Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 02 - Ustadz, I hate you l Ijab Qabul l Novel Islami Romantis


__ADS_3

["Jodoh kita sudah tertulis di laut Mahfudz. Mau seperti apapun kondisinya, mau sejauh apapun jaraknya, kalau memang jodoh ya pasti bertemu".]


Rara sangat cantik ketika mengenakan pakaian


penganten, dengan balutan gamis brokat berwarna putih dipadukan kerudung yang menutup dada dengan warna senada, sungguh membuat Ustadz Faroq kagum waktu pertama kali melihat Rara mengenakan kerudung yang menutupi dadanya.


"Masya Allah.. sungguh indah dan sempurna ciptaan Mu ya Allah." ucap Ustadz Faroq dalam hati.


Sebenarnya ini bukan konsep pernikahan yang


diinginkan Rara, impiannya selama ini menikah


dengan acara yang super mewah dan elegan, ini


terlalu sederhana menurutnya, apalagi memakai


kerudung yang panjang sampai menutupi dadanya


sungguh Rara sangat tidak suka, namun orang tua


Rara meminta perias pengantin agar membuatnya mengenakan gamis syar'i karena akan menikah dengan seorang Ustadz.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rara Alisya Bilqis binti Fikri Nabawi dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Ustadz Faroq dengan mantap dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu yang juga merupakan Abi dari Ustadz Faroq.


"Sah!"


"Alhamdulillah"


(Dilanjutkan dengan doa)


Semua orang mengucapkan syukur, tetapi tidak dengan Rara. Bagi Rara ini bagaikan mimpi buruk yang secepatnya ingin Ia akhiri. Awalnya Rara memang sangat menentang perjodohannya. Namun, sebuah kenyataan datang padanya, sehingga membuatnya menerima perjodohan tersebut, meskipun terpaksa!


Tepat satu bulan setelah pertemuan Rara


dengan Ustadz Faroq, ingin rasanya Rara segera


bangun dari mimpinya, namun kenyataannya Rara


sudah sah menjadi seorang istri dari Ustadz Faroq.


*Flashback on*


(2 Minggu sebelum hari H)


"Sayang.. jangan nangis terus donk!" pinta Reza sambil menyeka air mata Rara.


"Bagaimana aku tidak nangis, karena sebentar lagi


aku akan menikah dengan orang lain! Bagaimana


dengan semua impian kita selama ini? Aku gak bisa hidup tanpamu! Aku sangat mencintaimu!"ucap Rara dengan tersedu-sedu sambil menatap Reza dengan penuh perasaan.


"Memangnya.. tidak bisa untuk menolak permintaan Papah kamu ya sayang?" tanya Reza.

__ADS_1


"Gak bisa.. kalau aku tolak Papah ancam untuk tidak mengganggap ku lagi sebagai anaknya, dan harta warisan untuk ku pun akan dicabut," ucap Rara.


Reza terdiam sebentar.


"Bagaimana kalau kita kawin lari saja, aku siap untuk kita tinggal di luar negri," ajak Reza meyakinkan Rara kalau Ia juga sangat mencintainya.


"Gak bisa sayang.. Papah ku mempunyai penyakit


jantung, aku takut kalau kita tiba-tiba pergi nanti terjadi sesuatu sama Papah ku," jelas Rara dengan lemah.


"Andai Papah aku tidak ada penyakit jantung,


mungkin aku duluan yang ajak kamu kawin lari.


3 bulan yang lalu Papah baru saja pergi ke rumah


sakit untuk check up karena jantung Papah


tiba-tiba sakit, dan kata dokter jantung Papah harus dijaga karena sewaktu-waktu bisa saja tambahparah." tambah Rara menjelaskan dengan perasaan takut.


"Kenapa baru bilang ke aku sekarang? dua minggu


lagi kamu akan menjadi istri orang! Jadi selama


beberapa hari ini kamu aneh seperti ngehindarin


aku, apa karena perjodohan ini?" tanya Reza serius.


"Iya.. aku takut kalau kamu tau, nanti kamu akan


makanya sekarang aku baru berani bilang. Itupun


karena saran dari Dita dan Ayu." jelas Rara dengan


menyebutkan temannya yang merupakan teman


Reza juga.


"Kamu masih meragukan cintaku? Seandainya Dita dan Ayu tidak memberi saran mungkin kamu akan menikah diam-diam dibelakangku!" ucap Reza yang terdengar kesal.


"Maafin aku sayang.. aku tau kamu sayang banget


sama aku, aku tidak meragukan mu, aku cuma takut kamu meninggalkan ku setelah tau semuanya," jawab Rara dengan memegang kedua tangan Reza.


"Itu artinya sama saja kamu masih ragu. Bagaimanapun aku tidak akan pernah meninggalkanmu Ra." jawab Reza meyakinkan Rara, dengan menatapnya sambil kedua tangannya memegang pipi gadis yang dicintainya itu. Kemudian disambut hangat Rara dengan memeluk Reza.


"Terima kasih sayang.. I love you," ucap Rara.


"Iya.. I love you too." jawab Reza dengan pelukan hangat.


"Wajah kamu terlihat pucat Ra, apa kamu nangis terus? Apa makanmu teratur sayang?" tanya Reza dengan perasaan cemas.


"Aku gak papa kok. Sayang kalau aku nanti beneran nikah sama orang lain apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Rara balik. Pertanyaan yang selama ini membuat hatinya gelisah, pertanyaan yang sebenarnya tidak sanggup untuk Rara tanyakan namun tetap ia tanyakan.


Reza terdiam sebentar, terlihat sangat berat baginya untuk berkata-kata. Matanya pun mulai berkaca-kaca lagi, kemudian ia menghela nafas sebentar.

__ADS_1


"Aku akan menunggu mu Ra," jawab Reza tanpa ragu.Belum sempat Rara menjawab, Reza sudah melanjutkan kata-katanya lagi.


"Karena aku pun tak bisa jauh dari mu Ra. Aku


lebih rela kamu nikah sama orang lain asalkan kita


masih bisa berhubungan," lanjut Reza.


Rara seperti tak bisa berkata apa-apa lagi, Ia hanya bisa mengeluarkan air mata. Ia sangat senang Reza berkata seperti itu, namun juga merasa sangat bersalah. Tidak ia sangka ternyata selama ini Reza sangat tulus mencintainya.


"Jangan nangis lagi dong sayang.. nanti cantiknya


hilang loh," ucap Reza menggoda Rara sambil


menyeka air matanya.


"Aku janji sayang.. selama aku menikah nanti hatiku hanya untuk mu. Tubuh ku pun tidak akan pernah terjamah oleh nya, dan akan ku buat agar ia menyesal pernah menikahi ku, sehingga ia tidak tahan dan segera menceraikan ku!" jawab Rara penuh keyakinan.


*Flashback off*


Rara selalu ingat akan janjinya dengan Reza


sebelum akhirnya ia dengan terpaksa bersedia


menerima perjodohannya.


Setelah selesai ijab qabul, Ustadz Faroq pun


menyematkan cincin kawin dijari manis Rara baru


kemudian mengecup kening Rara yang sudah sah


menjadi istrinya. Ustadz Faroq begitu bahagia dan


tersenyum kearah istrinya yang hanya menatapnya dengan tatapan malas.


"Rara.. ayo cium tangan suami mu," pinta Mamah Rara. Sebenarnya Rara sangat enggan melakukannya namun karena sekali lagi desakan dari Mamah Rara yang menyuruhnya.


"Ayo.. Ra." pinta Mamah Rara kembali.


Rara terpaksa mencium tangan suaminya, kemudian Ustadz Faroq meletakkan tangan diubun-ubun istrinya dengan membacakan doa.


"Bismillahirrahirrahmanirrahiim..


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa


khoirimma jabaltahaa 'alaih wa a'udzubika bin


syarrihaa wa syarrimma jabaltaha 'alaih.


" Ya Allah.. sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekkannya dan kejelekkan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Dilanjutkan dengan Rara sungkeman mencium


tangan Mamah dan Papahnya, serta tangan Abi dan Ummi Ustadz Faroq yang kini sudah menjadi orang tuanya juga.

__ADS_1


__ADS_2