
Bang Noven merawat sahabatnya dengan sangat hati-hati. Hanin yang biasanya sangat cekatan dalam hal seperti ini tiba-tiba saja tak berdaya. Hanin terus menangisi keadaan Bang Enggano yang semakin memucat karena darah terus mengucur deras. Terlebih belati yang gunakan juga bukan sembarang belati. Belati adat tersebut sudah pasti mengandung racun.
"Bekal kesehatan hanya cukup untuk satu Minggu Bang. Kita harus usahakan cara agar racun tidak menjalar ke seluruh tubuh..!!" Kata Irene mengingatkan.
"Pakai ramuan tradisional saja." Jawab Bang Noven.
"Jangan.. itu tidak steril." Tolak Irene.
"Kau hanya memikirkan segala sesuatu dari pandangan mu saja. Kau kira suami tercinta mu itu bisa hidup karena pengobatan apa????" Pekik Hanin. "Pergilah kalian..!! Aku akan merawat Bang Gano dengan caraku sendiri."
"Aku tau tidak semua pengobatan itu salah, tapi kau juga harus percaya kalau pengobatan modern juga bisa menyembuhkan luka." Kata Irene.
Kedua wanita itu berdebat dan semakin membuat Bang Noven sakit kepala. Irene dan Hanin sama-sama keras dengan prinsip dan pendirian masing-masing.
"Tidak ada pengobatan yang salah dan semua metode pengobatan itu baik. Begini saja.. pengobatan dari irene tetap di lakukan dan Hanin tetap menggunakan ramuan tradisional. Kita pakai cara per dua jam. Jadi dia jam pertama, Irene yang menangani karena Hanin harus mencari tanaman obatnya dulu. Dua jam berikutnya urusan Hanin dan kalian berdua masing-masing tidak boleh ikut campur dalam metode, begitu pun seterusnya. Ingat kesampingkan perasaan demi nyawa yang kalian tolong." Kata Bang Noven menengahi.
Akhirnya kedua wanita setuju dengan saran Bang Noven.
Hanin segera pergi dengan pengawalan Pratu Dwipa dan seorang anggota lagi.
...
Irene melihat jam tangannya. Sudah hampir waktunya Hanin untuk merawat Bang Enggano tapi sampai saat ini ramuan tradisional yang di siapkan belum juga siap sedia.
Bang Noven yang ikut menjaga Bang Enggano turut cemas. Kecemasannya lebih pada kedua wanita yang akan ribut lagi karena perbedaan prinsip.
"Tolong kamu jangan terlalu keras sama Hanin, wanita pedalaman sudah tau apa yang akan harus di perbuat." Pesan Bang Noven.
"Jadi menurut Abang.. Irene tidak tau apa yang Irene perbuat???? Untuk apa Irene sekolah tinggi jika pada akhirnya tidak di pergunakan????" Nada keras Irene tak terima dengan pembelaan Bang Noven untuk Hanin. "Mungkin Hanin terlalu cantik untuk Abang lupakan, bagaimana pun juga Hanin pernah jadi istri Abang meskipun secara adat."
"Jaga bicara mu dek..!!" Nada suara Bang Noven sedikit meninggi. Ia pahami keadaan Irene saat ini tapi ia juga tidak ingin istrinya terus di hantui rasa cemburu yang tidak berarah.
Irene menunduk, air matanya menggenang mendengar bentakan Bang Noven.
Bang Noven pun segera memeluk Irene dan menenangkan istrinya meskipun sempat mendapatkan penolakan dari Irene tapi lama kelamaan Irene tak lagi memberontak. "Tolong hargai usaha Abang..!! Di dalam ingatan yang pudar, sedikit pun tidak pernah ada niatan untuk menyentuh tubuh wanita lain. Dua puluh enam bulan lamanya terasa sangat berat untuk di lalui, tanpa perhatianmu, tanpa perhatianmu.. di dalam semua keadaan yang serba menyiksa. Tolong lah sayang.. Hanin gadis yang sangat lugu dan tidak tau apa-apa. Jangankan untuk tau masalah ranjang.. mungkin anatomi tubuh pun Hanin tak memahami. Bersabarlah sebentar, jika si pemilik tubuh Hanin sudah kembali sehat.. tentu apapun tentang Hanin, dia yang akan mengurusnya. Jangan anggap Hanin sebagai musuhmu, dia adikmu.. adik tidak sedarah."
Kini perlahan Irene menyadari perasaan Bang Noven untuk Hanin.
__ADS_1
"Asal kamu tau dek. Abang berhutang nyawa pada bapa tua. Bapa tua rela mati terkena hukum tikam demi memberi Abang gelar warga pedalaman ini hingga kami harus menepi sendiri disini. Agar Hanin tidak di lukai warga, bapa tua menikahkan kami secara adat. Semua untuk melindungi Hanin yang saat itu mungkin masih berusia sekitar lima belas tahun. Semua hanya untuk status Hanin. Nyawa Abang yang nyaris melayang bisa selamat karena usaha keras bapa tua."
"Maafkan Irene ya Bang. Irene terlalu cemburu. Irene tidak mau kehilangan Abang untuk kesekian kalinya." Kata Irene saat itu.
"Iya dek. Sudah ya.. jangan menangis lagi." Bang Noven mengusap air mata Irene yang mengalir.
"Cari lah tempat sendiri..!!" Tegur Hanin yang datang membawa mangkuk tempurung kelapa berisi ramuan tradisional pedalaman.
"Selamat berjuang Hanin. Kami keluar dulu ya..!!!" Pamit Bang Noven mengurai senyumnya.
Hanin melirik Irene dengan tatapan malas tapi kemudian Irene mendekatinya dan mengusap bahunya. "Kalau kamu butuh bantuan, Irene ada di luar."
Mendengar ucap itu mata Hanin berkaca-kaca.
"Irene kakak perempuan mu sekarang..!!" Imbuh Irene.
Sontak Hanin langsung berbalik badan dan memeluk Irene. Ia menangis tersedu-sedu, dirinya sama sekali tidak pernah memiliki saudara kandung. Tentu mendengar kata kakak membuat hatinya sangat terharu. "Bisakah Bang Enggano sembuh. Rasanya Hanin tak sanggup melihat Abang Gano terluka."
"Bang Gano laki-laki yang kuat Hanin. Dia tidak akan menyerah dengan luka kecil nya." Bujuk Irene. "Tapi Bang Gano benar-benar bisa mati kalau tidak bisa membawa dan melindungi mu."
"Begini khan bagus di lihat. Kalau kalian ribut.. kami ini pusing setengah mati."
\=\=\=
Bang Enggano tersadar namun kemudian muntah hebat, cairan berwarna biru empedu keluar dari lambungnya.
"Terus Gan, muntahkan semua..!! Buang isi perutmu..!!" Bang Noven terus mengurut tengkuk sahabatnya.
"Pahitnyaaa.. aku nggak kuat Nov..!!!"
"Iya Gan, sabar ya..!! Berjuanglah untuk sembuh. Apa kamu tidak kasihan melihat Hanin?? Empat hari ini dia terus menangisi mu."
"Dimana Hanin?" Tanya Bang Enggano.
Bang Noven menghela nafas panjang.
~
__ADS_1
"Gunting.. batu.. kertas.."
Plaaaakk..
"Om Dwi kalah.." Hanin menepak lengan Pratu Dwipa dengan botol air mineral bekas.
"Ijin ibu, kertas lawan batu.. kertas yang menang. Saya yang menang."
Hanin terdiam sejenak. "Kalau Bang Gano bangun, Hanin akan lapor semuanya. Mana ada batu yang keras bisa kalah." Protes Hanin.
"Istri Letnan tidak boleh mengancam. Dwi yang menang." Kata Bang Enggano.
"Abaaang?????" Hanin begitu terkejut melihat Bang Enggano sudah tersadar dan bisa bangkit untuk menemuinya dengan di papah Bang Noven. "Abaaaang..!!!!!" Hanin berlari dan menubruk Bang Enggano. Ia memeluknya dengan erat.
"Ulah apa yang kamu buat selama Abang tidur??" Tegur Bang Enggano kemudian mengecup kening Hanin.
"Tidak ada, Hanin hanya tunggu Abang bangun." Jawab Hanin namun jawaban itu tidak sesuai dengan ekspresi wajah sepuluh anggota team, dokter, Irene bahkan Bang Noven sekalipun.
Melihat seluruhnya memasang ekspresi yang sama tentu saja Bang Enggano merasa harus bertanggung jawab dengan ulah cantik sang istri. "Atas nama pribadi dan istri, saya sungguh minta maaf. Terima kasih sudah turut menjaga istri saya selama saya di dalam masa penyembuhan." Kata Bang Enggano.
Hanin tak begitu menggubris ucapan Bang Enggano, perhatiannya tertuju pada seutas kalung dengan lempeng besi sebagai penanda.
"Itu apa?" Tanya Hanin penasaran.
"Kalung penanda. Disini ada identitas kecil Abang sebagai seorang tentara." Jawab Bang Enggano. "Coba baca..!!"
"Nggak bisa." Kata Hanin.
"Kalau begitu kamu harus mengingatnya. Ingat nama suamimu yang akan naik pangkat menjadi Letnan. Nama Abang.. Letnan Satu Radar Enggano Alihardha.. ingat itu baik-baik..!!"
.
.
.
.
__ADS_1