Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 18 - Ustadz, I Hate You l Amukan Reza l Novel Islami Romantis.


__ADS_3

"Cinta tumbuh bukan karena


menemukan orang yang sempurna,


melainkan kemampuan menerima


kelemahan-kelemahan orang


itu secara sempurna."


(Kahlil Gibran)


"Kamu sudah masuk ngajar lagi?" sapa Ustadzah Mira.


"Oh.. iya. Sudah baik kok jadi gak ada alasan untuk


libur," jawab Ustadz Faroq santai.


"Oh iya ada yang mau saya tanyakan, kamu kenal


dengan Farhan gak? katanya seangkatan sama kamu waktu di Pesantren Martapura," tanya Ustadzah Mira.


"Muhammad Farhan atau Farhan Ibrahim nih?"


tanya Ustadz Faroq kembali karena ada dua


temannya yang bernama Farhan.


"Farhan Ibrahim deh kalo gak salah," jawab Ustadzah Mira.


"Oh kenal.. dia teman dekat aku waktu kami


sama-sama mondok dahulu tapi sekarang sudah lama gak pernah kontek-kontekkan lagi. Kenapa


memangnya?" tanya Ustadz Faroq.


"Sebenarnya sekarang lagi dekat secara virtual saja sama dia, katanya dapat nomer aku dari temannya. Kami belum pernah ketemu tapi katanya mau serius dan maudatang ke rumah," jawab Ustadzah Mira yang didengarkan serius oleh Ustadz Faroq.


"Waktu aku bilang ngajar disini dia langsung tanya


kamu, makanya aku tau dia temenan sama kamu."


jelas Ustadzah Mira.


"Yang aku tau dia orangnya baik kok, sholatnya


juga rajin. Cocoklah kalau sama Ustadzah Mira."


jelas Ustadz Faroq.


"Kalau kamu tidak keberatan boleh gak bantuin


aku?" tanya Ustadzah Mira.


Bel tanda masuk kelas pun berbunyi.


"Nanti kita bicara lagi ya sekarang mau masuk dulu, kebetulan hari ini ada ulangan," jawab Ustadz


Faroq sambil bersiap masuk kelas.


* * * *


"Assalamu'alaikum.. " ucap Ustadz Faroq memasuki kelas.


"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi


wabarrakatuh." jawab santriwati kompak sambil berdiri.


"Masih ingatkan janji ustadz minggu kemarin,


kalau kita hari ini akan ulangan." ucap Ustadz Faroq.


"Kirain gak jadi Ustadz," jawab seorang santriwati


bercanda.

__ADS_1


"Jadi dong. Sekarang tutup bukunya silahkan simpan didalam tas." perintah Ustadz Faroq. Segera Ustadz Faroq membagikan lembar ulangan.


Suasana kelas pun menjadi tenang. Ustadz Faroq yang merasa getaran handphone didalam saku celana pun segera mengambil dan ternyata panggilan dari nomor baru yang tidak dikenal.


"Assalamu'alaikum.. ini siapa ya?" tanya Ustadz Faroq mengangangkat telpon sambil berjalan keluar kelas.


"Hai.. Saya Indah, boleh kita kenalan?" jawab


seorang perempuan.


"Hemm.. Rara kan. kamu ngerjain aku ya?" jawab


Ustadz Faroq sambil berbisik.


"Kok Ustadz tau sih, padahal suara Rara sudah


dirubah nada bicaranya." jawab Rara yang gagal


untuk ngerjain suaminya.


"Ya taulah kamu kan istriku," jawab Ustadz Faroq


tersenyum.


"Kenapa nelpon pakai nomor baru?" tanya Ustadz


Faroq.


"Emmm.. gak papa. Maaf ya kalau ganggu, kamu


lagi ngajarkan?" tanya Rara.


"Sebenarnya kamu gak pernah ganggu sama sekali, cuma kebetulan sekarang lagi jaga ulangan," ucap Ustadz Faroq pelan.


"Maaf ya ganggu, abisnya cuma diam di rumah saja jadi bosan," jawab Rara yang tau suaminya lagi ngajar.


"Jangan minta maaf lagi Ra, kamu gak pernah ganggu. Kebetulan hari ini jam ngajar cuma sampai tengah hari, nanti aku pulang cepat ya. Mau makan siang diluar Ra?" tanya Ustadz Faroq.


"Mau banget.. aku tunggu ya. Assalamu'alaikum." ucap Rara.


"Wa'alaikumussalam.." jawab Ustadz Faroq sembari memutus sambungan telpon.


baju berwarna hijau sage dengan motif printing


bunga, dipadu dengan kerudung yang selaras.


Bercermin sambil bersenandung sholawat busyro yang sering dilantunkan Ustadz Faroq, membuat Rara yang sering mendengarnya pun menjadi suka.


Dengan polesan make up cukup minimalis saja


ditambah lipstik berwarna nude membuat Rara terlihat cantik dan anggun. Terakhir tidak lupa semprotan parfum kesukaan Rara.


Selesai dandan Rara kembali membuka laci lemari


tempatnya menyimpan cincin kawin. Terdiam sebentar namun segera Rara mengambil dan memakai dijari manisnya.


Terdengar suara ketokan pintu. Rara pun tersenyum buru-buru segera membuka pintu karena tahu yang datang adalah suaminya.


"Kamu sudah dat..." alangkah terkejutnya Rara


ternyata yang datang bukan suaminya melainkan Reza.


"Sepertinya kamu lagi menunggu seseorang yang mau datang yang jelas bukan aku, terlihat dari wajahmu Ra seperti tidak senang aku datang," sindir Reza.


"Ngapain kamu datang kesini?" tanya Rara yang tidak suka melihat kedatangan Reza. Reza pun langsung masuk ke rumah tanpa permisi.


"Kenapa nomor kamu sudah tidak aktif Ra? Sengaja mau jauhin aku, hebat kamu ya Ra." ucap Reza sambil bertepuk tangan dengan wajahnya yang memerah karena marah.


"Aku mau putus! hubungan kita sudah berakhir


semenjak kejadian itu." jawab Rara tegas.


"Woow.. putus! itu hanya alasan kamu saja kan karena sebenarnya kamu sudah jatuh cinta dengan Ustadz itu!" jawab Reza geram.


"Ini tidak ada hubungannya dengan dia, andai

__ADS_1


kamu percaya dan sedikit lagi bersabar tanpa


merenggut kehormatanku, semua ini tidak akan


terjadi," kesal Rara.


"Pembohong kamu Ra! Buktinya kamu sudah


memakai cincin kawinmu! Wangi sampai dandan


cantik menunggu dia pulangkan? Selamat ya


Ra kamu berhasil menghancurkan hidupku." Reza


pun membanting vas bunga yang ada diatas meja.


"Auu.." ternyata serpihan vas yang pecah mengenai kaki Rara hingga berdarah. Rara pun ketakutan melihat Reza yang sangat marah.


"Dasar pembohong! pembohong kamu Ra!" amuk Reza tanpa memperdulikan Rara yang menangis.


"Mana janji kamu mau cerai dengannya! mana janji kamu tidak pernah meninggalkan ku. Penyesalan terbesarku percaya akan semua janji palsu mu sebelum menikah dengannya." Reza pun menangis, beberapakali memukul tangannya kedinding hingga berdarah.


"Maafin aku Za.. Maafkan aku." ucap Rara yang merasa bersalah melihat Reza sengaja melukai tangannya.


"Pokoknya tidak akan pernah ada kata putus untuk kita. Kamu dan aku selamanya bersama seperti janji kita." Reza pun pergi meninggalkan rumah.


Tidak lama setelah kepergian Reza Ustadz Faroq datang.


"Assalamu'alaikum.. Maaf ya Ra tadi sholat dulu


makanya.." ucapan Ustadz Faroq pun terhenti ketika melihat Rara yang menangis disamping kursi tamu.


Ustadz Faroq pun segera memeluk Rara.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Ustadz Faroq. Rara terus menangis dan belum mampu berkata apa-apa.


"Kakimu terluka Ra, kita ke kamar dulu ya biar aku


obatin," Ustadz Faroq pun menggangkat Rara menuju kamar.


"Kalau perih tahan dikit ya Ra," ucap Ustadz Faroq


sambil meneteskan betadin keluka Rara.


"Maafin aku ya Ra, andai aku lebih cepat datangnya kamu tidak akan begini," ucap Ustadz Faroq yang merasa bersalah karena terlambat.


"Apa Reza Ra yang membuat mu seperti ini?" tanya Ustadz Faroq.


"Iya. Dia marah karena tau aku ganti nomor baru tanpa memberi tahunya." jawab Rara.


"Tapi dia pengecut sebagai laki-laki karena telah


membuatmu begini Ra," jawab Ustadz Faroq yang


terlihat marah.


"Kamu jangan marah dengan Reza. Tadi aku mutusin dia sehingga membuatnya begitu marah." jelas Rara.


Mendengar Rara memutuskan hubungannya


dengan Reza membuat perasaan Ustadz Faroq


sedikit tenang, tapi juga sadar kalau alasan Rara


putus bukan karena Rara mencintainya namun


hanya karena Rara marah dengan kejadian itu.


"Kamu rebahan dulu, sebentar aku mau beresin


pecahan vas bunga dulu ya." ucap Ustadz Faroq.


"Aku sudah selesai, mau kita lanjutin makan diluarnya atau aku beli saja?" tanya Ustadz Faroq sehabis menyapu pecahan vas bunga.


"Maaf ya, sekarang aku lagi malas keluar. Kalau mau bisa beli saja," jawab Rara yang terlihat kurang semangat, beda dengan sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa Ra?" tanya Ustadz Faroq.


"Terserah saja, sama kan sama seperti punya kamu." jawab Rara sambil membolak-balikkan handphone miliknya, seolah ada yang mengganggu fikirannya.


__ADS_2