Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
38. Untuk satu hati.


__ADS_3

Bang Enggano melepas gulungan rambut Hanin hingga rambut panjangnya tergerai. Hanin pun tak lagi ada suara yang terlepas dari bibirnya. Hanya ekspresinya yang menunjukkan bahwa gadis itu begitu haus akan kelembutan sedangkan Bang Enggano sendiri akhirnya pasrah pada kenyataan. Ia mengingkari ucapnya yang akan menahan diri hingga kembali nanti dan masalah yang tengah mereka hadapi usai dengan tuntas sempurna.


"Aaaarrgghh.. hhhggghh.." ditengah ambang kesadaran yang mengujinya, Bang Enggano memilih menarik diri.


'Mudah-mudahan nggak ada yang nyangkut. Nyembur di luar otomatis terbawa arus air donk.'


Ucap batinnya sudah benar-benar yakin dengan perhitungannya yang sistematis.


"Pedih Bang. Aaaahh.." Hanin mencengkeram erat kedua bahu Bang Enggano. "Tolong bawa Hanin ke bilik. Carikan kunyit, minyak kelapa dan daun putri malu." Pinta Hanin, wajahnya sampai pucat.


Bang Enggano segera merapikan diri. Terlihat di kain putih Hanin sedikit memercik warna merah segar. Refleks Bang Enggano mengecup kening Hanin. Hatinya terasa tak karuan.


"Laju lah Abaaaang..!!!!"


"Iyaaa.." jawab Bang Enggano tak tega melihat Hanin.


"Apakah ular tadi menyemburkan bisanya?? Sakit sekali." Kata Hanin.


Bang Enggano bingung namun juga penasaran. Apakah benar ini karena ulahnya atau karena benar ada ular yang melintas lalu mematuk istrinya.


"Apa yang di patuk?" Tanya Bang Enggano terang-terangan.


Terlihat wajah Hanin sedikit malu, ia menunduk meskipun menahan sakit.


"Bisikan saja di telinga Abang..!!"


"Di.........."


Bang Enggano ikut menunduk menyimpan senyumnya sendiri.


"Abang punya obat yang bagus. Nanti Abang obati..!!" Kata Bang Enggano kemudian membantu Hanin untuk mandi.


...


Bang Noven melirik ke arah bilik. Tidak biasanya Hanin tidak beraktivitas pagi ini, dan biasanya perapian di dapur sudah menyala dan Hanin sudah sibuk dengan urusan dapur.


"Buat apa kau di dapur sendirian??"


Bang Noven melihat sahabatnya menjerang air dan hanya menoleh saja lalu melanjutkan kesibukannya.


Sahabatnya itu mengobrak abrik seisi ransel dan mencari sesuatu dan ternyata hanya sebuah handuk kecil untuk wajah.


"Kau mau buat apa??" Tanya Bang Noven lagi.


"Tolong mintakan obat anti nyeri..!! nanti lempar saja ke bilik..!!" Pinta Bang Enggano.


Bang Noven segera keluar mencari petugas medis dan malah bertemu dengan Irene.


"Abang minta obat anti nyeri."


"Ada apa Bang, Abang sakit??" Tanya Irene sambil membuka kotak perbekalan obatnya.


"Gano yang sakit." Jawab Bang Noven.


Kening Irene berkerut. "Bukannya tadi terlihat sehat saja?? Bang Gano juga menggendong Hanin masuk ke dalam kamar." Kata Irene kemudian menyerahkan obatnya dan Bang Noven menerimanya.


"Hanin sakit apa? Abang tau kalau Hanin tidak tahan sakit, tapi baru kali ini Abang dengar Hanin sakit sampai terdengar parah."

__ADS_1


"Ayo kita lihat Bang..!!" Ajak Irene.


"Nanti saja..!! Tadi Gano sudah merawatnya."


"Bagaimana kalau Bang Gano membutuhkan kita??" Tanya Irene cemas.


"Gano tidak butuh kita, Gano hanya butuh waktu untuk lebih intim dan dekat dengan Hanin. Mana obatnya..!!" Pinta Bang Noven.


Irene segera menyerahkan obat tersebut.


//


Pllttkk..


Bang Enggano melihat obat tersebut di bawah tirai kamar. Ternyata sahabatnya itu sangat pengertian. Ia pun segera mengambilnya.


Perhatian Bang Gano tertuju pada jam tangannya. Sekitar tiga jam lagi batas waktu penyerahan benda denda adat pun usai. Harapan untuk mendapatkan kijang juga semakin menipis.


"Cepat di minum obatnya dek, Abang mau mencoba peruntungan mencari kijang sekali lagi." Kata Bang Enggano.


Rasa sakit Hanin membuatnya tidak dapat mengatakan apapun.


"Tunggu Abang kembali. Apapun resikonya nanti, Abang akan tetap membawamu keluar dari sini." Janji Bang Enggano.


...


Bang Noven sudah meminta rekan disana untuk membawa tempayan dan piring lebih dulu juga seekor kijang dengan tanduk cabang tiga.


Sungguh hatinya sangat mencemaskan sahabatnya sebab semalam Bang Enggano terlihat tidak sehat meskipun pagi ini sahabatnya itu sudah jauh lebih baik tapi kesehatan adalah salah satu hal yang tidak bisa di prediksi.


"Istirahatlah.. Irene akan menjagamu di temani Pratu Dwipa. Abang akan melihat perkembangan masalah ini di pendopo desa. Mudah-mudahan Gano bisa dapat kijangnya." Kata Bang Noven.


"Ijinkan Hanin ikut. Hanin tak tenang memikirkan Bang Gano."


"Jangan.. kamu di sini saja."


"Hanin mau ke perkampungan..!!" Kata Hanin tidak bisa di cegah.


:


Bang Enggano menghadap kepala adat. Ia memenuhi syarat tiga tempayan dan sepuluh piring keramik namun dirinya hanya sanggup membawa satu ekor kijang untuk kepala adat.


Jika sudah seperti ini siapa pun tau bahwa artinya Letnan Enggano belum bisa memenuhi syarat. Para anggota ikut cemas di buatnya.


"Menurut kesepakatan, Pak Enggano harus menjalani hukum pelulusan yaitu hukum tikam belati." Kata kepala adat.


"Saya terima." Jawab Bang Enggano tanpa ragu. Ia berjalan pada seorang pria yang membawa belati adat. Belati yang sudah banyak merenggut nyawa manusia dengan segala permasalahan adatnya.


Dari jauh Hanin sudah berlari masuk ke arena. "Jangan Abaaang..!!!!" Teriak Hanin.


"Haniin..!!" Bang Noven panik melihat Hanin sudah berlari ke arena. Ia segera menarik lengan Hanin yang berusaha semakin masuk


"Bodoh sekali kau Nov, kenapa Hanin sampai kesini????" Tegur keras Bang Enggano.


Secepatnya Bang Noven membawa Hanin menjauh. Bang Enggano tak lagi menoleh untuk menatap Hanin. Tanpa ragu ia membuka kaos lorengnya lalu mengambil belati adat di atas nampan.


'Bismillah.. tolong kuatkan aku Tuhan. Ijinkan aku menjaga Hanin, biarkan aku menjaga kesucian dan harga diri istriku. Jika memang aku pantas bersanding dengannya, beriLah aku perlindungan karena ada satu wanita yang kuniatkan untuk ku jaga lahir batinnya.'

__ADS_1


"Silakan ke arena..!!"


Tanpa rasa ragu, sejenak Bang Enggano memejamkan matanya. Serangan pertama dilancarkan. Aura penuh ketegangan dan magis kental terasa di sana. Bang Enggano mampu menangkis serangan tanpa merasa kesulitan sedikit pun.


~


Sepuluh menit berlalu, nampaknya lawan dan Bang Enggano pun sudah lelah. Keduanya sama-sama hebat dan kuat.


Bang Noven mulai cemas pasalnya malam lalu sahabatnya itu sudah dalam keadaan drop dan sempat sakit akibat kelelahan.


Di sisa tenaganya, Bang Enggano kembali melakukan serangan. Belati terayun memusingkan lawan. Tendangan demi tendangan mengarah mengecoh, hingga pada detik-detik yang di tentukan. Bang Enggano mengarahkan serangannya. Tubuhnya yang lelah membuatnya kurang waspada.


zzlllbb..


Bang Enggano terbanting, terkapar dan menggelinjang di atas tanah.


"Abaaaaang..!!!" Hanin berteriak histeris ingin mendekati Bang Enggano namun Bang Noven menahan tubuhnya.


Sekilas ada rasa sakit di hati Irene melihat perhatian suaminya pada wanita lain tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menebar rasa cemburu.


"Jangan Hanin, kamu pasti paham aturan mainnya. Tunggu sampai perangkat adat memutuskan..!! Belati yang menusuk lebih dalam, dia lah pemenangnya."


Bang Enggano melepas belati di tangannya. Darah segar menyembur dari bibirnya dan pria tersebut masih mempertahankan jalan nafasnya.


Para perangkat adat memeriksa keadaan keduanya. Perangkat adat mencabut belati dari perut Bang Enggano dan juga lawan pria tersebut lalu memperhatikan dengan seksama. Namun saat itu lawan Bang Enggano tumbang dengan sempurna.


Para perangkat berbisik-bisik lalu salah satunya menuju kepala adat dan kepala adat mengangguk mengerti.


"Kami akan umumkan secara adil masalah ini. Saya selaku kepala adat memutuskan bahwa Badia Natha Haninda, bukanlah resmi menjadi penduduk adat kami dan Pak Enggano bisa membawa Nona Hanin keluar dari desa adat." Ucap kepala desa memutuskan.


"Alhamdulillah." Tetes air mata Bang Enggano mengalir, ia menatap gadis cantiknya yang sudah histeris dalam sergapan Bang Noven.


Anggota team saling berpelukan tak bisa menahan rasa haru atas perjuangan Letnan mereka.


Bang Noven pun tak lagi bisa menahan Hanin yang berontak, ia melepaskan Hanin.


Hanin berlari menghambur dan memeluk Bang Enggano. Tangannya membersihkan banyaknya darah di wajah, ia juga menahan laju darah yang mengucur deras dari sekitar perut Bang Enggano.


"Kenapa Abang lakukan semua ini?? Apa untungnya mempertahankan perempuan sepertiku????" Pekiknya masih histeris.


"Kamu adalah berlian di dalam tumpukan jerami. Ternyata hanya darah yang bisa meluluhkan hatimu. Aku ikhlas dan tidak akan mengeluh tentangmu. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku..!!"


Bang Enggano berusaha kuat menahan rasa sakit dari luka tusukan belati.


"Kenapa harus dengan nyawa Abang?"


"Karena Abang sudah berjanji untuk satu hati, Abang akan kembali untuk putri rimba yang ku cintai." Jawab Bang Enggano kemudian pandangannya kabur dan tidak tau apapun lagi.


"Tolong bantu saya. Dantim mu blackout total..!!" Perintah Bang Noven ikut menghambur membantu sahabatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2