Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
20. Musibah.


__ADS_3

Siang hari Bang Jaya tergopoh-gopoh menuju rumah sahabatnya dan disana sudah ada beberapa orang anggota. Mayor Novra meminta pantauan di tempatkan pada kediaman letnan Noven bukanlah tanpa tujuan. Mayor Novra meminimalkan rasa cemas istri prajuritnya tersebut dekali


"Alhamdulillah.." Bang Novra bisa bernafas lega melihat Irene sudah sadar dari pingsannya. Ia langsung menatap mata Bang Jaya. "Dari mana kamu Jay..!!"


Di belakang punggung Bang Jaya terlihat seorang wanita yang tengah hamil, terlihat dari perutnya yang sedikit membesar.


"Ijin Bang.. tadi saya mau menemui Noven tapi ternyata.........."


"Kamu ini.. di saat situasi seperti ini kamu malah buat masalah. Tadi ponsel tidak aktif sekarang datang malah bawa 'sesandingan'." Tegur keras Bang Novra. "Langsung ke bagian personel dan segera urus masalahmu ini, tapi jangan lupa.. Noven masih berada dalam situasi hitam di luar sana..!!"


"Siap Bang..!!"


-_-_-_-_-


Tujuh jam berlalu, belum ada kabar apapun dari Bang Noven tapi sinyal masih bisa terpantau dengan baik.


Seluruh anggota menampakan wajah tenang agar istri Letnan Noven tidak terbawa aura tegang. Sesekali mereka bercanda sekedarnya melepas kecemasan yang ada.


"Apa ada kabar dari Bang Noven?" Tanya Irene masih cemas.


"Ijin ibu, belum ada. Tapi Danki masih aman dalam pantauan." Jawab Bang Dwipa.


Sampai malam ini Irene tak menyentuh makanannya sedikitpun. Di luar sana ada Prada Hasbul yang serba salah karena ternyata Irene adalah istri dari Letnan Noven dan juga adik dari Mayor muda Novra yang pernah menghajarnya habis-habisan. Tau dirinya sedang di awasi. Ia pun cemas bukan main.


"Hasbul.. kamu keluar beli makan untuk para anggota, juga tolong belikan lontong sayur..!! Istri komandan mu belum makan..!!" Perintah Bang Novra dengan sengaja menjelaskan status Irene disana. Ia membiarkan Prada Dwipa berinteraksi dengan adik kandungnya namun masih tetap di dalam pantauannya.


"Siap Dan..!!"


...


Beberapa orang anggota panik melihat sinyal Letnan Noven meredup.


"Ijin Dan.. tanda merah..!!" Lapor seorang anggota.


"Apaa??" Bang Novra pergi ke belakang rumah dan memantau sendiri keadaan Bang Noven melalui alat pendeteksi dari pusat. "Letnan Noven, tolong respon pergerakan..!!"


"Mereka membawa kapal selam jauh di bawah perkiraan. Sekitar lima ratus meter lagi dari tempat saya turun..!!" Laporan Bang Noven saat itu melalui alat yang terhubung dengan pusat.


"Naik.. jangan lanjut lagi..!! Kita buat rancangan pergerakan selanjutnya..!!" Arahan Bang Novra yang jelas mencemaskan iparnya. Ia tidak peduli meskipun harus melangkahi atasannya.


"Siap..!!"


...

__ADS_1


Dua jam kemudian terdengar bunyi alarm bahaya, Irene yang sedang khusyuk memanjatkan do'a dan bertasbih sampai ikut kaget mendengarnya. Ia segera beranjak dan menghampiri Abangnya.


"Ada apa Bang?" Tanya Irene.


"Nggak ada apa-apa. Kembali lah tidur..!! Ini sudah biasa jawab Bang Novra tadi tatapannya sudah mengisyaratkan ketidak beresan yang terjadi.


"Irene nggak bodoh Bang. Irene juga pernah mendengar alarm ini saat Papa kerja." Jawab Irene.


"Bang.. ijinkan saya menyusul..!!" Pinta Bang Jaya.


"Nggak Jay, kamu jangan membuat situasi..!!" Tolak Bang Novra.


"Tapi Bang..!!! Kita tidak bisa membiarkan Noven sendirian. Itu lautan lepas..!!!!" Kata Bang Jaya.


"Saya tidak bisa membiarkan Noven sendirian..!!!" Pekik Bang Jaya.


"Ikat Letnan Jaya..!!" Perintah Danyon karena sejak tadi Bang Jaya tidak sepaham dengan dirinya.


Alarm LED merah berbunyi bersamaan dengan warna biru.


"Misi berhasil..!!" Kata Komandan pusat. Tapi kita kehilangan kontak dengan Letnan Noven."


"Nggak Bang.. Irene mau Bang Noven pulang..!!" Irene berteriak histeris mendengar kabar tentang suaminya yang telah hilang kontak.


//


Bang Noven bergelung dengan ombak di lautan lepas. Ia terus berenang berusaha menaklukan samudra luas. Rasa lelah sudah kian mendera.


"Ya Allah Tuhanku, lindungi hambaMu ini..!! Kuatkan aku, ada istriku yang sedang mengandung, dia menungguku..!!" Gumamnya tak patah semangat dan terus mengayun lengan mencari daratan yang terdekat.


Baru sekitar seratus meter Bang Noven berusaha mencari tepi pantai, ia merasakan ada getaran kuat di sekitar tubuhnya.


Mata tajamnya terus membidik di satu titik, perlahan terasa panas menjalar hingga getaran tersebut terasa semakin kuat.


"Allahu Akbar..!!!!!!"


booooooooommmm...


//


Dada Irene terasa begitu sesak. Di dalam pikirannya terus terbayang wajah Bang Noven. Pandangan di sekitarnya terasa berputar tak tentu arah.


"Kontak benar-benar hilang. Lakukan pencarian terhadap prajurit kita.. Letnan satu Novendra Mahameru..!!" Perintah dari pusat.

__ADS_1


"Hheeeehh b*****t, aku sudah mau mencarinya sejak tadi tapi mereka mengikat tanganku...!! jika tidak karena kau yang lambat memutuskan pasti Letnan Novendra sudah bisa pulang..!!" ucap Letnan Jaya meneriaki komandan markas pusat.


"Abaaaang.. Bang Noveeeeenn..!!!!!!" Irene semakin histeris. Keadaan sudah tidak dapat di kendalikan lagi. "Abaaang.. Irene mau ikut Abaaaang..!!!"


Bang Novra sigap memeluk adiknya. "Sabar Irene.. sabar.. kita akan cari suamimu sampai ketemu..!!"


"Buka tali iniii..!!!!" Bentak Bang Jaya.


Tak lama Anggun datang menemui Bang Jaya di belakang rumah dinas kakaknya itu. Ia sudah bosan terus menunggu di mess perwira.


"Bang Jay.. benarkah Abangku.........."


Bang Jay segera menghambur memeluk calon istrinya. "Jangan banyak pikiran, kamu yang tenang sama Irene ya..!! Abang mau berangkat cari Abangmu..!!" Pamit Bang Jay.


"Nggak Bang, Anggun takut."


"Maaf sayang.. do'akan Abang ya..!! Abang harus pergi." Bang Jay meninggalkan satu kecupan lalu segera berangkat untuk melakukan pencarian.


bruugghh..


"Ireeeneee..!!!" Satu ruangan kembali panik melihat Irene lemas tanpa suara tak sadarkan diri.


"Mbak Ireeeneee..!!" Anggun menangis meraung sambil memeluk kakak iparnya.


***


Subuh di tengah lautan, tidak ada tanda-tanda Letnan Noven disana. Para petugas pencarian mulai panik.


"Bagaimana ini?? Tidak ada tanda Noven di lautan ini. Sudah tujuh kapal penyelamat mencarinya tapi tidak ada tanda dia ada." Kata Bang Jay dengan perasaan was was dan tidak tenang.


"Ganti pasukan.. kita pantau dulu lewat darat..!!" Arahan Bang Novra.


"Saya tetap disini..!!" Pinta Bang Jay.


"Bahaya Jay, ini samudera.. bukan tanah lapang." Bang Novra mengerti kegelisahan hati juniornya itu tapi jelas tidak mungkin dirinya membiarkan Jay di sana apalagi keadaan mentalnya sedang down.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2