
Peringatan menuju naik konflik. Harap bagi readers yang tidak tahan konflik untuk SKIP demi kebaikan bersama..!! Please jangan main tebak-tebakan. Percayakan sama author nya ya..!! 🥰😘
🌹🌹🌹
Group besar perwira berbunyi nyaring. Bang Noven segera membacanya. Saat ini ada pergerakan titik dari sinyal yang tidak di ketahui. Daerah tersebut berada dua jam dari posisi kompinya saat ini.
Membawahi sekitar seratus orang anggota, tidak mungkin dirinya mengurus Dantonnya karena saat ini Dantonnya tersebut baru saja masuk dan lulus untuk menempati jabatan bersamanya di kompi.
Perasaan Bang Noven menjadi was-was karena pergerakan titik sinyal tersebut begitu cepat.
ddrrtt.. ddrrtt.. ddrrtt..
"Dwi, saya harus ke Markas..!! Kamu pergi ke gudang kompi dan siapkan peralatan tempur saya..!!" Ucapnya kemudian menghubungi Bang Jaya namun pria tersebut tidak bisa di hubungi.
"Ijin Danki.. alat tempur standby dimana?" Tanya Bang Dwipa.
"Di sekitarmu saja dan akan saya ambil kalau memang di butuhkan nantinya..!!" Jawab Bang Noven. "Jangan lupa di periksa kelengkapannya..!!"
...
"Aman.. tidak ada sinyal lagi. Hilang begitu saja..!!" Kata Danyon di ruang Markas.
"Benar, sinyal tersebut di nyatakan hilang." Kata Bang Novra.
"Sinyal pergerakan apa itu??? Ini aneh Bang. Sinyal tersebut ada di bawah lautan. Sempat terdeteksi Matra Laut selama beberapa menit tapi hilang tak berbekas. Apa tidak ada penelusuran lebih lanjut???" Tanya Bang Noven peka dengan situasi.
"Sudah, tapi memang nihil." Jawab Bang Novra.
"Kirim saya untuk memantau daerah tersebut..!!" Pinta Bang Noven.
"Nggak.. tempat itu berbahaya dan bukan tempat uji coba..!!" Tolak Bang Novra.
"Saya akan pantau kembali..!! Jika memang ada sesuatu yang tidak beres, kami akan mengirim mu dalam pergerakan..!!" Kata Danyon.
"Siap..!!"
...
__ADS_1
Bang Novra tidak bisa menerima keputusan adik iparnya dalam misi menjalankan tugasnya, bagaimana tidak.. adik perempuannya kini tengah hamil muda dan dirinya tidak ingin kehamilan adiknya terganggu karena memikirkan masalah penugasan Bang Noven.
"Kalau kamu berangkat, bagaimana dengan Irene. Kehamilannya masih sangat muda Nov."
"Saya pergi bukan untuk mati Bang. Saya pasti akan kembali..!!" Janji Bang Noven saat itu. Ucapnya terlihat tenang namun tidak dengan hatinya yang gundah gulana memikirkan sang istri yang tengah mengandung buah hati pertamanya.
"Hati-hati Nov..!!" Pesan Bang Novra.
"Pasti Bang..!!"
...
Irene ternganga melihat sesampainya di rumah, Bang Noven langsung sibuk dengan seragam tempurnya lalu suaminya itu memanjat ke atas plafon rumah dan mengambil senjata serta beberapa kotak berwarna hijau army dan ternyata kotak tersebut berisi ratusan butir peluru.
Sebenarnya Bang Noven ingin merahasiakan semua tapi ia tidak ingin membuat istrinya dua kali berpikir dan bertanya-tanya tentang pekerjaan apa yang akan di tanganinya.
"Sebenarnya ada tugas apa Bang? Kenapa Danki harus turun tangan sendiri menjalankan tugas?"
Bang Noven menatap wajah sang istri. Wajah kesalnya tadi kini berubah menjadi wajah penuh kecemasan.
"Memangnya ikan apa yang sampai membuat seisi kompi dan Batalyon jadi resah begini?" Tanya Irene lagi.
"Ikan besar yang belum pernah kamu lihat. Sudah lah, jangan memikirkan ikannya. Kamu tidurlah baik-baik dan jaga anak kita..!! Abang pengen banget punya anak." Pesan Bang Noven saat itu.
Irene tak lagi peduli dengan sosok Prada Dwipa yang berdiri tak jauh dari Bang Noven. Ia langsung menghambur dan memeluk Bang Noven. "Bagaimana kalau Irene rindu??" Ucap Irene tak seperti biasanya.
"Tahan rindu sebentar saja, tunggu sampai Abang pulang. Do'akan Abang..!! Rindumu akan tersampaikan..!!" Kata Bang Noven menenangkan hati istri kecilnya.
"Abang tidak rindu ya?" Tanya Irene mendongak menatap kedua bola mata Bang Noven tapi suaminya itu hanya tersenyum kecut dan mengalihkan pandangan matanya.
Bang Noven menekuk sebelah kakinya, kini wajahnya berhadapan dengan perut Irene yang masih datar.
"Adek.. Ayah pergi dulu ya nak. Sebentaaarr saja..!! Hanya sebentar, adek harus kuat tunggu Ayah pulang. Apapun yang terjadi Ayah pasti pulang..!!" Bang Noven mencium perut Irene kemudian memeluknya sejenak.
'Sayangku.. mungkin belum ada ruh di dalam tubuh kecilmu, tapi Ayah tau kamu mengerti perasaan Ayah pada Bundamu. Tolong jaga Bundamu.. kuatkan Bunda demi kehadiran mu. Mungkin Ayah egois karena harus mengambil jalan seperti ini tapi kamu harus tau, konsekuensi pekerjaan Ayah adalah seperti ini. Sumpah untuk negara tidak bisa diingkari tapi meskipun raga ini jauh dari Bundamu, percayalah jiwa dan cinta Ayah tetap milik Bundamu sampai kapanpun.'
"Baang..!!" Irene menuntut jawaban Bang Noven tapi suaminya itu tetap saja diam.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik ya Bun. Ayah pergi sebentar..!!" Satu kecupan manis mendarat di bibir Irene. 'I love you Bunda sayang.'
Bang Noven berbalik badan dan melangkah pergi, ia tidak lagi menatap sosok Irene yang pastinya sudah menangis.
"Tugasmu tetap berlaku Prada Dwipa.. Tolong jaga anak dan istri saya sampai saya kembali..!! Kau tau arti setia pada pimpinan???" Ucap Bang Noven pada Prada Dwipa.
"Siap.. mengerti Danki..!!" Jawab Prada Dwipa.
"Lindungi dia. Sampai saya kembali lagi..!! Kalau sampai Hasbul mengganggunya lagi.. kamu akan berurusan dengan saya Dwipa..!!"
"Siap.. saya pahami tugas dan tanggung jawab Komandan..!!"
"Terima kasih..!!" Bang Noven segera masuk ke dalam mobil hitam yang sudah ada di depan rumah dinasnya. Secepatnya mobil itu melangkah pergi.
"Abaaaaang.. jangan pergi..!!!!" Pekik Irene mengejar mobil tersebut.
Bang Noven tau apa yang terjadi di belakang mobilnya. Ia segera memejamkan matanya. Seketika itu juga air matanya menitik tidak tega. 'Ayo sayang, yang kuat..!! Tangismu sungguh membuat Abang terluka..!!"
//
"Harap ibu bisa tenang. Pak Noven sedang bertugas..!! Kalau ibu menangis, pikiran Pak Noven terpecah dan tidak bisa konsentrasi. Percayalah.. Danki pasti kembali..!!" Bujuk Bang Dwipa.
"Irene nggak mau Abang nangkap pencuri ikan. Irene mau Abang di rumah saja..!!"
"Ijin ibu, tolong jangan menangis lagi..!!" Bang Dwipa ikut sedih melihatnya, pasalnya cinta untuk gadis polos itu masih melekat kuat di dalam hatinya.
Irene menarik nafasnya dalam-dalam berusaha untuk kuat tapi kenyataannya hatinya tidak sekuat itu. Tubuh Irene terhuyung dan akhirnya pingsan menimpa Bang Dwipa.
"Ya Tuhan.. Dek.. Irene..!!" Bang Dwipa panik melihat istri Dankinya pingsan.
.
.
.
.
__ADS_1