
"Wanita itu ibarat bunga,
mereka harus diperlakukan
dengan lembut, baik hati
dan dengan penuh kasih sayang.
(Ali bin Abi Thalib)
"Alhamdulillah kamu sudah bangun Ra," ucap
Ustadz Faroq sambil memegang jidad istrinya.
"Aku sudah masakin bubur, tunggu sebentar ya aku ambilin," ucap Ustadz Faroq lagi. Rara hanya
menggangguk kecil.
Ustadz Faroq pun mengambil bubur ayam yang sudah dibuatnya sendiri.
"Aku boleh suapin kamu Ra?" tanya Ustadz Faroq.
"Iya," angguk Rara pelan.
"Kamu sudah makan?" pertanyaan pertama Rara yang sederhana dan sangat alamiah bagi pasangan suami istri apalagi yang baru menikah. Namun bagi Ustadz Faroq ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa karena istrinya menanyakan padanya sesuatu yang belum pernah sebelumnya. Sebuah perhatian kecil dari istrinya yang selama ini ia tunggu-tunggu. Mata Ustadz Faroq
pun berbinar-binar saking senangnya.
"Ak.. Aku gam.. gampang kok.. yang penting kamu
dulu yang makan," jawab Ustadz Faroq terbata-bata karena gugup.
"Aku maunya kita makan sama-sama ya?" tanya Rara dengan memandang wajah suaminya.
"Iya sayang." jawab Ustadz Faroq refleks karena
perasaan senangnya. Namun ia baru ingat kalau Rara tidak suka dipanggil sayang olehnya.
"Ma.. Maaf," ucap Ustadz Faroq.
Namun Rara sama sekali tidak marah. Rara malah
tersenyum sambil tersipu karena dipanggil sayang. Ustadz Faroq sangat senang karena sekarang Rara sudah tidak demam lagi, Rara juga sepertinya sudah mulai menerima Ustadz Faroq karena sudah mau makan disuapin, bahkan ketika dipanggil sayang pun Rara tidak marah.
"Terima kasih banyak ya Allah.. Allah Maha Besar,"
ucap Ustadz Faroq dalam hati.
"Habis makan kamu mau ngajar ya di pondok?" tanya Rara.
"Awalnya hari ini sudah masuk kerja namun aku gak tega ninggalin kamu yang lagi sakit sendirian di rumah jadi aku ijin lagi hari ini," jawab Ustadz Faroq yang membuat Rara merasa senang mendengar perkataannya.
"Benarkah? apa tidak apa-apa?" tanya Rara.
"Gak papa kok, sekarang lanjut minum obat dulu ya," pinta Ustadz Faroq yang langsung dituruti Rara.
"Tapi hari ini aku ingin kita ke mall." ucap Rara.
"Tapi kamu masih harus banyak istirahat, tubuh kamu masih lemah. Memangnya kamu ingin beli apa nanti aku saja yang belikan?" jawab Ustadz Faroq yang masih khawatir.
"Aku sudah baikkan kok, aku cuma ingin pergi ke pasar buat beli keperluan dapur. Ajarin aku masak ya soalnya aku tidak pernah masak sebelumnya,"pinta Rara.
Kembali mata Ustadz Faroq berbinar-binar seperti
menahan tangis. Tangis kebahagiaan.
Ustadz Faroq sangat senang akan perubahan sifat istrinya.
__ADS_1
"Sekarang aku mau ganti baju dulu ya." ucap Rara.
Ustadz Faroq pun segera meninggalkan kamar.
Sebelum ganti baju Rara baru ingat untuk mengambil handphone miliknya, namun ternyata handphone miliknya mati karena kehabisan baterai.
* * * *
"Aku mau bikin capcay, apa saja ya sayurnya?" tanya Rara.
"Kembang kol, sawi, wortel, buncis, bisa juga kalau mau ditambah jagung," jawab Ustadz Faroq sambil memegang trolly belanja.
Rara pun mengambil sayuran yang disebutkan
Ustadz Faroq. Rara juga mengambil udang, ikan
tongkol dan ayam.
"Untuk bumbu yang lainnya kamu saja ya yang
pilih soalnya aku kurang faham," ucap Rara.
"Siapp ratuku," jawab Ustadz Faroq sambil
memberi hormat yang membuat Rara tersenyum.
"Cecak.. cecak apa yang bisa bikin mati?" tanya Ustadz Faroq tiba-tiba.
"Emm.. gak tau!" jawab Rara sambil berfikir.
"Cecak nafas bila melihat senyum manismu,huhu" ucap Ustadz Faroq spontan sambil malu-malu.
"Wah.. parah.. ternyata bisa gombal juga ya..
ahaha." tawa lepas Rara pun akhirnya terdengar.
Kali pertama Ustadz Faroq bercanda dan memberikan gombalan untuk istrinya. Kali pertama Rara merespon baik tanpa marah sedikitpun bahkan membuatnya tertawa lepas. Bahkan lupa kalau sekarang berada di mall. Hampir semua yang ada disana melihat mereka berdua.
tertawa cukup nyaring.
"Kakak berdua pacaran ya?" tanya anak kecil
perempuan polos yang berusia kira-kira 6 tahun.
"Pacaran itu tidak boleh dalam islam, kami sudah
menikah sudah halal, cantikkan istri kakak?" jawab
Ustadz Faroq sembari bertanya pelan sambil berjongkok.
"Cantik banget," jawabnya mengacungkan dua jempol. Rara yang mendengar pun kembali tersenyum.
"Mamah sama Papah kamu dimana? kenapa sendirian?" tanya Rara sambil melihat sekeliling.
"Mamah tuh," jawab anak kecil sambil
menunjuk Mamahnya yang lagi bayar dikasir.
"Anya ayo pulang nak," panggil Mamahnya.
"Iya Mah.." jawabnya sambil melambaikan tangan
kepada Ustadz Faroq dan Rara.
"Gemes banget anak kecil tadi ya, lucu juga
bisa-bisanya ngira kita lagi pacaran? anak kecil
__ADS_1
sekarang sudah tau aja istilah pacaran." gumam Rara.
"Iya.. gemes dan lucu.. mungkin nanti kalau kita punyaanak juga akan segemes itu," jawab Ustadz Faroq dalam hati. Jawaban yang tidak bisa diungkapkan takut Rara akan marah.
"Lah.. ditanya malah diam. Mikirin apa sih? yuk kita bayar saja." ucap Rara cemberut karena dicuekkin.
"Maaf ya Ra." jawab Ustadz Faroq sambil
mengeluarkan uang untuk membayar belanjaan.
"Baju panjang jubah kamu kan masih sedikit,
sekarang kita beli baju kamu ya biar bisa kamu
pilih sendiri," ucap Ustadz Faroq.
"Emmm.. oke," jawab Rara.
Rara pun memilih beberapa lembar baju sesuai model dan warna kesukaannya. Ustadz Faroq pun segera membayar belanjaannya.
"Kamu biasanya belanja di mall atau pasar biasa saja?" tanya Rara karena ia tau harga baju yang dipilihnya barusan semuanya barang mahal.
"InsyaAllah uang aku masih cukup untukmu belanja, karena membahagiakan istri juga akan melancarkan rezeki suami," jawab Ustadz Faroq tersenyum.
"Ih gombal lagi.. Ustadz kok pintar ngegombal ya!"
jawab Rara memasang wajah tajam memandang
Ustadz Faroq.
"Kalau ini tidak gombal, ini nyata adanya seperti
baginda Rasulullah yang selalu memuliakan dan
membahagiakan istrinya." jawab Ustadz Faroq.
"Iya.. iya.. percaya kok.. per..caya sekali," ucap Rara karena tidak mau nanti Ustadz Faroq mengeluarkan hadits-hadits andalannya.
"Ada yang mau dibeli lagi?" tanya Ustadz Faroq.
"Sudah cukup, yuk kita pulang. Ajarin aku masak ya!" jawab Rara.
"Siiapp.. ratuku," jawab Ustadz Faroq yang terlihat
sangat senang hari ini.
* * * *
Ustadz Faroq dan Rara pun ke dapur memasak bersama. Walau Rara hanya bisa membantu yang ia bisa namun Rara sangat memperhatikan detail yang dilakukan Ustadz Faroq dalam memasak. Masakan Ayam masak kecap dan capcay dilakukan berdua sepertipasangan penganten baru yang terlihat bahagia.
Terlebih bagi Ustadz Faroq yang didalam hatinya
selalu mengucap syukur dan alhamdulillah yang
tak hentinya.
"Alhamdulillah sudah selesai, sebentar lagi adzan
zuhur aku mau mandi dulu kita shalat bersama ya," Ucap Ustadz Faroq.
Ustadz Faroq pun menjadi imam bagi Rara. Rara
yang biasanya shalat dengan terpaksa kali ini sama sekali dilakukannya atas dasar keinginannya sendiri.
"Bolehkah kita bersalaman?" ucap Ustadz Faroq
memberanikan diri selesai shalat.
__ADS_1
Rara pun segera menyambut dan menyalami tangan Ustadz Faroq. Tak sampai disitu Rara juga mencium tangan suaminya seperti istri sholehah.
Air matapun mengalir deras dipipi Ustadz Faroq. Segera tangan istrinya pun dicium balik dengan cukup lama sambil memanjatkan doa untuk istrinya. Rara hanya terdiam tak ia sangka Ustadz Faroq sampai menangis.