Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
40. Menyongsong dunia baru.


__ADS_3

Hari ini telah usai kegiatan para pasukan dan mereka bersiap kembali ke kesatuan. Setidaknya para pasukan harus berjalan sejauh empat kilometer untuk mencapai titik penjemputan.


"Bang.."


"Dalem sayang. Ada apa?" Bang Noven meresapi Irene yang sejak semalam mendekatinya.


"Irene sudah telat." Bisik Irene.


"Haah.. yang benar kamu dek??" Suasana pagi ini membuat hati Bang Noven berbunga-bunga. Nyaris dua bulan mereka hidup disana dan akan kembali ke Batalyon tapi ternyata Tuhan memberikan kejutan tak ternilai bagi mereka berdua.


Irene mengangguk. Sebagai seorang team medis ia tau betul keadaan dirinya dan yakin bahwa dirinya tengah berbadan dua.


"Alhamdulillah Ya Allah..!!" Saking bahagianya Bang Noven sampai tidak bisa menahan rasa harunya.


"Iiiihh pinjam sebentar..!!" Hanin membawa sebuah granat yang terselip di antara pakaian di dalam ransel.


"Itu bukan mainan..!! Jangan di cabut klep nya juga jangan sampai jatuh..!!" Pesan Bang Enggano yang si setiap harinya penuh warna karena menikahi si cantik Hanin.


Mau tidak mau Bang Enggano merebutnya paksa.


"Biasakan ijin dengan Abang, jangan asal bongkar dan ambil."


"Kata Abang, Hanin boleh mengambil apapun milik Abang. Termasuk bongkar isi celana Abang." Protes Hanin.


Satu team menunduk menahan tawa sedangkan Bang Enggano sudah kelabakan bingung menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu.


"Abang ubah peraturannya." Kata Bang Enggano dengan suara rendah. Ia membuka kaos loreng nya yang basah karena ingin menggantinya dengan yang lain tapi di saat itu sorot mata Hanin terus menatap dada bidang dan perut sixpack Bang Enggano. Tau sang istri tengah menatapnya, Bang Enggano sengaja berbalik badan untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya. Ia sangat cemas Hanin akan berbuat sesuatu di luar batas, pasalnya sejak dirinya terluka hingga hari ini dirinya belum mendekati Hanin lagi. "Pakai pakaian yang Irene pinjamkan, kita harus segera berangkat..!!"


"Biar Irene bantu Bang." Secepatnya Irene mengajak Hanin untuk masuk ke dalam bilik, bilik yang akan menjadi ruangan dan tempat terakhir yang mereka lihat.


:


Setelah bersusah payah mendandani Hanin akhirnya Hanin muncul dengan penampilan barunya. Celana panjang cargo, kaos crop dan jaket membuat penampilan Hanin menjadi sangat cantik, sedikit polesan wajah turun membuatnya nyaris tidak di kenali.


"Hanin tak suka." Kata Hanin saat melihat penampilannya untuk pertama kali. Wajahnya yang terbiasa memakai bedak tepung kini sangat terlihat putih langsat dan halus.


"Kamu cantik Hanin. Nanti juga akan terbiasa."


Mendengar suara berisik itu Bang Enggano menoleh. Sungguh dirinya tercengang. Matanya nyaris melompat dari bingkainya, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya menegang sempurna.


Plaaakk..


"Ilermu Gan." Tegur Bang Noven membuat Bang Enggano jadi serba salah. Pipinya memerah ia tersipu salah tingkah.

__ADS_1


Hanin yang tidak terbiasa memakai apapun berusaha melepaskan benda di dalam pakaiannya. Namun saat itu tangan Bang Enggano melarangnya. "Jangan..!! Cobalah untuk lebih terbiasa. Nanti kamu akan membutuhkan benda itu di setiap harinya." Ucap lirih Bang Enggano.


Sampai beberapa saat lamanya Bang Enggano tetap tidak bisa menyembunyikan rasa salah tingkah nya.


"Bantu bawa itu Bang..!!" pinta Hanin.


"Apa yang mau kamu bawa?" tanya Bang Enggano kemudian mengarahkan matanya pada dua karung benda yang di tunjuk Hanin.


"Jagung dan ketela rambat."


"Ya Allah.. kau pikir di kota tidak ada jagung?? Ketela pun bergelimpangan." tegur Bang Enggano kemudian menarik tangan Hanin yang pastinya tidak membawa apapun dari kota.


"Hanin bawa apa? Semua orang membawa barang." Tanya Hanin merasa tidak enak dengan rekan suaminya yang lain.


"Kamu cukup membawa diri dan tidak banyak tingkah itu sudah amat sangat membantu sekali." jawab Bang Enggano kemudian mengajak semua bersiap namun saat itu gemuruh dari langit terdengar sedikit bising.


Beberapa ekor hewan berlompatan dan bersahutan bahkan ada yang berlari sampai para anggota siap siaga dengan persenjataan masing-masing.


"Tahan..!!" perintah Bang Noven.


"Aaaa.. Bang..!!" Irene bersembunyi di belakang punggung Bang Noven saat seekor banteng dan monyet mendekati Hanin.


"Munaaa.. Banaaa.. Maaf Hanin meninggalkan kalian. Baik-baiklah kalian di hutan. Hanin janji akan berusaha katakan pada dunia agar mereka tidak sembarang bakar hutan yang menjadi rumah kalian." Hanin menangis sejadi-jadinya memeluk mereka.


"Jangan Bang.. dia si Raja..!!" pekik Hanin menahan Bang Enggano mengangkat senjata lalu berlari dan menerjang seekor harimau yang berukuran tidak terlalu besar. "Hanin pergi ya Raja.. jaga diri kalian dan jangan bertengkar." Hanin mengusap tubuh sang raja hutan dengan lembut. Terlihat para penghuni hutan pun mendirikan air mata.


Bang Enggano menurunkan senjata lalu berjalan mendekat. Si raja hutan bereaksi dan mengaum garang. Hanin segera menenangkan nya. Dia suamiku, jangan melukainya..!!" Hanin memperingatkan.


Disaat yang sama para hewan hutan mengusap kepalanya di perut Hanin. Hanin pun membalas mengusap mereka. Hewan tersebut berjalan menuju Irene berdiri. Awalnya Irene sangat ketakutan tapi Bang Noven menenangkan istrinya itu.


"Jangan lari dan terima mereka..!!"


Irene terdiam dan para hewan melakukan hal yang sama yang mereka lakukan pada Hanin.


"Hhhkkkk.." Bang Enggano berlari dan menepi. Sejak dua hari yang lalu asam lambung nya bermasalah, ia pun sejak masuk angin.


Bang Noven hendak membantunya tapi nampaknya Bang Enggano sudah terlihat baik-baik saja.


"Ayo jalan.. jangan sampai terlambat..!!" ajak Bang Enggano.


Perpisahan pun terjadi, air mata tak menghentikan langkah mereka menuju tempat baru untuk di naungi.


...

__ADS_1


Bang Noven membawa ransel milik Irene, jelas saja ia membawanya sebab kehamilan Irene masih sangat muda.


"Hhhhkk.." Kini Irene yang menepi, perjalanan yang mereka lalui nampaknya membuatnya sedikit kelelahan.


"Ada apa dengan Irene?" tanya Bang Enggano.


"Hamil." jawab Bang Noven singkat tapi kemudian para anggota bersorak bahagia, hanya mata Bang Enggano saja yang melotot mendengarnya.


"Kau gila Nov, dimana kalian ngadonin si krucil?? Kau tau setelah ini masih banyak masalah yang kita hadapi..!!" tegur Bang Enggano. "Kau gendong Irene saja..!! jalan di sini terjal, licin dan berbatu, jaga anakmu..!!"


"Biar saya bawa ranselnya Dan..!!" seorang anggota mengambil ransel di punggung Bang Noven dan Bang Noven segera mengangkat Irene kemudian mereka kembali berjalan.


bruugghh..


"Haniiin.. astagaa.. cobaan apalagi ini????" Bang Enggano panik melihat Hanin terkapar dan hampir terperosok ke sisi lembah.


"Istirahat sebentar saja..!! Beri waktu Hanin dan Irene tenang sebentar..!!" perintah Bang Noven.


Dokter disana menurunkan ransel dan memeriksa keadaan Hanin dan Irene. Sejenak beliau merasakan denyut nadi Irene dan kemungkinan benar adanya jika istri Letnan Noven itu tengah mengandung.


"Sepertinya benar Bu Irene mengandung Pak. Tapi lebih jelasnya bapak periksakan langsung di rumah sakit saja sesampainya di kota nanti." saran dokter.


Kini tiba saatnya memeriksa keadaan Hanin yang baru saja tersadar.


"Bagaimana dok??" tanya Bang Enggano cemas.


"Ibu sedikit tertekan Pak. Mungkin karena ini pertama kalinya beliau meninggalkan dunianya untuk menyambut dunia yang baru. Nanti juga akan pulih dengan sendirinya." kata dokter.


Bang Enggano mengusap puncak kepala Hanin. "Percayalah.. dunia luar akan jauh lebih indah. Abang janji akan membuatmu bahagia."


Hanin mengangguk namun kemudian meremas perutnya. "Sakit lah Tanai Hanin, ada halia tak?" tanya Hanin.


"Haaah??" Bang Enggano sedikit bingung dengan permintaan Hanin.


"Cari di kantong yang Hanin masukan dalam ransel mu Gan. Hanin minta jahe." kata Bang Noven.


"Oohh.. jahe." Bang Enggano menurunkan ransel dan membongkarnya. "Astagfirullah.. segala rupa kau bawa. Di kota banyak.. Haniiiinn.. Pantas punggung Abang rasanya mau patah." gerutu Bang Enggano sembari mengeluarkan rimpang bumbu dapur bahkan obor pun di bawanya masuk ke dalam ransel Bang Enggano.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2