
"Ya Tuhan, Letnan Novendra????" Para anggota yang menyambut pasukan di kejutkan dengan hadirnya Letnan Novendra setelah beliau hilang dua tahun yang lalu.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja dan selamat." Jawab Bang Noven.
"Silakan naik Dan..!!"
"Terima kasih..!!" Bang Noven pun membantu Irene untuk naik ke atas helikopter namun di belahan sisi yang lain, Letnan Enggano sedang sibuk membujuk Hanin yang ketakutan dengan benda mengerikan di hadapannya.
"Hanin takut, rambut Hanin di terbangkan, Hanin tak mau di telan..!!" Pekiknya.
"Ada Abang. Benda ini namanya helikopter..!! Ayo Abang temani..!!" Bujuk Bang Enggano.
Para crew melihat dengan bingung seorang Letnan Enggano yang sangat di segani dan ditakuti sampai bisa kelabakan menjinakkan seorang gadis aneh yang entah datang darimana.
"Panjang ceritanya. Beliau adalah istri dari Letnan Enggano. Gadis primitif yang tidak paham dunia luar dan terisolasi. Harap kalian maklum adanya. Letnan kalian sedang berusaha membuat gadis itu pantas berdampingan dengan pria dari kota, tolong di hargai..!!" Kata Bang Noven.
"Siap Letnan, kami paham..!!" Jawab para crew.
...
"Waaahh.. indahnya naik burung." Hanin melongok melihat ke arah bawah. Pepohonan nampak begitu kecil. Sungai berkelok bagai ular berjalan. "Itu apa Abang???" Tanya Hanin.
"Danau.. yang terlihat besar dan luas di darat tapi terlihat kecil di udara."
"Darat.. udara?? Apa itu??"
"Darat adalah bagian bumi yang kamu injak dan udara adalah bagian bumi yang berada di awang-awang. Seperti ini..!!" Bang Enggano mengibaskan tangannya menunjuk bahwa keadaan mereka sedang berada di atas 'udara'.
Hanin mengangguk mendengarnya.
"Kamu istri siapa?" Bang Enggano selalu mengulang pertanyaan itu agar Hanin selalu mengingatnya.
"Letnan dua Radar Enggano Alihardha." Jawabnya santai karena sudah menghafalnya.
Bang Enggano tersenyum dan mengusap puncak kepala Hanin.
Bang Noven ikut tersenyum tapi perhatiannya lebih banyak tertuju pada Irene yang sudah tidur seakan tidak ingin tau apa yang terjadi. Tangannya terus mengusap perut Irene.
'Dulu aku selalu mengusap perut ini, sekarang aku kembali mengusapnya untuk anak keduaku.'
Bang Noven menengadah, bibirnya memang tenang dan tak mengucap sepatah kata pun tapi hati nya berteriak mengingat buah hatinya. 'Sudah bisa apa kamu nak? Sudah sebesar apa? Maaf ayah tidak pernah memeluk dan mencium mu. Ayah sudah rindu kamu.. jagoanku.'
...
Tiga jam perjalanan telah di lalui.
__ADS_1
Hanin turun dari helikopter yang sudah membuat kepalanya berputar hebat. Dirinya masih takjub melihat bentuk burung tanpa sayap dan hanya dengan 'sebatang kayu' bisa membuatnya melihat indahnya alam dari udara.
"Pelan dek..!!" Bang Enggano sangat cemas melihat Hanin sudah kelelahan berjalan sejauh empat kilometer. Hatinya bertanya-tanya mengapa Hanin yang sangat terlatih dalam hal baik dan turun gunung namun bisa terlihat selemah ini.
"Abang tak lihat kah Hanin sudah langkah pelan." kata Hanin.
Kepala Bang Enggano kembali berdenyut, sejak semalam rasa mual menyerangnya tiba-tiba.
"Baang.. Hanin pusing." Hanin oleng dan tumbang menimpa Bang Enggano.
"Haniin.. dek..!!!" Bang Enggano merebahkan Hanin perlahan di bawah sebuah pohon sembari menunggu pesawat yang akan datang menjemput rombongan mereka. "Irene.. tolong..!! Kenapa nih Hanin???"
Dokter kembali memeriksa kondisi Hanin. Agaknya memang Hanin terlihat sangat lemah melebihi Irene yang hanya merasakan mual saja.
"Tentang Bu Hanin, sesampainya di kota akan kita observasi lebih lanjut. Asalkan masih bisa bertahan, semua baik-baik saja Pak Gano.
-_-_-_-_-
Malam tiba dan mereka telah sampai di tujuan.
( Kisah Letnan Enggano pindah di Karya baru Nara - Badass. Harap yang tidak bisa melalui konflik untuk segera skip. )
Bang Noven melihat sekelilingnya. Tempat terakhirnya berdinas. Rasa haru menginjak tanah yang memisahkan dirinya dengan Irene dua tahun silam. Pria gagah itu menekuk kedua lututnya lalu bersujud karena telah sampai.
"Alhamdulillah Ya Allah.. aku sangat bersyukur meskipun ujianMu begitu nikmat kurasakan."
"Mamaa.."
Mama Laras terisak melihat putranya Masin hidup. Tangis seorang ibu begitu sesak tertahan. "Noven.. anak Mama..!!"
Bang Noven berjalan berlutut dan memeluk kaki sang Mama.
"Maafkan Noven yang menyusahkan hati Mama." Ucap Bang Noven.
Mama yang sudah rindu segera menarik tangan Bang Noven lalu memeluknya. "Tidak ada yang salah Nak.. Mama rindu.. mama sangat rindu." Seakan tak ingin lepas. Mama terus memeluk putranya hingga hatinya terasa lega.
Di saat itu juga sang Papa Seno berdiri di hadapan putranya. Papa memberi hormat pada putranya dan Bang Noven membalasnya.
Tinjuan sayang seorang Papa mendarat di perut Bang Noven. "Anak kurang ajar, beraninya mengerjai orang tua. Sejak dulu kau hanya bisa membuat orang tuamu emosi."
"Siap.. salah..!!"
"Kamu di hukum Letnan Novendra..!!" Imbuh sang Papa.
"Siap menerima hukuman..!!" Jawab Bang Noven kemudian memeluk Papa Seno.
__ADS_1
"Alhamdulillah Ya Allah, Alhamdulillah..!!" Tak hentinya Papa Seno berucap syukur sampai akhirnya pandangan mata itu tertuju pada Irene.
"Papa mau punya cucu." Kata Bang Noven.
"Astaga Tuhan.. Bagaimana bisa???" Papa Seno sampai ternganga mendengarnya.
"Anakmu sudah nggak kuat nahan kangen Pa." Jawab Bang Noven jujur.
Terdengar suara langkah kecil berlarian menghampiri lalu berhenti begitu saja. "Bun_da..!!" Mata itu langsung menatap mata Bang Noven.
Bang Noven terhenyak dan tercengang melihat pria kecil yang sangat mirip dengannya tapi pria kecil itu menghampiri Bang Enggano. "Papaaa.."
Sungguh ada rasa sakit tak terkira dalam hati Bang Noven. Putranya tak mengenali dirinya. Bang Enggano berjongkok menyambut Alden kecil.
"Ayo sayang, salam dulu..!!" Kata Bang Enggano.
Alden berjalan dengan ragu namun tetap menurut ucap Papa Gano.
"Selamat malam Om." Sapa Alden.
Luka hati Bang Noven semakin terbuka. Ia berjongkok mengimbangi pria kecil itu. "Selamat malam.. jagoan..!!"
Irene menatap putranya. "Masa Abang lupa. Siapa yang Abang do'akan setiap hari bersama Bunda dan Papa. Siapa hayooo???"
"Ayaaaahh..!!" Alden memeluk Bang Noven dengan erat lalu menciumnya. "Ayah pulang????"
"Iya sayang, Ayah sudah pulang." Perasaan yang sejak tadi di bendung tak sanggup lagi menahan derai air mata. Tangis Bang Noven tumpah ruah. "Ayah kangen nak, kangen sekali." Bang Noven balik menghujani putranya dengan ciuman.
Papa Girish yang baru saja tiba ikut takjub melihat kembalinya Letnan Novendra.
"Noveen.. Alhamdulillah..!!" Papa Girish pun memeluk menantunya namun kemudian bersamaan semua mata tertuju pada sosok baru. Sosok yang berdiri tanpa kata di samping Bang Enggano.
Hanin merasa takut bertemu dengan orang baru. Ia bergeser ke belakang punggung Bang Enggano.
"Dia Hanin Pa. Yang menyelamatkan nyawaku..!!" Kata Bang Noven.
"Lalu bagaimana dengan............."
"Kita bahas nanti Pa..!! Yang jelas Papa sudah mau punya cucu..!!"
Jawaban Bang Noven serasa membuat jantung Papa Girish tidak kuat. "Hamil.. anak Gano????"
.
.
__ADS_1
.
.