
Para tetua masuk ke dalam kamar rawat Bang Noven bersama dengan 'para pengawal dan dayang'. Di atas ranjangnya yang sempit, Bang Noven sedang tidur berpelukan dengan Irene di dalam satu selimut. Wajah keduanya terlihat sangat tenang.
"Mudah-mudahan terus seperti ini. Saya nggak tega ingat kemarin Irene terus menangis." Kata Papa Seno.
Papa Girish menyentuh kening Bang Noven. Tidak demam meskipun penuh memar di sekitar tubuhnya. Ia membenahi letak selimut menantunya. Tidak memakai pakaian apapun kecuali sehelai piyama yang di pasang hanya untuk menutup tubuh menantunya itu.
"Mereka nyenyak sekali Mas. Pasti sudah lelah pikiran dan tenaga." Imbuh Papa Girish.
Anggun mengusap perutnya yang sudah menyembul. Baru saja lima bulan kehamilannya tapi rasa nafasnya sudah terasa mau putus.
"Capek ya dek? Duduk di sofa dek..!!" Bang Jay memapah langkah Anggun agar istrinya itu bisa duduk untuk mengurangi pegal di punggung.
Papa Seno membuang nafas panjang melihat perhatian Bang Jay untuk putrinya. Ingin rasanya menangis mengingat setiap dosa yang pernah di perbuat tapi perhatian Bang Jay membuatnya luluh juga. Beliau memang salah tapi seumur hidupnya, dirinya meminimkan diri untuk menyakiti hati wanitanya.
Bang Jay berjalan menuju ranjang Bang Noven hendak meminjam bantal yang tidak terpakai, namun saat berbalik dan berjalan kembali.. kakinya tersangkut pada tiang untuk menggantung botol infus.
Sontak tiang tersebut langsung menimpa kepala Bang Noven.
ccttkk.. pllkk..
"Aawwhh.." Bang Noven terbangun dan saat tiang tersebut akan kembali jatuh karena refleks tangannya, ia pun segera menepis agar tidak jauh menimpa Irene.
"Ada apa Bang?" Tanya Irene yang akhirnya ikut terbangun.
"Nggak ada apa-apa." Bang Noven mengusap kening Irene agar istrinya itu tidak kaget.
Ekor mata Bang Noven melirik Bang Jay yang masih setia berdiri di tempatnya tanpa pergerakan apapun. "Apa-apaan pot. Kalau kena Irene bagaimana?? Anakku bisa cacingan." Kata Bang Noven.
"Maaf broo, aku mau ambil banyak untuk Anggun." Jawab Bang Jay.
Kening Bang Noven berkerut mendengar nama Anggun. "Anggun?? Mana dia?"
Mau tidak mau Bang Jay bergeser posisi dan membiarkan sahabatnya itu melihat adiknya untuk pertama kali sejak beberapa lama mereka tidak saling jumpa.
Awalnya Bang Noven biasa saja melihat adik perempuan nya namun kemudian keningnya berkerut saat melihat ada yang berbeda dari Anggun. "Coba berdiri..!!" Pinta Bang Noven.
Anggun menatap mata Bang Jay dan Bang Jay mengangguk seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Anggun pun berdiri dan perutnya yang dulu ramping kini terlihat lebih membusung.
__ADS_1
"B*****t, siapa yang buat kamu hamil????" Suara Bang Noven menggelegar. Naluri penyerangnya seketika aktif.
"Baang.. Baaang....." Anggun sampai gugup menjawab karena terlalu takut melihat kemarahan Bang Noven.
"Siapa Anggun????? Atau Abang hajar juga kamu sekarang..!!" Sekuatnya Bang Noven berusaha bangkit meskipun tenaganya belum sepenuhnya terkumpul.
Bang Jay menahan tubuh sahabatnya yang terhuyung lemah. "Nov.. ingat kesehatan mu belum pulih..!!"
"Aku harus tau siapa B******n yang sudah menghamili Anggun..!!!!!!!!" Pekik Bang Noven.
"Aku.. aku yang menghamili Anggun dan aku bapak dari anak yang di kandungnya." Jawab Bang Jay secara jantan dan bertanggung jawab.
"Apa maksudmu. Jangan bercanda Jay..!!" Bentak Bang Noven masih tak percaya.
"Aku serius. Maaf atas kecerobohan ku."
Bang Noven melayangkan tangannya hendak menghajar pria si hadapannya itu tapi tiba-tiba di dalam dadanya luar biasa terasa sakit. Nafasnya mendadak sesak.
"Abang???" Irene turun dari ranjang dan memastikan sendiri keadaan Bang Noven. Kedua bola mata suaminya memerah, wajahnya pun terasa panas meremang. "Abaaaaaaangg..!!!!
Tangan Bang Noven meremas dadanya dengan kuat, ia berusaha mengatur nafas tapi kestabilan emosinya yang rendah tidak membantu apapun. Pandangan itu tak lepas dari wajah adik perempuannya. "Kamu mengecewakan. Kamu mengecewakan Abangmu ini Anggun..!!!!!" Bang Noven yang tidak bisa menerima kenyataan ini langsung ambruk terduduk di lantai.
"Abaaaang..!!!" Irene panik sekali di buatnya.
"Pergilah..!!" Usir Bang Noven.
"Nov.. salahkan aku..!!!"
"Kalian berdua sama saja..!!" Suara tersebut semakin meninggi namun saat itu Bang Noven memercing dan perlahan ambruk dan menggelinjang tak sanggup merasakan tubuhnya.
"Dokteeerr..!!!" Papa Girish sigap berteriak memanggil dokter.
Papa Seno tak bisa berbicara apapun. Nyalinya terasa terlalu tua untuk menghadapi kejadian ini.
:
"Bang.. Anggun minta maaf..!!"
Bang Noven masih terdiam seribu bahasa. Di samping kanan Bang Noven, Irene sudah duduk menangis tersedu sedu memeluk lengan Bang Noven. Wajar Irene selalu ketakutan, nyaris kehilangan suami adalah pukulan terberat yang pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Pulanglah bersamanya. Saya sudah menanggung apa yang sudah kamu lakukan." Kata Bang Noven tidak ingin menatap wajah Anggun sedikit pun.
"Bang..!!!" Sekali lagi Anggun menyentuh tangan Bang Noven tapi Bang Noven tetap tidak bisa memaafkannya.
Disana seluruh mata menatap Irene seakan meminta pertolongan pada istri Letnan Noven itu. Tapi kemudian juga menatapnya.
"Tolong..!!" Ucapnya dengan bahasa bibir sambil mengangkat tangannya.
Melihat semua itu, Irene semakin merasa tidak tega. Irene menjatuhkan diri pada sandaran sofa.
"Deekk..!!" Seketika Bang Noven panik.
"Abaang.. sepertinya si dedek nggak suka kalau Abang marah sama Mamanya."
"Memangnya kenapa??? Si dedek kenapa yank??" Tanya Bang Noven panik.
"Si dedek pengen Ayah ngusap perut dedeknya Bang Jay." Jawab Irene.
"Halah.. mana ada yang begitu."
Berhubung Irene sudah merasakan mual masa kehamilan, Irene pun memanfaatkan masa awal kehamilan nya. 'Maaf ya adek. Tolong bantu Papi Jay dan Mami Anggun.'
"Hhhkkkk.." Irene menggelinjang di belakang lengan Bang Noven.
"Ya Allah, beneran nih dek??" Bang Noven bingung melihat Irene tiba-tiba merasa mual.
"Bener.. kemarin Irene juga sampai di rawat." Sambar Papa Girish.
"Iya Sen." Kata Papa Seno jelas membantu putrinya.
Bang Noven melirik Anggun yang masih berdiri di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya tapi kemudian menariknya kembali dan mengerti situasi sedang berjalan lambat, Irene pun lemas merosot di pelukan Bang Noven.
Takut terjadi sesuatu pada calon bayinya, Bang Noven akhirnya kembali mengulurkan tangan dan menyentuh perut Anggun.
"Ya sudah, kita kenalan. Ini Daddy.. jangan nakal di perut Mama dan jangan buat Ibun sakit atau Daddy akan menghajarmu..!!" Ancam Bang Noven.
.
.
__ADS_1
.
.