
"Pasanganmu adalah rezekimu,
pilihan adalah takdirmu.
Maka janganlah memandang
kepada selain milikmu dan
janganlah membanding-bandingkan
dengan yang bukan milikmu."
Ustadz Faroq menyandarkan badannya di sofa
ruang tamu, memandangi langit-langit rumahnya.
Sambil terus memainkan bolpen diantara sela
jari tangannya. Pikirannya masih melayang
mengingat pembicaraanya bersama Rara siang tadi, entah kenapa efek perkataan Rara membawa
dampak besar direnungan Ustadz Faroq.
"Benarkah Rara sama sekali tidak peduli aku bertemu dengan perempuan lain," lirihnya pelan.
Perlahan Ustadz Faroq menghela nafas, lalu melirik ponselnya yang bergetar diatas meja.
"Besok sehabis pulang ngajar langsung ke rumah ya, karena Farhan mau datang." isi chat dari Ustadzah Mira.
Ustadz Faroq hanya mengirimkan emoji jempol yang menandakan setuju.
(Flashback on)
"Ustadz, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu." ucap Ustadzah Mira mengungkapkan perasaannya.
Sore itu ketika di ruang kantor guru hanya ada Ustadz Faroq dan Ustadzah Mira yang belum pulang karena lembur. Sebenarnya Ustadzah Mira bukan karena banyaknya pekerjaan yang ingin dikerjakan tapi karena menunggu waktu yang tepat untuk berdua dengan Ustadz Faroq.
Ustadz Faroq pun cukup kaget mendengar pernyataan cinta dari Ustadzah Mira yang ia anggap hanya sebatas teman. Memang keluarga Ustadz Faroq dengan Ustadzah Mira sudah sangat dekat, sehingga menambah kedekatan antara keduanya.
Terdiam sebentar mencerna kembali apa yang baru saja Ustadz Faroq dengar.
"Aku tau kok kamu sebenarnya sudah dijodohkan
dengan teman Abi sewaktu kecil," lanjut Ustadzah Mira yang sudah terbiasa memanggil Abi dan Ummi pada orang tua Ustadz Faroq.
"Aku juga sudah bilang sama Abi kalau sebenarnya sudah lama menaruh perasaan denganmu.!" lanjut Ustadzah Mira tanpa basa basi.
"Bagaimana tanggapan Abi?" reaksi pertama yang
keluar dari mulut Ustadz Faroq.
"Abi bilang sebenarnya tidak ada paksaan dengan
__ADS_1
perjodohannya, kalau kamu tidak suka kamu boleh saja menolaknya."ungkap Ustadzah Mira.
"Aku mau tanya sejak kapan kamu mulai
menyukaiku?" Ustadz Faroq memalingkan
pandangan sebentar kearah Ustadzah Mira, yang
sedari tadi cukup disibukkan dengan pekerjaannya.
Ustadzah Mira bisa dibilang tetanggaan dengan tempat tinggal orang tua Ustadz Faroq, karena hanya terpaut jarak dua buah rumah yang membatasi. Ustadzah Mira juga merupakan anak yatim piatu jadi sudah dianggap anak sendiri oleh Abi dan Ummi Ustadz Faroq.
Sejak kecil Ustadzah Mira sering berkunjung dan
bermain bersama Ustadz Faroq, karena umur
mereka juga sepantaran, hanya terpaut 25 hari
lebih muda Ustadzah Mira.
"Semenjak kamu selalu membelaku kalau aku lagi
dibully sama teman lain, yang lain selalu bilang aku anak yatim piatu sehingga mereka enggan berteman denganku. Dari kecil hanya kamu teman satu-satunya yang tulus berteman denganku." jawab Ustadzah Mira dengan suara bergetar seolah mengingat kembali masa kecilnya.
"Sampai sekarang aku tidak pernah menyukai laki-laki manapun karena arah pandanganku yang terlihat hanya ada kamu." lanjut Ustadzah Mira.
"Kalau begitu artinya kamu bukan menyukaiku, tapi hanya butuh seseorang yang dapat melindungimu." jawab Ustadz Faroq.
"Mengatakan aku menyukaimu tidak semudah
mengucapkan ini secara langsung!" Ustadzah Mira
sebenarnya malu tapi karena ia tau Ustadz Faroq
dijodohkan segera mengambil alternatif menembak duluan.
"Sebelumnya aku mohon maaf banget kalau perkataan yang ingin ku ucapkan ini akan menyakiti hatimu, tapi aku tetap akan melanjutkan perjodohanku." kali ini Ustadz Faroq memandang wajah Ustadzah Mira dengan tatapan sayu.
"Kenapa? apa aku tidak pantas untukmu?" terlihat mulai berkaca-kaca mata Ustadzah Mira.
"Bukan itu, kamu bahkan terlalu baik. Laki-laki manapun yang nanti akan menjadi suamimu tentu sangatlah beruntung," sergah Ustadz Faroq.
"Lalu apa alasanmu tidak bisa menerima perasaanku? Abi dan Ummi pun tidak
memaksamu untuk perjodohan itu." tangan Ustadzah Mira sesekali menyeka air matanya yang terjatuh tanpa henti.
"Maaf aku harus berkata jujur, tapi aku hanya
menganggapmu sebagai teman baik," jawabnya seraya memberikan tissu kepada Ustadzah Mira.
"Aku tidak masalah seandainya kamu tidak ada
perasaan untukku, aku akan menunggu sampai
__ADS_1
perasaan itu datang, asalkan kamu tidak menikah
dengan perempuan itu." kali ini tangis Ustadzah Mira semakin terdengar.
Serba salah itulah yang dirasakan Ustadz Faroq, tak tahu harus berbuat apa, tangisan Ustadzah Mira sempat membuatnya rapuh. Memejamkan mata sebentar menunduk kebawah dengan perasaan bercampur aduk namun tetap harus membuat keputusan.
Menghela nafas sambil membaca bismillah dalam hati lalu menghadap Ustadzah Mira berkata mantap, "Maaf.."
"Aku tetap akan melanjutkan perjodohan itu."
Semenjak hari itu hubungan Ustadz Faroq dan
Ustadzah Mira pun menjadi renggang. Bahkan waktu pernikahan Ustadz Faroq dan Rara seakan terlalu menyakitkan bagi Ustadzah Mira untuk melihat kenyataan, sengaja beralasan pergi keluar kota sehingga tidak dapat berhadir.
(Flashback off)
"Ustadz," panggil Rara namun tidak ada sahutan dari Ustadz Faroq.
"Ustadz, kamu dengar gak." panggil Rara kedua kalinya dengan meninggikan sedikit volume suara.
"Iya Ra," sedikit kaget terlepas dari lamunannya.
"Kamu sedang ngelamunin apa? serius amat."
ceplos Rara.
"Hemm.. gak ada kok. Ada apa kamu memanggilku?" tanya Ustadz Faroq.
"Kamu mau cemilan basreng gak? enak banget nih, apalagi baso goreng yang pipih rasa pedas jeruk purutnya mantul." terlihat Rara menikmati mengunyah cemilannya.
"Beli dimana kamu Ra? Mau yang punya kamu saja. uang kemarin yang aku kasih kalau sudah habis kamu bilang saja ya Ra." tukas Ustadz Faroq sambil sesekali mengambil cemilan yang dipegang Rara.
"Ini aku diendorse sebenarnya, ada yang ngirimin jadi aku bantu promosiin jualannya,"
"Masih ada kok uangnya, lagian sekarang aku jarang shopping." jawab Rara.
"Semoga laku jualan yang endorse sama kamu Ra,
Aamiin.. Hebat juga ya kamu Ra ada aja yang percaya sama kamu untuk promosiin dagangannya," ucap Ustadz Faroq tertawa seakan meledek.
"Aku kan selegram, belum tau ajah kamu!" Rara pun menepuk tangan Ustadz Faroq yang sedari tadi hampir menghabiskan basreng miliknya.
"Abis nih punya Rara, ngemil itu dinikmati dulu
pelan-pelan saja makannya," tegur Rara yang tidak ingin berbagi basreng lagi.
"Kan tadi kamu yang nawarin aku Ra, masa sekarang pelit sih. Enak banget Ra bikin nagih ternyata pedasnya aku suka." ucap Ustadz Faroq ketagihan.
"Gak mau!" Rara pun berlari yang dikejar oleh Ustadz Faroq, hanya demi memperebutkan cemilan basreng.
"Aku bayar deh Ra berapa harganya?" ucap Ustadz Faroq yang mulai cape lari mengejar Rara.
"Harganya satu juta mau? Ahahahaa" gelak tawa Rara terdengar puas, yang membuat konsentrasinya kurang sehingga hampir terjatuh.
__ADS_1
Beruntung ada Ustadz Faroq yang kembali memeluk pinggang kecil Rara. Kedua tangan Rara pun melingkar dileher Ustadz Faroq sehingga membuat mata mereka kembali beradu.