Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 20 - Ustadz, I Hate You l Permintaan Ustadz Faroq l Novel Islami Romantis.


__ADS_3

"Tertawa, bermain dan


bercandalah dengan istrimu,


karena itu adalah sunnah."


"Mao.. meong.." suara Rara menirukan kucing.


"Pintar kamu Sapi, langsung ngerti pas aku panggil," ucap Rara sambil mengusap-usap bulunya.


"Sekarang kamu sudah harum gak bau lagi kayak


kemarin," seru Rara sambil mengambil handphone


miliknya dan membuat video untuk diunggah di


instagramnya.


"Sudah lama gak ngevlog," guman Rara. Rara pun


berencana aktif kembali diinstagram yang sudah


cukup lama tidak ditenguknya. Padahal followers


Rara sudah cukup banyak 176 ribu pengikut, karena Rara dahulu cukup rajin membagikan foto maupun video kesehariannya disana.


"Hai guys lama tak jumpa, ada yang kangen sama


Rara gak? Sekarang gak sendiri nih dirumah tapi


ada teman baru yang nemenin. Ada yang bisa


jawab gak siapa?" Rara pun membagikan video


singkatnya yang cuma berdurasi 25 detik.


Ternyata masih banyak yang suka dengan vlognya Rara, terbukti dari lumayan banyaknya yang berkomentar.


"Kangen Rara."


"Akhirnya Rara kembali. Welcome Ra."


"Wah.. sekarang Rara berkerudung ya? Tambah cantik."


"Sama suaminya ya di rumah? Spill dong suami kak Rara."


Baru sebentar Rara membagikan video di IG miliknya, ternyata sudah ada 364 like dan 43 komentar.


Rara pun kembali mengunggah videonya.


"Tara.. ternyata Rara bersama Sapi dong. Jangan


terkaget dan terbingung-bingung ya kenapa ini si anak kucing Rara namain Sapi, lihat aja warnanya kaya sapi kan. hehee." ucap Rara.


Rara pun kembali membagikan fotonya berdua


bersama Sapi.


"Kasian ya kamu Sapi, belum ada punya tempat tinggal sendiri. Nanti kita minta belikan sama Ustadz Faroq ya kandang untukmu," ucap Rara sendiri yang melihat Sapi sudah tertidur lelap disampingnya.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar disaat Rara lagi asyik bermain game sambil rebahan di sofa tamu.


Sengaja Rara intip dinding jendela depan yang


dekat pintu untuk mengetahui siapa yang datang,


karena ia takut kalau Reza akan datang kembali.


Ceklek!


"Ini benar rumah atas nama Muhammad Faroq


Al-Badali?" tanya seorang kurir.


"Iya benar itu nama suami saya. Ada apa ya mas?"


tanya Rara sambil melihat-lihat yang dibawa kurir.


"Ini mohon diterima mbak," ucap kurir tersebut.


Alangkah senangnya Rara ternyata yang datang adalah kandang kucing dan beberapa perabot keperluan si kucing.


* * * *


Sepulang dari pondok Al Munawarah, Ustadz Faroqsudah disambut Rara dengan riangnya sewaktu membuka pintu rumah.


"Makasih ya Ustadz, kok gak bilang kalau sudah beliin Sapi kandang?" tanya Rara langsung saking senangnya.


"Senang gak?" tanya Ustadz Faroq kembali.


"Senang bangett.. bangett!" jawab Rara ceria.


"Mulai deh, gak ah." ledek Rara menjulurkan lidahnya.


"Masih ingat gak janji yang kemarin, mau ngabulin satupermintaan apapun itu." ungkit Ustadz Faroq.


"Asal jangan minta yang macam-macam yah apalagi minta cium," sergah Rara.


"Ya terserah aku dong kan bebas," jawab Ustadz Faroq.


"Iyah," jawab Rara pasrah.


"Sekarang pejamin mata kamu," pinta Ustadz Faroq. Rara dengan posisi duduk di sofa dan berhadapan dengan Ustadz Faroq pun sudah pasrah jika Ustadz Faroq ingin menciumnya.


Melihat ekspresi Rara yang menutup mata, Ustadz


Faroq sengaja menahan tawa.


"Sudah belum nih?" tanya Rara yang sedari tadi


memejamkan mata.


"Sudah apanya Ra, sekarang buka matanya." pinta


Ustadz Faroq.


"Udah gitu doang?" tanya Rara bingung.


"Kamu ngiranya aku bakalan nyium kamu ya Ra?" tanya Ustadz Faroq tertawa.


"Gak lah. Geer!" jawab Rara yang terlihat salah tingkah.

__ADS_1


Ustadz Faroq pun memperlihatkan surat perjanjiannya yang dahulu sudah ia sepakati bersama Rara.


"Bisakah surat ini kamu robek saja Ra?" pinta Ustadz Faroq.


"Kita sudah hampir 5 bulan menikah, kamu juga sudah putuskan dengan Reza, dan mencoba memulai dari awal denganku." tatap Ustadz Faroq sambil memegang kedua pundak Rara.


"Sebagai langkah awalnya aku mohon, perjanjian kita pada secarik kertas ini kita batalkan ya." terlihat harapan besar terpancar dari mata Ustadz Faroq yang berbinar-binar menunggu jawaban.


Selama hampir lima bulan menikah Rara dan Ustadz Faroq belum pernah melakukan hubungan suami istri seperti pasangan lazim lainnya. Rara terdiam sesaat, dilihatnya kembali isi perjanjian tersebut, namun belum mampu untuk mengatakan setuju tapi juga tak tega untuk berkata tidak.


Rara sadar kalau selama ini Ustadz Faroq sangat baik dengannya. Ustadz Faroq juga yang sudah


membuatnya lebih mengenal agama mulai dari


menutup aurat dengan berkerudung, sampai sholat yang sekarang tanpa disuruh pun Rara akan


melaksanakan sendiri tanpa paksaan seperti dulu.


Tapi hati Rara masih belum siap, dan Rara juga merasa belum mampu menjadi istri yang baik untuk Ustadz Faroq, terlebih lagi memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Rara yang merasa sudah tidak suci lagi merasa tidak pantas untuk Ustadz Faroq.


"Maaf.. aku tidak bisa," jawab Rara ragu namun tetap terucap dari mulutnya.


"Aku harap kamu mengerti," lanjut Rara yang tidak


menjelaskan alasannya.


Ustadz Faroq yang terdiam mendengar jawaban Rara pun, mencoba menerima keputusan istrinya. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya walaupun sebenarnya merasa sedikit kecewa.


"Gak papa Ra, aku mengerti kok kalau kamu belum


siap. Maafin aku seharusnya aku tidak minta itu dari mu." ucap Ustadz Faroq yang bersikap terlihat biasa saja.


"Sebentar ya Ra," Ustadz Faroq yang terlihat


mengangkat telpon miliknya beranjak dari duduknya.


"Wa'alaikumussalam.. ada apa Ustadzah Mira?" jawab Ustadz Faroq.


Rara yang mendengar Ustadz Faroq menerima


panggilan dari Ustadzah Mira pun menjadi kepo ingin tahu apa yang mereka bicarakan.


"Siapa yang nelpon?" tanya Rara setelah pembicaraan Ustadz Faroq selesai.


"Oh, ini dari Ustadzah Mira." jawab Ustadz Faroq.


"Mau ngapain Ustadzah Mira nelpon?" tanya


Rara kepo.


"Gini Ra orang tua Ustadzah Mira itu sebenarnya sudah meninggal, jadi sekarang ia tinggal bersama Neneknya. Kemarin ada cerita lagi dekat sama cowok yang kebetulan teman aku namanya Farhan, tapi mereka belum pernah bertemu. Nah si Farhan ini katanya mau serius sama Ustadzah Mira dengan mendatangi rumahnya. Aku diminta mewakili Ustadzah Mira dan sebagai teman Farhan juga untuk ada disana pas pertemuan mereka berdua. Gimana menurut kamu Ra,


boleh?" jelas Ustadz Faroq bercerita sekaligus


meminta ijin.


"Ya gak gimana-gimana, terserah kamu saja. Aku gak pernah keberatan kalau kamu mau bertemu siapa pun itu, termasuk Ustadzah Mira." jawab Rara terlihat cuek, padahal ada gelitik hati Rara ingin mengatakan jangan pergi, karena perasaannya kurang enak tapi Rara urungkan karena merasa tidak berhak melarang Ustadz Faroq.


Ustadz Faroq yang mendengar jawaban santai Rara sedikit merasa kecewa namun tetap memahaminya.


"Terima kasih Ra," ucap Ustadz Faroq.

__ADS_1


__ADS_2