
"Saya terima nikah dan kawinnya Badia Natha Haninda binti Bapak Bagau dengan mahar uang sejumlah satu juta lima ratus ribu rupiah di bayar tunai."
Bang Enggano sungguh tidak tau kalau sahabatnya menyiapkan kejutan yang membuatnya tercengang. Dengan di saksikan seluruh yang ada disana. Bang Enggano mengucap janji suci untuk setia dan menjaga Hanin di dalam hidupnya. Dengan penuh haru, sebelumnya Hanin pun telah menyatu dan ikut dengan kepercayaan yang kini di yakini Bang Enggano.
"Sah.."
"Alhamdulillah.."
Di saat semua sedang fokus dengan do'a. Hanin mengambil selembar uang kertas karena selama ini dirinya belum pernah melihatnya. "Ini apa?"
"Hhsstt..!!" Bang Enggano hanya mendesit agar Hanin diam dan fokus pada kegiatan hari ini.
Tangan Hanin menarik sarung Bang Enggano karena baru kali itu dirinya melihat Bang Enggano tidak memakai pakaian lorengnya.
Secepatnya Bang Enggano menepak lembut agar istri kecilnya tidak melanjutkan aksi usilnya.
"Dimana kain Abang yang berwarna rumput??" Tanya Hanin.
"Aamiin..!!!" Para anggota dan yang lainnya mengakhiri do'a dan hal itu cukup mengagetkan Hanin.
"Astagfirullah.. Abang suruh Hanin diam. Kenapa Hanin tidak bisa diam sebentar saja. Kita luangkan waktu untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta." Tegur Bang Enggano sembari membimbing istrinya.
Seluruhnya menunduk dengan senyum untuk menghargai Letnan Enggano namun mereka pun memaklumi dan salut dengan pria tersebut yang bersedia dan mau mengangkat derajat wanita di bawah standard keinginan kebanyakan para pria. Namun dalam hati masing-masing tetap mengakui, kecantikan alami istri Letnan Enggano memang begitu luar biasa.
"Hanin hanya tanya."
...
Hari sudah beranjak siang, tamu sudah berangkat menuju perkampungan dan Bang Enggano bersiap berangkat menuju hutan untuk kembali berburu kijang di hari kedua.
"Biar kutemani..!!" Bang Noven mengangkat salah satu senjata laras panjang disana tapi kemudian Bang Enggano mencegahnya.
"Kamu temani Irene dan Hanin saja..!! Aku tidak mau mereka ribut. Lagipula kamu sudah kenal dengan watak Hanin, tentu kamu paham cara meredakan emosi ataupun kelakuannya." Kata Bang Enggano. "Hmm.. ngomong-ngomong terima kasih banyak atas bantuan mu juga bantuan dari rekan semua."
"Sama-sama. Aku cemas sekali kalau kamu tidak bisa mengendalikan diri saat dekat dengan Hanin. Hanin sudah seperti adikku sendiri. Khilaf lah pada tempatnya."
Keduanya pun akhirnya terbahak bersama.
"Nanti lah bro, kalau semua sudah clear baru aku berani nyenggol. Lagipula Hanin belum paham juga." Jawab Bang Enggano.
"Siipp.. tapi aku tidak yakin." Bang Noven kembali tertawa.
__ADS_1
:
"Jangan ribut sama Irene. Abang pergi hanya sebentar. Do'akan Abang, biar kita bisa lihat lampu di kota."
Hanin mengangguk saja. "Abang sendiri yang ingin susah. Hanin tak pernah minta."
"Iya, Abang yang cari susah. Sudahlah.. menurutlah apa kata Abang. Kamu terima beres saja." Bang Enggano menyodorkan tangannya karena kegaduhan tadi bahkan hal sekecil ini pun belum terlaksana.
"Abang minta apa?" Tanya Hanin tidak paham.
Mau tau mau Irene yang gemas memberinya contoh. "Hanin..!!" Panggil nya.
Hanin menoleh dan melihat apa yang di lakukan Irene dan Bang Noven.
Bang Noven memberikan tangannya lalu Irene menunduk dan mencium punggung tangannya.
Hanin kemudian meraih tangan Bang Enggano dan meniru apa yang di lakukan Irene. "Tidak ada bau apapun." Kata Hanin.
"Ampuuunn dah. Bukan itu maknanya..!! Mulai saat ini kamu tunduk dan menurut apa kata suamimu. Tidak melawan dan tidak bersuara lebih tinggi dari Gano." Kata Bang Noven.
"Suami Hanin khan Abang." Jawab Hanin tak juga paham.
"Mungkin kemarin begitu. Tapi sekarang.. Abang suamimu. Maka dari itu Abang berjuang untuk membawamu keluar dari sini."
"Kenapa laki-laki mudah sekali membuang wanitanya jika tidak lagi suka. Sebenarnya Hanin pun tak suka dengan Abang." Kata Hanin tanpa menyaring kata apapun dari bibir mungilnya.
"Hati akan merekah seiring waktu. Abang akan membuatmu jatuh cinta." Bang Enggano mengecup kening Hanin kemudian melangkah pergi di ikuti beberapa orang anggotanya. Ia melupakan rasa sakitnya hanya demi seorang gadis lugu bernama Hanin.
-_-_-_-
Karena memikirkan kedua wanita akhirnya Bang Noven memutuskan agar anggotanya yang mengambil tempayan melalui bantuan salah seorang rekan dari perkampungan. Bang Noven dan para rekan sudah menghandle pembayaran dari perintah Letnan Enggano dan akan menyelesaikan total pengeluaran dana setelah tiba di kota nanti.
"Berat sekali rasanya menjalani hidup penuh tuntutan adat seperti ini ya Bang." Kata Irene.
"Ringan bagi yang sudah terbiasa, tapi semua tergantung dari sudut pandang kita sendiri." Jawab Bang Noven.
Irene bersandar di bahu Bang Noven. "Terima kasih Abang, sudah bersedia memperjuangkan Irene kembali."
Bang Noven tersenyum mendengarnya. "Memang sudah seharusnya seperti itu. Posisi mu di hatiku tidak akan pernah berubah, meskipun Tuhan pernah mengambil sebagian ingatanku, tapi Tuhan masih baik dengan menyelipkan bayangmu. Tuhan masih mempertemukan kita dengan cara tak di sangka."
"Abang, seandainya saat ini Irene sudah menikah dengan Bang Gano, apakah Abang masih menginginkan Irene?" Tanya Irene.
__ADS_1
"Tak peduli apapun itu, berapa kali Gano memelukmu bahkan mungkin membelai tubuhmu.. Abang tetap mencintaimu, cinta bukan soal fisik.. tapi rasa yang tercipta." Jawab Bang Noven.
Hanin sempat mendengarnya di balik bilik tapi kemudian ia menepis segala rasa dalam hatinya. Rasa yang berbeda dan tak seperti dulu. Kini di dalam hatinya lebih mencemaskan sosok Bang Enggano yang sedang berusaha keras 'memperjuangkan' dirinya.
"Hhhhhh.." terdengar bunyi d***h nafas lelah. Bang Enggano membuang topi rimbanya.
"Gan.. nggak bawa hasil??" Tanya Bang Noven kemudian mengambilkan sahabatnya kendi yang berisi air minum.
Bang Enggano menggeleng lemas lalu mengambil kendi tersebut dan menegaknya bagai unta kehausan di padang pasir.
"Sempat makan atau tidak??" Tanya Bang Noven lagi.
Bang Enggano kembali menggeleng.
"Ijin Dan. Dantim sendiri yang tidak mau makan. Tadi Dantim........." Lapor seorang anggota.
Bang Enggano menyenggol kaki anggotanya dan menghentikan ocehannya.
"Kamu boleh cemas, tapi pikirkan kesehatan mu juga Gan. Kalau kamu sakit, seluruhnya akan terhambat." Kata Bang Noven.
Tak lama Hanin keluar membawa nampan berisi makanan. "Abang semua bisa makan di gubug belakang. Hanin sudah siapkan."
"Siap Ibu, terima kasih."
"Ibu?? Hanin belum punya anak, belum juga jadi ibu. Panggil Hanin saja..!!" Protes Hanin.
Bang Enggano menyentuh tangan Hanin. "Panggilan ibu itu untuk menghormati kamu sebagai istri Abang. Bukan berarti kamu ini ibu yang punya anak. Panggilan tersebut sangat mulia."
"Oohh.." Hanin meletakan nampan di samping Bang Enggano. "Abang mau makan sekarang?"
Bang Enggano terdiam tapi kemudian ia menyentuh pergelangan tangannya.
Seakan mengerti keadaannya. Hanin mengambil mangkok tempurung kelapa itu. "Hanin suapi. Nanti Hanin pijat tangan Abang."
.
.
.
.
__ADS_1