Untuk Satu Hati.

Untuk Satu Hati.
30. Pertemuan.


__ADS_3

"Abaaang.. kapan kah Hanin hamil. Kita sudah menikah, teman Hanin pun sudah banyak yang punya anak. Apa kah yang salah?"


Bang Gumantar menggaruk kepalanya. Bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa hamil sedangkan dirinya sedikit pun belum menyentuhnya. Meskipun memory nya hilang tapi soal yang satu ini jelas sudah mengakar dan sudah ada di jalur luar kepala.


Selalu terbayang sosok siluet wanita yang terus terbayang dalam benaknya namun dirinya tidak bisa menerkanya. Ada kerinduan tak tersampaikan dan ada keinginan tak tersalurkan dalam fantasinya tentang wanita di dalam angannya.


"Nanti kalau sudah waktunya. Kamu jangan pikirkan hamil terus." Kata Bang Gumantar.


"Tetap masuk pikir, kenapa kah Hanin tak hamil, berarti Abang tak jantan? Tak malu kah Abang dengarnya?" Tanya Hanin. "Satu tahun kita bagi ranjang tapi Hanin tak juga mengandung anak Abang."


"Ya Tuhan, kau pikir enak jadi hamil?? Di sini tidak ada tenaga medis. Abang tidak percaya dukun bayi." Jawab Bang Gumantar.


"Ataaau.. Abang tak cinta ya sama Hanin??" Tanya Hanin dengan sengaja tapi jelas pertanyaan tersebut begitu mengusik dan mengganggu pikirannya.


"Kamu terlalu banyak tanya. Cepat kembali ke rumah sebelum hari petang..!!"


...


Bang Gumantar menyalakan obor sebagai penerangan. Tak ada listrik yang masuk ke tanah tersebut, kembali lagi semua tak lain dan tak bukan karena mereka makhluk yang menolak peradaban.


Di saat rekan yang lain terlihat biasa saja menghadapi hidup, Bang Gumantar merasa ada sebagian kehidupan yang hilang. Dirinya sangat haus akan teknologi yang ada dalam 'mimpinya'.


Malam ini Hanin memasak ikan asin serta sayur daun pakis. Tidak banyak pilihan makanan yang ada karena kebanyakan di alam mereka pun juga sangat sederhana. Jika kali ini tidak ada daun pakis maka Hanin akan mengambil umbut rotan, jika option lain tidak ada maka mereka akan berburu.


"Bang, boleh tak kapan waktu Hanin melihat indahnya kota dari atas bukit? Hanin ingin melihat deretan benda bercahaya." Pinta Hanin sambil menggulung pati sagu untuk makan malam mereka. Dengan telaten dirinya menggulung satu persatu dalam bentuk bulatan kecil pati sagu dan meletakan di piring Bang Gumantar.


"Itu namanya lampu. Kami harus ingat kata bapak tua, jangan menginjak kota. Orang kota itu jahat, mereka mudah memaki, bergunjing, menyalahkan tanpa sebab dan bahkan mengambil sesuatu yang tidak menjadi hak." Jawab Bang Gumantar, padahal ingin sekali dirinya 'turun gunung' namun keadaan dirinya yang membingungkan, dalam hal ini adalah tidak bisa mengingat kehidupan di masa lalu membuatnya mengurungkan niat. Seperti kata bapak tua, manusia di luar sana akan mudah memanfaatkan tubuh yang lemah.


"Hanin ingin punya lampu."


Bang Gumantar hanya tersenyum sekenanya lalu menghabiskan makan malamnya.


...


Hanin tidur bersama dengan Bang Gumantar dalam satu ranjang. Malam itu dirinya mendengar suara berisik. Mungkin jaraknya lumayan jauh tapi telinganya yang tajam tetap bisa menerka suara tersebut.


"Di mana kepala desanya?" Gumam salah seorang di antara mereka.


"Kita istirahat saja seadanya disini. Kaki Irene sudah lelah Bang. Bertanya pada orang-orang pun akan membuat kita di maki." Kata seorang wanita disana.


Degub jantung Bang Gumantar berdegup kencang mendengar nama yang terasa tidak asing di telinga. Terbayang siluet wajah mengantar si pemilik nama merasuk ke dalam hatinya.


Samar suara tersebut turut membangunkan Hanin yang juga memiliki kepekaan telinga. "Ada suara kah Bang? Apa ada penduduk yang sakit?"


"Hhsstt.. jangan bersuara. Mereka asing. Bukan penduduk kita." Kata Bang Gumantar.

__ADS_1


Hanin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tak lama tangannya mengambil belati yang terselip di penyangga bilik bambu.


"Tidurlah.. Abang yang jaga..!!"


***


Mentari telah merekah, hari sudah nyaris tinggi. Bang Enggano membangunkan Irene dan team agar bisa segera melaksanakan sholat subuh, dengan barang seadanya asalkan bisa menunaikan ibadah pada sang pencipta namun saat itu Bang Enggano terkejut melihat sebuah tempat tinggal lengkap dengan pancuran air di hadapannya.


Sebelum memasuki area tersebut Bang Enggano dan yang lain beribadah secara bergantian.


:


Usai beribadah mereka mendatangi rumah tersebut namun seperti tidak ada orang di sana. Bang Enggano pun melangkah lebih dulu.


zllbbb..


Ada pisau mengarah padanya dan hendak menusuknya. Ia pun segera menangkis serangan tersebut namun betapa terkejutnya saat dirinya tau ternyata sosok yang menyerangnya adalah seorang gadis cantik.


"Siapa kau, kenapa masuk desa kami?????" Tanya Hanin.


"Dengarkan penjelasan kami..!! Kami mengawal dokter dan tenaga medis untuk memeriksa kesehatan warga di kampung ini..!!" Jawab Bang Enggano.


"Nggak, kalian pasti pengirim ilmu hitam. Katakan.. dukun mana yang mengirim kalian kesini????" Hanin tidak percaya begitu saja pada Bang Enggano.


Fokus mata Hanin tertuju pada HT yang berisik kemudian mengeluarkan suara.


'Serigala satu, apa keadaan dalam keadaan aman??'


"Kau bohong.. kau dukun teluh..!!" Hanin melayangkan serangan membabi-buta.


"Bukaaan.. Ya Tuhan.. bagaimana caranya aku menjelaskan pada makhluk bodoh ini..!!" Gerutu Bang Enggano berusaha menangkis setiap serangan.


'Serigala satu..!!!!!'


"Kau.. siluman srigala??????" Tanya Hanin.


//


Ggrrppp..


"Siapa kamu?????" Bang Gumantar meraih sosok wanita ke dalam dekapannya. Wangi tubuh Irene semerbak begitu memabukan. Ia menatap wajah wanita tersebut dan wanita itu balik memandangnya.


"A_baang??" Pelupuk mata Irene berkaca-kaca saking kagetnya tapi Bang Gumantar berwajah datar saja.


"Kamu mengenal saya?" Tanya Bang Gumantar. Perlahan ia merenggangkan dekapannya.

__ADS_1


"Sayang..!!!!!" Bang Enggano berjalan kesana kemari mencari Irene. Ia telah terbebas dari cengkeraman gadis yang sedari tadi sangat merepotkan dirinya. Hanya dengan memberinya sebuah HT, gadis itu pun sudah tenang dan mengotak atik benda tersebut.


Saat inilah Bang Gano dan Bang Gumantar bertemu wajah.


"Noven???????"


Kening Bang Gumantar sampai berkerut. "Kamu.. apa kamu juga mengenal saya??"


bruugghh..


"Ireeeneee..!!!" Bang Enggano panik melihat Irene ambruk di tanah.


"Elang lima memantau.. ddrrtt..!!" HT tersebut berbunyi.


"Aaaaaaaaa.." Hanin terkejut, ia mengambil batu lalu menghantam HT milik Bang Enggano hingga remuk.


"Astagaaaa.. Pratu Dwipa.. amankan gadis itu..!!" perintah Bang Enggano pusing sendiri bertemu dengan Hanin.


"Siap..!!!"


:


Seluruh anggota sangat terharu namu juga penuh syukur atas kembalinya Letnan Novendra meskipun beliau masih belum mengingat tentang jati dirinya.


Bang Gumantar yang sejatinya adalah Letnan Novendra masih terpaku menatap wajah Irene yang belum sadar dari pingsannya dan meninggalkan kecemasan dalam diri Bang Gano. Bagaimana tidak, mereka akan segera menikah sekembalinya dari penugasan tersebut.


Bang Gumantar merasa tak mengenal tapi batinnya menolak untuk menjauh dari Irene.


"Apa ini?" Hanin menyentuh satu set peluru milik Bang Gano.


"Jangan menyentuh segala hal tanpa ijin..!!" Bentak Bang Dwipa.


Merasa di bentak, Hanin pun menciut dan berlari ke belakang punggung Bang Gumantar.


"Pelankan suaramu Dwipa.. Ada dua gadis yang tidak bisa di bentak..!!" Kata Bang Gano.


"Siap salah Dantim..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2