
"Kita jatuh cinta bukan karena
menemukan orang yang
sempurna, melainkan karena
melihat kesempurnaan pada
orang yang tidak sempurna."
Sesampainya di rumah pulang dari rumah sakit,
Rara dan Ustadz Faroq menjadi canggung sendiri.
Banyak yang ingin disampaikan dan dijelaskan
namun sama-sama masih memilih untuk diam.
"Kamu istirahat saja dulu," kata Rara bingung
mau bicara apa.
"Oh.. iya." jawab Ustadz Faroq singkat.
Rara yang masih diam karena melihat Ustadz Faroq yang belum sepenuhnya sembuh, sedangkan Ustadz Faroq juga masih bertahan menyimpan perasaannya.
* * * *
Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Ustadz Faroq
duduk bertafakkur diatas sajadahnya. Sedari jam
01.00 malam tadi Ustadz Faroq beribadah dengan
khusyuk. Dimulai dari melaksanakan sholat taubat, sholat tahajud hingga ditutup dengan sholat witir 3 rakaat.
Kali ini Ustadz Faroq sholat tidak di kamar yang
sekarang Rara sedang tertidur, namun sengaja memilih kamar sebelah agar ia bisa mencurahkan semua isi hatinya kepada Allah SWT.
Selesai sholat Ustadz Faroq mengucapkan istigfar yang banyak sekali, dilanjut dengan doa memohon kepada yang Maha Pencipta agar ia dan istrinya diampuni dosa-dosanya.
"Ya Allah.. Ampunilah dosa hambamu ini dan dosa
istri hamba."
"Seandainya istriku merasa pernah berbuat salah
padaku apapun itu, aku sudah ridho dan ikhlas
memaafkan semuanya, lahir dan bathin. Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba, karena kejahilan
hamba yang tidak bisa mengemban amanah
memimpin rumah tangga.
Engkaulah dzat yang Maha Pengampun lagi Maha
__ADS_1
Penyayang, maka ampunilah kami ya Allah."
"Sayangilah kami ya Rabbi, tutuplah aib kami. Dan
ijinkanlah hambamu ini untuk bisa membahagiakan dia
sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan ya Allah."
Sesaat Ustadz Faroq terdiam sebentar namun air
matanya mengalir deras dipipinya.
"Istriku.. Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia. Membuatmu tersenyum lepas, tapi aku akan terus berusaha bagaimana caranya agar kamu bahagia. Makanya aku bartahan disini, masih dengan perjuanganku, dengan semangatku tidak akan menyerah begitu saja demi hubungan kita."
Pecahlah tangis Ustadz Faroq setelah berdoa. Isak tangis tak mampu lagi dibendung, namun sekarang perasaannya menjadi lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya dalam doanya yang khusyuk.
Keraguan untuk bertahan yang awalnya masih ada
dihatipun hilang sekejap seperti disapu ombak. Semua sudah dipasrahkan kepada Allah SWT, dan Ustadz Faroq pun sudah ikhlas untuk menerima istrinya bagaimana pun keadaannya.
Ternyata Rara sudah sedari tadi berdiri tepat dibelakang Ustadz Faroq berdoa. Tanpa Ustadz Faroq sadari Rara mendengar semua doanya.
Rara pun sambil terisak bersujud bersimpuh didepan Ustadz Faroq yang membuatnya cukup terkejut.
"Maafin aku.. Maafin aku.. hiks.. hiks.." tangis Rara.
"Bangun Ra, jangan begini dan berhentilah
menangis." segera Ustadz Faroq membangunkan
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau sebenarnya kamu sudah tau antara aku dan Reza," ucap Rara sambil menatap suaminya penuh haru.
"Aku.. hanya tidak ingin membuatmu sedih lagi,
apalagi kamu sering mimpi buruk akhir-akhir ini."
jawab Ustadz Faroq tulus.
"Tidak sakitkah hatimu mengetahui semua itu?"
tanya Rara kembali.
"Kalau kamu tanya aku begitu tentu sangat sakit Ra, suami mana yang tidak sakit melihat istrinya bersama pria lain, setiap kali ingin memejamkan mata seolah-olah bayangan kamu bersama Reza selalu datang menghantuiku." jawab Ustadz Faroq.
"Maafkan aku karena sempat berfikir
macam-macam, tapi sekarang aku sudah ikhlas
Ra ." lanjut Ustadz Faroq.
"Tapi aku sudah tidak suci lagi! aku sudah kotor!"
"Selama 4 tahun pacaran sama Reza aku tidak pernah menyerahkan mahkota satu-satunya yang selalu ku jaga, karena hanya akan ku berikan pada suami yang ku cintai dan itu jujur bukan kamu karena aku belum mencintaimu. Dia juga tahu itu tapi sengaja berbuat begitu setelah kita menikah karena takut aku jatuh cinta padamu. Katanya agar cepat aku bercerai denganmu, tapi aku sangat benci caranya, aku tidak bisa memaafkannya." jelas Rara sambil menangis.
"Aku sudah ikhlas Ra, aku tidak akan menceraikanmu. Aku menerima semua kekuranganmu karena aku pun sama, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah jadi
sudah sepantasnya kita memohon ampun dan sholat taubat karena Allah juga Maha Pengampun dan Maha Penyayang." jawab Ustadz Faroq meyakinkan.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sudah tahu Ra?" tanya Ustadz Faroq.
"Aku menemukan amplop dalam lemari waktu beberes pakaian ketika ingin pergi meninggalkan rumah ini," jawab Rara menunduk malu.
"Kenapa mau pergi Ra ?" tanya Ustadz Faroq bingung.
"Habisnya kamu cuekin aku, kamu diamin aku!" jawab Rara menyerngitkan kening dan menutup muka karena malu.
Ustadz Faroq pun tersenyum dengan tingkah
istrinya yang masih dengan emosi yang
menggebu-gebu namun tetap menggemaskan
melihat istrinya menutup muka.
"Gak usah malu, buka saja." pinta Ustadz Faroq. Rara pun pelan-pelan membuka mata.
"Jangan berfikir untuk pergi dari rumah lagi ya Ra
karena ini adalah rumah kita," ucap Ustadz Faroq.
"Iya.. maafin aku," jawab Rara.
"Seandainya dahulu kamu menolak perjodohan kita, mungkin kamu tidak akan tersakiti bersamaku. Namun kamu tetap saja menerimanya. Bahkan setelah menikah
sering kali aku menyakitimu, tak menganggapmu dan sering membuatmu menangis. Tapi kenapa kamu begitu baik padaku, tidak bisakah kamu marah saja agar aku merasa lebih baik dari pada kamu begini aku merasa sangat bersalah." tangis Rara kembali.
"Lebih baik kamu pukul atau tampar saja untuk membalasku, aku merasa lebih baik bagitu," kedua tangan Rara menggangkat tangan kanan Ustadz Faroq agar menampar wajahnya.
Rara pun memejamkan mata bersiap saja menerima tamparan Ustadz Faroq, namun bukannya menampar malah tangan Rara dicium Ustadz Faroq.
"Muach.. muachh.." cium Ustadz Faroq.
Rara pun kaget ketika membuka mata, segera Rara memeluk Ustadz Faroq yang disambut pelukan hangat kembali dari suaminya.
"Bisakah kita mulai dari awal Ra, tolong beri aku
kesempatan agar kamu bisa membuka hati
untukku, yang telah berlalu tidak usah kita bahas
lagi ya." pinta Ustadz Faroq.
"Iya, tapi kamu tidak perlu berusaha terlalu keras. Aku takut jika mengecewakan kembali." jawab Rara sedikit ragu. Sebenarnya dihati Rara sudah mulai terasa percikan cinta dan hawa kecemburuan namun Rara belum menyadarinya.
"Aku akan menunggu sampai rasa itu datang,
terima kasih sudah mau memberiku kesempatan,"
jawab Ustadz Faroq senang.
"Allahu Akbar.. Allahu Akbar.." terdengar suara adzan subuh.
"Sekarang sudah adzan, yuk ambil air wudhu," ajak
Ustadz Faroq. Rara pun segera beranjak untuk berwudhu.
__ADS_1