
Anggun menghambur memeluk Bang Noven. Ia menumpahkan tangis sejadi-jadinya. Bang Noven hanya terdiam tanpa kata tapi siapapun pasti tau bahwa hati seorang Abang tidak mungkin sejahat itu mengabaikan adik kecilnya.
"Maafin Anggun Bang. Anggun tau Anggun sudah melakukan kesalahan besar." Kata Anggun.
"Apakah Bang Noven tidak mengajarimu ada dan sopan santun? Kenapa dengan mudahnya kamu membuka paha dan memberikan kesucianmu pada pria lain???" Tegur Bang Noven namun kemudian ia mengingat pernah melakukan 'keburukan' pada Irene. Jika saja kedua orang tua tidak menikahkan mereka sejak awal sudah barang tentu apa yang di lakukannya pun menjadi Zina. "Astagfirullah hal adzim..!!!" Bang Noven mengusap dadanya yang terasa tak karuan.
"Baang.. Abang tidak apa-apa?" Tanya Irene dengan wajah cemasnya.
"Iya, Abang nggak apa-apa." Jawab Bang Noven mengurai senyumnya tapi tidak seperti kenyataannya. Mata itu terus menatap sosok Bang Jay yang berdiri di samping Anggun.
"Sembuh dulu Bang Nov.. setelah itu Abang bisa menindak ku.. Aku terima..!!" Kata Bang Jay.
Bang Noven tetap diam, ia segera memalingkan wajahnya.
\=\=\=
Satu bulan kemudian.
Bang Jay memercing sampai gemetar menyangga tubuhnya dalam sikap tobat. Bang Noven benar-benar menindak dirinya di dalam ruang kerjanya.
"Yang tegak Letnan Jaya..!! Urusan tegak yang lain kamu semangat, kalau yang seperti ini kamu loyo. Kerahkan tenagamu..!!" Bang Noven memasang wajah penuh kepuasan. Tubuhnya yang sudah sehat sudah bisa di ajak beraktivitas berat.
"Ampuuunn Bang. Saya sudah nggak kuat..!!"
Bang Noven tak menggubris, ia tetap merokok dalam mode santai hingga perlahan Letnan Jaya ambruk dengan sendirinya.
"Jaya Perkasa ko' lemas." Ledek Bang Noven.
Bang Jaya tak mengambil pusing ledekan sahabatnya. Semua terjadi karena dirinya memang salah dan ia pantas mendapatkan sanksi dari perbuatan ceroboh nya.
"Sini kamu..!!!"
Bang Noven berdiri lalu menampar Bang Jaya lalu meninju perutnya lalu kembali duduk.
"Duduk..!!" perintah Bang Noven melempar air mineral yang ia ambil dari lemari pendingin di ruangnya.
Bang Jaya menerima botol minuman tersebut sembari mengatur nafas dan menahan sakit akibat hantaman Abang iparnya.
"Keponakanku laki atau perempuan?" Tanya Bang Noven.
"Baby boy Bang."
__ADS_1
"Syukurlah, baby ku belum terlihat. Tapi Irene setiap hari mual. Pusing aku mikirnya." Bang Noven mengusap wajahnya. Ekspresi nya memang terlihat sangat cemas.
Tak lama ada suara ketukan di pintu ruang kerja Bang Noven.
"Selamat pagi.. ijin Danki..!!" Terdengar suara Prada Dwipa di luar ruangan.
"Yaaa.. masuk..!!"
Bang Dwipa membuka pintu ruangan lalu menegakan punggungnya memberi salam.
"Ijin Danki..!!"
"Ada apa?"
"Siap.. ijin.. tadi Ibu tidak bisa jalan. Perutnya kram dan nyeri. Danki tidak mengangkat panggilan telepon ibu." Laporan Bang Dwipa.
Bang Noven menyesali dirinya yang tadi sempat mengabaikan lima panggilan telepon dari Irene karena sibuk menindak Bang Jay. "Saya kesana sekarang."
~
Saat Bang Noven masuk ke ruangan ibu pengurus ranting, Irene sudah di sandarkan pada sofa. Matanya terpejam, wajahnya sudah sangat pucat tapi masih dalam keadaan sadar.
"Tolong kamu suruh Hasbul panggil dokter..!!" Perintah Bang Noven pada Bang Dwipa.
Bang Dwipa segera mengambil langkah cepat agar Ibu Novendra bisa segera di tangani.
:
"Sudah berapa hari Bu Noven tidak mau makan?" Tanya dokter.
Bang Noven sungguh kaget mendengarnya, pasalnya ia merasa selama ini Irene baik-baik saja. Tapi dirinya memang harus mengakui masa pemulihannya kemarin membuatnya terlupa akan kesehatan istri kecilnya.
Setiap hari Irene merawatnya dengan penuh kasih bahkan sampai menyuapinya makan, ia sama sekali tidak menduga jika fase kelelahan itu akan membuat Irene tidak mengingat jam makan nya sendiri.
"Terus terang saya tidak tau dok." Jawab Bang Noven penuh sesal.
"Bu Noven tidak mau makan, sekarang malah mengalami dehidrasi. Bu Noven harus di rawat di rumah sakit..!!" Saran dari dokter.
"Jangan dok.. saya tidak suka aroma rumah sakit. Kalau boleh saya di rawat di rumah saja." Pinta Irene dengan suaranya yang serak.
...
__ADS_1
Setelah berunding dengan dokter akhirnya Irene di rawat di rumah saja. Usia kandungannya yang masih berusia dua bulan memang masih wajar mengalami mual dan muntah.
Perut Irene masih datar namun sudah terasa dan teraba begitu tangan Bang Noven merabanya.
"Maafin Abang ya dek. Abang terlalu memikirkan diri sendiri sampai lupa memperhatikan kamu. Abang memang suami yang tidak bertanggung jawab." Sejak tadi Bang Noven terus menyalahkan dirinya karena kelalaiannya Irene bisa sampai sakit seperti ini.
"Abang nangis??" Tanya Irene melihat di sekitar bingkai mata Bang Noven yang basah.
"Nggak.. kenapa harus nangis? Abang hanya mau minta maaf sama Irene." Jawab Bang Noven sambil mengusap matanya.
"Idiiihh.. Abang jatuh cinta ya sama Irene???"
Setelah sekian lama Bang Noven tidak mendengar celotehan khas Irene kini dirinya mendengar lagi ocehan bodoh semacam itu lagi.
"Kamu sendiri cinta nggak sama Abang?" Tanya Bang Noven.
"Cinta sih. Soalnya di kasih uang jajan sama Abang." Jawab Irene membawa wajah lugunya.
"Jadi karena uang?? Lalu apa saja yang sudah kamu terima dari si Dwi sampai kamu jatuh cinta??" Bang Noven jadi terbawa geram dengan jawaban Irene.
Duduk di luar sana Bang Dwi mendengar ucapan Bang Noven dari dalam kamar. Wajahnya datar saja tapi entah bagaimana dengan isi hatinya.
"Aku nggak nyaman kerja sama Pak Noven. Beliau galak sekali. Tidak pernah senyum, aku tidak yakin Irene bahagia menikah dengan Pak Noven." Bisik Bang Hasbul. "Aku merasa di mata-matai Pak Noven apalagi kalau soal Irene, tiba-tiba saja Pak Noven bisa berubah menjadi makhluk berdarah dingin."
"Semua tidak akan terjadi kalau kamu tidak macam-macam. Sikap Pak Noven sangat wajar untuk melindungi istrinya." Jawab Bang Dwipa.
"Ngomong-ngomong aku juga penasaran apa yang buat Irene jatuh cinta."
"Jangan sebut Irene lagi. Apapun yang terjadi dengan kita dulu, saat ini beliau adalah istri dari Komandan kita. Panggil beliau 'Ibu Novendra'!!" Kata Bang Dwipa.
"Jawab dek..!!" Terdengar lagi suara dari dalam sana.
"Apa sih Bang?" Irene pun tak menanggapi pertanyaan Bang Noven.
"Kenapa kamu jatuh cinta sama Dwi????"
"Abang sendiri kenapa bisa jatuh cinta sama Mbak Vindy??" Balas Irene.
.
.
__ADS_1
.
.