
"Bongkahan es akan meleleh tatkala sinar mentari
selalu menyinarinya tanpa lelah. Begitu pula dengan hati, akan tumbuh dan berbunga
jika selalu disiram dengan cinta dan perhatian."
" Ra, ini kemarin aku belikan beberapa baju dan
kerudung untukmu, hari ini kita ke rumah Abi dan
Ummi karena kemarin kita tidak jadi kesana," ucap
Ustadz Faroq sambil memberikan kantong plastik
berisi baju dan kerudung.
"Memangnya kita tetap harus kesana ya?" tanya Rara yang terlihat malas untuk pergi, karena ada janji bertemu Reza.
"Ia Ra, Abi sama Ummi katanya kangen mau ketemu mantunya," jawab Ustadz Faroq dengan bibir tersenyum.
"Apaan sih!" celetuk Rara sambil membuka isi kantong plastiknya.
"Ini baju apaan? panjang banget.. jubah ya? gak
mau ah, gak bisa aku pakai beginian!!" ucap Rara
sambil melempar kantong plastik berisi baju.
"Ia Jubah Ra, kamu coba dulu ya," kembali Ustadz
Faroq mengambil kantong plastik dan memberikannya sama Rara.
"Kamu sengaja ya mau bikin aku marah! mau bikin
aku malu depan teman-teman aku, biar aku
diledekin? Nanti aku dikata-katain seperti ibu-ibu,
gak mau ah!!" kembali Rara mengatakan tidak mau mengenakan baju yang dibeli suaminya.
"Aku sama sekali gak ingin bikin kamu marah Ra, jubah ini sudah dipilihin sama penjualnya kemarin dengan modelnya yang tetap modis tidak seperti ibu-ibu, karena gadis remaja pun sekarang sudah banyak yang pakai jubah syar'i. Aku mohon sekarang kamu coba dulu ya," pinta Ustadz Faroq membujuk Rara sambil meninggalkan kamar. "Aku tunggu diluar ya".
Rara dengan terpaksa memakai salah satu jubah
berwarna biru denim dipadukan dengan kerudung
motif warna senada.
"Aisss.. Perasaan muka gue jadi berubah deh," celetuk Rara dengan menatap cermin sambil merapikan kerudungnya.
Rara kemudian keluar dari kamarnya yang sudah
ditunggu oleh Ustadz Faroq. Pandangan Ustadz Faroq yang kagum melihat Rara yang tambah cantik dan anggun tak henti menatap dan memandang istrinya tanpa kedipan.
"Kenapa liat-liat jelek ya?" tanya Rara yang merasa
kurang percaya diri sambil membetulkan kerudungnya.
"MasyaAllah, kamu sangat cantik sangat cocok
memakai ini," jawab Ustadz Faroq.
"Apaan sih! jangan coba merayuku ya, ayo berangkat sekarang," ucap Rara.
"Aku cuma berkata sebenarnya Ra." kata
Ustadz Faroq sambil membukakan pintu mobil
mempersilahkan Rara masuk.
"Assalamu'alaikum Abi,"
"Assalamu'alaikum Ummi," ucap Ustadz Faroq sambil mencium tangan Abi dan Umminya.
****
"Wa'alaikumsalam anakku," jawab Abi dan Ummi
Ustadz Faroq. Rara pun mengikuti apa yang dilakukan suaminya dengan memanggil Abi dan Ummi.
"MasyaAllah anakku, kamu sangat cantik," ucap Ummi Ustadz Faroq yang melihat Rara memakai jubah.
"Ayo masuk," ajak Abi Ustadz Faroq.
"Ayo sayang, kita makan dulu ya, Ummi sudah
masak untuk kalian," ajak Ummi Ustadz Faroq.
__ADS_1
Diatas meja sudah tertata rapi ada lontong sayur, sop ayam, sambal terasi dan buah-buahan. Ustadz Faroq pun memimpin doa sebelum makan.
"Lontong sayur dan sop ayam ini makanan kesukaan suamimu Ra, kalau datang ke rumah selalu ini yang minta dibuatin, anak manja sebenarnya walau sudah dewasa, haha" ucap Ummi Ustadz Faroq sambil tertawa kecil.
"Ummi.. malu atuh Faroq kalau rahasianya dibongkardepan istrinya, haha." kembali digoda sama Abi Ustadz Faroq.
"Ummi sama Abi ya, gak boleh makan sambil
bicara," ucap Ustadz Faroq yang berusaha
menghentikan pembicaraan karena malu.
Rara hanya tersenyum tipis tanpa berkata apapun
dan sesekali merapikan kerudung miliknya. Rara makan lontong sayur sampai habis, karena menurutnya memang sangat enak apalagi ditambah sambal padahal sebelumnya Rara tidak terlalu suka.
Setelah selesai makan Rara dan Ummi Ustadz Faroq duduk berdua diatas sofa di ruang tamu.
"Ummi sangat senang kamu datang ke rumah hari ini sayang, sering-seringlah mampir kesini nanti Ummi buatin masakan kesukaanmu juga" ucap Ummi Ustadz Faroq yang terlihat senang.
"Iya Ummi.." jawab Rara singkat dengan senyuman tipis.
"Ummi sama Abi dulu juga sama seperti kalian
cuma ta'aruf sebentar, istilah anak muda sekarang
dijodohkan ya, alhamdulillah perkawinan Ummi
bertahan sampai sekarang sudah hampir 30 tahun, karena Ummi percaya pilihan orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya," cerita Ummi Ustadz Faroq.
"Memangnya menikah tanpa cinta bisa bahagia
Ummi?" tanya Rara serius.
"Sebenarnya kalau menurut Ummi syarat utama dalam setiap pernikahan yang membahagiakan adalah didasari dengan iman dan sisanya adalah kepercayaan. Karena cinta tidak menciptakan pernikahan tetapi dalam pernikahanlah yang akan mendatangkan rasa cinta, karena pernikahan adalah ibadah." jawab Ummi Ustadz Faroq dengan memandang Rara.
Hati Rara mulai tersentuh mendengar perkataan Ummi Ustadz Faroq, Rara tahu bahwa yang dikatakan Ummi itu benar namun hatinya tetap menolak menerimanya.
"Menikah itu adalah cinta yang diberkahi, awalnya
dari sebuah janji, selanjutnya adalah ibadah dan
dipenghung perjalanan insyaAllah ridha Ilahi menuju surga, semoga pernikahan kita di ridhai Allah SWT sehingga antara suami dan istri dapat bertemu dan berkumpul di surga nanti, Aamiin." tambah Ummi Ustadz Faroq sambil memeluk Rara dengan kasih sayang. Tanpa sadar air mata Rara pun menetes namun dengan cepat langsung dibersihkan.
"Kamu sudah Ummi anggap seperti anak sendiri Ra, jadi jangan sungkan-sungkan sama Ummi." ucap Ummi Ustadz Faroq sambil tersenyum menatap Rara.
senang punya mertua yang terlihat sangat
menyayanginya, andai Rara menikah dengan lelaki yang dicintainya dan punya mertua sebaik ini tentu sudah sempurna hidupnya.
"Kamu belum jawab Ummi loh apa makanan
kesukaanmu Ra? ada makanan yang bisa bikin kamu alergi juga gak biar Ummi tidak salah masakin nanti pas kamu kesini Ummi masakin semua makanan kesukaanmu. Kalau suamimu dia alergi makan kacang. kalau kamu Ra?" tanya Ummi Ustadz Faroq.
"Rara tidak ada alergi apa-apa dan Rara penyuka semua masakan Ummi karena sangat enak," jawab Rara.
Mendengar jawaban Rara Ummi Ustadz Faroq pun
tertawa lepas. "Kamu punya selera humor juga ya Ra, padahal baru sekali tadi makan masakan Ummi udah bilang semua masakan Ummi enak, haha. Bisa bikin orang salah tingkah loh mendengar perkataanmu tadi apalagi kalau laki-laki bisa salah arti."
"Maksud Rara tidak seperti itu kok Ummi, Rara
cuma bilang sebenarnya," jawab Rara polos.
Lagi-lagi Ummi Ustadz Faroq tertawa mendengar
jawaban polos Rara. Tiba-tiba Ustadz Faroq datang.
"Lagi bicarain apa sih Ummi kok kayaknya seru
banget ketawa-ketawa?" tanya Ustadz Faroq.
"Mau tau aja apa mau tau banget?" tanya balik dari Ummi Ustadz Faroq.
"Ih Ummi selalu begini, gak asyik ah," jawab Ustadz Faroq terlihat manyun.
"Faroq ngambek nih Ummi!" Ustadz Faroq
pura-pura marah. Rara pun tertawa kecil melihat Ummi dan Ustadz Faroq. Tidak Rara sangka ternyata Ummi sangat asyik pembawaannya, Ustadz Faroq juga ternyata memang manja seperti anak kecil didepan Umminya.
"Kamu tanya sendiri aja sama istrimu, tapi sudah
Ummi bilang untuk jadi rahasia saja," canda Ummi
Ustadz Faroq kembali.
"Kalian gak malu apa didepan nak Rara," Abi Ustadz Faroq pun tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Ini Ummi bikin Faroq kesel Bi." ucap Ustadz Faroq.
"Ah kamu sama saja. Jangan aneh ya nak Rara ngelihat di rumah begini, sebenarnya Ummi dan suamimu ini sangat suka bercanda. Apalagi kalau ada Imel, adik nya tambah rame rumah ini seperti orang bersepuluh aja." jawab Abi Ustadz Faroq. Rara pun baru tau kalau Ustadz Faroq ternyata suka bercanda.
"Memangnya Imel kemana Abi?" tanya Rara.
"Imel mondok di pesantren Al Munawarah,
sebenarnya hari ini pengen ijin pulang karena tau
kakaknya datang. Tapi karena kemarin sudah ijin
waktu penikahan kalian dan sebentar lagi mau
ulangan jadi kata Abi belajar aja dulu nanti masih
banyak waktu kalau mau ketemu kakak." jawab Abi Ustadz Faroq menjelaskan.
"Sebenarnya Imel pengen banget ketemu kamu nak Rara," Ummi Ustadz Faroq menambahkan.
"Kenapa Ummi?" tanya Rara.
"Karena dari dulu dia ingin banget punya kakak
perempuan, biar bisa diajak curhat dan ada teman
kalau belanja katanya. Apalagi dia gak bisa dandan pengen cantik seperti kak Rara katanya," jawab Ummi Ustadz Faroq.
"Ah Imel bisa saja, jadi gak sabar pengen ketemu Imel juga." jawab Rara tersenyum.
"Nanti kalau Imel ada pulang Ummi telpon nak Rara ya?" tanya Ummi Ustadz Faroq.
"Iya Ummi Rara tunggu." jawab Rara yang sudah
mulai nyaman dan santai bicaranya.
"Faroq tolong jagain Rara ya, dia menantu
kesayangan Ummi, jangan sekali-kali kamu
menyakiti hati istrimu, kalau kamu membuatnya
menangis sama saja kamu menyakiti hati Ummi"
ucap Ummi Ustadz Faroq.
"Iya Ummi, insyaAllah Faroq tidak akan pernah
menyakiti hatinya Rara," jawab Ustadz Faroq sambil menoleh kearah Rara.
"Bukan cuma menantu kesayangan Ummi, tapi
kesayangan Abi juga, kalau suamimu macam-macam lapor sama Abi saja nak Rara, nanti Abi yang turun tangan!" sela Abi Ustadz Faroq seolah mengultimatum Ustadz Faroq namun dengan nada bercanda.
Hati Rara sangat senang mendengar ternyata
mertuanya sangat menyayanginya. Rara merasa
terharu karena mertuanya sangat baik, apalagi ternyata mertuanya juga asyik diajak ngobrol. Namun setelah melihat jam ternyata sudah pukul 11.32 WITA, Rara lupa kalau ia ada janji bertemu pacarnya pukul 11.00 ini. Awalnya Rara berencana cuma mampir sebentar namun tanpa Rara sadari ternyata ia lupa waktu sudah hampir 4 jam disana karena keasyikan ngobrol. Dengan cepat Rara memberi kode ke Ustadz Faroq dengan menunjuk jam tangan dan langsung dimengerti oleh Ustadz Faroq.
"Abi.. Ummi.. kami mau pamit pulang dulu ya,"
ucap Ustadz Faroq.
"Kok cepat sekali nak, gak sorean nanti saja
pulangnya atau sekalian nginep disini?" tanya
Ummi Ustadz Faroq.
"Rara ada janji Ummi, Rara lupa. Nanti ya Ummi
dan Abi kami kesini lagi." jawab Rara.
"Oh kalau ada janji ya harus ditepatin, gak papa
nak Rara." ucap Abi Ustadz Faroq.
Ustadz Faroq dan Rara pun pamit pulang dan
bersalaman. Ustadz Faroq tidak lupa memeluk dan mencium Abi dan Umminya, kebiasaannya dari dulu.
"Abi dan Ummi jangan lupa jaga kesehatan ya, itu jangan lupa minum vitamin yang Faroq belikan tadi, kalau ada apa-apa secepatnya telpon Faroq," ucap Ustadz Faroq.
"Iya.. Hati-hati dijalan ya." ucap Ummi Ustadz Faroq.
"Iya Ummi. Assalamu'alaikum." jawab Ustadz Faroq.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." jawab Abi dan Ummi Ustadz Faroq.