Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
43. Ngambek.


__ADS_3

Untuk dipahami, kebanyakan novel Nara adalah kisah dua arah. Jadi tidak terfokus satu nama saja. Apalagi jika sinopsis Nara tidak menyebut nama maka tokoh tersebut tidak melulu protagonis utama. Terima kasih..!!🙏🙏


🌹🌹🌹


Papa Seno dan Papa Girish meninggalkan mereka semua agar mereka bisa memiliki waktu yang ekslusif untuk bersama.


Bang Noven segera masuk ke mess transit karena jelas saja dirinya tidak lagi memiliki rumah dinas untuk di tempati.


"Ayo masuk..!!" Ajak Bang Noven melihat Irene hanya berdiam diri di depan pintu.


Irene menggeleng, ada rasa takut terbersit di dalam hatinya.


"Bolehkah kita tidak satu atap dulu? Irene merasa tidak enak dengan yang lain. Status kita di surat riwayat hidup adalah cerai mati Bang." Kata Irene.


"Itu hanya tulisan di atas kertas tapi kenyataannya Abang tidak pernah ucap kata pisah. Kita masih suami istri dek." Jawab Bang Noven.


"Iya Bang, Irene tau.. tapi........"


"Apalagi??? Didalam perutmu juga sudah ada adiknya Alden."


"Itulah Bang, Irene takut di gunjing orang. Bagaimana kalau kita di gerebek orang. Kemarin Irene pergi sebagai tunangan Bang Gano, sekarang Irene kembali sebagai istri Abang. Nanti kalau tiba-tiba ada kabar Hanin juga hamil apa tidak semakin kacau keadaan ini?"


Bang Noven menarik nafas panjang. "Kamu berpikir terlalu jauh. Apapun yang terjadi semuanya urusan Abang. Kalau pun Hanin hamil juga semua sudah jadi tanggung jawab Gano. Atau jangan-jangan kamu masih ingin bersama Gano?"


Irene melirik wajah Bang Noven yang kini sudah menatapnya tajam. "Apa sih Abang? Kenapa bisa tanya begitu?"


"Kamu yang mulai. Kamu itu sudah terlanjur hamil. Mau bagaimana lagi, kita harus siap menghadapi situasi yang mungkin terjadi. Lagipula saat kita melakukannya, kamu juga tidak berkutik." Jawab Bang Noven.


"Jelas tidak bisa. Tenaga Abang seperti kuda dan Irene hanya seperti kelinci." Irene yang kesal segera pergi menjauh tapi Bang Noven segera mendekapnya dari belakang.


"Sudah to dek. Jangan marah terus. Kita bicara di dalam. Orang juga pasti akan mengerti dengan keadaan kita." Bujuk Bang Noven. "Kamu pasti capek sekali, ayo masuk dulu..!! Abang pijat badanmu."

__ADS_1


Irene yang polos akhirnya menuruti bujuk rayu Bang Noven.


Melangkah di belakangnya, Bang Noven menyunggingkan senyum penuh kelicikan.


'Gila aja aku di suruh tidur sendiri. Mana di sini dingin setengah mati. Ini bini satu nggak kasian apa sama mainannya. Masa di anggurin.'


"Cepat bersih-bersih deh. Nanti baru Abang pijat..!!" Kata Bang noven memasang wajah serius dan Irene tak menaruh curiga sama sekali pada suaminya itu.


~


"Lho Bang, katanya mau pijat??" Protes Irene saat Bang Noven malah mera*a tubuhnya.


"Ini juga pijat dek. Sudahlah, nurut sm Abang." Tak hentinya Bang Noven terus membujuk dan mengarahkan Irene agar kembali pada posisi telungkup.


Irene ingin berontak tapi lama-kelamaan dirinya merasa nyaman. Sentuhan itu membuatnya tak lagi memikirkan segala ketakutan yang dirasakannya.


"Enak?" Tanya Bang Noven.


Irene mengangguk. Bang Noven segera menarik diri dan Irene pun berbalik badan karena Bang Noven tak lagi menyentuh bagian atasnya.


"Lah, katanya takut? Abang juga takut nih kalau di gerebek orang." Goda Bang Noven memasang wajah serius.


"Iiihh.. kalau Abang takut kenapa harus colek Irene???? Sudah begini jadinya Abang malah nggak mau tanggung jawab." Protes Irene.


"Tanggung jawab apa? Abang sudah ikut sama kamu begini masa belum tanggung jawab??" Kata Bang Noven.


"Tak tau lah Abang. Irene malas." Irene menarik selimutnya lalu mengarahkan tubuhnya menghadap dinding.


Bang Noven tersenyum gemas melihat istrinya yang sudah merajuk kesal karena merasa di tolak.


"Sini peluk Abang..!!"

__ADS_1


"Nggak.. Abang tidur di luar..!!" Ucap kesal Irene karena sudah di permainkan suaminya sendiri.


"Laahh.. ko' gitu yank. Memangnya kamu nggak kangen sama Abang?" Tanya Bang Noven.


"Tadinya kangen, tapi sekarang mendadak hilang." Jawab Irene.


'Ehm.. ma**us, kalau sudah begini alamat kedinginan nih gue. Memang ya bumil itu nggak bisa di ajak bercanda.'


"Cepaaatt.. Irene malas lihat Abaaaang..!!"


"Abang cuma guyon lho dek." Kata Bang Noven mulai cemas.


"Nggak ada guyon. Irene nggak mau lihat Abaang.. perut Irene mulas, si adek jengkel juga lihat papanya..!!!!!"


Kalau sudah mendengar tentang anak, nyali Bang Noven seketika ciut. Ia bergeser menjauh dari ranjang. "Yaelaah.. anaknya di bujuk dulu lah dek. Papanya mau nyolek sedikit saja."


"Nggak mau, Abang tidur di luar..!!" Irene kembali mengulang kata-kata nya.


"Kamu nggak iri lihat Gano? Dia sudah masuk rumdis lho sama Hanin."


"Ya biarkan saja, mereka pengantin baru." Jawab Irene.


"Kita juga baru dek."


"Baru apa??" Irene masih tak bergeming dari balutan selimut hangatnya.


"Barusan ketemu."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2