Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 13 - Ustadz, I Hate You l Tidak Suci Lagi l Novel Islami Romantis


__ADS_3

"Tujuan dalam pernikahan


bukan untuk berfikir sama,


tetapi untuk berfikir bersama."


Pagi telah menyapa, datang dengan embusan angin yang menyejukkan. Tidak hanya itu, rintik hujan juga mulai turun di pagi hari.


Rara yang sudah mulai terbangun membuka mata


pelan dengan kepala yang masih terasa pusing. Cuaca pun seketika berubah menjadi sangat dingin. Rintik hujan sudah berubah menjadi butiran air hujan yang lebat sekali.


Sayup-sayup Rara seperti melihat Reza tidur


disampingnya. Rara kira hanya bermimpi, namun


segera tersadar kalau ia tidak lagi sedang bermimpi.


Rara pun langsung bangun namun terkejut karena ia tidakmengenakan pakaian dan hanya ditutup dengan selimut.


Bajunya yang berserakkan dilantai pun langsung


dipungut dan dipakainya kembali dengan badan


gemetar.


Reza yang masih tertidur dan tidak memakai baju pun segera dibangunkan oleh Rara.


"Za! cepat bangun!" ucap Rara yang masih bingung kenapa dia bisa tidur berdua dengan Reza.


"Ada apa sayang? Kamu sudah bangun?" jawab Reza dengan senyuman.


"Kita dimana? Kenapa kita bisa tidur berdua Za?


Kenapa ketika bangun aku tidak memakai baju Za?" cecar Rara dengan banyak pertanyaan.


"Sabar sayang.. Kamu duduk dulu ya biar aku jelasin pelan-pelan," jawab Reza tenang.


Rara pun menuruti perkataan Reza sambil


mengingat-ingat kejadian kemarin. Rara ingat kalau kemarin sempat berantem dengan Reza namun selanjutnya Rara sudah tidak ingat apa-apa lagi.


"Kemarin setelah kita sempat berantem sebentar kamu ketiduran Ra. Jadi aku bawa saja ke hotel milik Papah ku," jelas Reza.


"Terus kenapa aku tidur tidak memakai baju Za?" tanya Rara yang sangat penasaran.


"Kamu tidak ingat ya sayang." jawab Reza sambil


mengelus rambut Rara.


"Ingat apa Za? Jawab yang benar dong!" ucap Rara yang sudah mulai tidak sabar.


"Saat aku meminta bukti cinta mu dengan kita


berhubungan badan akhirnya kamu setuju Ra jadi ya begitulah kita malam tadi," jawab Reza tersenyum.


"Kamu bohong kan Za? Kenapa aku tidak ingat


apa-apa?" jawab Rara yang tidak percaya perkataan Reza.


"Sekarang aku ingat setelah minum, minuman yang sudah kamu pesan, aku mulai ngantuk berat dan akhirnya tertidur," ucap Rara.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu sengaja naruh obat tidur


diminuman ku ya Za," sambung Rara menatap Reza penuh curiga.


"Iya aku sengaja menaruh obat tidur diminuman mu Ra," jawab Reza yang sudah tidak bisa mengelak lagi.


"Kenapa kamu tega Za?" tanya Rara yang tidak percaya.


"Biar kita bisa tidur berdua!" jawab Reza.


"Plaakk..!!" sebuah tamparan kedua untuk Reza.


Tamparan kedua yang sangat keras.


"Jahat kamu Za!" isak tangis Rara pun pecah. Ia tidak menyangka kalau Reza tega melakukan itu padanya. Keperawanan yang selama ini ia jaga ternyata pupus sudah. Meskipun Rara sangat mencintai Reza namun ia tidak mau menyerahkan kesuciannya selain untuk suami sahnya.


"Katanya kamu ingin secepatnya meninggalkan suami mu itu agar kita bisa bersama, sekarang aku bantu kamu. Kenapa kamu marah?" tanya Reza.


"Tapi tidak begini caranya Za!" jawab Rara sambil


menyeka air matanya.


"Kenapa kamu tidak sedikit lagi saja bersabar," lanjutnya.


"Lalu cara yang bagaimana Ra? Sabar menunggu


sampai kamu benar-benar jatuh cinta dengannya?"


bantah Reza.


"Sepertinya prinsip hidup kita sudah berbeda Za! Aku benci kamu!!" Rara pun pergi meninggalkan Reza.


"Diluar hujan lebat, aku akan ambil mobil tunggu


"Aku tidak mau, lepaskan aku!" teriak Rara sambil


menangis. Rara pun berlari menjauh meninggalkan Reza. Reza pun hanya terdiam tidak menyangka Rara akan semarah itu.


Rara pun memanggil taksi. Disepanjang perjalanan hanyalah isak tangis yang terdengar. Sesekali sopir taksi memperhatikan di cermin depan yang menghadap kebelakang. Rara yang menyadarinya pun segera mengambil kerudung didalam tasnya yang kemarin dilepasnya untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Masuk di Perumahan Cempaka 2 lalu belok kanan," ucap Rara.


"Iya neng," jawab sopir taksi.


"Stop pak!" Rara pun segera membayar dan keluar.


Sampai didepan rumah Ustadz Faroq Rara tidak segera masuk ke rumah. Rara sengaja duduk dengan lemasnya dibawah hujan yang sangat deras. Tangisnya pun menyatu dengan hujan yang turun.


Ustadz Faroq yang baru datang karena berkeliling


mencari Rara pun segera keluar dari mobil.


"Kenapa hujan-hujanan nanti kamu sakit Ra," segera Ustadz Faroq mengangkat Rara masuk ke dalam kamar.


"Ini handuk dan baju mu Ra cepat ganti baju kamu


sudah menggigil kedinginan" ucap Ustadz Faroq.


Rara pun segera masuk ke kamar mandi. Namun


bukannya segera ganti baju Rara kembali membuka kran air dan mengambil sabun. Disabun dengan keras seluruh bagian tubuhnya dengan diulang-ulang.

__ADS_1


"Aku sudah kotor!"


"Aku sudah tidak suci lagi!" gumam Rara berulang-ulang sambil menggosok seluruh badannya dengan sabun.


Sudah setengah jam lebih Rara di kamar mandi. Ustadz Faroq yang menunggu dari tadi pun khawatir. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya.


Ketika Ustadz Faroq ingin mengetuk pintu kamar


mandi, Rara pun membuka pintu.


"Emmm.. sudah selesai mandinya?" tanya Ustadz Faroq mencairkan suasana.


Rara hanya mengangguk pelan.


"Ini minum dulu teh hangat," Ustadz Faroq menyedorkan secangkir teh hangat untuk Rara.


"Sekarang makan dulu ya Ra, pagi tadi sehabis sholat subuh aku masak nasi sop tapi sudah aku hangatin lagi, aku bawain ke kamar ya?" Ustadz Faroq pun segera berdiri dari tempat tidur.


"Biar kita sama-sama makan dimeja luar saja," ucap Rara sembari berdiri.


"Bismillahirrahmanirrahim," (lanjut doa sebelum makan)


"Sekarang yuk kita makan," ucap Ustadz Faroq.


"Kenapa belum dimakan Ra? Kamu tidak suka ya?"


tanya Ustadz Faroq.


Rara hanya diam menahan air mata agar tidak jatuh.


"Biar aku suapin ya?" ucap Ustadz Faroq.


"Aaaa..," Rara pun membuka mulut dan mengunyah pelan. Tiba-tiba air mata pun jatuh lagi dipipi Rara. Wajah yang pucat dan mata yang bengkak karena menangis terus. Segera Ustadz Faroq mengambil tisu dan membersihkan pipi Rara yang basah.


"Kalau kamu nangis nanti kuah sopnya jadi tambah banyak Ra," canda Ustadz Faroq sambil tersenyum.


"Kenapa kamu tidak bertanya?" Rara bingung kenapa tidak ada satupun pertanyaan dari Ustadz Faroq.


"Aku gak mau membuatmu menangis lagi Ra," jawaban singkat namun penuh arti bagi Rara.


"Kalau kamu nanti sudah siap mau cerita aku akan


bersedia mendengarkan," ucap Ustadz Faroq.


"Sehabis makan kamu istirahat ya," ucap Ustadz Faroq yang sudah selesai menyuapi Rara.


Ustadz Faroq pun mengantarkan Rara ke kamar.


"Kalau boleh ijin, apa aku boleh pergi ke pesantren Ra? Sudah seminggu aku tidak masuk kerja, tidak enak dengan teman disana," ucap Ustadz Faroq meminta ijin dengan istrinya.


"Iya pergi saja, tidak perlu meminta ijin karena itu


memang pekerjaanmu. Maaf aku yang selalu


merepotkanmu," jawab Rara.


"Sudah seharusnya aku ijin dulu karena kamu istriku Ra. Dan aku sekalipun tidak pernah merasa direpotkan, aku sebagai seorang suami lebih senang kalau aku dapat diandalkan istrinya," terang Ustadz Faroq.


Lagi-lagi Rara merasa tersentuh dengan penjelasan Ustadz Faroq.


"Sekarang kamu tidur, aku berangkat dulu ya. Aku janji akan pulang secepatnya," ucap Ustadz Faroq.

__ADS_1


"Janji jangan menangis lagi, nanti cantiknya luntur," kembali Ustadz Faroq memberikan candaan yang membuat Rara akhirnya tersenyum.


"Nah kan cantik istriku kalau tersenyum." Ustadz Faroq pun mengulurkan tangan untuk bersalaman sebelum pergi yang disambut Rara dengan mencium tangan suaminya.


__ADS_2