
Dengan telaten Hanin menyuapi Bang Enggano hingga semangkok makan malam itu habis tak bersisa.
"Minum dulu Bang, nanti laju masuk ke dalam bilik..!!" Hanin segera pergi dan di sana Bang Noven tersenyum penuh kelicikan.
"Hanin kasih kode tuh." Bisik Bang Noven menggoda sahabatnya.
"Kode matamu..!!! Aku lelah sekali pot. Tanganku juga terkilir." Jawab Bang Enggano.
"Fisik boleh lelah, tangan bisa terkilir, tapi dia yang anteng sepertinya lebih butuh hiburan." Tak hentinya Bang Noven menggoda.
"Aahh kau ini." Bang Enggano pun berdiri meninggalkan Bang Noven dan anggota yang lain. "Maaf ya saya ke dalam sebentar." Pamit Bang Enggano.
"Lama juga nggak apa-apa Dan..!!" Ledek Pratu Dwipa yang kini sudah sangat terbiasa dengan para atasannya.
Sontak ucap Pratu Dwipa mendapatkan lirikan tajam dari Bang Enggano.
"Lajuu lah Abaaang..!!" Suara Hanin yang lembut dan mendayu membuat desir di dada Bang Enggano. Para anggota terdiam sejenak kemudian terkikik geli.
"Lajuuu lah Bang, adek rindu." Bang Noven pun ikut meledek Bang Enggano.
"Abaaang..!!" Panggil Hanin sekali lagi.
"Sabar dek. Abang jalan nih." Jawab Bang Enggano menanggapi.
//
"Lambat sekali, jadi di urut atau tak."
"Jadii.." Bang Enggano berusaha melemahkan suaranya tapi nampaknya suara Hanin memang masih terdengar jelas sebab suara tawa sahabatnya masih tertangkap di telinganya. "Pelankan suaramu..!!"
"Suara Hanin tak terdengar. Cepat buka kain rumit Abang..!!"
"Ini namanya celana. Gunanya sama seperti kainmu, untuk menutupi tubuh. Nanti kamu tidak akan memakai kain ini lagi." Kata Bang Enggano. "Sudah cepat tolong urut tangan Abang. Tidak perlu buka celana, yang sakit tangan.. bukan yang lain."
"Bukannya di kamar ini hanya ada kita berdua?" Tanya Hanin tidak mengerti maksud penolakan Bang Enggano.
"Kalau Abang buka yang ini, gantian kamu yang tidak bisa jalan seharian." Jawab Bang Enggano.
Akhirnya Hanin tak lagi mempermasalahkan hal itu, ia pun mengurut tangan Bang Enggano.
Bang Enggano memercing kesakitan tak tahan dengan kekuatan jemari Hanin. Jari lentiknya ternyata sangat terasa di pergelangan tangan Bang Enggano bahkan sampai puncak lengannya.
kkrrkk..
"Aaaaawwhh.. Lara deeekk..!!" Pekiknya.
"Cakap apa itu???"
"Sakiit.. kamu anak Gatotkaca ya..!! Tulang besi." Ucap Bang Enggano sembari mengatur nafas.
"Sudah.. masih sakit tak Bang?"
Bang Enggano meliukkan tangannya. "Eiya dek.. sudah nggak sakit lagi. Urut yang lain enak nih." Kata Bang Enggano dengan senyum nakalnya.
Di luar sana tak ada suara tapi siapa sangka setiap telinga mendengar suara dari dalam bilik komandan.
__ADS_1
Bang Noven pun tersenyum penuh arti. "Ayo kita buat api unggun di sebelah sana. Tadi Dwi dapat ayam banyak sekali." Ajak Bang Noven sedikit menjauh dari gubug.
Seluruh anggota paham pastinya komandan sangat membutuhkan rasa privasi sebab bisa di katakan malam ini adalah malam pertama Letnan Enggano dengan istri cantiknya.
:
"A - Y A M.. Ayam.. itu bacanya ayam." Bang Enggano mengajari Hanin membaca. Bang Noven sudah sempat mengajarkan huruf pada gadis itu dan kini Bang Enggano mengajarinya dengan metodenya sendiri agar Hanin lebih cepat mengerti.
"A Y A M.. Ayam." Hanin mengulangnya dan mengingat seluruh hurufnya.
"MO - NYET. Monyet. Muna itu monyet." Kata Bang Enggano.
"Lagi ya..!!"
"Hanin capek Bang.." tolak Hanin.
"Sedikit lagi. Setelah ini selesai." Bujuk Bang Enggano dengan sabarnya.
"Nggak mau.."
"Hanin maunya apa?" Tanya Bang Enggano.
"Mau tidur." Jawab Hanin dengan suara manjanya.
"Mau Abang pijatin nggak?" Tanya Bang Enggano lagi. "Abang urut badanmu."
Hanin terbelalak pasalnya Bang Noven tidak pernah seperti itu terlebih ada aturan jika hanya perempuan yang akan melayani pasangannya.
"Tidak boleh Bang. Hanya laki-laki saja yang boleh di layani." Kata Hanin merasa cemas dan takut.
Hanin terdiam tapi entah dengan pikirannya.
"Hanin tak boleh manja." Katanya.
"Oya.. tapi Abang ijinkan kamu manja, tapi hanya dengan Abang." Bang Enggano merebahkan Hanin perlahan lalu mengecup bibir mungil berwarna pink itu dengan lembut.
"Bang..!!"
"Dalem..!!" Suara Bang Enggano semakin terdengar lembut. Ia mengarahkan kedua lengan Hanin ke belakang tengkuknya. Bang Enggano membacakan do'a kemudian meniupkannya di atas ubun-ubun kepala Hanin. "Abang akan membimbingmu, tak ada satu orang pun yang boleh memperlakukanmu dengan buruk. Menyakitimu sama saja dengan menyakiti hati Abang."
Sentuhan sayang Bang Enggano membuat Hanin menurut. Bang Enggano meniup obor kecil lalu menarik selimut dan menyingkap kain Hanin.
***
Pagi tiba. Pagi masih sangat gelap saat Hanin membuka mata.
"Ada apa Bang?" Tanya Hanin, matanya masih terasa lengket.
"Bangun yuk.. Abang ajari sholat. Kita ke sungai dulu..!!" Ajak Bang Enggano.
"Yang menunduk seperti Bang Gumantar?"
"Namanya Noven dek. Jangan salah lagi. Iya yang itu.. namanya sholat." Jawabnya berusaha keras untuk mengajari Hanin.
"Hanin nggak bisa, itu susah." Tolak Hanin yang tidak paham dengan keadaan.
__ADS_1
"Abang yang ajari sampai kamu bisa. Ayo bangun..!!" Bang Enggano mengulurkan tangannya.
...
Hanin duduk di atas batu dan menggosok tubuh nya, ia terlihat biasa saja tapi tidak dengan Bang Enggano yang sejak semalam tidak bisa tidur meskipun tubuhnya luar biasa lelah.
"Turun ke sini dek..!!"
"Sabar, Hanin masih gosok lumpur." Hanin memang masih serius dengan kegiatan mandinya.
"Itu punggungmu tidak kena lumpur, coba kesini.. biar Abang Gosok..!!" Bujuk Bang Enggano memasang wajah serius.
Tanpa berpikir panjang dan sama sekali tak menaruh rasa curiga, Hanin turun dan masuk ke dalam sungai karena Bang Enggano memang sedang menggenggam lumpur.
Hanin langsung berbalik badan dan mengusap punggung Hanin tapi Hanin sedikit pun tak merasakan sentuhan lumpur. "Mana lumpurnya Bang?"
"Kita mandi saja..!!" Bang Enggano merengkuh Hanin ke dalam pelukannya.
Sungguh Hanin terkejut karena kedua tangan Bang Enggano sudah menangkup dua benda yang ia sembunyikan. Hanin ingin berteriak tapi denyut nadinya membuat dadanya berdesir saat puncak kembarnya merasa terpilin. Hanin terbuai sampai menarik rambut Bang Enggano hingga melupakan rasa takutnya.
Bang Enggano menyisir ke arah sekitar dan memastikan tidak ada siapapun di sekitar sungai. Setelah yakin tidak ada siapapun, ia mengarahkan Hanin duduk diantara dua buah batu. Meskipun sedikit terendam air tapi tempat tersebut sangat aman dari jangkauan mata.
"Kenapa kita sembunyi disini?? Ada bahaya?" Bisik Hanin.
"Bahaya kalau terlihat orang."
"Hanin takut Bang..!!" Kata Hanin.
Bang Enggano menatap kedua bola mata Hanin dalam remangnya pagi. "Kamu pernah lihat apa di ponsel Abang. Tunjukan..!!!"
Hanin takut akan ada teluh jika dirinya tidak mengakui. Saat itu juga Hanin menyambar bibir Bang Enggano yang sama sekali tidak siap mendapatkan serangan mendadak.
Setelah cukup lama, Hanin melepaskan paguttannya. Keduanya saling berpandangan.
"Apalagi yang kamu lihat?"
"Itu saja. Ponsel Abang tak hidup lagi."
Sekali lagi Bang Enggano memastikan keadaan sekitar. Ia melonggarkan ikat pinggang dan menyingkap kain Hanin.
"Boleh Abang lanjutkan? Bukankah kamu tidak tau kelanjutan dari apa yang mereka lakukan...!!" Bang Enggano sudah menyerusuk ke sela leher Hanin menuntut perdamaian dari perang batin.
Hanin pun bagai terhipnotis, ia tak berkutik saat Bang Enggano membuka pahanya.
"Aaaaaa.. Aaaaaaaaaaaa.. tunggu Bang.. tunggu.. Hanin di patok ulaaaaarr..!!! Aaaaa.. aaahh.. Abaaaang..!!!" Hanin bersandar di bahu Bang Enggano dengan pasrah.
Bang Enggano pun tersenyum licik.
.
.
.
.
__ADS_1