
Para orang tua terdiam setelah mendengar penjelasan dokter tentang kehamilan Irene, tapi Papa Girish tetap memasang wajah waspada begitu juga Bang Novra yang tidak melepas pandangan dari adik perempuannya.
"Papa akan membawa Irene pulang dulu sampai keadaannya membaik." kata Papa Girish.
"Nggak Pa. Tolong nikahkan saya dulu dengan Irene..!! Kandungannya akan semakin besar." pinta Bang Noven.
"Mas Gi.. ada apa ini? Kenapa Irene tidak boleh bersama Noven? Kita sudah dengar semua penjelasan dari dokter tentang masalah sakitnya Irene. Kalau Mas tidak percaya dengan Noven, biar saya sendiri yang ikut turun tangan menjaga Irene. Bagaimana pun juga Irene memang menantuku." Kata Papa Seno membantu putranya bernegosiasi bicara pada sahabatnya. Ia tau pasti perasaan Bang Noven sedang gundah.
"Mas tidak akan mengerti perasaanku..!!"
"Karena saya tidak mengerti, sekarang buatlah kami mengerti terutama Noven yang sudah menjadi suami Irene." jawab Papa Seno.
Bang Noven terkejut mendengarnya tapi Papa mengisyaratkan agar beliau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan secara pemikiran orang tua lebih dahulu.
"Tolong Mas Gi, di perut Irene ada cucu kita. Dia butuh bapaknya..!!"
Mama Rinjani duduk dan menangis. Papa Girish seperti masih menormalkan deru nafas, sejenak beliau memejamkan mata. Setelah batinnya terasa kuat, ia mengusap bahu sang istri lalu menatap Papa Seno sahabatnya sejak lama.
"Putriku Irene adalah gadis yang sangat penakut, dia menutupi rasa takutnya dengan segala rasa cerianya. Beberapa tahun yang lalu di kota P pulau S. Irene pernah berkenalan dengan seorang pria dan pria tersebut memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. Laki-laki itu sering membentaknya, mencacinya bahkan sampai memukulinya. Novra pernah menghajarnya karena laki-laki itu mabuk dan hampir berbuat tidak pantas pada Irene hingga membuatnya trauma karena pele**han. Dia adalah litting dari Dwipa.. sahabat Dwipa yang mungkin sampai sekarang masih menjadi teman dekatnya Irene. Sejak saat itu Dwipa dekat dengan Irene dan selalu melindungi putriku." Papa Girish menceritakan apa yang terjadi pada putrinya itu. "Pinggul Irene pernah memar dan dua minggu tidak bisa berjalan. Dwipa yang selalu menemani agar sahabatnya tidak menggangu Irene lagi."
Tangan Bang Noven mengepal geram. Setelah tau saat ini posisinya adalah suami Irene rasa protective nya semakin mencuat. Meskipun semuanya adalah masa lalu tapi apa yang terjadi pada Irene bisa saja akan melekat seumur hidup.
"Siapa nama litting Dwipa?" Tanya Bang Noven.
"Semua sudah selesai Nov. Jangan diperpanjang lagi. Abang sudah bereskan..!!" cegah Bang Novra karena dirinya paham bagaimana tabiat junior nya jika sedang marah.
"Abang tidak bilang pun tak masalah, saya akan tangani semua sendiri..!! Bukankah aku suaminya Irene??? Jadi aku berhak melindungi istriku dengan cara apapun..!!"
Bang Novra menatap wajah kedua Papa lalu keduanya mengangkat kedua tangan bersamaan yang itu berarti mereka berdua tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Bang Noven. Akhirnya Bang Novra pun ikut mengangkat kedua tangannya.
Secepatnya Bang Noven mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Yaa.. selamat siang. Saya minta data semua Taja beberapa tahun lalu di kesatuan B kota P pulau S. Saya juga minta tolong nanti arahkan siapapun yang saja tunjuk untuk menjadi ajudan pribadi dan sopir saya di kompi. Catat baik-baik.. Skep menyusul, orangnya datang lebih dulu..!! Perintah Pati Bintang.. Senopati Aryayodha..!! " ucap Bang Noven karena sadar dirinya yang masih berpangkat Letnan satu belum memiliki kuasa apapun.
Bang Noven segera mematikan panggilan teleponnya.
Papa Seno geram dengan ulah putranya yang menyalahi aturan kedinasan namun tidak bisa juga berbuat apapun. "Kamu menyalah gunakan wewenang Nov..!!" tegur keras Papa Seno.
"Saya tau, selama ini saya tidak pernah minta apapun dari Papa. Kalau Papa tidak mau bantu saya, setidaknya Para Opa bantu lindungi cucu."
__ADS_1
Mendengar kata tersebut jelas saja kedua Opa kalah telak. Apalagi Bang Novra yang terlihat begitu menyayangi Irene.
:
"Dwipangga dan Hasbul. Okeee.. mati kau sekarang..!!"
Bang Noven kembali menghubungi seseorang di seberang sana.
"Siap..!!"
"Kirim Prada Dwipangga dan Prada Hasbul..!!" perintahnya..!!
~
Sejak siang tadi Irene baru tersadar malam ini. Pandangannya sudah tidak se nanar tadi. Ia mengedarkan pandangan dan melihat banyak orang di ruang rawat itu tengah menatapnya juga.
"Irene.. bagaimana rasanya ndhuk. Masih pusing??" sapa Mama Laras.
"Nggak Ma, Bang Noven dimana Ma?" tanya Irene mencari pria yang kemarin membuatnya kesal.
"Abangmu masih sibuk telepon sana sini ndhuk." jawab Mama Laras.
Tak lama Bang Noven pun berdiri disana. Tau Irene sudah bisa membuka mata, Bang Noven menghampiri dan mengecupnya.
"Sate nya mana?" tanya Irene.
Bang Noven terdiam sejenak namun wajahnya mengisyaratkan rasa jengkel yang terpendam. "Rasanya mulai detik ini Abang trauma sama yang namanya sate. Kenapa sih kita bisa ribut begini hanya karena sate."
Seisi ruangan menyimpan tawa. Tak tau mereka harus senang atau sedih mendengar curahan hati seorang Danki.
"Tapi Irene mau.."
Segarang dan sekuatnya Bang Noven tapi kali ini memang dirinya harus mengakui kekalahan atas permintaan istri kecilnya.
"Sebenarnya Irene mau sate apa? Sate se-Indonesia ini banyak dek. Tolong lah Abang wahai bidadari surga yang cantik jelita..!!" bujuk Bang Noven sungguh dari dalam hati.
"Sate yang sudah hancur, di tempelin di sereh..!!" pinta Irene.
__ADS_1
Bang Noven membuang nafas lega lalu menghubungi Bang Jaya.
tuutt..
"Opo????"
"Tolong belikan sate lilit..!!" kata Bang Noven.
"Haaaa.. Iya.. obatnya baru ku gigit. Aku di toilet..!!"
"Sate lilit boloott.. belikan sate lilit..!!!! Aku nggak mau tau.. cepat dapatkan sate lilit..!!!! Jangan terlalu pedas..!!!!!!" Bang Noven menutup panggilan teleponnya.
//
"Apa tadi yang di jepit?? Noven mah ganggu kenikmatan aja." Gerutu Bang Jaya dari dalam toilet.
...
Bang Jay datang menenteng sandal jepit dan membawanya ke kamar rawat Irene. Sesampainya di ruangan, ia memberi hormat pada atasannya lalu tersenyum nakal pada Irene.
"Hai Irene.. ini pesanan mu..!!" Bang Jay menyerahkan kantong plastik tersebut dan Irene tersenyum lalu membukanya.
Tapi seketika senyum Irene mendadak hilang tak berbekas. Ia menatap mata Bang Noven.
"Ada apa?" tanya Bang Noven cemas.
"Kenapa sandal jepit Bang?"
Bang Noven melongok dan ikut mengintip isinya. "Ya ampun..!!" Bang Noven sampai menepuk dahinya karena gemas dengan Bang Jaya. "Aku baru saja baikan sama Irene. Kenapa kamu buat aku jadi ribut lagi?????" bisik Bang Noven.
"Lho.. bukannya kamu tadi minta di belikan sandal jepit merk A***as????" tanya Bang Jaya dengan wajah tanpa dosa.
.
.
.
__ADS_1
.