
["Pasanganmu itu ibarat pakaian untukmu.
Sebuah pakaian bisa menjadi pas atau
kurang pas, tetapi bagaimanapun juga,
pakaian akan menutupi, melindungi
dan mempercantik ketidaksempurnaan."]
Setelah acara pernikahan selesai, Ustadz Faroq
mengajak istrinya untuk tinggal di rumah yang sudah ia persiapkan sebelum menikah, rumah yang ia bangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Disepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Faroq, Rara hanya memasang wajah cemburut dan tidak berkata apa-apa. Rara kira setelah menikah ia tetap tinggal bersama kedua orang tuanya, tidak ia sangka harus tinggal
serumah berdua dengan Ustadz Faroq yang sekarang sudah menjadi suami sahnya.
"Kenapa harus tinggal berdua di rumah Ustadz Faroq sih! Mamah dan Papah jahat banget membuang anaknya bersama orang asing!" hanya ini yang ada difikiran Rara sepanjang perjalanan yang membuat mukanya masam. Belum sempat sampai rumah, kerudung yang dikenakannya waktu nikah pun langsung dilepasnya karena sudah tak tahan lagi.
"Astagfirullah.. kenapa dilepas sayang kerudungnya? ayo pakai lagi ya. Hari ini kamu sungguh cantik mengenakan kerudung itu," ucap Ustadz Faroq yang cukup kaget karena tiba-tiba Rara melepas kerudungnya.
Rara tetap diam membisu seolah tidak mendengar
perkataan suaminya, dibenaknya hanyalah sebuah emosi yang dipendamnya sejak ijab qabul tadi.
"Kita sudah sampai, rumah ini sekarang adalah rumah kita berdua, walaupun tidak sebesar rumah mu yang dulu namun rumah ini aku beli dari hasil
kerja keras ku sendiri, semoga kamu suka ya sayang," jelas Ustadz Faroq sambil mempersilahkan istrinya masuk, namun masih belum ada jawaban sedikitpun dari Rara.
Kemudian Ustadz Faroq mengajak istrinya memasuki kamar yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
'Ceklek'(suara membuka pintu)
Rara dibuat terpesona dengan kejutan yang sudah
disiapkan suaminya. Kamar yang semua dindingnya menggunakan wallpaper motif shaby, diataslangit-langit ranjang pun dihias dengan banyak bunga plastik berwarna putih dan pink, belum lagi aroma wewangian khas bunga yang semerbak tercium, ditambah hiasan yang bertuliskan kata-kata
"SELAMAT DATANG ISTRIKU TERCINTA".
Rara sedikitpun tidak menyangka kalau suaminya yang seorang Ustadz bisa seromantis ini, yang ia fikir selama ini kebanyakan Ustadz biasanya cukup cuek dan dingin. Apalagi semua hiasan kamar tadi merupakan kesukaannya, ia heran kenapa Ustadz Faroq bisa tau semua yang ia sukai.
"Sayang.. kamar ini aku hias sesuai dengan kesukaanmu, karena sekarang kamu sudah menjadi istri sah ku, maka kamu akan ku jadikan ratu didalam rumah tangga kita, supaya kamu betah dan bahagia tinggal bersama ku." ucap Ustadz Faroq sambil memandangi Rara dengan tatapan kasih sayang.
__ADS_1
Rara tidak ingin terlihat senang dengan semua
persiapan yang sudah disiapkan suaminya. Ia malah semakin membenci Ustadz Faroq.
"Kamu fikir aku senang? Kenapa kamar ini dihias seperti ini! Apalagi ini tulisan sampah 'SELAMAT DATANG ISTRIKU TERCINTA', jangan kamu fikir aku bakalan suka!" teriak Rara dengan meluapkan emosinya yang selama ini pendam.
"Satu lagi.. jangan pernah panggil aku sayang! Kamu tidak ada hak memanggilku begitu!" terdengar suara Rara yang emosional sampai ia menitikkan air matanya.
Ustadz Faroq duduk disamping Rara, terdiam
sebentar sambil menghela nafas berkali-kali,
terlihat Ustadz Faroq cukup kaget dengan respon
yang diberikan istrinya, hatinya terasa begitu sakit,
seperti sebuah luka namun tak berdarah.
Tetapi bukannya marah Ustadz Faroq malah
membalikkan badan hingga posisinya berhadapan
dengan sang istri, sehingga kedua mata mereka
"Kamu boleh meluapkan isi hati dan emosimu hingga puas. Kamu juga boleh menangis, aku mengerti perasaan mu Ra. Mungkin aku tidak pernah ada dalam impianmu bahkan mimpi mu sekalipun! Namun, ijinkan aku untuk memenuhi
kewajibanku sebagai suamimu, yaitu untuk selalu
membuatmu bahagia," tutur Ustadz Faroq dengan lembut.
Mendapatkan perlakuan selembut itu membuat
jantung Rara berdetak lebih cepat. Lagi-lagi Rara
berbicara dalam hati, "Kenapa ia tidak marah balik sih! Pokoknya aku tidak boleh terpedaya hanya kerena perlakuannya ini!".
"Apa? Suami kamu bilang? Aku hanya mengganggapmu suami diatas kertas, karena pernikahan kita hanya perjodohan bukan berdasarkan cinta! dan jangan harap aku bakalan jatuh cinta dengan mu!" lagi-lagi Rara berkata tanpa memikirkan perasaan suaminya.
Saat mendengar ucapan istrinya, hati Ustadz Faroq terasa teriris. Ia berusaha tersenyum dan tidak ingin memperlihatkan rasa sakitnya, toh istrinya juga tidak peduli kan? jadi buat apa memasang wajah kecewa dihadapannya.
"Sekarang mungkin kamu lagi capek, silahkan kalau mau mandi dulu, baru nanti kita sama-sama shalat magrib," ucap Ustadz Faroq mengalihkan pembicaraan, sambil melirik jam yang menunjukkan waktu magrib.
__ADS_1
Tanpa menjawab Rara langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Rara dibuat terkagum lagi, ternyata didalam bathtub pun ditaburi bunga mawar sehingga mengeluarkan aroma yang sangat wangi. Kamar mandinya pun sangat bersih dan peralatan mandi juga tersusun sangat rapi.
"Apa sih maksudnya mempersiapkan semua ini! Apa jangan-jangan dia berharap malam ini menjadi malam pertama seperti pasangan suami istri yang lain! dasar Ustadz mesum!" gumam Rara sendirian di kamar mandi sambil berendam didalam bathtub.
"Segernya," ucap Rara, sambil menikmati mandinya.
"Pokonya aku tidak boleh terpedaya oleh Ustadz
mesum itu, memangnya dia fikir aku wanita yang
gampang untuk ditaklukkan apa!" Rara berbicara
sendiri sambil mengambil handuk dan berganti pakaian.
Ketika keluar dari kamar mandi, Ustadz Faroq sudah menunggu diatas sajadah, dengan mamakai gamis panjang sampai mata kaki berwarna putih ditambah kopiah berwarna serupa dan wangi minyak harum khas mekkah, seketika membuat Rara kagum akan aura ketampanan dari suaminya.
"Ketika kamu mandi, aku juga mandi di ruang sebelah. Sekarang karena kita sudah bersih jadi kita tidak malu lagi untuk menghadap Allah, mari kita sama-sama sholat magrib dulu," ajak Ustadz Faroq.
"Aku capek! Kamu shalat aja duluan! Aku mau istirahat dulu pegal-pegal kaki ku seharian," jawab Rara yang langsung rebahan diatas kasur tanpa memperdulikan suaminya.
"Sholat itu tidak lama Ra.. cuma sebentar, paling cuma 5 sampai 10 menitan saja, jadi tidak ada alasan kalau kamu bilang capek!" bujuk Ustadz Faroq, masih dengan bahasanya yang lembut.
"Ia aku tau kok! Tapi kaki aku udah pegal-pegal
seharian berdiri salamin tamu undangan yang
datang! Aku juga sudah ngantuk banget karena seharian tidak ada istirahat!" lagi-lagi Rara menolak diajak sholat dengan bermacam alasan.
"Jangan melalaikan perintah Allah sayang.. karena
azabnya sungguh pedih dan kita tidak akan mampu menahannya! Sebentar lagi waktu isya datang, ayo bangun!" ajak Ustadz Faroq lagi. Namun bukannya bangun Rara malah pura-pura sudah tertidur.
"Astagfirullah istriku.." sambil mengelus dada, UstadzFaroq langsung bersiap memulai sholat magrib, karena sebentar lagi masuk waktu isya dan inipun sudah suatu kelalaian baginya karena tidak diawal waktu.
Setelah selesai sholat magrib dan isya, Ustadz Faroq berganti pakaian. Kemudian Ia pun langsung merebahkan diri disamping istrinya, ''Alhamdulillah..'' ucapnya sebelum benar-benar merebahkan diri. Ditatapnya istrinya yang sekarang sudah benar-benar tertidur, ingin sekali ia membelai rambut istrinya namun ia takut nanti istrinya bangun.
"Semoga aku bisa menjadi imam yang baik
untukmu ya sayang, semoga aku dapat selalu
membimbingmu dengan penuh kesabaran."
__ADS_1
ucap Ustadz Faroq, yang tidak lama kemudian pun tertidur lelap disamping istrinya, karena sebenarnya ia juga merasa lelah dan ngantuk.