
"Tunggu Pa.. itu anaknya Noven." Bang Enggano meluruskan situasi. "Jadi dengan adanya hal ini, dari hati saya yang paling dalam.. saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Papa Girish dan keluarga.. saya berniat mengembalikan Irene kembali dalam asuhan suaminya dan melepaskan tanggung jawab atas diri Irene. Segala kesepakatan pertunangan juga telah saya batalkan karena di sisi lain saya juga telah memiliki tanggung jawab pada istri saya Hanin."
"Astagfirullah hal adzim.. baiklah kalau memang begitu keadaan nya." Papa Girish bersandar lemas. Beliau sangat cemas mengira Irene mengandung anak dari Letnan Enggano. "Alhamdulillah.. bagaimana pun juga di antara mereka belum ada kata pisah. Tapi....."
"Nanti kita urus Mas Gi. Sekarang kita urus saja buat acara syukuran kedatangan Noven. Mamanya ngebet pengen buat acara kecil-kecilan."
"Terima kasih atas segalanya selama ini Gan."
"Siap Pa."
Bang Enggano melihat Hanin menyendiri, ia pun paham kedua Mama juga sedang senang dengan kembalinya Noven.
"Kenapa dek? Kenapa tidak ikut dengan Mama dan Irene. Bukankah sejak tadi mereka mengajakmu, kenapa kamu menghindar?" Tanya Bang Enggano memilih meninggalkan yang lain dan menghampiri Hanin.
"Kepala Hanin sakit lihat cahaya. Mata Hanin juga sakit." Jawab Hanin yang terlihat bingung dengan pengalaman barunya. "Apakah kalau Hanin ada salah, Hanin akan di pukul? Abang akan memasung Hanin??"
Bang Enggano pun mengecup kening Hanin. "Tidak akan. Siapapun yang berani mengusik mu akan berurusan dengan Abang..!!" Ucap tegas Bang Enggano. "Nanti malam kita tidur di rumah dinas milik Abang. Tadi siang Abang sudah meminta beberapa anggota untuk menyediakan rumah untuk kita."
"Apa itu rumah dinas?"
"Nanti Abang perlihatkan. Sekarang kita jalan-jalan dulu. Ada yang harus kita beli." Kata Bang Enggano. Ia mengulurkan tangannya dan Hanin menyambutnya.
:
Hanin menyentuh benda yang menurutnya sangat aneh.
"Ini namanya interior mobil lama. Sangat sederhana, punya Abang ada di rumah. Kita pergi naik mobil ini, nggak perlu jalan kaki." Kata Bang Enggano. Dirinya pun sudah tak asing melihat ekspresi wajah Hanin yang sedang menyesuaikan diri.
Perlahan mobil berjalan. Hanin sangat takut sampai bibirnya terkunci rapat tanpa kata.
...
Keadaan kota pukul tujuh malam masih terasa ramai. Bang Enggano mengajak Hanin membeli banyak pakaian dan seluruh perlengkapan wanita. Meskipun Hanin belum bisa berdandan tapi dirinya tetap membelikan sang istri kebutuhan yang sewajarnya di gunakan wanita.
Tak lupa Bang Enggano membelikan banyak perhiasan untuk Hanin.
__ADS_1
"Tak mau Bang, Hanin tak ingin barang itu." Tolak Hanin saat Bang Enggano akan memakaikan cincin tersebut di sebuah taman, mungkin bisa di katakan tempat itu adalah alun-alun kota.
"Tapi Abang mau. Pada akhirnya lelah letih Abang bekerja keras juga untuk kamu dek." Kata Bang Enggano kemudian memakaikan model cincin kawin di jari manis kanan dan memakaikan cincin bermata berlian di jari manis kiri Hanin.
Hanin memang belum tau maknanya, tapi perlakuan Bang Enggano membuatnya terharu, setiap perlakuan itu terasa begitu lembut menyentuh hati nya. Hanin sampai menitikkan air mata.
"Terima kasih banyak ya Abang."
"Kembali kasih untukmu..!!" Bang Enggano mengecup kening Hanin.
Hanin mulai belajar banyak termasuk menggunakan benda yang di serahkan Bang Enggano pada setiap orang saat suaminya itu menginginkan barang.
Yang dirinya tau selama ini jika ia menginginkan satu hal, maka dirinya harus menukar barang tersebut dengan suatu barang miliknya.
"Abang punya benda itu berapa banyak?"
"Ini namanya uang, kamu menginginkan sesuatu.. kamu bisa pakai uang ini." Bang Enggano menunjukan pada Hanin lalu menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah. "Coba kamu beli sesuatu pakai uang ini..!!"
Hanin segera berdiri dan mencari apa yang di inginkan nya. Manik matanya celingukan membidik tujuannya dan berakhir pada balon warna warni.
Hanin melihat hanya anak-anak kecil saja yang berkumpul di sana. Ia pun mengurungkan niatnya. "Nggak pak." Jawab Hanin dengan senyumnya.
Bang Enggano ikut tersenyum, mungkin Hanin mengerti hanya anak-anak saja yang membeli balon tersebut. Ia membiarkan Hanin belajar tentang apapun yang di lihatnya tentunya dengan pengawasan dirinya. Sambil mengikuti Hanin, Bang Enggano di sibukkan dengan ponselnya.
Langkah Hanin terhenti pada lapak pedagang bunga. Ia menyentuh kelopak bunga mawar merah yang cantik.
"Kamu suka??"
"Suka sekali Bang." Jawabnya sambil terus menatap indahnya bunga-bunga disana.
"Tolong bungkus bunga apapun yang di sentuh istri saya..!!" Pinta Bang Enggano pada pedagang bunga tersebut, ia kemudian membayar dan sibuk dengan ponselnya lagi.
Pedagang bunga sibuk mengurus pesanan Bang Enggano namun saat itu Bang Enggano melihat salon di samping pedagang bunga, ia pun mengajak Hanin pergi ke sana.
...
__ADS_1
Hari sudah sangat malam. Bang Enggano mengajak Hanin untuk pulang, dimana lagi kalau bukan ke rumah dinas barunya. Namun fokusnya bukan karena hari telah malam. Tapi hatinya sedang resah dan gelisah. Urusan batinnya yang terabaikan selama dua bulan ini membuatnya begitu tersiksa.
"Selamat malam Danton..!! Selamat malam ibu." Sapa para anggota.
"Selamat malam Om Yana, Om Elfri." Jawab Bang Enggano mengajari Hanin menyapa anggotanya dengan benar sambil membukakan pintu untuk istri kecilnya. "Kalau di sapa jawab dek..!!" Bisiknya.
"Selamat malam Om Yana, Om Elfri." Hanin mengikuti cara Bang Enggano.
Agaknya suara Hanin yang lembut mendayu sedikit mengganggu sisi hatinya apalagi Prada Elfri tersenyum menatap istrinya. "Sudah kalian kerjakan arahan saya??" Tegur Bang Enggano.
"Siap.. sudah Danton." Jawab keduanya bersamaan.
"Oke, terima kasih. Kalian bisa kembali ke barak..!!" Perintah Bang Enggano.
"Ijin.. tidak perlu standby disini?" Tanya Prada Elfri.
Bang Enggano yang sudah pening dengan urusan dinas dalam mendadak naik tensi darah. "Kamu mau saya kirim untuk 'nge-lap' pucuk Monas?????" Ucap geram Bang Enggano.
"Siaapp.. tidak Danton.. Kami ijin undur diri..!!" Pamit para ajudan Bang Enggano.
Perhatian Bang Enggano tertuju sepenuhnya pada Hanin, penampilan baru sang istri membuat jiwa pria nya terusik. Rambut sebahu dengan make up natural namun terlihat anggun dan sedikit lebih dewasa.
Bang Enggano berjalan membukakan pintu untuk Hanin. Terlihat dekorasi yang indah dan mewah untuk sekedar rumah dinas. Pastinya semua itu bukan hal mudah untuk kedua ajudan. Kelopak bunga mawar merah dan putih menghiasi rumahnya, semerbak bunga wangi melati dan bunga sedap malam menambah kesan romantis.
"Malam ini kita honeymoon di rumah dulu ya dek..!!"
"Apa honeymoon??" Tanya Hanin terus masuk ke dalam rumah dan membuka kamar tidur.
"Bulan madu. Malam pernikahan kita. Abang pengen buat anak di tempat yang sopan dan romantis." Jawabnya meskipun sebenarnya dirinya sangat jauh dari kata romantis. "Sudahlah, cepat mandi dan basuh badanmu lalu cepat kesini. Nanti ganti pakaian yang tadi di beli..!!"
.
.
.
__ADS_1
.