Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
18. Masalah yang mengganjal.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sholatnya dengan khusyuk Bang Noven menoleh menatap sang istri yang tadi masih cemberut padanya.


Bang Noven mengulurkan tangannya tapi Irene menepisnya.


"Jangan marah donk Neng, nanti cantiknya hilang." Kata Bang Noven.


"Kalau Irene cantik pasti sejak tadi Abang mau dekat sama Irene. Irene juga sudah minta maaf soal Bang Dwi." Jawab Irene.


"Salim dulu..!! Nggak baik setelah sholat marah-marah begitu." Tegur Bang Noven kemudian bergeser duduk mendekati Irene. "Abang bukan tidak mau, Abang hanya takut Allah cemburu karena Abang sempat melupakanNya demi kamu."


"Apa tidak boleh Irene pengen dekat sama Abang sebentar saja?" Tanya Irene dengan nada memelas.


Bang Noven tersenyum licik penuh arti, ternyata sedikit sentuhannya tadi membuat Irene penasaran dengan bujukan kecilnya.


"Sekarang sudah waktumu Bu Danki. Mau sampai pagi pun sispri mu ini siap melayani..!!"


Irene masih terpaku, ia masih diam saja saat Bang Noven membuka mukenanya dan mengalungkan kedua tangan Irene di belakang tengkuk lehernya.


Hati-hati sekali Bang Noven mengangkat Irene naik ke atas ranjang. Bang Noven tau sedari tadi Irene terus menatapnya tanpa mengedipkan mata.


"Ada apa? Apa Abang ini ganteng sekali sampai kamu tidak berkedip menatap Abang." Kata Bang Noven menggoda Irene. Jemarinya mulai menjalar nakal ke sekitar wilayah gunung berapi tapi Irene melarangnya. "Kenapa baru sekarang di larang? Tadi kamu terlihat sangat menikmati." Ledek Bang Noven. Dirinya sudah gemas, tak tahan melihat ekspresi wajah Irene yang nampak kesal tapi begitu menggemaskan.


Irene memalingkan wajahnya namun tidak melarang Bang Noven menyentuhnya bahkan mengijinkan pria tersebut 'lancang' menjajaki daerah terlarang di tubuhnya.


"Abang kangen dek..!! Boleh Abang main sama Irene seperti waktu itu??" Tanya Bang Noven di samping sela leher Irene.


Irene berkedip dan menerka apa yang telah terjadi di antara mereka namun dirinya tetap tidak bisa mengingatnya. "Kapan Bang?"


"Kolam renang. Kejadian di kolam renang." Jawab Bang Noven.


Seketika Irene mengingatnya dan melirik Bang Noven. "Irene belajar ngambang? Atau waktu Abang sengaja menusuk Irene??" Tanya Irene lagi. Ia sengaja menjauh karena masih ingat rasa sakit akibat tertusuk sesuatu yang menyakitkan.


"Yang kedua."

__ADS_1


"Nggak..!!! Itu sakit..!!! Irene nggak mau lagi." Tolak Irene sudah ingin kabur dari Bang Noven tapi jelas saja tak membiarkan gadisnya lari begitu saja dari sisinya. Bang Noven menarik Irene kembali ke dalam pelukannya.


"Ireeenn.. kamu belum pernah merasakan panjat pinang yang sesungguhnya khan??"


"Irene nggak mau manjat, Irene maunya tidur..!!" Tolak Irene mulai takut mengingat beberapa waktu yang lalu sempat 'tertusuk' benda yang menyakitinya.


"Benar nih nggak mau? Nanti nyesel lho." Goda Bang Noven.


"Irene nggak mau Bang..!!!!!!!"


Melihat Irene tidak paham dan selalu menolaknya, perlahan Bang Noven mendekapnya. Terang saja penolakan keras masih terus terjadi. Tapi bukan Bang Noven kalau tidak bisa melemahkan Irene. Dengan sekali penguncian, Irene tidak bisa berbuat apapun.


Saking takutnya, Irene sampai keringat dingin tapi ia tau Bang Noven sangat menyayangi calon bayinya. Irene pun belaga merintih.


"Si adek nggak mau dekat Papanya Bang. Irene mual." Ucapnya menirukan tokoh dalam serial Asia yang pernah di lihatnya.


Mau tidak mau Bang Noven tetap mengangkat tubuhnya. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anak yang masih ada di dalam kandungan Irene. Nafasnya memburu karena hasratnya tengah naik hingga di titik puncak. Sejenak Bang Noven terdiam mengatur denyut nadinya yang berantakan.


'Lihat saja kamu dek..!! Kamu sudah berani ngerjain suamimu sampai seperti ini. Untuk selanjutnya jangan harap kamu dapat toleransi dari Abang..!!'


***


"Selamat pagi Danki.. ijin arahan..!!"


Bang Noven melihat wajah Prada Dwipa terlihat pias, matanya sembab meskipun penampilannya sudah terlihat jauh lebih segar.


"Pagii.. Belum ada tugas. Kamu sudah sarapan?" Tanya Bang Noven.


"Siap.. sudah Komandan."


"Sarapan apa pagi ini di barak?" Bang Noven sengaja berbasa basi agar suasana antara dirinya dan Prada Dwi tidak semakin kaku.


"Ijin.. sayur lodeh, ikan tongkol, tempe tahu dan sambal." Jawab Bang Noven.

__ADS_1


Bang Noven mengangguk kemudian menoleh ke dalam rumah. Agaknya hatinya masih sedikit gelisah mengingat kejadian semalam. Karena kejadian itu pula Irene memilih tidur di kamar sebelah dan meninggalkannya seorang diri. Semalam suntuk itu pula Bang Noven tidak bisa tidur dan hanya bergelung dengan selimut dan gulingnya.


"Mau ngopi nggak? Tapi bikin sendiri di dapur. Istri saya lagi ngambek." Kata Bang Noven akhirnya setengah curhat dengan Prada Dwipa.


"Siap..!!" Bang Dwipa pun masih berdiri di hadapan Bang Noven yang tengah melantai belum memakai sepatu tapi sudah menyulut sebatang rokok.


"Cepat buat kopi..!! Temani saya merokok dulu..!! Saya lagi malas berangkat ke kantor." Jawabnya.


Bang Dwipa segera menuju ke dapur dan menyeduh kopi hitamnya. Tak lama ia kembali ke teras depan.


"Duduk..!!!" Perintah Bang Noven.


Akhirnya Bang Dwipa duduk di samping Bang Noven yang masih menghisap rokoknya.


"Selama pacaran.. pernah kamu ribut dengan Irene?" Tiba-tiba Bang Noven menanyakan hal yang pastinya sangat canggung untuk di jawab.


Tak segera mendapat jawaban dari ajudannya, Bang Noven pun mengarahkan ekor matanya pada Bang Dwipa.


"Ijin.. tidak pernah Dan."


"Oya.. berarti saya yang kaku." Jawab Bang Noven.


"Sebenarnya Danki tidak kaku, Danki hanya tertekan oleh keadaan jadi menganggapnya adalah sebuah pertengkaran." Bang Dwipa tetap berhati-hati menjawab pertanyaan Bang Noven, sebab jika dirinya salah bicara tentu akan menyinggung perasaan sesama pria apalagi jika dirinya terlihat sok lebih mengenal sosok Irene di bandingkan dengan beliau.


Kedua pria tersebut sama-sama menyeruput kopi hitamnya. Hati keduanya campur aduk dengan pikiran masing-masing dan berusaha baik-baik saja meskipun hati sedang mengalami badai yang memporak-porandakan isi di dalam dada.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2