Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
35. Peralihan musim berganti.


__ADS_3

"Bang Gano sakit???"


"Iya, muntah terus tuh dek. Dokter khan ada di perkampungan adat, hanya kamu yang tersisa. Cepat bantu Gano...!!"


Irene mendengar suara Bang Gano yang terlihat begitu tersiksa. Irene segera mengambil tas peralatan lalu menuju tempat Bang Gano tapi saat itu Hanin terlihat sudah merawat pria tersebut.


"Muntahkan semua. Abang pasti terlalu lelah." Kata Hanin.


Bang Enggano menggeleng, rasanya tak ada lagi yang bisa di muntahkan. Perutnya saja sudah terasa nyeri.


Hanin memiringkan tubuh Bang Enggano lalu memijat lekuk punggungnya dengan minyak racikan khas pedalaman.


"Hhhkkkk.." Bang Enggano kembali muntah hebat sampai tubuhnya kembali lemas.


"Jangan begitu.. Bang Gano bisa dehidrasi." Irene yang sedang mempelajari ilmu medis tentu merasa tidak sepaham dengan apa yang di lakukan Hanin.


"Apa kita harus simpan racun di dalam tanai." Hanin terus merawat Bang Enggano tapi kemudian Irene menarik tangannya.


"Jangan sembarang mengurut titik tertentu. Bang Enggano sedang demam..!!" Kata Irene.


Hanin balik menepis tangan Irene. "Kau harus hormati kebiasaan kami. Kami menjalani seperti ini sudah sejak lama. Hanin tak akan memangkas nyawanya..!!!"


Bang Noven menarik bahu Irene. "Mundur dek.. Hanin tidak akan melukai Gano. Dalam hal ini Hanin cukup pintar..!!"


"Tapi Bang, pengobatan seperti itu tidak higienis. Tidak ada bahasannya di dalam ilmu medis." Irene tidak yakin karena Hanin pun masih sangat belia.


"Dengar dek.. Abang bisa sehat sampai sekarang juga karena bantuan Hanin. Tidak selamanya kita bisa menggabungkan medis dan tradisional. Perlu di ingat dimana tanah di pijak disitu lah langit di junjung." Bujuk Bang Noven.


Agaknya ketidak sengajaan pertemuan mereka membuat kedua wanita ini saling menyorotkan aura panas.


"Tapi Bang Enggano memintaku memeriksanya. Berarti Bang Gano percaya dengan pengobatan medis." Sambar Irene.


Hanin yang mendengar itu langsung membuang minyak tersebut dan masuk ke dalam rumah bilik.


Bang Enggano berusaha meraih tangan Hanin tapi gadis itu sudah melenggang pergi.


"Tolong bawa Irene menjauh. Biar aku membujuk Hanin." Kata Bang Enggano dengan mengerahkan seluruh tenaga.


"Tapi......."


"Bawa Nov..!!!!" Bang Enggano segera menyusul Hanin ke dalam kamar sambil membawa perapian kecil.

__ADS_1


//


"Abang tak boleh masuk. Hanya Hanin dan Bang Gumantar yang bisa masuk dalam bilik." Pekik Hanin hingga terdengar dari luar namun sedikit cahaya menerangi, disana nampak kain yang tidak pernah di lihatnya sama sekali. "Kain penutup apa ini?"


Bang Enggano juga melihatnya ia segera menyambar benda tersebut dan memasukan ke dalam saku celana lorengnya. Jika dulu mungkin perasaannya terasa nyeri tapi kini hal tersebut tidak membuatnya sakit seperti dulu tapi kini malah ekspresi wajah Hanin yang membuatnya cemas.


"Apa Abang Gumantar masuk kamar ini bersama wanita itu?" Gumam Hanin. "Hanin tau dalam adat seorang pria boleh memiliki dua wanita tapi Hanin tak suka."


"Jangan banyak pikiran..!!"


Hanin terdiam sejenak. "Benda itu jelas Hanin tak punya. Jadii..!!!" Hanin gemetar, setetes air matanya menitik di pipi. "Bang Gumantar..!!"


Bang Enggano menyadari apa yang tengah terjadi. Apa yang di rasakannya kemarin di rasakan oleh Hanin saat tau 'pasangan' mereka memiliki hati yang lain namun saat itu Bang Enggano masih mencoba berpikiran positif, mungkin Irene menggunakan kamar tersebut untuk berganti pakaian sebab kamar tersebut hanya tertutup sebilah tirai dan di jaga oleh banyak anggota jadi minim kemungkinan sahabatnya akan berbuat khilaf.


"Tenang Hanin.. tidak terjadi apapun di antara mereka." Bujuk Bang Enggano.


"Bilik ini bukan sembarang bilik Bang. Hanya boleh kami yang datang. Jika bukan pasangan yang datang pasti akan terjadi sesuatu." Ucap Hanin. Tubuhnya ikut lemas.


"Haniiiinn..!!!" Bang Enggano menyangga tubuh Hanin dan merebahkannya perlahan di atas ranjang.


"Bilik ini adalah urusan bagi kami pasangan adat. Siapa yang berani masuk berarti dia memecah keheningan dan kesunyian. Bang Gumantar telah melanggarnya. Abang pun telah masuk. Bejana telah pecah."


Bang Enggano ikut naik di atas dipan bambu, ia memeluk erat tubuh Hanin. "Bejana pecah memang tak dapat lagi di poles. Abang akan menggantinya dengan yang baru. Kita akan mengisinya dan menjaganya bersama-sama, kita akan menyimpannya rapat di bilik kita sendiri."


//


Bang Noven menyandarkan kepalanya sembari mendekap Irene. Sebersit rasa kasihan dan tak tega mengingat Hanin memang gadis yang teramat lugu namun hatinya tak bisa bergeser dari sosok Irene yang mengunci pintu hatinya rapat.


"Bagaimana ini Bang?" Bisik Irene.


"Nggak apa-apa. Gano pasti sanggup menanganinya." Jawab Bang Noven.


"Kenapa Bang Gano. Apa tidak bisa di serahkan pada adat. Bukankah usia Hanin masih sekitar tujuh belas tahun." Kata Irene.


"Adat tidak akan bisa menyelamatkan Hanin."


"Apa Abang tega melihat Bang Enggano terus bersama Hanin yang polosnya tak tertolong lagi." Irene juga sangat mencemaskan Bang Enggano.


"Jika tidak ada rasa dalam hati mungkin semua akan terasa berat. Tapi Abang ini laki-laki dek. Abang tau rasanya kepincut, dan Gano sedang tergoda pesona gadis rimba." Jawab Bang Noven.


"Apaaaa, yang benar saja?????"

__ADS_1


"Sungguh. Jiwa tempurnya sedang aktif."


"Astagfirullah Bang." Irene merasa ngeri tapi ia pun tidak bisa berbuat apapun.


***


Hanin terbangun di pagi hari dan merasakan nafasnya lumayan sesak. Ternyata saat itu ada tangan kekar yang menindihnya.


"Abang.." bisik Hanin sambil menyingkirkan tangan Bang Enggano.


Bang Enggano mengecup kening Hanin dan hal itu membuat pipi Hanin memerah tersipu malu.


"Selamat pagi." Sapa Bang Enggano.


"Kenapa ikut tidur disini?" Tanya Hanin, ia memalingkan wajahnya melihat Bang Enggano bertelanjang dada.


Memang bukan untuk pertama kalinya Hanin melihat pria bertelanjang dada namun entah mengapa kali ini hatinya sedikit terusik.


"Menemani gadisku yang menangis semalaman. Ada Abang disini, kenapa harus menangis?" Jawab Bang Enggano.


Hanin bangkit dan membenahi kainnya untuk menutup tubuhnya. Jantungnya sempat berdesir saat tangan Bang Enggano terus menjelajahi setiap jengkal raganya. Hal yang sama sekali tidak pernah ia dapatkan dari seorang Gumantar.


Bang Enggano mengecup punggung polos Hanin kemudian menariknya kembali dan bergelung di dalam satu selimut. "Abang baru mengusapnya saja dan kamu sudah salah tingkah begini. Bagaimana kalau Abang melakukan hal lebih. Apa reaksimu nanti?"


Bang Noven yang pagi itu sedang mengambil jagung kering tak sengaja melihat apa yang tengah di lakukan Bang Enggano pada Hanin. Ia pun menggeleng dan tersenyum penuh arti.


//


"Kamu bilang akan ada beberapa pemuka agama dan badan hukum yang akan datang kesini?" Tanya Bang Noven pada Pratu Dwipa.


"Siap.. benar Dan. Jam sembilan pagi nanti. Misinya untuk memperkenalkan dunia luar. Entah mereka bisa menerima atau tidak yang jelas sudah di lakukan upaya untuk pendekatan." Jawab Pratu Dwipa. "Ijin arahan Dan."


"Yaaa.. misinya untuk menyelamatkan Dantim mu..!! Jangan sampai Dantim mu gila karena tidak jadi membawa putri rimba."


"Oohh.. siap Dan." Pratu Dwipa tersenyum paham maksud atasannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2