Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
44. Finish.


__ADS_3

"Nggak mau, Abang keluar..!!" Kata Irene.


"Enak saja. Menolak hasratt suami hukumnya dosa. Di ajari berbakti ko' susah amat." Gerutu Bang Noven. Ia langsung bersiap naik ke atas ranjang dan mendekap Irene. "Hayooo.. bisa apa kamu sekarang..!! Kelihatannya harus di beri sedikit kekerasan nih biar nurut..!!"


Tak menunggu waktu lama Bang Noven langsung melakukan eksekusi darurat.


"Aaaaaaa.."


\=\=\=


"Aaaaaaaaa..."


Beberapa bulan telah berlalu. Bang Noven menemani Irene yang akan menjalani persalinan keduanya.


"Jangan banyak teriak sayang. Hemat tenagamu..!!" Bang Noven mengusap peluh di kening Irene.


Tak banyak kata terucap dari bibir Bang Noven. Dirinya tak sanggup membayangkan bagaimana perjuangan Irene saat melahirkan Alden tanpa dirinya.


"Lama sekali Abaaang.. Irene nggak sanggup lagi." Kata Irene.


"Kamu pasti kuat, melahirkan Alden saja kamu sanggup dek." Bujuk Bang Noven yang sebenarnya tidak sampai hati melihat perjuangan Irene.


Irene menggelinjang kesakitan sampai meremas kuat tangan Bang Noven. Saat itu Bang Noven sama sekali tidak peduli dengan tangannya yang sudah lecet karena cengkeraman Irene.


"Papaaaa..!!" Bahkan suara dari luar pun tidak menggoyahkan perhatian Bang Noven pada Irene.


//


"Mas Gi.. kalau nggak kuat nggak apa-apa di tinggal saja, biar aku yang jaga Irene..!!" Kata Papa Seno sambil mengipasi wajah Papa Girish dengan lembaran snacks box.


"Aku nggak apa-apa Mas. Cuma nggak tega aja dengar suara Irene. Dulu Mamanya hampir meregang nyawa saat melahirkan Novra dan aku sangat trauma.


"Iya Mas, aku tau. Waktu Irene melahirkan Alden saja Mas nggak kuat."


"Aku sungguh baik-baik saja Mas Sen." Jawab Papa Girish.


Mendengar jawaban itu, Papa Seno berangsur tenang meskipun di dalam hati sebenarnya ribut sendiri dengan banyaknya hal yang keluar masuk di dalam pikiran.

__ADS_1


...


Satu setengah jam Irene berjuang dan akhirnya dengan seluruh tenaga yang ada, Irene mengejan dengan kuat.


Pengalaman pertama Bang Noven membuat denyut jantungnya naik setinggi-tingginya dan terbanting turun dengan kerasnya. Saking syoknya Bang Noven sampai histeris.


"Allahu Akbar.. Lailaha Illallah.!!!! Cukup.. cukup sekali ini saja.. Abang kapok dek. Ya Allah.. tolooong..!!!" Pekik Bang Noven.


"Sekali lagi Bu Noven..!!!" Kata Bu Bidan.


Sekali lagi Irene mencoba dan meluncurlah di kecil yang di telah di nantikan Bang Noven selama ini.


Tangis kencang si kecil mengisi ruang bersalin.


"Alhamdulillah..!!" Bang Noven bersujud syukur atas kelahiran bayi nya.


"Anaknya laki-laki Pak."


Bang Noven yang masih terpaku dalam sujudnya semakin menangis penuh haru.


"Saya nggak mau anak perempuan Bu. Saya nggak mau anak lagiiiii." Jawab Bang Noven. Semakin lama pandangan matanya semakin kabur, tubuhnya mendadak lemas.


"Pak Noveeen..!!!" Teriak para bidan di ruangan.


...


Bang Noven terbaring lemas di atas ranjang sedangkan Irene sudah asyik duduk dan bercanda dari kursi rodanya.


"Mungkin anak dua ini balas dendam sama Papanya. Dua jagoan wajahnya lebih dominan mirip Noven." Kata Papa Girish.


"Ini kenapa Papanya cemen begini. Biasanya Papa akan selalu kuat, ini malah mental Papanya yang lemah." Papa Seno masih gemas dengan putranya yang sangat takut melihat proses persalinan.


Irene menoleh melihat Bang Noven yang masih terpejam dengan jarum infus masih menempel di punggung tangan.


"Sebenarnya mungkin Abang bukannya takut Pa. Abang hanya terlalu stress memikirkan banyak hal. Tentang pekerjaan kantor, tentang Irene juga tentang keadaan Bang Gano. Sampai saat ini Abang masih terus di hantui rasa bersalah. Apalagi Hanin juga akan melahirkan dalam waktu dekat ini." Kata Irene.


Seluruh keluarga saling pandang.

__ADS_1


"Semua sudah takdir dan jalannya. Noven dan Gano memang sangat dekat. Jadi wajar kalau Noven selalu memikirkan Gano, tentang Hanin.... Hanin adalah gadis yang menemaninya selama ingatannya belum pulih dan Noven hanya menganggap Hanin seorang adik, tidak lebih." Papa Girish menciumi wajah tampan cucunya. "Bangunkan Papamu le. Enak saja Papa enak-enakan tidur..!!"


Benar saja, tak lama bayi kecil itu menangis kencang dan senyum bahagia kembali tercipta.


.


..


..


.


END


.


.


.


.


Terima kasih atas segala dukungan untuk karya Nara yang mungkin paling gagal dalam sejarahπŸ˜…. Terus terang Nara kurang konsentrasi dalam membuatnya karena lumayan banyak pembaca yang sedikit membuat pikiran Nara terpecah belah.


Next.. jangan ada yang minta ubah konsep cerita ya. Jika tidak suka di skip saja. Saran Nara mungkin pembaca yang spoiler dan suka mengarahkan cerita, alangkah lebih baiknya untuk membuat cerita sendiri.☺️😁.


Sekali lagi terima kasih banyak. πŸ™πŸ™.


Just info : Pasti akan ada karya Nara yang lain di bulan Oktober ini. Jadi tetap di channel NaraY ya.πŸ˜‚πŸ€­πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2