Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 09 - Ustadz, I Hate You l Panti Asuhan l Novel Islami Romantis


__ADS_3

"Aku diberi rezeki berupa rasa cinta kepada


engkau wahai istriku."


(HR. Muslim)


"Yuk turun kita sudah sampai," ucap Ustadz Faroq


membukakan pintu mobil Rara. Rara yang sedari tadi hanya sibuk berbalasan chat whatsapp dengan Reza.


"Kita dimana?" tanya Rara sambil keluar mobil.


Tiba-tiba keluar banyak anak-anak panti asuhan


menyambut kedatangan Ustadz Faroq dengan


senangnya. Mereka pun memeluk Ustadz Faroq. Segera Ustadz Faroq mengambil 2 karung beras, beberapa bungkusan plastik berisi sembako, snack, alat tulis, dan keperluan lainnya yang dibutuhkan anak panti.


"Ali.. tolong bantu kakak bawain sebagian ya!" pinta Ustadz Faroq.


"Siap kak dengan senang hati," jawab Ali salah satu anak panti tertua disana.


"Nak Faroq sudah datang, yuk masuk ajak istrimu," ucap pengurus panti asuhan, yang biasa dipanggil ibu oleh Ustadz Faroq.


"Silahkan diminum nak Rara, mohon maaf cuma bisa sediakan teh hangat," ucap Ibu panti.


Rara yang masih terlihat kaget karena ternyata suaminya membawanya ke panti asuhan. Mamah dan Papah Rara sebenarnya juga lumayan sering menyantuni anak panti asuhan namun Rara tidak pernah tertarik untuk ikut, karena Rara tidak terlalu suka anak kecil.


Suara adzan dzuhur pun mulai berkumandang, Ustadz Faroq yang sudah terbiasa menghabiskan waktunya disana sudah tidak asing lagi dengan tempatnya, segera mengajak istrinya untuk sholat berjamaah. Rara pun tidak bisa menolak karena ada ibu panti. Segera Rara, ibu panti dan anak panti lainnya mengambil wudhu.


Setelah selesai sholat yang mana Ustadz Faroq


menjadi imamnya, hati Rara pun terasa tenang.


Kemarahan yang awalnya memuncak seolah mulai hilang dengan bacaan zikir yang dilantunkan.


* * * *


"Disini jangan sungkan Nak Rara, anggap saja


rumah sendiri. Kebetulan hari ini jam 02.00 nanti


kita mengadakan maulid Nabi Muhammad SAW


1444 H." ucap Ibu panti ramah.


"Iy.. iya tante," jawab Rara yang kebingungan.


"Panggil saja Ibu, nak Rara," jawab ibu panti.


"Iya ibu," jawab Rara kembali.


"Nak Rara mau ikut ibu, bantu bungkusin nasi buat


acara nanti?" tanya ibu panti.


"Mau.. iya Rara mau," jawab Rara.


Meskipun Rara cuma membantu menambahkan karet gelang pada nasi yang sudah dibungkus, namun semua anak panti sangat baik padanya, bahkan membuat Rara tertawa.


"Kakak istri Ustadz Faroq ya?" tanya Mila seorang


anak panti yang sudah remaja.


"Iya dek," jawab Rara.


"Yah.. padahal Mila kan penggemar berat Ustadz


Faroq," jawab Mila polos.


"Ya mana mau lah Ustadz Faroq sama kamu Mil, kalau dibandingkan kak Rara mah jauh sekali, ibarat langit dan bumi! ahaha" jawab Indah yang disertai gelak tawa.


"Iya.. aku tau sih kalau kak Rara sangat cantik, tapi kan menyukai tak mesti memiliki, benar kan kak Rara?" pertanyaan yang membuat Rara tersenyum sendiri melihat tingkah para anak remaja.


"Bolehkan aku tetap mengagumi Ustadz Faroq kak

__ADS_1


Rara?" tanya Mila.


"Boleh banget adik cantik," jawab Rara sambil tersenyum.


"Tuh kan In, kak Rara saja tidak marah kok kamu


ribet! Lagian aku kan cuma mengagumi Ustadz Faroq, sudah baik, alim, ganteng lagi. Siapa coba yang gak ingin punya suami seperti itu." jawab Mila sambil menjulurkan lidahnya kearah Indah.


"Sudah.. sudah.. kalian ini gak malu apa sama nak


Rara," ucap Ibu panti menghentikan celotehan dua anak gadis yang beranjak dewasa.


Nasi sudah selesai dibungkus. Para tamu undangan pun sudah mulai beberapa yang datang. Para tetangga pun sudah mulai berdatangan.


Terdengar lantunan syair Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dibawakan anak panti laki-laki. Sungguh indah dan membuat hati yang mendengar menjadi tenang.


Acarapun sudah dimulai, tak lupa pembacaan ayat suci Al Qur'an yang dibawakan salah satu anak panti.Tibalah memasuki ceramah agama, yang mana ternyata Ustadz Faroq lah yang menjadi penceramahnya.


Rara tidak menyangka ternyata selain seorang qori', Ustadz Faroq juga bisa bertausiah.


"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,"ucap Ustadz Faroq.


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarrakatuh,"


jawab semua orang yang ada disana.


Nampak semua orang sangat menyukai ceramah


Ustadz Faroq, bahkan Rara pun tanpa sadar sedari tadi mendengarkan apa yang disampai oleh suaminya. Karena Ustadz Faroq kadang menyisipkan kelucuan sehingga membuat Ibu maupun Bapak bahkan anak-anak tertawa. Sampai ada suatu perkataan Ustadz Faroq yang membuat hati Rara berdebar kencang.


"Meneladani akhlak Rasulullah salah satunya


adalah dengan memuliakan seorang istri," ucap


Ustadz Faroq.


"Cara Nabi memuliakan istri, suatu kali Sayyidah


Aisyah lupa bahwa dalam puasa Nabi, beliau


menghidangkan makanan. Namun Nabi tidak menegur, tidak menyalahkan, namun berbisik kepada Sayyidah Aisyah dengan kalimat yang indah. Sayang tahukah kau, hari ini aku berbuka mari kita makan bersama."


"Namun apa yang terjadi, Nabi berbisik kepada istrinya, tahukah kau hari ini aku puasa.. hari ini aku puasa. Kita bayangkan Nabi, Rasul yang sangat dekat dengan Allah dijamin masuk surga, dalam rumah tangga masih berkesempatan memuliakan istrinya dan membangun


kebaikan-kebaikan untuk menyempurnakan


rumah tangganya, apalagi kita."


"Makanya ibu.. bapak.. kalau kita punya masalah


dengan pasangan kita, carilah nasehat untuk


menasehati diri kita sendiri."


"Jangan mencari nasehat untuk menasehati orang lain, yang penting kita memperbaiki diri kita sendiri dulu, insyaAllah nanti Allah akan memperbaiki pasangan kita," ceramah Ustadz Faroq.


Deg..!!


Langsung hati Rara merasa tertampar dengan


isi ceramah suaminya. Sering kali Rara berusaha


membuat suaminya marah namun tak pernah


sekali pun Ustadz Faroq menunjukkan kekesalan


apalagi sampai marah, sehingga tanpa terasa Rara menitikkan air mata.


Setelah selesai tausiyah, tibalah pembacaan doa yang kembali dipimpin oleh Ustadz Faroq. Semua


menadahkan tangan dan mengaamiinkan, namun


terdengar suara Ustadz Faroq yang menangis


tersedu-sedu sambil berdoa, penuh khusu' dan pelan Ustadz Faroq kembali melanjutkan berdoa, tak terasa untuk kedua kalinya Rara pun ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kenapa loe cengeng Ra!" ucap Rara dalam hati


sambil menyeka air matanya.


Selesai sudah acara Maulid Nabi Muhammad SAW, semua tamu juga sudah pulang. Namun tiba-tiba saja Rara merasa tidak enak badan. Muka Rara pun berubah menjadi pucat pasi.


"Kak Rara kenapa?" tanya Indah yang melihat ada


perubahan dari muka Rara.


"Bisa panggilkan Ustadz Faroq!" pinta Rara dengan


suara pelan.


"Iya kak," segera Indah berlari menghampiri Ustadz Faroq.


Ustadz Faroq yang sibuk membantu anak-anak


panti beres-beres.


"Ustadz Faroq, itu.. " ucap Indah terbata-taba.


"Kenapa In?" tanya Ustadz Faroq.


"Kak Rara sepertinya sakit." jawab Indah.


Segera Ustadz Faroq pergi menghampiri Rara.


Dilihatnya Rara sangat pucat.


Rara pun pingsan, beruntung Ustadz Faroq datang tepat waktu dan segera mengangkat Rara masuk kedalam kamar Ibu panti.


1 jam kemudian tersadarlah Rara. Ustadz Faroq yang sedari tadi disamping istrinya sangat senang melihat istrinya sudah sadar.


"Alhamdulillah istriku.. kamu sudah sadar," ucap


Ustadz Faroq. Rara pun berusaha untuk bangun.


"Ini minum air hangat dulu," ucap Ustadz Faroq sambil membantu minum karena Rara yang masih terlihat lemah. Tangan keduanya pun bersentuhan untuk pertama kalinya. Rara pun tidak menolak dan segera minum.


"Terima kasih." ucap Rara. Kata ucapan sederhana


namun membuat hati Ustadz Faroq sangat senang karena untuk pertama kalinya istrinya tidak marah untuk disentuh bahkan mengucapkan terima kasih.


Mata keduanya pun saling bertatapan. Kembali Rara merasakan detak jantung yang berdebar kencang.


"Aku mau pulang ke rumah!" ucap Rara


mengalihkan pandangan dan segera berdiri.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit dahulu, kita


periksa keadaanmu karena kamu masih terlihat


sangat lemah. Badanmu juga demam," ucap Ustadz Faroq yang terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja. Aku mau pulang!!" jawab Rara kekeh.


"Baiklah kalau kamu ingin pulang saja, aku mau


pamit sama ibu panti dulu ya," ucap Ustadz Faroq.


"Aku mau ikut," jawab Rara.


"Tapi aku gendong ya, aku takut kamu masih belum kuat berjalan." Ucap Ustadz Faroq. Tak ada kata iya namun juga tak ada kata tolakan dari Rara. Ustadz Faroq pun segera menggangkat istrinya yang masih lemah.


Tangan Rara pun merangkul leher dan tangan satunya kepinggang Ustadz Faroq. Tanpa merasa berat sedikitpun, namun jantung Ustadz Faroq seperti orang yang lari maraton berdebar sangat cepat.


Diluar kamar sudah banyak yang menunggu. Ibu panti dan anak panti lainnya terlihat sangat khawatir.


"Ibu kami pamit mau pulang dulu ya, istri saya sudah membaik hanya butuh istirahat saja," ucap Ustadz Faroq.


"Iya Nak.. Semoga Nak Rara cepat sembuh ya." ucap ibu panti. Namun terdengar suara Mila yang berkata, "So sweet banget, aku juga kalau sakit mau dong digendong." semua anak-anak panti pun bersorak dengan celotehnya Mila.


"Cepat sembuh ya kak Rara," ucap anak panti lainnya.

__ADS_1


"Sering-sering kesini ya kak," ucap anak lainnya.


"Kami sayang kak Rara." ucap lainnya.


__ADS_2