
["Cinta tidak ditanam tetapi
tumbuh dengan sendirinya.
Saat seseorang mencintaimu,
Ia tak harus mengatakannya.
Kamu akan tahu dengan
dia memperlakukanmu."]
"Ra, itu sudah aku buatkan nasi goreng, sarapan dulu ya." ucap Ustadz Faroq sambil membuka pintu kamar, namun tak ada jawaban dari Rara. Rara hanyasibuk dengan handphonenya sendiri membuka instagram miliknya. Ternyata Rara mempunyai banyak pengikut, tak jarang setiap foto yang ia posting banyak mendapatkan like bahkan komentar terlebih dari para lelaki yang mengatakan Rara sangat cantik.
Rara melihat kenangan foto-fotonya ketika bersama Reza. Moment kebersamaan mereka berdua sungguh membuat Rara bahagia, bahkan dulu sempat ada pembicaraan kalau mereka menikah maka akan pergi berbulan madu ke Korea, karena Rara penyuka drama korea jadi ia pengen menemui idolanya Lee Joon Gi. Rara
pertama kali mengidolakannya ketika nonton drama korea berjudul Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Namun sekarang Rara merasa karena sudah menikah dengan Ustadz Faroq sehingga ia tidak dapat mewujudkan impiannya bersama dengan lelaki yang ia cintai.
"Ini sarapan dulu, nanti keburu dingin," ucap
Ustadz Faroq sambil membawakan nasi goreng
buatannya ke kamar.
"Nanti habis sarapan baru kita berangkat ke rumah Abi dan Ummi, aku sudah ijin cuti 3 hari sebelum kembali ke pesantren lagi." ternyata Ustadz Faroq sudah berpakain rapi. Tanpa memperdulikan perkataan suaminya, Rara langsung mengambil sebuah amplop coklat dalam tasnya yang sudah ia persiapkan sebelum menikah.
"Nih baca!" sebuah amplop yang dilempar Rara.
"Apa ini?" tanya Ustadz Faroq.
"Makanya baca dan langsung tanda tangani saja!"
jawab Rara kembali dengan wajah judesnya.
"Karena pernikahan kita hanya diatas kertas dan perjodohandengan paksaan orang tua ku saja, jadi kita buat sebuahperjanjian. Tidak ada yang namanya mencampuri urusan pribadi masing-masing! Dan tidak ada yang namanya
bersentuhan secara fisik!" sambung Rara dengan santainya.
"Aku mau pergi kemana, dengan siapa dan pulang jam berapa, kamu tidak usah ikut campur! Dan ingat ya jangan bilang-bilang sama Mamah dan Papah aku!" kembali Rara berbicara tanpa memperdulikan perasaan suaminya.
"Kalau aku menolak gimana?, bolehkan aku menolak sesuatu yang banyak menimbulkan mudharot nantinya?" tanya Ustadz Faroq.
"Kalau kamu menolak lebih baik aku minta cerai
saja! Ceraikan aku secepatnya!" ancam Rara.
"Tidak baik berkata seperti itu Ra, ucapan adalah doa, apalagi kita baru saja menikah. Perceraian sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya, sebab peceraian bukan hanya memutus hubungan pernikahan suami istri melainkan juga berisiko besar menyebabkan konflik dan renggangnya hubungan antar kedua keluarga kita. Jadi aku tidak mungkin menceraikanmu dan kamu jangan bicara seperti itu lagi ya!" jawab Ustadz Faroq
tenang namun sebenarnya hatinya merasa hancur
mendengar istrinya dengan semudah itu meminta cerai.
"Kalau begitu artinya kamu setuju dong dengan
perjanjian yang aku buat?" sela Rara yang hanya
__ADS_1
memperdulikan keinginannya.
Ustadz Faroq terdiam sebentar sambil kembaca istigfar dalam hati dan membacakan Al Fatihah untuk istrinya agar hati istrinya menjadi lembut.
"Apa ini harus Ra?" tanya Ustadz Faroq kembali.
"Ya iyalah, bukan harus lagi tapi wa..jib." jawab
Rara dengan menekan nada tinggi pada kata wajib.
"Baiklah aku akan ikuti permintaanmu, namun aku juga punya permintaan, kalau kamu bersedia maka aku juga bersedia," kali ini Ustadz Faroq yang mengajukan permintaan.
"Memangnya apa permintaanmu? jangan aneh-aneh ya." tanya Rara.
"Kalau keluar rumah harus menutup aurat mulai dari baju yang tertutup dan pakailah kerudung, dan kalau aku ajak shalat berjamaah maka kamu juga harus mau!" kata Ustadz Faroq.
"Kok gitu sih! Sama saja itu namanya kamu
memaksakan kehendak melanggar hak asasi manusia!" jawab Rara yang menurutnya cukup sulit menuruti permintaan Ustadz Faroq.
"Kan kamu juga memaksakan kehendakmu Ra, artinya kita sama saja kan?" ucap Ustadz Faroq.
Rara berfikir sebentar, namun didalam fikirannya ia
sudah punya banyak cara agar suaminya tidak tahan dan secepatnya bisa menceraikannya.
"Baiklah aku setuju, sekarang aku mau pergi dulu
sebentar bertemu teman-temanku sekalian mengedit isi surat perjanjian kita," jawab Rara sambil mengirimkan chat WA ketemannya Dita dan Ayu untuk segera menjemputnya.
tidakkah baiknya nanti saja kalau untuk mengedit surat perjanjian itu?" tanya Ustadz Faroq mengingatkan.
"Iya aku tau! Silahkan kamu keluar aku mau ganti
baju dulu." ucap Rara.
Tidak lama Rara selesai berdandan, bunyi klakson
mobil yang menandakan temannya sudah datang. Rara keluar dari kamar dengan memakai dress selutut berlengan pendek seperti biasa danrambut panjang terurai.
"Astagfirullah Ra, kamu ingin berpergian seperti ini?" ucap Ustadz Faroq terlihat kaget.
"Iya. Memangnya kenapa? lagian perjanjian kita kan belum berlaku dan aku juga tidak punya pakaian panjang." jawab Rara santai melangkah meninggalkan rumah dan segera naik mobil yang dibawa Dita.
Ustadz Faroq hanya bisa mengelus dada sambil berdoa agar istrinya bisa secepatnya menutup aurat. Tidak lama kemudian Ustadz Faroq pun pergi ke pasar untuk membeli beberapa pakaian panjang untuk istrinya, tidak lupa ia juga membeli beberapa lembar kerudung. Ustadz Faroq memilih beberapa potong baju jubah namun dengan model yang tetap modis dan kekinian agar istrinya tetap suka.
"Semoga istriku suka," ucapnya dalam hati dengan
wajah berbinar-binar membayangkan istrinya
sangat cantik mengenakan baju pilihannya.
Ketika Ustadz Faroq sampai rumah ternyata
istrinya belum datang, sebentar lagi waktu zuhur tiba,Ustadz Faroq segera bebersih diri sebelum
__ADS_1
menghadap sang Maha Pencipta.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 siang
namun Rara belum juga datang. Ustadz Faroq
mulai cemas dan khawatir karena Rara sudah lama pergi namun belum ada kabar darinya. Ustadz Faroq langsung menelpon Rara namun tidak diangkat dan dichat juga tidak dibalas.
Perasaan Ustadz Faroq tambah tidak karuan takut
terjadi apa-apa pada istrinya, ia ingin mencari istrinya namun tidak tau dimana istrinya berada. Sebenarnya Ustadz Faroq sudah merasa lapar karena habis sarapan pagi, ia belum makan apa-apa, namun rasa khawatirnya mengalahkan rasa laparnya.
Ustadz Faroq mencoba menenangkan fikiran dengan memasak di dapur berharap istrinya datang dan bisa makan bersama. Namun selesai masak pun istrinya belum datang juga.
Setelah selesai shalat ashar Ustadz Faroq berganti pakaian dan memutuskan ingin mencari istrinya, karena shalat pun ia tidak khusu', perasaan gelisah semakin menggeluti fikirannya namun ternyata istrinya baru saja datang.
Tanpa perasaan bersalah Rara langsung masuk kamar dan merebahkan diri.
"Kamu dari mana saja Ra? Kenapa baru datang?" tanya Ustadz Faroq yang hatinya sudah terasa tenang namun ia tetap ingin penjelasan istrinya.
"Kan kamu tau, aku pergi bersama teman-temanku, memangnya tidak boleh?" tanya Rara balik.
"Bukannya tidak boleh Ra, aku cuma khawatir karena kamu aku telpon dan kirim pesan juga tidak dibalas. Apalagi kita ada janji ke rumah Abi dan Ummi kan Ra, apa kamu lupa?" tanya Ustadz Faroq.
"Aku tidak lupa, aku cuma malas saja, lagian aku udah lama tidak bertemu teman-temanku, apa habis kita menikah aku tidak boleh keluar rumah lagi?" tanya Rara dengan emosi.
"Bukan begitu Ra, aku minta maaf ya, apa kamu sudah makan? Kalau belum yuk kita makan sama-sama?" Ustadz Faroq tidak ingin membuat istrinya marah, jadi ia lebih baik mengalah saja mengalihkan pembicaraan karena yang terpenting istrinya sudah pulang ke rumah.
"Iya sudah tadi bersama teman-temanku. Ini surat
perjanjian kita sudah aku perbaiki, sesuai kesepakatan kita berdua, cepat tanda tangani!" pinta Rara dengan memberikan surat dan pena miliknya.
Ustadz Faroq terdiam sebentar sambil menghela nafas dan mengucap bismillah kemudian menandatangi surat perjanjian tersebut, dengan harapan semoga pilihan yang ia buat tidaklah salah.
"Oke.. deal ya. Sekarang aku capek mau istirahat
dahulu." ucap Rara dengan perasaan senang
karena satu strateginya sudah berhasil.
"Kamu sudah shalat Ra?" tanya Ustadz Faroq.
"Iya, sudah" jawab Rara berbohong karena tidak ingin diceramahin lagi.
"Alhamdulillah.. kalau begitu silahkan kalau mau
istirahat dulu, aku mau makan dulu ya, apa kamu mau makan juga Ra?" tanya Ustadz Faroq.
"Udah kenyang! Tutup pintunya ya!" pinta Rara
seakan menyuruh suaminya secepatnya keluar.
Setelah pintu ditutup, Rara loncat-loncat diatas kasur seakan ia sudah menang satu langkah. Strategi pulang terlambat dan tidak angkat telpon juga merupakan rencana Rara dan teman-temannya agar Ustadz Faroq tidak tahan dengan sifatnya.
"Yes, pokoknya kamu akan menyesal karena sudah menjadikanku istrimu, hahahahaha." Rara berbicara sendiri sambil tertawa puas.
__ADS_1