
"Dalam menjaga keharmonisan
dalam rumah tangga, jangan
berjanji untuk tidak saling menyakiti.
Namun berjanjilah untuk bertahan,
meski salah satu yang tersakiti.
"Assalamu'alaikum Ustadz," sapa Ustadzah Mira.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarrakatuh," jawab Ustadz Faroq. Mereka bertemu ketika waktu istirahat tiba setelah keluar dari kelas mengajar.
"Afwan Ustadz Faroq, kenapa wajahnya sangat
pucat?" tanya Ustadzah Mira yang cemas melihat
keadaan Ustadz Faroq berwajah pucat pasi.
"Emmm.. Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing,"
jawab Ustadz Faroq.
"Permisi Ustadzah, saya masuk duluan ya," ucap
Ustadz Faroq sambil menyatukan kedua tangannya dan berjalan menuju kantor.
Baru beberapa langkah berjalan yang terlihat
sempoyongan dan hampir terjatuh, segera Ustadzah Mira memegangi tubuh Ustadz Faroq sambil berteriak meminta tolong.
Santri dan santriwati yang melihat pun segera
berkerumunan datang. Dengan cepat tiga santri putra menggangkat Ustadz Faroq menuju UKS.
* * * *
(Flashback on pagi sebelum berangkat kerja)
Sudah dua hari semenjak Rara curhat dengan
kedua sahabatnya, perubahan sifat Ustadz Faroq
yang lebih pendiam membuat Rara menerka-nerka.
"Kamu kenapa sih Ustadz, apa lagi marah sama Rara?" tanya Rara spontan yang tidak bisa lagi menahan diri.
"Tidak Ra. Kamu jangan berfikir macam-macam ya. Aku mau berangkat ke Pondok dulu ya Ra." jawab Ustadz Faroq datar.
"Kenapa tidak sarapan dulu sebelum berangkat?"
tanya Rara.
"Maaf Ra sebelumnya tidak bilang, aku hari ini
berpuasa," jawab Ustadz Faroq seraya memberi salam dan pergi dengan menggunakan motor scopy.
Belum sempat Rara ingin melanjutkan berkata-kata Ustadz Faroq sudah terlihat berjalan dan mau pergi.
Rara pun menjadi semakin kesal. Dengan cepat Rara masuk ke dalam kamar mengambil koper miliknya dan memasukkan pakaiannya dengan perasaan emosi.
"Lebih baik gue pulang ke rumah Papah Mamah," gerutu Rara.
"Memangnya dia siapa? Ditanya baik-baik malah pergi." lagi-lagi Rara menggerutu sendiri sambil mengemas pakaiannya.
"Mungkin karena banyak yang naksir makanya dia
bertingkah!" gerutu Rara kembali sambil mengingat perkataan Ayu kalau Ustadz Faroq sebenarnya banyak disukai remaja puteri dan disukai Ustadzah sejak lama.
Setelah selesai packing dimana perasaan emosi yang masih menyelimuti hati Rara. Rara pun iseng membuka lemari dimana ia menyimpan cincin kawinnya yang tidak pernah dipakai sebelumnya setelah menikah. Berbanding terbalik dengan suaminya yang selalu memakainya setiap hari.
Rara yang ingin pergi dari rumah pun menemukan
sebuah amplop coklat yang berada dibawah cincin pernikahannya. Alangkah terkejutnya Rara ketika membuka isi amplop tersebut ternyata berisikan foto-fotonya bersama Reza.
__ADS_1
Kenangan yang selalu membuat Rara bermimpi buruk. Kenangan yang selalu ingin Rara lupakan namun kembali lagi menjadi luka.
"Jadi inikah alasan Ustadz Faroq berubah?" tangis Rara.
"Inikah alasannya menangis ditengah malam? Kenapa tidak bilang saja? Kenapa harus menahan sakit seperih itu sendirian?" isak tangis Rara semakin menjadi-jadi.
(Flashback off)
Tiba-tiba dering handphone pun berbunyi. Segera Rara menenangkan diri sambil mengusap air matanya dengan kasar. Tertulis panggilan dari Ustadz Faroq, Rara pun merasa senang. Ingin sekali ia menjelaskan semuanya dengan Ustadz Faroq.
"Assalamu'alaikum Ustadz, aku ma.. mau jel.." ucap Rara terbata-bata menahan tangis. Belum selesai Rara bicara terdengar suara perempuan yang lembut namun terdengar cemas.
"Afwan ukhti, Ustadz Faroq sekarang lagi berada di rumah sakit," ucap perempuan yang memegang
handphone milik suaminya.
"Kamu siapa ya?" tanya Rara bingung mendengar
suara perempuan.
"Saya Mira teman Ustadz Faroq, afwan lancang
membuka handphone milik Ustadz Faroq,
saya cuma ingin memberi tahu." lanjut Ustadzah
Mira bicara. Rara yang mendengar pun langsung
merasa lemas.
"Lagi di rumah sakit Bakti Mulia ya Ukhti, dilantai 2
kamar Melati A." jelas Ustadzah Mira.
"Terima kasih ya, aku segera kesana!" ucap Rara
sembari memutus sambungan telpon.
Sesampainya di rumah sakit ternyata Rara sudah
disambut oleh Abi, Ummi dan Imel adik dari Ustadz Faroq. Dan ada satu perempuan cantik yang memakai kerudung segitiga syar'i yang asing menurut Rara.
"Maaf Ummi tidak sempat menelpon kamu karena tadi katanya sudah dikabari oleh Ustadzah Mira," ucap Ummi Ustadz Faroq menjelaskan.
"Gak papa Ummi tidak usah minta maaf," jawab Rara.
"Assalamu'alaikum Ukhti, saya yang nelpon tadi,"
sapa Ustadzah Mira mengenalkan diri.
"Wa'alaikumsalam, terima kasih ya tadi sudah ditelpon." jawab Rara.
"Sama-sama Ukh, sudah seharusnya sesama saudara saling menolong, apalagi Ustadz Faroq yang sudah lama saya kenal." jawab Ustadzah Mira sambil tersenyum.
Rara pun dibuat kagum dengan kecantikan
Ustadzah Mira. Senyumnya yang manis dan
kata-katanya yang sopan dengan suara yang lembut membuatnya mudah untuk disukai.
"Kak Rara," terdengar suara Imel yang dari tadi
belum disapa.
"Imel sayang," Rara pun segera memeluk Imel.
"Kenapa dengan kakak mu Mel? kenapa tiba-tiba bisa di rumah sakit?" tanya Rara.
"Kebetulan tadi Ustadzah Mira yang pertama kali
melihat kakak hampir terjatuh karena pingsan,"
jawab Imel.
"Iya Ukh, hari ini wajah Ustadz Faroq terlihat sangat pucat," jawab Ustadzah Mira. Rara pun sadar kalau itu kesalahannya, Ustadz Faroq yang selama tiga hari ini menahan kesedihan sendiri.
__ADS_1
Rara pun mendekat kearah suaminya. Dilihatnya wajah Ustadz Faroq yang sangat pucat dengan kantong mata yang terlihat seperti kurang tidur. Rara pun menyadari kalau suaminya pasti tidak bisa tidur dan tidak selera makan setelah melihat foto-fotonya bersama Reza.
Rara memegang tangan suaminya yang terasa
dingin, dikecupnya tangan suaminya dengan penuh perasaan sambil berkata dalam hati,
"Maafin aku.. Maafin aku istrimu yang bodoh dan selalu menyakitimu." ucap Rara dalam hati.
Tiba-tiba tersadarlah Ustadz Faroq dari pingsannya. Rara yang merasa senang langsung memeluk erat suaminya sambil menangis.
"Sayang.." ucap Rara dengan pelukan erat.
Uhukk.. Uhukk.. (suara batuk)
"Aku susah nafas Ra," ucap Ustadz Faroq bercanda.
"Ih kamu!" cubit Rara kecil dipinggang Ustadz Faroq.
"Auu.. ampun!" jawab Ustadz Faroq tertawa.
Ustadz Faroq yang melihat istrinya menangis pun
segera membersihkan pelan air mata dipipinya.
"Ehem.. Ehem.. dikamar ini banyak orangnya loh, bukan hanya kalian saja berdua." ucap Abi Ustadz Faroq yang disertai tawa semua orang yang mendengarnya.
"Ciee.. yang selalu merasa pengantin baru, disini
masih ada anak dibawah umur loh." sambung Imel usil.
Tak lama dokter pun masuk untuk memeriksa keadaan Ustadz Faroq.
"Kamu sepertinya kurang istirahat, HB kamu juga
kurang," ucap Dokter kepada Ustadz Faroq.
"Ini sudah saya resepkan obat, yang paling penting
istirahat yang cukup dan makan yang teratur ya." lanjut dokter memberi saran.
"Iya dok, terima kasih banyak." jawab Ustadz Faroq.
"Malam ini nginap dulu, besok kalau sudah lebih baik sudah boleh pulang," ucap Dokter kemudian pamit keluar.
"Ini barusan saya keluar dan membeli nasi bungkusdisamping rumah sakit, ayo semuanya kita makan dulu," ucap Ustadzah Mira datang membawa bungkusan kantong plastik.
"Abi.. Ummi.. ini tadi saya pilihin yang lauknya ikan
bukan ayam karena saya tau Abi dan Ummi lebih suka ikan." ucap Ustadzah Mira. Rara pun tak menyangka ternyata Ustadzah Mira sudah sedekat itu dengan keluarga Ustadz Faroq sampai tahu yang disukai mertuanya.
"Nah ini ada juga untuk Ustadz Faroq bubur ayam
karena lagi sakit, sengaja dibanyakin ayam dan tambah telornya biar cepat sehat." ucap Ustadzah Mira yang perhatian. Rara yang mendengar pun agak cemburu karena bukannya dia yang memperhatikan suaminya malah ada perempuan lain yang lebih perhatian.
"Jangan marah ya Ra, kami hanya berteman sejak
kecil jadi sudah lama kenal," jelas Ustadzah Mira
yang takut kalau Rara salah faham.
"Tidak marah kok Ustadzah, saya malah berterima kasih." jawab Rara sekenanya.
"Panggil Mira saja atau Ukhti juga boleh, biar kita
lebih dekat," jawab Ustadzah Mira lembut.
"Dimakan ya semuanya, saya ijin pamit dulu karena masih ada urusan lain," ucap Ustadzah Mira pamit bersalaman.
"Terima kasih banyak ya Nak Mira," Ucap Abi dan Ummi Ustadz Faroq.
"Aku suapin ya, karena sakit dibatalin dulu puasanya," ucap Rara. Ustadz Faroq pun mengangguk tanda setuju.
Perasaan Rara yang awalnya kesal dan berubah
menjadi marah lalu menyesal sampai pada khawatir karena mendengar suaminya masuk rumah sakit pun campur aduk ia rasakan. Sampai dimana Rara menjadi tenang karena melihat keadaan Ustadz Faroq sudah lebih baik namun juga sedikit cemburu akan hadirnya
__ADS_1
perempuan bernama Ustadzah Mira.
Rara pun bertanya-tanya mungkinkan ia mulai jatuh cinta dengan Ustadz Faroq? atau hanya karena perasaan bersalahnya?