
Beberapa orang anggota terperanjat kaget saat melihat Bang Noven memapah langkah Irene. Mereka sudah standby karena Bang Noven meminta waktu dua jam saja disana.
"Ijin Dan.. ibu kenapa?"
Baru saja Bang Noven akan menjawabnya tapi Irene sudah terlanjur menjawabnya. "Tertusuk Om."
"Ijin Ibu, tertusuk apa?" Tanya anggota tersebut panik. Para anggota piket kolam menjadi cemas kalau sampai mereka membuat kesalahan yang mengakibat istri cantik Danki terluka.
"Nggak ada, terhantam saja. Biasa kalau di air nggak akan terasa kalau terkena sesuatu." Bang Noven meluruskan jawaban Irene.
"Siap.. kami akan bersihkan kolam lagi."
Irene sudah akan membuka mulutnya tapi kemudian Bang Noven mengambil sesuatu dari sakunya dan menempelkan di bibir Irene. "Ayo jajan. Nanti yang sakit sembuh sendiri."
Irene mengambilnya dan kemudian berdiri tegak seakan tidak merasakan sakit lagi. Ia menghitung jumlahnya dan ada uang sebanyak lima lembar uang kertas merah.
"Lho.. nggak sakit lagi dek?" Tanya Bang Noven.
"Aduuuhh.. sakiiit..!!" Kata Irene.
"Aaahh lama.. Abang gendong saja." Bang Noven mengangkat Irene menuju mobilnya.
...
Sejak datang di cafe, Bang Noven selalu sibuk dengan ponselnya. Minim jawaban saat dirinya bertanya.
"Bang, Irene pesan crispy chicken ya..!!" Kata Irene. "Abang mau apalagi?"
"Makanan berat dek. Makan kentang goreng aja nggak nyangkut di perut Abang." Pinta Bang Noven.
"Yang berat itu apa Bang? Makan crispy chicken nggak kenyang?" Tanya Irene.
"Kurang. Singkong deh..!!" Kata Bang Noven.
Irene segera menuju tempat pemesanan makanan tapi perhatiannya terus tertuju pada Bang Noven yang terus sibuk dengan ponselnya. Wajah itu terlihat serius.
'Abang sibuk bicara sama siapa sih??'
__ADS_1
Tak berapa lama ponsel Irene berbunyi, ada nama Bang Dwipa disana. Melihat ada Bang Noven duduk di sana, Irene pun mengurungkan niatnya untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
Bang Noven bukannya tidak tau gelagat dari Irene tapi dirinya memang sengaja membiarkan Irene untuk belajar mengambil keputusan yang terbaik dalam hidupnya tapi di dalam hatinya yakin bahwa gadisnya tidak akan pernah kembali lagi pada Prada Dwipa.
~
"Abang sibuk dengan siapa?" Tegur Irene karena sejak tadi mereka lebih banyak berdiam.
"Vindy." Jawab jujur Bang Noven.
Irene menunduk dengan wajah pias yang tidak bisa di sembunyikan.
Bang Noven meletakan ponselnya lalu mendorongnya ke sebelah kiri, tepat di hadapan Irene. "Bacalah.. dari awal sampai akhir..!!"
Irene gemetar tapi kemudian membacanya juga. Ada balasan rasa tidak terima dari Vindy karena Bang Noven mengakhiri hubungannya.
N : Mohon maafkan saya..!! Ini bukan soal orang tua. Tapi saya meminang Irene atas dasar keinginan dan kesadaran saya sendiri. Saya tau.. saya salah sudah menyakiti hatimu dek. Carilah bahagiamu. Menikahlah dengan pria yang di pilihkan orang tuamu juga. Saya ikhlas dan saya mohon ikhlaskan saya juga.
V : Teganya Abang. Untuk apa kita berjuang selama ini?? Vindy benci Abang..!! Vindy membenci Irene yang merebutmu dariku. Vindy mati-matian berjuang Bang.. demi hubungan kita.
Bang Noven tak lagi membalasnya. Irene menoleh sejenak menatap paras datar Bang Noven.
"Masih belum terlambat untuk membatalkan pernikahan kita Bang." Kata Irene.
Bang Noven menghisap rokoknya dalam-dalam. Jelas ia tau semuanya sudah terlambat. Bahkan sangat terlambat. "Kamu masih ingin kembali dengan mantanmu?" Tanya Bang Noven. Saat ini tidak terbersit sedikitpun di dalam hatinya untuk mundur dan berjuang menghalalkan Irene.
"Meskipun Abang kembali pada Mbak Vindy, Irene tidak akan kembali pada Bang Dwi. Irene bukan wanita baik-baik, Irene sudah mendua saat Bang Dwi bertugas menjaga negeri ini. Mungkin lebih baik Bang Dwi mencari perempuan lain, yang setia, yang baik budi dan bisa menjaga martabat laki-laki." Jawab Irene.
"Abang juga tidak akan kembali lagi pada Vindy."
"Kenapa Bang?"
"Karena Abang sudah menyimpannya jauh, dia hanya mimpi.. mimpi yang hanya singgah, tidak bisa pula di sesali hadirnya dan sekarang ada patahan dari sebait do'a yang harus Abang sambung. Do'a yang selama ini Abang minta agar di berikan pendamping hidup yang mampu menjadi tameng dari segala kelakuan buruk Abang di masa lalu dan menjadi berkah Till Jannah." Ucap Bang Noven tapi di dalam hatinya sungguh menyimpan beban yang teramat berat karena dirinya telah menodai kesucian seorang gadis yang baru saja akan di halalkannya. "Nanti Abang akan hubungi Papamu agar kita bisa segera menikah ya..!!"
Irene mengangguk mendengarnya. Wajah itu selalu terlihat sangat lugu dan semakin membuat Bang Noven merasa sangat bersalah.
Di saat suasana masih terasa canggung, seorang pramusaji mengantarkan pesanan Irene dan Bang Noven.
__ADS_1
...
"Kalau Papa tidak bisa kesini, biar saya dan Irene kesana ya Pa. Tolong nikahkan saya dan Irene dulu..!!" Pinta Bang Noven.
"Nggak aahh.. Papa sibuk. Sampai dua minggu ke depan." Tolak Papa Girish.
"Atau di wakili Bang Novra?" Bang Noven masih melakukan negosiasi dengan Papa Girish.
Papa Girish melempar pandangan pada Papa Seno yang sedang ngopi bersamanya di temani Bang Novra yang saat itu sedang ada kunjungan kerja di Jawa.
"Novra Papa utus keluar kota, ada banyak pertemuan..!!" Jawab Papa Girish mengikuti arahan Papa Seno.
"Paa.. please Pa. Ini urgent." Bang Noven mondar-mandir sampai memijat pelipis saking bingungnya.
"Apa yang urgent. Kamu nggak punya niat buru-buru panjat pinang khan Nov??" Tegur Papa Girish dengan sengaja.
"Ng_gak Pa. Maksud saya.. hmm.. nggak enak aja lah Pa, saya mau memimpin kompi yang baru tapi harus pisah tinggal sama Irene. Kalau kemana-mana berdua nggak pantas Pa." Alasan Bang Noven.
"Alaah.. nggak apa-apa. Empat bulan lagi lah kalian nikah. Hitung-hitung kalian pacaran saja dulu. Sudah dulu ya. Papa masih banyak pekerjaan." Jawab Papa Girish.
"Paa.. Papaaa.. tunggu Pa..!!!!!!" Bang Noven geram, ia menghantam pintu kamar mess dengan kencangnya. "Bagaimana sih tingkah opa-opa ini. Kalau harus tunggu empat bulan, perut Irene sudah bawa bedhug. Mana mungkin aku bilang kalau sudah adu banteng."
//
"Naaahh.. apa ku bilang. Aku paling kenal siapa Noven. Kalau sudah begini, pasti terjadi sesuatu disana."
"Apa Mas yakin mereka sudah saling tukar tenaga dalam?" Tanya Papa Girish tak sanggup membayangkan putri kecilnya berada dalam dekapan seorang pria.
"Yakin seribu persen Mas. Kalau Noven pintar pasti kita cepat dapat cucu."
"Aduuhh Mas, suruh Noven los rem ulang-ulang..!! Irene kecil mungil begitu, bagaimana jadinya kalau di pithing Noven yang tinggi gagah seperti tukang jotos bayaran."
"Sudah nggak apa-apa. Yang penting dapat cucu." Jawab Bang Novra menghentikan keributan kedua opa.
.
.
__ADS_1
.
.