Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
15. Tegang dalam keadaan.


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Bang Noven semakin gelisah tak bisa menyingkirkan rasa cemasnya. Nafasnya terasa sesak membelit rongga leher.


"Pak Noven..!!"


Seorang dokter keluar dari dalam ruang pemeriksaan. "Pak Noven tadi bilang kalau beberapa hari yang lalu istri bapak juga demam tinggi, tapi kali ini demamnya ternyata lebih tinggi?" kata dokter tersebut mengulang pernyataan Bang Noven sesaat sebelum pemeriksaan di lakukan.


"Benar dok. Apa ada masalah yang serius?"


"Kami curiga ibu Diandra terkena gejala demam berdarah. Kami akan melakukan pengambilan sample darah. Bisa bapak menandatangani surat persetujuan?" Tanya dokter.


"Astagfirullah..!!"


"Nggak mauuuu.." suara Irene merintih kesakitan namun suara itu sudah sangat lemah di dalam ruang pemeriksaan.


"Dokter.. Ibu Diandra menolak di ambil sample darah."


//


POV Bang Noven on..


Aku memeluk Irene dengan erat. Irene terus menangis dan memintaku agar aku tidak membentak dan memukulnya.


'Ada apa?' hatiku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Irene belakangan ini. 'Apa Dwipa jahat padanya?' tapi Irene terlihat sangat menyayangi pria itu. 'Kenapa Irene sampai begini?'. Hatiku tak tenang melihat gadis kecilku.


"Abang tidak akan membentak dan memukulmu lagi..!!" janjiku saat itu untuk menenangkan hati Irene ku.


"Nggak.. Abang jahat sama Irene..!!" Tangis Irene yang semakin menjadi kini membuatku merasa sangat bersalah.


"Abang minta maaf dek..!!" ucapku kemudian.


Perawat mengambil sample darah Irene dan Irene hanya bisa pasrah dan diam di dalam pelukanku.


:


Rasa mual menyerangku secara tiba-tiba. Ketakutan melingkupi relung hatiku.


Suara dokter terdengar di sekitar ruang observasi sampai kemudian masuk ke ruangan lalu berdiri di sisi kiri Irene. Aku pun berdiri untuk menghargai dokter yang menangani Irene.


"Pak Noven.. hasil pemeriksaan sample darah sudah keluar. Kami memeriksa hingga pada bagian terkecil sesuai permintaan Pak Noven dan hasilnya.. Benar Ibu Diandra mengalami demam berdarah." kata dokter.


"Astagfirullah hal adzim." Mataku terpejam sejenak, seketika hatiku hancur mendengarnya.


"Kamu tidak paham seberapa kuatnya Ibu Diandra atau mungkin seberapa tersiksanya Ibu Diandra menahan rasa sakitnya, sebab demam berdarah ini lumayan 'sakit' untuk di rasakan."

__ADS_1


Aku mulai tak sanggup berkata-kata. Sungguh rasa tidak tega mengaduk perasaanku.


"Tapi ada satu hal lagi Pak Noven. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan dan membutuhkan penanganan yang serius untuk saat ini."


"Apa itu dok?" tanyaku penasaran dengan penjelasan dokter yang menurutku sangat lambat padahal aku sudah ingin segera mendengar poin penting dari sakitnya Irene.


Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan sample darah padaku. Aku membacanya tapi aku tidak mengerti. "Tolong jelaskan saja dok..!! Lalu bagaimana cara menangani sakitnya istri saya..!!" kataku tidak sabar.


"Ibu Diandra terdeteksi sedang hamil muda. Sangat muda sekali, baru awal proses pembuahan."


"Subhanallah.." Kakiku gemetar. Bagai mimpi aku mendengarnya. Hatiku bercampur aduk, takut, bingung, cemas tapi pastinya sangat bahagia mendengar kehamilan Irene. Jujur memang awalnya tak ada getaran dalam hatiku tentangnya tapi soal dalamnya rasa, aku tak kuasa mencegah hadir untuk mengetuk pintu kalbu. Aku terduduk lemas menggenggam tangan Irene lalu kusentuh perutnya yang masih rata.


"Kami pasti melakukan yang terbaik untuk Ibu Diandra." kata dokter.


-_-_-_-


Papa Girish dan Papa Seno tergopoh-gopoh menuju ruang rawat Irene. Sesampainya di kamar yang di tuju, keduanya langsung menerobos masuk di susul Bang Novra di belakangnya.


Papa Girish sudah pucat tak sanggup melihat keadaan putrinya yang lemah tanpa daya di ruang rawat. Satu kantong darah dan satu buah infus menancap di punggung tangannya.


"Kenapa kamu menyakiti Irene?????" Papa Seno menarik tinggi kerah seragam ku.


Memang dari pagi tadi aku belum sempat mengganti pakaian dinas karena sibuk mengurus Irene.


"Papa memintamu menikahi Irene bukan untuk menyakiti hati gadis itu..!!!" tegur Papa Seno padaku, aku tau beliau terlihat begitu kecewa dengan ku.


"Irene nangis telepon Papa.. Nov. Bagaimana bisa kamu melakukan penusukan??? Dimana otakmu??? kalau kamu memang tidak bisa menerima perjodohan ini setidaknya jangan menyakiti Irene." Tegur keras Bang Novra padaku. Agaknya hatinya pun tidak terima adik kesayangannya di perlakukan tidak manusiawi. "Kalau mau ribut monggo, kita duel satu lawan satu. Kamu dan saya sebanding."


Posisi ku serba salah dan terjepit. Aku lumayan kesulitan mengendalikan keadaan yang semakin runyam karena seluruh tuduhan mengarah padaku, aku sudah berusaha menjelaskan tapi Papa Seno dan Bang Novra masih terus terbakar emosi.


"Sabar Bang..............."


Tangan Bang Novra bersiap menghantam wajahku dan di saat yang sama Irene menggeliat.


"Aaawwhhh.. aaahh" Irene menggelinjang merasakan perutnya kram dan kaku. Seluruh perhatian seketika tertuju pada Irene.


Dengan sabar aku langsung mendekap Irene. "Jangan di tekan, nafas perlahan dek..!!"


Irene mengikuti arahanku. Jemarinya mencengkeram erat lengan pakaianku. Aku mengalihkan tangannya agar bisa melingkarkan kedua lengan di belakang tengkuk leherku. Hatiku sakit, sedih melihat keadaan yang terus terang melemahkan batinku.


"Irene sakit apa le?" tanya Papa Girish jauh lebih tenang dari Papaku dan Bang Novra.


"Demam berdarah Pa." jawabku.

__ADS_1


...


Malam ini untuk kesekian kalinya hatiku sungguh hancur. Irene tidak mau makan dan keadaannya semakin lemah. Dua kali batinku terasa remuk kala mengingat ada calon bayi kecilku di dalam rahim Irene ku.


"Satu atau dua suap saja nggak apa-apa dek." kataku membujuk Irene.


Irene hanya menggelengkan kepala yang berarti menolak suapan ku.


"Abang minta maaf dek. Abang salah..!! Tolong jangan hukum Abang seperti ini. Hati Abang hancur, tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi sama kamu." ucapku paling jujur dari dalam hati.


Saat aku masih terpuruk dalam keadaanku. Mama Rinjani datang menghampiriku. "Ada apa le? Saya ini juga Mamamu, kamu bisa katakan sama Mama..!!"


Aku yang memang sedang gelisah, tak tau harus menjabarkan perasaan ini pada siapa. Mataku hanya bisa menatap mata Mama Rinjani dan Papa Girish di belakangnya tapi kemudian Mama mengarahkan pandangan nya pada tanganku yang mengusap perut Irene.


"Apa yang terjadi Noven?" tanya Mama seakan membungkam bibirku, mata Mama mengisyaratkan ketakutan namun aku tidak mungkin menutupi keadaannya. Aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah ku lakukan pada Irene.


Satu detik.. dua detik.. tiga detik...


"Iya Ma, Irene sedang hamil."


"Astagfirullah.. anak siapa Ireneeeee?????" bentakan Papa Girish menggelegar di seluruh ruangan sampai membuat Papa Seno dan Mama Laras ikut masuk ke dalam ruangan.


Seketika dua kali panik aku mendengarnya. Wajar jika Papa Girish bertanya, pasalnya aku bersama Irene baru dalam hitungan hari.


"Apa Pa? Papa kenapa?" Irene yang masih lemah malah harus menghadapi kemarahan Papanya. Jujur aku jadi serba salah, keadaan yang membuatku belum mengatakan pada siapapun tentang kehamilan Irene.


"Jawab Ireneee..!!!!" Papa Girish sudah semakin terbakar amarah dan Papa sudah melayangkan tangannya.


Secepatnya aku melindungi Irene. "Ini anak saya Pa. Saya yang salah..!!" jelas aku tidak bisa menerima siapapun yang akan menyakiti Irene meskipun itu adalah Papa kandungnya sendiri.


"Kamu nggak usah menutupi salahnya..!!!!!"


"Demi Allah ini anakku Pa..!!! Tolong jangan membuat Irene stress..!! Aku sudah tidak tahan berhari-hari ribut sama Irene..!!!!!" pintaku yang akhirnya ikut stress dengan situasi yang tidak seharusnya terjadi.


POV Bang Noven off..


tok.. tok.. tok..


"Nov.. pinjam uang donk buat tebus obat diare di apotik. Aku lupa bawa dompet." kata Bang Jaya tiba-tiba menyela masuk ke dalam ruang rawat Irene.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2