
"Jika kamu bahagia dan mengingat
seseorang, itu berarti kamu mencintai
orang tersebut. Jika kamu sedih
dan mengingat seseorang,
itu berarti orang tersebut mencintaimu."
(Ali bin Abi Thalib)
Malam datang dengan diiringi suara hujan yang deras. Rara pun masih terlihat lemah namun tak mau dibawa ke rumah sakit. Setibanya didepan rumah Ustadz Faroq langsung turun dan mengangkat Rara. Sengaja Ustadz Faroq menundukkan badan agar Rara tidak basah.
"Sekarang rebahan dulu ya, aku ambilin obat dan air hangat dulu sepertinya kamu demam," ucap Ustadz Faroq yang memegang tangan Rara, terasa panas namun sepertinya Rara merasa kedinginan.
"Ini minum obat dulu," segera Ustadz Faroq membantu Rara untuk duduk dan membantu meminumkan obat.
"Baju kamu basah," ucap Rara pelan yang melihat
Ustadz Faroq dengan kondisi basah.
"Aku gak papa yang penting itu kamu, sekarang
kamu istirahat dulu ya" ucap Ustadz Faroq
sambil berdiri mengambil handuk dan air.
Ketika Ustadz Faroq sibuk menyiapkan handuk dan air, tiba-tiba saja lampu padam setelah terdengar suara petir yang cukup kencang.
Rara pun berteriak sekencang-kencangnya,
"Ustadz Faroq... Ustadz Faroq aku takut!" teriak Rara sangat ketakutan.
Ustadz Faroq pun langsung berlari dengan membawa wadah kompresan,
"Iya aku disini jangan takut," Ucap Ustadz Faroq sambil membuka sentar handphone miliknya.
Rara pun tanpa berfikir panjang langsung memeluk erat Ustadz Faroq. Kali ini debar jantung Ustadz Faroq sangat kencang, Ustadz Faroq pun membalas pelukan Rara sambil mengelus-elus rambutnya.
"MasyaAllah istriku," lirihnya dalam hati dengan
perasaan yang sangat senang karena dipeluk istrinya.
"Sekarang rebahan dulu ya, badan kamu panas,
biar aku kompres," ucap Ustadz Faroq sambil
merebahkan Rara.
Ustadz Faroq pun meletakkan kompres handuk diatas jidad Rara. Tidak ada bantahan dari Rara, seolah Rara menjadi istri yang penurut.
"Aku ambil lampu tabung sebentar dulu ya diluar biar lebih terang," ucap Ustadz Faroq.
"Jangan!," jawab Rara cepat dengan nada seperti orang yang sangat ketakutan.
"Kamu jangan kemana-mana disini saja!" Rara pun
kembali memegang tangan Ustadz Faroq.
__ADS_1
Rara turun ke lantai bawah dalam kegelapan dan
rasa takut sehingga menyebabkan Rara jatuh dari
tangga dan dibawa ke rumah sakit. Saat itulah Rara sangat trauma akan kegelapan.
"Iya aku akan selalu disampingmu Ra," jawab Ustadz Faroq sambil merebahkan diri disamping Rara dengan tangan saling berpegangan.
Mata Rara yang terpejam dan tak lama langsung
tertidur. Ustadz Faroq pun tanpa berkedip memandang wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Sungguh Maha Kuasa Engkau ya Allah telah menciptakan makhluk sesempurna ini dan begitu beruntungnya hambamu ini dapat menjadi suaminya," ucap Ustadz Faroq pelan sambil mengelus jari tangan Rara.
"Aku berharap bisa selamanya seperti ini sama kamu Ra, kamu yang membutuhkan aku, kamu yang manja, kamu yang tidak ingin aku pergi jauh, aku sayang kamu Ra," ucap Ustadz Faroq, walau Rara sudah tertidur dari tadi.
"Semoga ini bukan mimpi ya Ra, kalau ini mimpi
bolehkah aku berharap tidak bangun dari mimpi
indah ini." Ucap Ustadz Faroq berdoa sambil
memejamkan matanya.
Ketika rasa kantuk juga melanda Ustadz Faroq dan hampir tertidur terdengar suara handphone didalam tas Rara. Bingung antara mau mengangkat atau tidak namun Ustadz Faroq takut kalau yang menelpon penting bagi Rara.
Ternyata nama yang memanggil bertuliskan my love forever di handphone nya Rara.
"Assalamu'alaikum," angkat Ustadz Faroq.
"Hello.. ini siapa ya Rara nya mana?" tanya Reza.
"Gue ingin bicara sama Rara, kenapa dari siang tadi Rara tidak angkat telpon gue, Rara kenapa?" tanya Reza yang merasa aneh karena tidak biasanya Rara begitu.
Ustadz Faroq tahu kalau yang menelpon adalah
kekasihnya Rara. Ingin rasanya marah dan berkata
kalau jangan menghubungi istrinya lagi, namun Rara pasti marah.
"Rara nya sudah tidur, kalau tidak ada yang penting aku tutup ya! Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh." jawab Ustadz Faroq seraya menutup telpon.
Ustadz Faroq pun mematikan handphone milik Rara agar Rara bisa istirahat dengan tenang.
Namun Reza tidak menyerah begitu saja. Ia langsung pergi ke rumah Ustadz Faroq untuk menemui Rara. Reza merasa cemas terjadi sesuatu sama Rara.
"Ting tong.. ting tong," suara bel berbunyi.
Ustadz Faroq yang terlelap sekejap langsung terbangun mendengar suara bel berbunyi. Ternyata listrik pun sudah hidup lagi.
"Raranya ada?" tanya Reza tanpa basa basi ketika
pintu dibuka oleh Ustadz Faroq.
"Kamu siapa ya?" tanya Ustadz Faroq yang tidak tahu kalau itu Reza. Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua.
"Gue Reza kekasihnya Rara!" jawab Reza to the point. Ustadz Faroq sedikit terkejut mengetahui kalau Reza cukup berani datang ke rumah untuk menemui Rara.
"Mohon maaf ya Reza, tapi Raranya sudah tidur
__ADS_1
seperti yang sudah aku katakan ditelpon tadi."
jawab Ustadz Faroq mencoba tenang.
"Pokoknya gue ingin bertemu Rara baru gue pergi dari sini!" jawab Reza.
"Rara sayang.. Rara.. ini Reza," teriak Reza dengan
kencang agar Rara mendengar.
"Tolong hormati aku sebagai suaminya Rara. Rara
sudah tidur!" tegas Ustadz Faroq karena tidak mau Rara terbangun dari tidurnya mengingat keadaannya yang lagi sakit."Kamu siapa ya?" tanya Ustadz Faroq yang tidak tahu
kalau itu Reza. Ini adalah pertemuan pertama
mereka berdua.
"Apa loe bilang suami? loe kawin baru 4 hari
sedangkan gue sudah 4 tahun pecaran dengan Rara. Jadi gak ada hak loe larang-larang gue!" ucap Reza dengan nada suara tinggi.
"Maaf ya saudaraku, sadarlah kamu hanya bagian
dari masa lalu Rara. Kalau kalian tidak berjodoh
artinya Allah sudah punya rencana indah untukmu
bersama wanita lain namun bukan dengan Rara
karena aku sudah sah menjadi suami Rara yang
ditakdirkan Allah." jelas Ustadz Faroq.
"Sombong banget ya seorang yang katanya ustadz!" jawab Reza emosi.
"Aku cuma mengingatkan sesama muslim." jawab
Ustadz Faroq.
"Gue gak butuh nasihat loe! kalau mau ceramah jangan sama gue!" amuk Reza.
"Nanti akan ku sampaikan kalau kamu mencarinya
namun tidak malam ini!" ucap Ustadz Faroq.
"Gue gak mau!" jawab Reza.
"Rara sedang tidak enak badan dan sekarang lagi tidur, apa kamu tega membangunkannya?" tanya Ustadz Faroq.
"Rara kenapa? kenapa gak loe bawa ke rumah sakit?" tanya Reza balik.
"Rara nya tidak mau. Ia mau di rumah saja. Namun keadaannya sudah membaik makanya biarkan Rara istirahat dahulu." pinta Ustadz Faroq.
"Jangan-jangan elo lagi yang pelit tidak mau membawa Rara ke rumah sakit. Sini biar gue sendiri yang urus Rara!" ucap Reza lagi. Perdebatan yang tidak ada habisnya dan sepertinya Reza juga tidak percaya apa
yang dikatakan Ustadz Faroq.
"Reza silahkan kamu pulang. Biarlah istriku menjadi urusanku!" jawab Ustadz Faroq.
__ADS_1
"Mohon maaf ya aku mau istirahat juga sudah malam, mohon kamu pulang dan mengerti!" ucap Ustadz Faroq seraya menutup pintu pelan.