
"Pernikahan yang sukses
bukanlah saat kamu bisa
menjalani kehidupan dengan
damai, melainkan saat kamu
tidak dapat menjalani
hidup damai tanpanya."
Selesai shalat Rara membuka handphone miliknya yang sudah iya cass sebelumnya. Rara kaget ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Reza. Rara juga membaca chat dari Reza yang cukup banyak. Segera Rara menghubungi Reza balik.
"Hallo sayang.. Maaf ya aku.." belum sempat Rara
meneruskan bicara sudah dipotong oleh Reza.
"Aku kira kamu sudah lupa sama aku Ra!" jawab
Reza tanpa basa basi.
"Kamu marah ya karena aku gak ada hubungin
seharian, maaf ya kebetulan handphone milikku
baterainya lowbatte jadi aku cass dulu." jawab Rara yang terdengar merasa bersalah.
"Gimana keadaanmu Ra sudah baikkan?" tanya Reza.
"Baik.. Emmm.. kok kamu tau aku kemarin sakit Za?" tanya Rara balik.
"Memangnya suami Ustadz mu itu gak ada cerita
kemarin malam aku ke rumahmu?" tanya Reza
yang terlihat kesal.
"Gak ada Za," jawab Rara.
"Malam tadi dia mengusirku Ra, sekedar untuk
melihat keadaanmu saja aku tidak dibolehin.
Katanya mau cerita nanti sama kamu kalau aku
datang ke rumah ternyata cuma bulsett, Ustadz
berengsek!" ucap Reza yang terdengar marah.
Reza langsung menutup telponnya. Rara pun menjadi menggebu-gebu lagi. Hatinya mendidih karena tau ternyata Ustadz Faroq seperti itu.
"Yuk kita makan dulu Ra," ajak Ustadz Faroq.
Plakkk.. terdengar suara tamparan keras dipipi
Ustadz Faroq.
"Ada apa Ra?" tanya Ustadz Faroq yang bingung dengan sikapnya Rara yang tiba-tiba berubah, sambil memegang pipinya yang sakit karena tamparan istrinya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Reza malam tadi
kesini?" tanya Rara.
"Aku cuma belum sempat bilang Ra, rencananya nanti aku akan bilang," jawab Ustadz Faroq.
"Ngapain loe ngusir pacar gue malam tadi? sekarang Reza marah banget sama gue gara-gara elo!" teriak Rara marah. panggilan Rara kesuaminya pun berubah lagi menjadi elo gue saking marahnya.
"Loe sengaja ya mau hancurin hubungin kami? jangan gara-gara gue sudah baik sebentar, loe jadi ngelunjak ya." cecar Rara kembali.
"Maaf Ra, aku tidak bermaksud begitu. Kamu mau kemana?" tanya Ustadz Faroq melihat istrinya memakai jaket.Tanpa menjawab Rara pun cepat-cepat mau pergi.
"Makan dulu Ra, nanti baru keluar aku akan antar." ucap Ustadz Faroq lagi. Rara langsung pergi memanggil taksi tanpa memperdulikan Ustadz Faroq.
__ADS_1
Didalam taksi Rara terus menelpon Reza namun tak ada jawaban dari Reza. Rara pun memutuskan untuk ke Rumah Reza.
Tiba-tiba ada chat dari Reza.
"Temui aku di cafe biasa!"
Rara langsung menyuruh sopir taksi untuk memutar arah menuju cafe dimana Reza berada.
* * * *
"Sekarang kamu sudah terbiasa berhijab ternyata,"
kalimat pertama ketika Reza melihat Rara datang.
Rara pun tanpa sadar ternyata iya sebelum keluar
sempat memakai kerudung sebelumnya.
"Kalau kamu tidak suka aku bisa lepas kok," Rara
langsung melepas kerudungnya dan duduk di samping Reza.
"Maafin aku ya sayang," pinta Rara tulus.
"Ini minum dulu, aku sudah pesanin minuman
kesukaanmu." pinta Reza balik tanpa menjawab
permintaan maaf Rara.
Rara pun langsung minum. Reza yang melihat Rara minum pun menyunggingkan senyuman puas. Seakan ada sesuatu yang sudah direncanakan. Ternyata benar, minuman Rara sebelumnya sudah dimasukkan obat tidur oleh Reza.
"Aku udah gak bisa jalanin hubungan seperti ini Ra. Aku kira aku bisa mengerti keputusanmu yang menikah dengannya ternyata tidak Ra!" ucap Reza dengan memandang Rara.
"Maksudmu apa sayang?" tanya Rara yang gelisah
mendengar perkataan Reza.
"Lebih baik hubungan kita cukup sampai disini Ra,"
"Aku gak mau Za!" air mata pun jatuh dipipinya Rara. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun mereka pacaran Reza mengucapkan kata putus.
"Kenapa kamu ngomong begini Za? Kamu udah gak sayang sama aku?" tanya Rara.
"Kamu atau aku Ra yang sudah tidak sayang!!?"
"Kamu atau aku Ra yang hatinya sudah berubah!!?"
tanya Reza dengan nada suara lebih keras.
"Sekarang ayuk ikut aku!" Reza yang menggenggam tangan Rara dengan erat pun membuat Rara kesakitan.
Sebenarnya Reza tidak ada niat untuk membuat Rara menangis apalagi menyakitinya. Namun fikiran Reza dan hatinya yang sudah panas membuatnya lupa diri kalau telah menyakiti orang yang disayanginya.
Reza berfikir kalau ada yang berubah dari Rara.
Reza sangat takut kalau Rara akan jatuh cinta
dengan Ustadz Faroq. Penyesalan yang sudah tiada arti, andai dulu Reza tidak membiarkannya
menikah dengan Ustadz Faroq meskipun itu cuma
pura-pura. Itulah yang menjadi penyesalan
terbesar Reza.
"Kita mau kemana?" tanya Rara. Namun Reza tetap menarik tangan Rara.
"Auu.. Tangan aku sakit Za!" teriak Rara melepaskan tangannya. Orang-orang disekitar pun semua mata tertuju kepada mereka berdua. Reza pun tanpa sadar telah menyakiti Rara meminta Maaf.
"Ini ada apa ya?" tanya seorang satpam yang
datang karena mendengar ada yang berteriak.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa kok pak," jawab Reza.
"Benar bu?" tanya satpam pada Rara.
"lya pak tidak ada apa-apa." ucap Rara.
* * * *
"Kita mau kemana?" Reza pun terus melaju kencang membawa mobil lamborghini miliknya.
"Aku gak mau putus sayang," ucap Rara sembari
merasa takut karena kecepatan mobil yang dibawa Reza.
"Kalau begitu aku mau pembuktian!" ucap Reza.
"Pembuktian apa?" tanya Rara.
"Sayang aku takut, kamu membawa mobilnya terlalu kencang," pinta Rara yang menahan takut sedari tadi. Reza pun segera menghentikan mobilnya.
"Aku mau kamu tidur denganku!" ucap Reza.
"Kamu sudah gak waras ya Za?" bentak Rara yang
kaget mendengar permintaan Reza.
"Iya aku sudah tidak waras!" jawab Reza.
"Tidak waras karena setiap hari selalu memikirkanmu!"
"Apa yang kamu lakukan disana dengannya? Apa kamu ciuman dengannya? Bahkan aku terbayang kamu tidur berdua dengannya!!" lanjut Reza.
"Plakkk.." Sebuah tamparan keras kepipi Reza.
"Kamu kira aku serendah itu?"
"Kamu kan tau kami menikah hanya diatas kertas?" jawab Rara dengan tangan gemetar karena Reza meragukannya. Perasaan kantuk pun sudah mulai menguasai Rara. Obat tidur yang dimasukkan Reza pun sudah mulai bereaksi.
"Aku bisa gila Ra mikirin kamu!" jawab Reza.
"Maafin aku Za, tapi aku akan buktikan sebentar lagi akan bercerai dengan Ustadz Faroq." Rara pun
meyakinkan Reza dengan memeluknya.
"Ra? Ra?" ucap Reza.Ternyata Rara pun sudah tertidur dipelukkan Reza. Reza pun membawanya ke hotel milik papahnya.
Reza dengan niatan awal membuat Rara tertidur pun berhasil. Sekarang saatnya Reza menjalankan rencana yang sudah difikirkannya sebelum bertemu Rara.
"Aku akan membantumu segera bercerai dengan
suamimu sayang," ucap Reza sambil membuka baju Rara yang sudah tertidur pulas diatas tempat tidur.
Reza pun menyuruh orang untuk memotret setiap
adegan yang dilakukannya bersama Rara yang
hanya ditutup selimut.
Mulai dari tidur berdua dan saling berpelukan
mesra pun sudah diatur oleh Reza. Sebenarnya
Reza tidak ada niat melecehkan pacarnya. Namun
semua foto-foto mesra dengan Rara akan menjadi
tiket emasnya agar mereka bercerai.
Setelah selesai Reza pun memandangi wajah Rara
yang tertidur pulas.
"Sebentar lagi kita akan bersama Ra." ucap Reza
__ADS_1
dengan penuh keyakinan. Reza pun akhirnya tertidur disamping Rara.