
Bang Noven tak peduli dengan semua ucapan sahabatnya. Ia melenggang pergi karena di hari Minggu pagi ini ada kegiatan dari kantor untuk para perwira memantau persiapan penyambutan ketua umum Matra Darat yang akan berkunjung Minggu depan.
...
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah saatnya Bang Noven menjemput Irene untuk menemui beberapa orang pengurus ranting cabang dan anggota yang berwenang dalam urusan pengajuan nikah.
"Cepat dek.. jangan terlalu lama, nggak enak sama pengurusnya..!!" ajak Bang Noven yang saat itu sudah mengenakan seragam PDL.
"Kita ini mau kemana sih Bang? Bukannya mengurus di KUA saja sudah cukup???" tanya Irene antara yakin dan tidak dengan penampilan Bang Noven yang tidak biasa.
"Kamu paham nikah kantor atau tidak? Yang namanya nikah kantor itu berarti harus mengurus prosedur pernikahan mulai dari awal pengajuan hingga nanti komandan 'ketuk palu' dan mengesahkan kamu jadi istri Abang..!!" Jawab Bang Noven.
"Apakah sekarang warga sipil serumit ini???" tanya Irene lagi.
Hari belum juga terlalu siang tapi nampaknya rasa lelah Bang Noven menjadi-jadi karena ulah Irene. Ia mende*ah gemas menanggapi gadisnya.
"Abang tentara, jadi kita harus jalani setiap prosesnya seperti ini." kata Bang Noven akhirnya memilih jujur daripada perdebatan di antara dirinya dan Irene tidak semakin berlarut-larut.
Bukannya respon positif yang ia dapatkan tapi malah tawa penuh ejekan seakan Bang Noven sudah membohongi dirinya.
"Ya sudah kalau tidak percaya, Abang tunggu di luar..!! Cepat ganti pakaian, yang sopan dan tidak menerawang..!!" pinta Bang Noven.
Mau tidak mau Irene segera masuk ke dalam kamar meskipun dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang akan di lakukan.
...
"Ijin.. Selamat siang Dan.. Selamat siang Ibu..!!"
Begitulah kira-kira yang Irene dengar sejak siang tadi. Ia menjadi kikuk dan salah tingkah sendiri saat berjalan di samping Bang Noven.
"Yaa.. Selamat siang..!!" jawab tegas Bang Noven.
Tau Irene lebih banyak diam terpaku, Bang Noven pun menyenggol lengan Irene. "Kalau di sapa anggota.. cepat kamu respon dek. Nggak sopan saja. Keluarkan suaramu..!!" bisik Bang Noven. "Panggil Om..!!"
__ADS_1
"Iya Om. Selamat siang." balas Irene.
Irene menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha beradaptasi dengan 'lingkungan barunya'.
:
Karena kondite Letnan Novendra yang baik, maka para ibu pengurus ranting tidak mempersulit Irene. Bahkan beberapa pertanyaan mampu di jawab 'istri' dari Letnan Novendra tersebut.
Bang Noven tersenyum tipis melihat dan mendengar ketegasan seorang Irene yang nampak kekanakan namun mampu menempatkan diri pada kondisi saat ini.
"Untuk hari ini sekian ya Pak Noven. Mudah-mudahan segala sesuatunya di lancarkan sampai hari H di sahkan nanti ya Pak Noven." kata salah seorang ibu pengurus.
Irene tersenyum kecut, keningnya bercucuran keringat sebesar biji jagung. Ia melirik Bang Noven dengan tatapan kesal.
~
"Abang salah di mananya??? Abang memang tentara. Kamu saja yang sudah menjabarkan Abang ini sebagai warga sipil juga makhluk gila karnaval." ucap Bang Noven saat Irene menyalahkan dirinya.
braaaakk..
Tak tanggung-tanggung Bang Noven menggebrak meja kantin di hadapannya sampai banyak anggota menatap ke arah mereka. Tangan Bang Noven mengepal kuat, Matanya menatap tajam dan memerah penuh ancaman.
Irene tersentak kaget tapi dirinya juga tidak ingin membuat pandangan orang menjadi buruk tentang Bang Noven.
"Sudah Bang, lalatnya sudah mati." Kata Irene.
Melihat tak ada yang serius, para anggota kembali fokus dengan dirinya masing-masing.
"Pernahkah Abang membahas di hadapanmu tentang dia yang ada di sampingku??" Bisik geram Bang Noven. "Seharusnya kamu pahami, saat kita memutuskan untuk bersama.. kita harus melepaskan segala masa lalu kita meskipun itu berat..!!!! Kita harus mengutamakan pasangan kita, masa depan kita."
"Abang sekuat itu??"
"Jangan memperkirakan isi hati manusia. Yang jelas kamu harus pertanggung jawabkan segala keputusan yang sudah kamu ambil..!!!" kata Bang Noven.
__ADS_1
"Kita nggak janji nggak, kita di jodohkan..!!"
"Lalu apa maumu?" Tanya Bang Noven.
"Batalkan saja ya Bang..!!" pinta Irene dengan wajah memelas.
"Batal??? Kalau mau batalkan ya coba saja lakukan..!! lihat bagaimana kamu menghancurkan perasaan sekaligus persahabatan kedua orang tua kita..!!!" Jawab Bang Noven.
"Irene nggak bisa nikah sama laki-laki yang nggak Irene cintai Bang??"
"Sebenarnya apa masalahmu, sebentar begini.. sebentar begitu?? Secepat ini pikiranmu berubah??? kenapa???" Tanya Bang Noven mendesak Irene.
"Kalau Abang tentara, Irene nggak bisa lanjut pacaran sama Bang Dwipa donk..!!" ucap jujur Irene yang membuat kepala Bang Noven berdenyut dan meradang.
"Bisa-bisanya kamu mikir begitu Irene????"
"Karena belum tentu juga Abang tidak selingkuh, Abang juga nggak ada cinta sama Irene." Jawab Irene dengan wajah innocent.
"Itu hasil khayalan mu sendiri, saya tidak begitu." kata Bang Noven.
Irene berkedip-kedip mendengarnya, ia tidak bisa menerka maksud dari ucapan Bang Noven. "Abang cinta sama Irene?? Tapi Irene nggak cinta sama Abang."
"Oohh gitu?? Okeee.. lihat aja kamu nanti. Jangan sebut Abang laki-laki kalau nggak bisa buat kamu anteng."
Bang Noven menghabiskan minuman di hadapannya dengan hati berang. Tak menyangka mendengar nama Dwipa membuat dadanya terasa panas.
.
.
.
.
__ADS_1