
Bang Noven duduk pada penutup soft closed dan bersandar merokok melegakan hati dan pikiran. Di dalam hatinya tetap teringat sosok Vindy yang dewasa namun apalah daya, kedua orang tua saling tidak merestui satu sama lain.
Vindy yang dewasa tentu memiliki sifat keibuan. Bertahun-tahun dirinya menjaga Vindy dan berharap bisa mendapatkan restu untuk menghalalkan gadis itu.
Relung hatinya terbolak-balik mengingat kedua gadis yang berseliweran dalam pikirannya. Kini ia teringat akan sosok Irene yang kekanakan, cerewet dan pecicilan, jauh berbeda bahkan berbanding terbalik dengan Vindy yang sesuai dengan kriterianya.
Di dalam usia Bang Noven saat ini tentu dirinya sangat menginginkan hadirnya sang buah hati. Bengalnya, sifat brutalnya tetap kalah dari keinginannya untuk segera menimang bayi kecil dalam hidupnya tapi apalah daya, dirinya tidak yakin Irene bisa selembut dan memiliki sifat keibuan seperti Vindy.
'Astagfirullah'
Dalam hatinya terus beristighfar memilih jalan terbaik. Sudah setengah jam lebih dirinya merenung di dalam toilet hingga dua batang rokok habis dalam sekejap.
Teringat olehnya senyum sang Mama yang begitu menginginkan Irene menjadi menantunya. Setelah berkali-kali menarik nafas dan membuangnya perlahan, Bang Noven beranjak dan memantapkan hati serta pikiran.
Saat melangkah melewati cermin besar, ia sempat menatap wajahnya dan bersandar sejenak sembari memejamkan mata. "Aku laki-laki dan aku harus kuat, harus bisa mengambil keputusan yang tegas. Ini demi kebaikan semuanya."
~
"Lama sekali Bang." Protes Irene.
"Sakit perut." Jawab Bang Noven.
"Jadi bagaimana? Kita batalkan pernikahan?" Tanya Irene penuh harap.
"Dengar Irene..!! Pernikahan bukanlah suatu permainan. Orang tua kita, menjodohkan kita pasti memiliki dasar yang kuat. Dwipa dan Vindy adalah sosok yang kita pilih dalam hidup kita tapi orang tua kita tidak berkenan dengan hadirnya mereka, jadi lebih baik kita lanjutkan saja pernikahan kita..!!" Kata Bang Noven.
"Tapi bagaimana kita bisa menikah?? Kita tidak saling cinta, tidak saling kenal. Saat kita berteman dengan seseorang dan orang tersebut tidak sepemikiran dengan kita, semua akan terasa hambar dan membosankan Bang. Menikah bukan untuk waktu yang sebentar. Setiap hari kita akan bertemu dengan 'dia' dan lagi-lagi 'dia'. Apakah Abang tidak membayangkan hal itu?? Dan apa yang akan terjadi setelah itu??? Selingkuh?? Seperti pikiran Irene tadi."
Senyum menghias wajah Bang Noven, mungkin kini ia sedikit menyadari bahwa Irene tidak seburuk itu meskipun di dalam hatinya belum bisa seratus persen menerima hadirnya gadis pilihan sang Mama. "Tidak ada yang salah dari ucapanmu dek, tapi apa salahnya kita belajar untuk saling sayang. Bukankah itu sebabnya Allah memberikan rasa untuk setiap manusia? Hewan saja bisa penuh kasih dengan sesamanya, kenapa kita tidak mencobanya?" Bang Noven mengulurkan tangan, ia berusaha mengimbangi jalan pikiran gadis kecilnya, memulai segala sesuatunya dari hal sepele khas remaja di awal perkenalan. "Pacaran dulu yuk?"
"Nggak mau, Irene nggak cinta sama Abang." Tolak Irene.
Bang Noven membuang nafas panjang, begitu sulitnya membujuk gadis belasan tahun ini. Seorang Vindy yang sudah dewasa saja terkadang membuatnya pusing tapi menghadapi seorang Irene ternyata ratusan kali lebih sulit.
__ADS_1
Tangan itu kembali berusaha menyentuh punggung tangan Irene. "Kita belum mencoba nya."
"Lalu bagaimana dengan Bang Dwipa dan Mbak Vindy?" Tanya Irene penuh keraguan.
"Kita selesaikan masalah ini satu persatu dek."
Irene terisak sesak di saat teringat kebersamaannya dengan Bang Dwipa. Sosok lembut dan dewasa, hampir tidak pernah ia mendengar suara keras dan bentakan dari pria tersebut, tidak seperti Bang Noven yang selalu memasang wajah gahar di hadapannya.
"Sekembalinya dari penugasan nanti.. Bang Dwipa sudah berjanji akan melamar Irene dan kami akan segera menikah."
"Apa kamu berpikir Abang tidak berniat melamar Vindy?? Bahkan nama Vindy sudah masuk di kantor dan tadi Abang sudah mengganti namanya dengan namamu." Ucap Bang Noven tidak lagi menutupi keadaannya.
Irene semakin kencang menangis. Ada rasa tidak terima dengan hidupnya tapi dirinya pun tidak tau harus berbuat apa.
"Kita pacaran dulu ya..!!" Bujuk Bang Noven.
Tak ada pilihan lain saat ini dan Irene mengangguk dan menurut ucap Bang Noven.
-_-_-_-_-
"Ini sudah fix ya?" Tanya Danyon.
"Siap.. sudah komandan." Jawab Bang Noven secara resmi meskipun saat ini mereka bertemu bukan dalam kesempatan yang resmi.
"Baiklah, saya sudah memantau soal pengajuan nikah ini dan laksanakan sesuai prosedur. Kamu sudah tau khan kalau posisimu akan bergeser menjabat sebagai Danki pertahanan di kompi sebelah?" Danyon menatap wajah Bang Noven.
"Siap.. monitor Komandan..!!"
"Tapi ingat Letnan.. selama kelengkapan surat ini belum final, alangkah baiknya jangan satu rumah dulu. Bu Noven silakan menempati rumah dinas dan Letnan Noven terserah ya mau bertengger dimana. Tapi kembali lagi, ini masalah pribadi masing-masing dan jika Letnan Noven sudah paham dengan resikonya ya monggo saja. Pria dewasa pastinya sudah paham dengan segala konsekuensi." Kata Danyon mengingatkan.
"Siap.. arahan di mengerti Komandan."
"Selamat menempuh hidup baru Letnan, Selamat membawahi anggota dan untuk Ibu Noven, Selamat mendampingi suami dalam menjalankan tugas.. semoga betah bersama korps kompi tempur."
__ADS_1
"Siap Komandan. Ijin.. Terima kasih."
"Terima kasih bapak." Irene menunduk dan menangkupkan kedua tangan membuatnya semakin terlihat berwibawa dan dewasa.
:
Sesampainya di mess perwira, Irene langsung membanting tubuhnya di atas kasur berukuran seratus dua puluh kali dua ratus sentimeter itu. Ia menatap langit-langit kamar.
Di belakangnya menyusul Bang Noven yang sudah membuka seragam luarnya. Bang Noven menutup pintu dan menyalakan pendingin ruangan.
"Lelah sekali ribet seperti ini." Kata Irene mengeluh.
"Sabar dek, semua butuh proses. Semua juga sudah di persingkat." Bujuk Bang Noven.
"Ada kolam renang nggak? Irene mau renang."
"Boleh juga tuh, di kolam renang kompi saja ya..!! Nanti Abang minta kosongkan kolamnya. Hari Minggu begini pasti baru di kuras." Bang Noven segera mengambil ponselnya.
"Benar-benar kosong Bang??" Tanya Irene.
"Spesial untukmu Bu Danki." Jawab Bang Noven kemudian terfokus pada seseorang di seberang sana. "Kolam renang sudah di bersihkan?"
"Siap Danki.. sudah. Ijin arahan..!!"
"Tolong kosongkan area sekitar kolam, kalau bisa radius satu kilometer. Saya mau renang bersama Bu Danki." Arahan Bang Noven.
"Siap..!!"
.
.
.
__ADS_1
.