelah dipikir-pikir, ia tidak pernah mengingat masa kecilnya. Apakah ia benar-benar dari Tokyo sejak kecil, atau ia juga pernah tinggal di kota kecil ini?
Kazuya akhirnya terbangun dan mencari neneknya. Ia mencari ke setiap ruangan dan menemukan neneknya sedang merajut di kamarnya. Kazuya mengetuk dan membuka pintu perlahan. “Maaf mengganggu malam-malam, Nek…” ujarnya.
“Oh, Kazuya. Masuklah, ada apa?” ujar nenek lembut.
Kazuya duduk di tepi kasur neneknya. “Aku ingin tahu, apakah aku dari kecil memang tinggal di Tokyo? Maksudku… apakah aku pernah tinggal di sini?” tanyanya pelan.
Neneknya terdiam selama beberapa detik. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. Tak lama kemudian dia menjawab, “Benar. Kau pernah tinggal di sini.”
Kazuya tampak terkejut serta melebarkan matanya. “Benarkah? Kapan?”
“Hm… saat kau masih di sekolah dasar kurasa. Aku lupa…” jawab neneknya.
“Apakah Nenek menyimpan foto kecilku?”
“Aku tidak, tapi mungkin ibumu masih menyimpannya. Kurasa masih ada di lemari di kamarnya.”
“Baiklah, aku akan mencoba mencarinya. Terima kasih, selamat malam.” Kazuya keluar dari kamar neneknya dan kembali menutup pintu.
“Anak yang malang…” gumam sang Nenek.
Perlahan Kazuya membuka pintu kamar ibunya. Ia mulai membuka seluruh laci dan lemari yang ada dan mencari setidaknya sebuah album foto. Atau mungkin, ia bisa menemukan benda lain yang lebih berharga baginya. Satu per satu laci dibukanya namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan apa-apa. Lalu ia membuka laci terbawah dari lemari pakaian yang ada di samping tempat tidur. Dilihatnya sebuah buku yang cukup tebal. Kazuya sangat yakin bahwa itu adalah album foto.
Dibukanya album foto itu dari halaman pertama. Dari dirinya yang masih bayi hingga balita. Semuanya ada dan komplit. Namun, ada satu sosok yang tak pernah ia ketahui atau lihat sebelumnya. Laki-laki yang selalu menggendong atau menggandeng Kazuya ketika kecil. Hampir semua foto ada laki-laki itu dan ibunya. Seketika kepala Kazuya menjadi sakit lagi.
Ia menutup buku album itu dan berusaha untuk mengontrol dirinya. Ia tak ingin sakit kepala seperti ini terus-menerus. Akhirnya ia kembali ke kamar neneknya sambil membawa album foto itu.
“Nek…” Kazuya masuk perlahan lagi. Ia berusaha menutup kesakitannya.
“Kenapa, Nak?”
Kazuya memperlihatkan isi album foto itu. “Siapa laki-laki ini? Kenapa dia selalu ada di setiap foto ini tapi aku tak mengenalnya?”
“Hm… dia adalah… ayahmu.”
__ADS_1
“Ha?”