
"Adalah suatu kewajiban suami
untuk berpendidikan agama
yang baik dan memastikan
bahwa istrinya juga menerima
pendidikan agama dengan baik."
(Dr. Bilal Philips)
Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian kemarin Rara tidak pernah menjawab panggilan dari Reza lagi. Chat whatsapp dari Reza pun tak pernah dibuka apalagi dibalas. Rara benar-benar merasa kecewa dengan perbuatan Reza padanya.
Jantung Rara berdetak tidak karuan, nafasnya bagaikan orang yang lagi dikejar-kejar oleh binatang buas, tidak hanya itu keringat panas dingin juga bercucuran membasahi baju tidur yang dipakai Rara.
"Tidak! Aku masih suci!" ucap Rara namun matanya masih setia terpejam. Ustadz Faroq yang sudah terbangun dari tadi karena sholat tahajud pun, mencoba untuk membangunkan istrinya. Dapat terlihat kalau Rara lagi-lagi mengigau bermimpi buruk.
"Aku benci kamu Za!" teriak Rara dan langsung
membuatnya terbangun. Air mata pun membasahi pipi Rara kembali.
"Tenang ya Ra.. aku ada disini," ucap Ustadz Faroq
menenangkan istrinya yang lagi-lagi bermimpi buruk.
Rara langsung memeluk Ustadz Faroq sambil nangis tersedu-sedu. Ustadz Faroq pun hanya diam membiarkan Rara menangis dibahunya meluapkan emosi, sambil mengusap
rambutnya dengan lembut agar menjadi lebih tenang.
Setelah terlihat tenang, Ustadz Faroq pun
mengambilkan air putih untuk Rara.
"Sekarang minum dulu ya Ra."
"Ini sudah yang keempat kalinya kamu mimpi buruk dan menangis ketika terbangun Ra. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ustadz Faroq memberanikan diri.
Rara hanya terdiam tanpa menjawab.
"Maafin aku ya Ra, tidak seharusnya aku menanyakan ini. Kalau kamu masih belum mau cerita aku tidak akan memaksamu Ra." ucap Ustadz Faroq yang merasa bersalah dengan pertanyaannya.
"Kamu tidak salah kok bertanya, cuma aku masih
belum siap untuk menceritakan semuanya," jawab Rara.
"Iya Ra."
"Sekarang karena kamu sudah bangun agar lebih tenang kamu sholat tahajud dulu yah, jam 4 subuh masih sempat kok sebelum subuh tiba." pinta Ustadz Faroq yang diiyakan oleh istrinya.
* * * *
Sementara itu Reza yang berfikir hubungannya
semakin jauh dengan Rara, merasa harus membuat rencana kedua untuk memisahkan Rara dengan Ustadz Faroq.
"Gak bisa! Rara harus menjadi milikku!" gumam Reza yang sedang mondar mandir di kantor.
Tok tok tok (suara pintu).
"Masuk!" kata Reza mempersilahkan Sekrektarisnya masuk.
"Satu jam lagi kita ada rapat pak dengan PT. Sentosa," ucap Sekretaris Reza.
"Tunda saja, sekarang ada yang mau gue urus dulu," jawab Reza.
"Tapi Pak ini proyek penting," ucap Sekretaris
__ADS_1
mengingatkan.
"Gue bilang tunda ya tunda! Loe tidak dengar?" jawab Reza marah.
"Iya Pak, saya akan menundanya seperti yang Bapak suruh," Sekretarisnya pun ijin keluar.
Sejak hubungan Reza dengan Rara menjadi renggang, pekerjaan Reza pun menjadi kurang fokus. Seringkali pas meeting dengan clien Reza melamun bahkan tidak mendengar ketika diajak bicara, sehingga ada beberapa perusahaan lain yang membatalkan untuk bekerjasa dengannya.
* * * *
"Teng neng.. Seluruh pelajaran hari ini telah
selesai. Sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru." bunyi bel tanda pulang sekolah pun terdengar.
"Alhamdulilah.. Selesai sudah pembelajaran kita hari ini. Tapi ingat ya karena sebentar lagi kita ulangan jangan lupa belajar di rumah!" seru Ustadz Faroq kepada kelas II MTs Puteri sebelum keluar kelas.
"Iya Ustadz.." jawab Santriwatinya.
Ustadz Faroq pun masih sibuk membereskan buku sebelum keluar. Tiba-tiba bunyi handphone
berbunyi pertanda ada chat whatsapp baru masuk. Ternyata dari Reza.
["Temui gue sekarang juga di Cafe Pelangi, penting! Tentang Rara."] isi chat dari Reza.
Ustadz Faroq pun berfikir sejenak, ia masih ragu apakah harus menemui Reza atau tidak. Namun karena ini tentang Rara istrinya membuat Ustadz Faroq pun beranjak dari tempat duduknya menuju cafe tersebut.
Ketika Ustadz Faroq tiba di tempat tujuan yang
sudah ditunggu Reza terlebih dahulu, tanpa basa
basi Reza langsung berkata, "Tolong ceraikan Rara!"
"Emmm.. Maaf maksudnya apa ya? jika ini maksud kamu mengundang ku datang mohon maaf lebih baik aku pulang." jawab Ustadz Faroq tegas.
"Silahkan loe lihat isi dalam amplop tersebut," Reza pun menyodorkan amplop coklat kedepan Ustadz Faroq.
Segera Ustadz Faroq pun membuka dan alangkah
"Astagfirullahaladzim," kata istigfar pertanda alangkah terkejutnya Ustadz Faroq setelah melihat foto-foto tersebut. Namun dibalik hatinya yang sudah bercampur emosi Ustadz Faroq masih berfikir positif, mungkin ini adalah foto masa lalu sebelum dia dan Rara menikah.
"Mungkin saja ini foto lama. Aku tidak peduli dengan masa lalu kalian!" ucap Ustadz Faroq.
"Ini foto setelah kalian menikah setelah 1 minggu, kalau tidak percaya silahkan tanya sendiri dengan Rara!" jawab Reza.
Ustadz Faroq pun terdiam menahan marah. Seketika ia menggenggam tangannya dengan keras sambil bergemetar. Matanya pun melotot kebawah, Ingin rasanya iya memukul Reza dengan kepalan tangannya, namun Ustadz Faroq selalu mengucap istigfar dalam hatinya.
Reza pun menyunggingkan senyuman puas,
"Kali ini rencanaku pasti akan berhasil," gumam
Reza dalam hati.
"Gue sudah selesai minum, silahkan kalau loe mau
minum pesan sendiri," ucap Reza yang berdiri dari
kursinya.
"Sekarang lo fikirin lagi deh, masih mau
mempertahankan Rara yang jelas-jelas cinta dan tidur dengan gue! Hahahaa!!" gelak tawa Reza puas, segera ia pun cabut dan meninggalkan Ustadz Faroq.
Ustadz Faroq yang dengan perasaan emosinya pun masih terdiam dengan seluruh badan gemetar
sampai menitikkan air mata.
Ustadz Faroq pun segera keluar dengan memegang semua foto yang sudah ia masukkan kedalam amplop.
__ADS_1
Didalam mobil ditengah perjalanan menuju pulang. Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam fikiran Ustadz Faroq.
"Ternyata kamu masih sangat mencintai Reza mantanmu Ra,"
"Kenapa kamu harus tidur dengannya Ra setelah kita menikah," gumam Ustadz Faroq disepanjang perjalanan, pertanyaan yang akan ia tanyakan dengan Rara nanti.
Sesampainya didepan rumah ternyata sudah disambut Rara dengan senyuman manis. Amplop yang ditangan Ustadz Faroq tadi pun segera diumpetin dibelakang melihat istrinya tersenyum. Niatnya untuk langsung bertanya pun diurungkan sebentar.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,"
Ucap Rara sambil mengulurkan tangan kemudian
mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,"
jawab Ustadz Faroq.
"Aku sudah menunggu mu dari tadi, hari ini kamu telat hampir setengah jam loh dari biasanya," ucap Rara sedikit manja.
"Benarkah?" jawab Ustadz Faroq balik.
"Udah cuma gitu saja jawabnya, gak ada permintaan maaf gituh," canda Rara. Namun Ustadz Faroq sekarang sedang tidak ingin bercanda.
"Maaf Ra aku lagi kurang enak badan, aku mau
istirahat dulu." jawab Ustadz Faroq datar.
"Tapi aku sudah masak buat kamu, apa tidak ingin
makan dulu?" tanya Rara kembali.
"Aku sudah makan Ra." Ustadz Faroq pun segera masuk kamar dan menutup pintu.
Sebenarnya Ustadz Faroq belum makan, namun rasa emosinya jauh lebih besar dari rasa laparnya sehingga mau makan pun menjadi tidak selera.
Rara yang menunggu suaminya pulang untuk makan bersama pun menjadi terdiam sendiri di meja makan. Sengaja Rara belajar masak kesukaan suaminya dengan melihat diyoutube. Rara juga sengaja menunggu diteras rumah sebelum suaminya pulang.
Karena Ustadz Faroq selalu baik, Rara pun merasa
harus berterima kasih dengan cara memasak masakan kesukaannya. Namun tidak biasanya Ustadz Faroq sudah makan diluar karena biasanya selalu menunggu Rara untuk makan bersama.
Rara pun terdiam dan berfikir apa dia ada buat salah. Kenapa suaminya langsung masuk kamar dan menutup pintu kamar karena biasanya pintu kamar dibiarkan saja terbuka. Namun fikiran macam-macam Rara pun segera ditepis, mungkin karena suaminya lagi tidak enak badan lamunnya.
Tok tok tok (suara pintu)
"Apa Ustadz sudah minum obat?" tanya Rara.
"Iya sudah." jawab Ustadz Faroq datar.
"Apa Ustadz mau aku pijitin?" tanya Rara kembali.
"Kenapa kamu selalu memanggil ku Ustadz Ra? Aku kan suami mu. Kamu bisa lebih santai saja memanggilku!" tanya Ustadz Faroq balik. Rara pun terkejut mendengar Ustadz Faroq berkata begitu.
"Lalu aku harus memanggil apa?" tanya Rara.
"Terserah kamu bisa memanggiku apa saja selain
Ustadz, aku suami mu bukan orang lain!" jawab Ustadz Faroq datar tanpa berani menatap Rara.
"Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini? Kamu bisa cerita jika ada yang mengganggu mu." ucap Rara yang merasa aneh melihat perubahan sikap suaminya. Tidak biasanya panggilan Ustadz untuk suaminya akan menjadi permasalahan baru.
"Maaf ya Ra, mungkin karena kepala ku lagi pusing banget. Kalau tidak keberatan bisakah kamu keluar sebentar sementara aku mau istirahat," ucap Ustadz Faroq seraya merebahkan diri dan langsung menutup mata seolah ingin tidur.
Rara pun langsung keluar kamar dengan perasaan
aneh. Aneh karena suaminya tidak pernah
__ADS_1
bersikap begini sebelumnya, apalagi sampai
menyuruhnya keluar kamar.