
"Sesulit apapu jalannya jangan
pernah menyerah, karena kamu
tidak akan pernah tahu,
apa yang menantimu
diujung perjuanganmu."
Dipertiga malam Ustadz Faroq pun bangun untuk
melaksanakan sholat tahajud. Sementara itu Rara
masih tertidur. Sengaja kali ini Ustadz Faroq tidak
membangunkan istrinya seperti biasanya.
Selesai sholat Ustadz Faroq pun mengadu kepada Allah SWT tentang perasaan dan kegelisahaannya mulai siang tadi.
"Ya Allah.. apa yang harus hamba lakukan. Hamba
hanyalah insan biasa yang banyak dosa. Rasa marah ini tidak bisa dipendam, sakit sekali rasanya," sambil berdoa dengan suara pelan namun terbata-bata sambil menangis.
Tanpa Ustad Faroq sadari ternyata Rara mendengar doa dari Ustadz Faroq, namun berpura-pura masih tertidur.
"Apakah hamba harus menyerah dengan penikahan ini, apa yang harus hamba lakukan, mohon beri petunjuk ya Allah." isak tangis Ustadz Faroq pun semakin kencang.
Mendengar itu hati Rara pun seperti hancur
berkeping-keping. Ia tidak tahu kalau selama ini Ustadz Faroq menyimpan beban yang begitu dalam selagi menikah dengannya.
Selesai mencurahkan isi hati Ustadz Faroq pun keluar kamar. Cukup lama Rara menunggu namun Ustadz Faroq belum juga kembali ketempat tidur. Ternyata Ustadz Faroq tidur di kamar sebelah, kamar yang disediakan apabila ada keluarga atau tamu datang untuk menginap.
* * * *
Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi. Ustadz
Faroq pun sudah berangkat ke Pondok seperti
biasa. Rara yang tidak bisa memejamkan mata
semenjak mendengar suaminya menangis tadi malam pun bingung apa yang harus ia lakukan.
Rara pun mengirim pesan di grup Sahabat Rasa
Keluarga, yang beranggotakan Rara, Dita dan Ayu.
["Guys.. gue lagi butuh kalian nih, ke rumah gue
dong. Plissss.."]
["Bentar lagi, gue otw"] balas Dita.
["Siapp, Kanjeng Ratu."] tak lama Ayu juga membalas.
"Tumben manggil kami datang ke rumah?" Rara yang lagi melamun pun cukup dibuat kaget karena Dita dan Ayu langsung masuk tanpa mengetuk pintu sebelumnya.
__ADS_1
"Ih kalian ini, anjuran bertamu yang baik itu beri salam dulu kek, atau ketuk pintu dulu." ucap Rara mengingatkan.
"Ya elah Ra. Biasanya juga kami gini kalau masuk ke rumah loe yang dulu langsung ke kamarkan." jawab Dita nyengir.
"Iya deh yang sekarang sudah menjadi istrinya seorang Ustadz," ledek Ayu.
"Terima kasih ya kalian sudah mau datang," ucap Rara.
"Demi loe Ra, gue yang awalnya mau buka toko ditunda dulu. Ada apa nih? Jangan bilang cuma kangen doang ya?" jawab Dita melotot.
"Menurut kalian kenapa ya sikap Ustadz Faroq bisa berubah tiba-tiba?" tanya Rara serius.
"Berubah gimana Ra?" tanya Ayu balik.
"Dia itu sangat baik, perhatian, gak pernah marah,
kadang bisa ngelucu juga. Tapi dari kemarin sifatnya jadi aneh seperti menghindar gitu dari gue." jelas Rara yang didengarkan serius pula oleh sahabatnya.
"Loe jatuh cinta Ra?" ceplos Ayu begitu saja.
"Ya gak lah Yu, gue cuma heran aja kenapa Ustadz
Faroq tiba-tiba berubah," jawab Rara dengan ekspresi bingung.
"Malam tadi sehabis sholat tahajud, gue dengar waktu berdoa dia bilang ingin menyerah dengan pernikahan kami sambil menangis. Padahal sebelumnya kami baik-baik saja." curhat Rara.
"Apa selama ini dia menyesal ya sebenarnya udah
nikah sama gue?" lanjut Rara.
"Bukannya ini emang tujuan awal loe Ra, pengen
tanya Dita.
"Eemmm.. iya sih tapi gak bisa.." Rara pun bingung menjawab pertanyaan Dita.
"Fix.. loe sepertinya beneran jatuh cinta sih sama
Ustadz Faroq," cecar Ayu.
"Ih.. Ayu! bukan gitu maksud gue." ambek Rara.
"Trus hubungan loe sama Reza gimana Ra?" tanya
Dita serius.
"Jujur gue kecewa berat sama Reza," jawab Rara. Rara pun memberanikan diri menceritakan semua kejadian yang terjadi dengan mereka berdua, panjang lebar Rara bercerita sampai menitikkan air mata.
Kedua sahabat Rara pun langsung memeluk Rara dan menenangkannya.
"Keterlaluan ya Reza, gak nyangka loh Reza bisa
berbuat gitu." ucap Dita sambil menenangkan Rara.
"Terus suami loe tau Ra?" ceplos Ayu lagi.
"Gak tau! Karena kalian berdua sahabat gue makanya gue berani cerita. Tapi janji ya ini hanya menjadi rahasia kita bertiga karena gue percaya sama kalian. Sebenarnya gue sendiri kadang jijik melihat badan gue ketika bercermin kalau ingat itu." tangis Rara kembali.
__ADS_1
"Gue jadi kasian sama loe Ra. Kisah cinta segitiga yang rumit banget bagi gue." jawab Ayu kembali. Ayu yang orangnya ceplas ceplos, kalau ngomong kadang tidak mikir dulu namun yang ia katakan kadang ada benarnya juga.
"Kenapa gak loe coba saja untuk membuka hati
dengan Ustadz Faroq, dia sekarang kan suami loe Ra sedangkan Reza cuma masa lalu." ungkap Dita.
"Suami loe itu sebenarnya ganteng banget loh Ra,
gue dengar dari adik sepupu gue yang mondok
disana katanya di Pesantren tempat dia ngajar
sebelum nikah sama loe jadi idola remaja puteri
disana loh. Katanya ada Ustadzah juga yang sudah lama suka sama suami loe, lupa gue namanya siapa." jelas Ayu menambahkan.
Sebenarnya ketika mendengar Ayu bercerita
perasaan Rara merasa sedikit terganggu, namun seolah tidak peduli Rara pun mengabaikan perkataan Ayu.
"4 tahun gue bersama Reza, tidak mudah melupakannyawalaupun gue benci banget akan perbuatannya, kadang gue juga kasian sama dia." jelas Rara.
"Loe aneh deh Ra, disuruh tinggalin Ustadz Faroq
gak bisa, disuruh lupain Reza juga gak mau.
Sebenarnya yang jahat itu loe sih Ra ngegantung
perasaan dua cowok yang sama-sama mencintai loe."
Mendengar itu Rara pun semakin nangis terisak-isak. Seperti biasa Ayu bicara terlalu jujur yang kadang bisa menyinggung perasaan orang lain.
"Ayu..! Sttt.. diam!" tegur Dita yang mengerti perasaan Rara.
"Emm.. sorry.. bukan maksud gue.." Ayu pun merasa bersalah, belum selesai Ayu ngomong, namun dipotong Rara.
"Loe benar kok Yu, disini yang salah sebenarnya
memang gue. Tapi aku gak marah kok kamu ngomong gitu." jawab Rara.
Mereka bertiga pun kembali berpelukkan.
"Sudah kita gak boleh sedih-sedihan lagi ya, jadi laper nih." ucap Dita mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya gue juga laper, makanya undang kalian datang kesini biar bisa temenin gue makan," ucap Rara sambil membersihkan wajahnya.
Ketiga sahabatpun makan bersama, tidak ada lagi air mata namun gelak tawa yang terdengar cukup
nyaring, karena dengan tingkah Ayu lumayan
konyol suka membuat Rara dan Dita tertawa.
"Terima kasih ya kalian sudah mau mampir, gue senang banget." ungkap Rara sambil tertawa dengan badan dan tangan yang digoyang-goyangkan.
Dita dan Ayu pun melakukan demikian karena begitulah kebiasaan tiga sahabat sebelum berpisah. Mereka pun berpelukan cepika cepiki sebelum pulang.
"Sama-sama Ra, jangan sedih lagi ya." ucap Dita.
__ADS_1
"Kalau butuh teman, hubungi saja kami." lanjut Ayu.